
"Kakak!" Panggil Bai Niu yang mendarat di dekatnya.
"Eh, kau sudah selesai Naninu?" Tanya Jingga meliriknya.
"Sudah, Kak. Kakak kenapa membiarkan mereka memulihkan diri?" Tanya Bai Niu memperhatikan para kultivator dalam posisi bermeditasi.
"Kau lihatlah tubuh-tubuh tak bernyawa di sekitarmu, kita sudahi saja pertarungannya, biarkan mereka semua yang tersisa tetap hidup" jawab Jingga lalu beranjak berdiri untuk meninggalkan kota.
"Tunggu!" Panggil seorang pria paruh baya yang telah selesai memulihkan diri.
"Ya Paman, ada apa?" Sahut Jingga menolehnya.
"Kalian tidak bisa pergi setelah apa yang kalian lakukan, aku akan membunuh kalian berdua" timpal pria paruh baya langsung melesat menyerang keduanya dengan tombak.
Jingga menahan ujung tombak yang mengarah padanya kemudian ia mengalirkan api semestanya.
Tanpa suara, api semesta menghancurkan logam dan merambat cepat ke tubuh pria paruh baya yang langsung berubah menjadi serbuk.
"Mengerikan" ucap Bai Niu yang melihatnya.
"Ayo, Naninu!" Ajak Jingga kepada adiknya yang masih terperangah.
Baru saja keduanya berbalik untuk meninggalkan area pertempuran, terdengar suara langkah kaki berdatangan dari arah belakang keduanya. Jingga dan Bai Niu langsung berbalik melihatnya.
Tampak terlihat Raja Bei Eyu bersama ketiga komandannya menunggangi kuda, sedangkan ratusan pasukan berjalan kaki beriringan di belakang sang raja.
"Ternyata kalian berdua biang kerok semua masalah di kerajaanku" ucap Raja Bei Eyu menuduh keduanya.
"Kenapa?, Gerah ya?" Tanya Jingga dengan raut wajahnya yang menyebalkan.
"Serang!" Teriak sang raja memerintahkan pasukannya.
Pertarungan yang sudah diakhiri Jingga kembali pecah setelah Raja Bei Eyu memberikan perintah.
"Naninu, kau beristirahatlah" pinta Jingga langsung berkelebat ke arah pasukan yang mendekatinya.
Dugh!
Dugh!
Jingga dengan begitu cepat memukul dan menendang pasukan kerajaan Kandao bahkan beberapa orang pasukan dibantingnya ke belakang.
"Wadaw!" Jerit kesakitan seorang pasukan yang terpelanting tubuhnya.
Hanya beberapa saat saja Jingga berhasil melumpuhkan lebih dari dua ratus pasukan kerajaan yang dibawa oleh Raja Bei Eyu.
Puluhan pasukan pemanah yang berada dipaling belakang langsung melesatkan anak panah ke arah Jingga.
Siu!
Jingga melambaikan tangannya mengirim balik anak panah yang langsung melesat ke arah pasukan yang memanah.
Sret!
Puluhan pasukan pemanah tewas seketika terkena anak panah yang dilesatkannya sendiri.
Jingga langsung melirik ke arah sang raja.
"Aku bingung padamu, kenapa kau hanya membawa sedikit pasukan untuk melawanku?" Tanya Jingga lalu mendekati sang raja.
Ketiga komandan langsung melompat turun dari kudanya lalu mengacungkan pedangnya untuk menghentikan langkah kaki Jingga.
"Apa urusanmu menanyakan itu padaku?" Tanya balik sang raja tidak memahami pertanyaan pemuda asing di depannya.
"Ya memang bukan urusanku, tapi kau telah membuang waktuku dan mengotori tanganku dengan sampah yang kau bawa" jawab Jingga merendahkannya.
"Sombong sekali dirimu pemuda asing" timpal sang raja lalu merapalkan mantra dan mengacungkan tangannya ke langit.
Langit yang cerah langsung berubah menjadi gelap, tak lama terdengar suara raungan bergemuruh dengan langkah kaki cepat di balik bukit paviliun puncak.
Jingga langsung berbalik menghampiri adiknya.
"Mau ke mana kau pemuda asing?, Aku sudah menandai dirimu, jadi kau tidak akan pernah bisa tenang melarikan diri karena semua beast monster akan memburumu ke mana pun kau pergi Ha ha ha" Tanya Raja Bei Eyu tampak senang melihat pemuda asing yang berbalik meninggalkannya. Ia menyangka Jingga akan melarikan diri.
