Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Misi Jirex dan Zilla


Dhuar! Dhuar!


Jingga yang baru memasuki alam jiwanya terperangah melihat kedua monsternya sedang bertarung dengan begitu sengit. Dimensi alam jiwanya pun sudah porak poranda tidak karuan.


"Hentikan! Zilla, Jirex!" Raung Jingga lalu memutar dimensi dan menghempaskan keduanya.


Bruk! Gedebug!


Kedua monsternya tersungkur jatuh lalu Jingga menarik keduanya dengan benang energi.


"Ma-maafkan aku, Kakak," ucap Jirex berlutut.


"Maafkan aku juga, Tuan," sambung Zilla yang ikut berlutut.


"Hem! Sudahlah. Siapa yang memasang perisai di alam jiwaku?" Balas Jingga menanyakannya.


Jirex mendongakkan kepalanya sambil mengangkat tangan,


"Aku, Kak. Maaf," ucapnya memelas.


"Pantas saja aku tidak bisa merasakan pertarungan kalian."


"Aku tahu, Kakak sedang dalam ujian. Jadi aku sengaja memasangnya supaya Kakak tidak terganggu." Imbuh Jirex menjelaskan.


"Tidak masalah. Apa kalian sudah saling kenal?"


"Sudah." Jawab keduanya serempak.


Jingga mengangguk lalu memberi isyarat kepada keduanya untuk berdiri.


"Tuan, siapa gadis bertanduk itu?" Tanya Zilla yang belum mengenalinya.


"Dia Xinxin, adik iblisku." Jawab Jingga lalu menoleh ke arah gadis yang gemetar badannya melihat dua sosok dingin yang begitu mengerikan.


"Xin'er!" Panggil Jingga.


"Oh, iya Kak." Sahut Xinxin tersadar.


Jingga tersenyum simpul melihatnya. Ia lalu mengenalkan monsternya kepada Xinxin.


Setelahnya, Jingga langsung memperbaiki dimensi alam jiwanya dengan sihir dan meminta ketiganya duduk menunggu dirinya selesai memperbaiki.


Tak lama kemudian, Jingga kembali bergabung dengan ketiganya.


"Ada misi yang akan kuberikan kepada kalian berdua," ucap Jingga mengawali perbincangan.


Zilla dan Jirex mengangguk menerimanya. Keduanya tampak antusias mendengarkan misi yang akan dijalani.


"Aku ingin membangun pasukanku sendiri di alam iblis ini, untuk aku gunakan di masa depan," ujar Jingga mengungkapkan keinginannya.


"Maaf menyela, Tuan," potong Zilla.


"Ya, silakan!" Balas Jingga mengizinkan.


"Tuan adalah seorang penguasa iblis, bukankah semua iblis di bawah kendali Tuan? Kenapa harus membangun pasukan yang seharusnya tunduk pada kekuasaan Tuan?" Lontaran pertanyaan diajukan oleh Zilla.


Garis tipis bibir Jingga memanjang menanggapi pertanyaan Zilla,


"Ha-ha-ha. Aku tidak menginginkan semua iblis tunduk kepadaku,"


"Sudahlah. Abaikan saja titel penguasa yang tersemat padaku." Imbuh Jingga menjawabnya.


"Lalu, misi apa yang akan kami kerjakan?" Sambung tanya Zilla.


"Ada sekte Neraka Iblis yang berpusat di benua Beishang. Kalian pergilah ke sana. Jadikan mereka perisaiku atau kalian musnahkah siapa pun yang menolak." Jawab Jingga menjelaskan misi.


"Baik, Tuan."


"Baik, Kakak."


Timpal keduanya bergantian. Jingga lalu melirik ke arah adiknya Xinxin.


"Xin'er. Apa kau akan mengikuti keduanya atau tetap bersamaku?" Tawar Jingga memberinya pilihan.


"Aku ikut Kakak." Jawabnya cepat.


"Tuan, bolehkah aku memanggil kakak seperti Xin'er dan Jirex?" Sela Zilla memintanya.


"Oh. Silakan saja selama dirimu nyaman." Jawab Jingga mengizinkannya.


"Terima kasih, Kak." Balas Zilla begitu senang.


"Ayo, Jirex. Kita selesaikan misi ini." Ajak Zilla lalu menjulurkan tangannya.


Jirex menatapnya tajam. Ia tahu apa yang dilakukan Zilla hanya untuk berdamai dengannya.


"Ehem!" Deham Jingga menyindir keduanya.


Jirex kembali ke wajah datarnya. Ia lalu menerima uluran tangan Zilla yang langsung menariknya berdiri.


Zilla kemudian membuat sebuah lubang portal dimensi dengan menjentikkan jarinya.


"Kak, kami pergi dulu." Ucap Zilla lalu membawa Jirex memasuki lubang dimensi.


Setelah kepergian keduanya. Jingga menoleh ke arah adiknya.


"Apa aku tidak akan mengganggu kalian?" Tanya balik Xinxin merasa tidak enak hati.


"Tidak, kau akan ditemani kedua adikku Naninu dan Memimu." Jawab Jingga.


"Baik, Kak. Aku ikut," timpalnya.


Jingga kemudian membawa kembali Xinxin ke kamar penginapan dan langsung duduk bermeditasi. Ia lalu menghubungi istrinya Xian Hou.


