
Masih dalam posisi melayang di udara, Jingga lalu mempertajam panca inderanya untuk mewaspadai kemungkinan terburuk yang akan terjadi padanya.
'I-ini Senandung Jerit Iblis" ucapnya tergagap.
Ia mengenali sebuah teknik iblis tertinggi yang tidak pernah mau ia gunakan karena dampaknya yang terlalu mengerikan.
Tidak lama kemudian, gemuruh suara terdengar semakin keras di arena Siksa Raja, namun bukan suara gemuruh yang membuat Jingga khawatir, melainkan ribuan cahaya bintang yang terus membesar seiring waktunya. Itu berarti ruang hampa mulai menyusut.
"Gila! Kau berani menggunakannya" ucap Jingga mulai merasakan cemas.
Ia lalu mengakses ingatan Yuangu Mowang untuk mempelajari kembali teknik Senandung Jerit Iblis tersebut.
"Bedebah! Dia mengunci ingatanku" rutuk Jingga tidak bisa mengaksesnya.
Tekanan energi semakin membesar, Jingga sampai harus turun ke tanah bebatuan dan berlutut menahannya. Energi spiral dari ribuan bintang mulai menyeruak ke arena Siksa Raja dan langsung memberikan dampak kehancuran.
Seperti terjadinya kiamat, tanah bebatuan berubah menjadi serpihan debu yang beterbangan.
Sruum!
Suara mengerikan yang terdengar aneh menderu di ruang hampa.
"A- apa yang harus aku lakukan?" Pikir Jingga mulai panik.
Gelombang energi berbentuk spiral mulai mengikis tubuh Jingga. Kekuatan Jiwa beserta ketiga energi api Jingga terasa tertarik olehnya.
Dengan kondisi tubuhnya yang mulai terkikis karena hisapan energi spiral bintang, membuat Jingga harus bisa berpikir cepat untuk mengatasinya.
"Cepatlah, cepatlah, cepatlah!" Gumam Jingga mulai panik.
Dari kepanikan yang melanda dirinya, ia mendapatkan kembali hal yang membuatnya sangat jengkel, yaitu pakaiannya harus hancur menjadi serpihan debu.
Rasa perih mulai menjalari seluruh tubuhnya yang terus terkikis berubah menjadi serpihan yang bercampur dengan debu yang beterbangan.
Dalam kondisi yang begitu kritis, Jingga akhirnya bisa mengingat sebuah teknik yang pernah dipelajarinya waktu berada di dalam gunung Lanhua.
"Semoga saja tingkat kultivasiku sanggup menggunakannya" gumam pikirnya.
Ia tidak memiliki waktu cukup untuk mempertimbangkan teknik lainnya, tanpa berpikir panjang, ia lalu menekan semua energi apinya dan langsung mengolah energi iblis, membentuknya menjadi pusaran energi yang menyeruak keluar dari tubuhnya.
*SERENADA IBLIS*
Sebuah teknik yang penerapannya hanya menggunakan energi iblis murni untuk melawan teknik Senandung Jerit Iblis yang mampu merusak dimensi alam.
"Hiaa! Hiaaat!" Teriak Jingga mengeluarkan seluruh energi iblisnya menekan balik gelombang spiral energi bintang yang terus mengikis tubuhnya.
Sedikit demi sedikit energi iblis murni Jingga mampu menekan balik dan terus meluas memenuhi udara.
"Berhasil" gumam Jingga mulai mereda kepanikannya.
Ia lalu bangkit berdiri dengan bebas tanpa tekanan. Tampak tubuh Jingga yang rusak mengalami regenerasi.
Namun ia sedikit terlambat, tanah bebatuan yang menjadi pijakannya telah hilang tergerus habis energi spiral bintang.
Jingga terpaksa membaginya untuk bisa melayang di udara ruang hampa, meskipun tekanan balik energi iblisnya menurun, Jingga masih sanggup terus menekannya.
Duum! Duum!
Suara keras yang aneh lainnya menggema di udara. Gelombang energi iblis yang terpancar mampu membuat cahaya bintang-bintang mulai meredup.
"Ini kesempatanku" imbuhnya lalu memaksimalkan energi iblisnya.
"Hiaa!" Pekik Jingga memaksakan diri memancarkan gelombang energi iblis lebih besar lagi.
Boom! Boom!
Satu persatu bintang-bintang di langit ruang hampa hancur dengan sendirinya.
Tiba-tiba saja, sebuah energi melaju cepat menghantam tubuh Jingga.
Wuzz!
Dhuar!
Jingga yang tidak sempat menghadangnya harus terlempar jauh melayang di udara dengan hilangnya energi iblis dari tubuhnya.
Yuangu Mowang kembali muncul di udara, ia membuat rantai energi lalu melemparkannya untuk mengikat tubuh Jingga yang melayang di udara, kemudian menariknya dengan cepat.
"Ha ha ha, kau iblis yang sempurna, mampu bereaksi cepat dalam kondisi kritis" puji Yuangu Mowang yang mengikatnya.
Jingga yang kehilangan energi terlihat pasrah, tampak terlihat dari tatapannya yang sayu.
"Maaf, aku mengecewakanmu" balas Jingga yang tidak lagi memiliki energi iblis di tubuhnya.
Yuangu Mowang menatap heran kepadanya, beberapa saat kemudian ia tertawa terbahak-bahak menyadarinya.