"Kau kira itu berpengaruh kepadaku, bodoh!" Gumam Jingga mengabaikannya.
"Naninu, ayo kita cari tempat untuk menyaksikan pertarungan seru, kau bisa mengumpulkan banyak inti jiwa beast monster" ajak Jingga kepada adiknya.
"Kak, lalu siapa yang akan bertarung melawan beast monster yang terdengar sangat banyak?" Tanya Bai Niu masih belum mengetahui tentang keberadaan Jirex.
Jingga tersenyum tidak menjawabnya, ia berbalik menatap Raja Bei Eyu dan ketiga komandannya.
"Kau jangan senang dulu paduka raja Kandao, aku hanya ingin mencari tempat yang nyaman untuk melihat pertarungan dan aku punya kejutan untuk melawan seluruh beast monstermu itu, jadi saranku, kau carilah tempat yang nyaman untuk dirimu dan ketiga peliharaanmu itu" ucap Jingga baru menjawab pertanyaan sang raja.
Raja Bei Eyu mengerutkan keningnya mencoba memahami maksud perkataan pemuda asing yang akan memberikannya kejutan.
Raja Bei Eyu lalu memerintahkan ketiga komandannya untuk menjauhi arena tengah kota yang akan menjadi pertarungan para beast monster.
"Naninu! Kau tunggulah aku di awan, sebentar lagi kita akan menyaksikan pertarungan yang sangat seru" pinta Jingga.
"Baik, Kak" balas Bai Niu langsung melayang terbang ke atas awan.
Jingga masih berdiri di reruntuhan kota yang dipenuhi oleh ribuan mayat para kultivator.
Gemuruh laju beast monster semakin terdengar memekakkan telinga dengan raungan kerasnya.
Ratusan beast monster serigala hitam berukuran sebesar gajah dewasa berlompatan ke arah pemuda yang berdiri tenang dengan seringainya yang tajam.
"Jirex!" Panggil Jingga.
Ia langsung menghilang di tempatnya.
Jirex yang melompat keluar dari alam jiwa langsung menggigit seekor serigala yang akan menerkam Jingga lalu menelannya hidup-hidup.
Jingga yang melayang terbang begitu terkejut dengan ukuran tubuh Jirex yang sudah mencapai sepuluh meter.
"Cepat sekali kau besar jagoan!" Gumam Jingga langsung mendekati adiknya.
"Kak, itu monster apa?" Tanya Bai Niu baru melihatnya.
"Itu temanku Jirex, entahlah aku tidak tahu dia masuk klan mana dalam bangsa beast monster" jawab Jingga lalu membuat perisai untuk keduanya agar bisa duduk nyaman menonton pertarungan para beast monster di bawahnya.
"I- itu, apakah itu monster aneh yang telah membantai ribuan beast monster yang kita kirim ke kekaisaran Xiao?" Tanya Raja Bei Eyu sambil terus melebarkan matanya melihat Jirex yang begitu buas memakan para beast monster yang dikendalikannya.
Ketiga komandan yang pernah melihatnya di area netral wilayah geografis kerajaan menganggukinya.
Jirex yang kecepatannya hampir menyaingi Jingga berlarian dengan sangat cepat membentuk sebuah bayangan hitam menyerang para beast monster serigala hitam yang terus meraung membentuk formasi tempur.
Beast serigala hitam yang terkenal akan serangannya yang terukur dan begitu presisi dalam melumpuhkan lawannya, kali ini kemampuan berkelompoknya hilang karena kecepatan dan daya tahan tubuh Jirex di luar perhitungan sang serigala.
Dugh!
Dugh!
Puluhan beast serigala hitam beterbangan terlempar jauh dengan tubuh nyaris habis.
Jingga yang menyaksikannya semakin kagum dengan kemampuan Jirex yang semakin cepat dan begitu buas.
"Kak, kenapa monster itu terlihat mirip cara bertarungnya dengan Kakak?" Tanya Bai Niu memperhatikannya.
"Itu karena dia temanku, kau pun semakin ke sini semakin sama sepertiku" jawab Jingga membalikkannya.
Bai Niu hanya cengengesan saja mendengar ucapan kakaknya.
Beberapa saat kemudian suara raungan beast serigala berubah menjadi rintihan pilu yang terus terdengar.
Tidak ada satu pun beast serigala hitam yang memiliki tubuh utuh, hampir seluruhnya hanya menyisakan kepala saja, bagian tubuh lainnya telah habis terkoyak oleh gigitan Jirex yang tajam.