"Sayang, aku ingin pulang." Ucap Jingga di dalam hatinya.


"Tumben, ingat pulang." Ketus Xian Hou membalasnya.


Jingga yang mendengarnya tampak tidak tenang. Ia tahu istrinya sedang marah kepadanya.


"Aku rindu kamu, Sayang," balas Jingga.


"Bohong!" Bentak Xian Hou tidak mempercayainya.


Jleb!


Jingga tersentak mendengarnya. Ia bingung harus mengatakan apa lagi kepadanya.


Lama keduanya membisu dalam keheningan. Akhirnya Xian Hou menyambung kembali ucapannya.


"Ya sudah, cepat ke sini!" Pinta Xian Hou yang langsung membuka portal dimensi.


Jingga lalu menarik tangan Xinxin dan langsung melompat memasukinya.


Xian Hou yang melihat kedatangan suaminya langsung meluruh menghampiri. Namun, bukan pelukan mesra yang biasa ia lakukan untuk menyambut Jingga. Ia malah melayangkan tamparan keras bertubi-tubi ke wajah suaminya.


Plak, plak, plak!


Jingga membiarkan saja istrinya terus melayangkan tamparan keras ke wajahnya, sampai istrinya terdiam dengan sendirinya. Jingga lalu memeluknya dengan erat.


"Maafkan aku, Sayang. Percayalah, aku selalu mencintaimu." Bisik Jingga.


"Kata-katamu keluar hanya untuk menenangkanku, tapi aku akan mempercayainya walau aku tahu itu dusta," balas Xian Hou lalu mendorong tubuh Jingga agar melepaskannya.


Jingga menahannya tanpa mau melepaskan pelukannya.


"Aku lebih baik mati daripada harus kehilanganmu," lirih Jingga berusaha meyakinkan istrinya.


"Aku pun begitu. Betapa pedihnya hatiku mengetahui perubahan rasa dari hatimu." Balas Xian Hou begitu sangat mencintai suaminya.


Ia pun menghentikan upayanya lalu membalas pelukan Jingga dengan sama eratnya.


Di sisi lain. Qianmei yang menyaksikan keduanya tidak mampu menahan lelehan air mata yang terlanjur jatuh membasahi pipinya. Lain halnya dengan reaksi Qianmei. Di belakang Jingga, seorang gadis iblis tampak terpana melihatnya. Bukan dari romantisme suami istri yang membuatnya terpana. Ia begitu terpana akan kecantikan yang terpancar dari Xian Hou, meskipun dalam kondisi yang sedang meratap sedih.


"Pantas saja, Kak Jingga tidak melirikku. Istrinya tak bisa dibandingkan dengan gadis mana pun di alam semesta ini," gumamnya begitu kagum pada pesona sang Peri.


Jingga dan Xian Hou akhirnya melepaskan diri dari pelukan kerinduan.


Jingga lalu menoleh ke arah adiknya Qianmei, namun pandangannya langsung tertuju pada adiknya yang lain, yaitu Bai Niu yang terbujur kaku dalam pembaringan.


"Naninu!" Kaget Jingga lalu berjalan cepat menghampirinya.


"Apa yang terjadi dengannya?" Tanya Jingga kepada Qianmei.


"Aku tidak tahu, Kak. Tiba-tiba saja Kak Niu'er tergeletak pingsan beberapa hari yang lalu," jawab Qianmei menjelaskannya.


Jingga langsung teringat akan pertarungannya dengan pria iblis di ujian terakhir.


"A-apakah pria iblis itu benar-benar membunuhnya?" Batin Jingga merasa pilu mengingatnya.


Ia lalu memindai kondisi adiknya, dan menemukan bahwa kondisi jiwa adiknya baik-baik saja. Namun sedang dalam kondisi yang tersegel oleh perisai jiwa iblis.


"Syukurlah, dia tidak benar-benar membunuhnya." Gumam Jingga langsung menghempaskan napas merasa lega.


Ia lalu mengalirkan kekuatan jiwanya untuk menghancurkan segel jiwa yang membelenggu jiwa Bai Niu.


Krak!


Segel jiwa yang membelenggu jiwa Bai Niu langsung hancur seketika.


"Uhuk!"


Bai Niu terbatuk lalu membuka matanya dengan mengerjap. Tampak sosok pemuda yang sangat dicintainya sedang duduk di sampingnya.


"Kak Jingga!" Panggilnya lalu meluruh memeluk Jingga dengan erat sambil menangis tersedu.


Xian Hou dan Qianmei merasa lega melihat Bai Niu akhirnya bisa siuman dari tidur panjangnya. Keduanya lalu ikut berpelukan. Hanya Xinxin saja yang masih berdiri diam di tempatnya.


Cukup lama keempatnya berpelukan dan beberapa waktu kemudian, keempatnya menatap seorang gadis iblis yang terus memperhatikan dengan raut datar di wajahnya.


"Xin'er, kemarilah!" Panggil Jingga.


Xinxin menganggukinya lalu melangkah menghampiri.


"Halo, aku Xinxin dari alam iblis." Ucapnya mengenalkan diri.


Ketiga gadis yang melihatnya langsung tersenyum lembut menanggapinya.