"Hei, iblis bodoh! Aku tidak mungkin membunuhmu, dirimu adalah diriku" ujarnya sambil terkekeh.
Ia juga kembali mengatakan kepada Jingga bahwa dirinya memang sudah punah, apa yang dilihat oleh Jingga hanyalah serpihan jiwanya. Jadi, keberadaan dirinya murni untuk menguji penerusnya.
Sekarang Jingga yang menatapnya heran, ia tidak mengerti apa pun perkataan yang dilontarkan oleh Yuangu Mowang.
"Apa maksudmu?" Tanya Jingga.
"Sepertinya Guruku mengacaukan pikiranmu, ha ha ha" jawab Yuangu Mowang kembali menertawainya.
Jingga mengerutkan keningnya karena semakin heran mendengarnya.
"Sudahlah, sekarang kau pergi ke ujian terakhirmu. Beast monstermu sudah aku masukkan ke dalam dimensi alam jiwamu. Kau bisa memanggil kedua beast monstermu setelah menyelesaikan ujian" imbuh Yuangu Mowang lalu menjentikkan jarinya.
Seutas tali muncul di dekat keduanya.
"Aku harap kau tidak lama mencapai arena terakhir"
Jingga mendongakkan kepala melihat tali yang begitu panjang menggantung di udara.
"Maksudmu, aku harus memanjatnya?" Tanya Jingga ingin memastikannya.
"Ya, kali ini kau tidak harus berjalan di tangga" jawab Yuangu Mowang,
"kau tenang saja. Setelah sampai di arena terakhir. Energi iblismu akan pulih kembali" imbuh Yuangu Mowang memahami apa yang ada dalam pikiran Jingga.
Ia lalu meminta Jingga bersiap untuk meraih tali dan melepaskan ikatan tali energinya.
Jingga dengan sigap langsung meraih seutas tali yang menjadi jalan untuk mencapai arena terakhir.
Ia lalu mengikatkan ujung tali pada kaki kanannya dan mulai memanjatnya, sedangkan Yuangu Mowang langsung menghilang begitu saja.
Tanpa adanya energi iblis pada tubuhnya, Jingga harus mencapainya dengan susah payah. Namun ia tidak mengeluh sedikit pun. Baginya, hal itu masih lebih baik dari apa yang sudah dilalui oleh dirinya dengan berbagai kesulitan.
Dalam kondisi polos tanpa sehelai benang pun pada tubuhnya, Jingga terus bergelantungan menaikinya.
Tiap sepuluh kali tinggi tubuhnya, Jingga beristirahat sejenak lalu melanjutkannya kembali.
Satu hal yang menjadi kekhawatirannya adalah tinggi tali yang harus ia panjat merupakan akumulasi dari jauhnya jarak tangga terakhir untuk mencapai arena Siksa Raja.
Dalam hatinya, ia terus menampiknya. Tekadnya bulat untuk bisa mencapai arena terakhir.
Tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya, Jingga terus memanjat tali setahap demi setahap. Sudah tidak terhitung berapa ribu kali ia beristirahat. Semangat juangnya tidak pernah menurun sekalipun, hingga tanpa disadarinya, ia berhasil mencapai puncak ujung tali dan langsung menjatuhkan tubuhnya di atas tanah bebatuan arena Siksa Raja.
Kondisi fisiknya berangsur pulih, seiring waktu, energi iblisnya mulai bisa ia rasakan kembali.
Cukup lama ia membaringkan tubuhnya, ia lalu berdiri bangkit dan melangkah ke tengah arena.
Tampak seorang pria berpakaian merah, berambut pendek sedang berdiri membelakanginya. Jingga tersenyum simpul melihatnya. Itu karena ia tidak perlu lagi menunggu kedatangan lawannya.
"Halo, Tuan" sapa Jingga menghampirinya.
Lelaki berpakaian merah itu langsung membalikkan tubuhnya.
Terlihat jelas oleh Jingga wajah si pria yang begitu aneh terlihat. Pria itu hanya memiliki satu mata yang besar dan berbentuk vertikal dengan bibir yang bergerigi, dan dua telinga yang memanjang ke atas seperti telinga seekor kelinci namun bentuknya sangat lancip.
Sontak saja kedua pupil mata Jingga langsung membesar seketika.
"Betapa seramnya dirimu" ungkap Jingga mengomentarinya.
Pria di depannya tidak bereaksi sedikit pun mendengarnya, ia masih diam memperhatikan Jingga tanpa sekalipun menunjukkan reaksi di wajahnya.
"Sepertinya kau iblis bisu" imbuh Jingga menerkanya.
Kembali, pria di depannya tidak bereaksi apa pun. Jingga yang melihatnya mulai bingung. Sang pria iblis aneh itu pun masih saja berdiam diri mematung menatapnya.
"Apa kita akan diam saja?" Tanya Jingga memancing reaksinya.
Pria di depannya masih saja terdiam, lama kelamaan, Jingga pun mulai bosan.
"Aku tidak tahu kenapa kau terus saja diam seperti itu? Tapi aku akan menunggumu" sambung Jingga lalu duduk dalam posisi lotus.
Wuzz!
"Aah!" Jerit Jingga merasakan sakit di pundak kanannya yang tiba-tiba hancur.
Ia tidak tahu kapan pria di depannya menyerang. Setelah pundak kanannya kembali utuh, bagian pundak kirinya yang bergantian hancur. Kembali Jingga menjerit kesakitan dibuatnya.