
Bai Niu menyeringai tajam menatap dewi Es Bingji di depannya.
"Kau kira mudah mengalahkanku" ucap Bai Niu lalu mengalirkan energi petirnya bersiap akan pertarungannya.
Dewi Es Bingji masih tenang, sorot matanya begitu dingin membalas tatapan Bai Niu, ia tersenyum simpul menyeringai dingin.
"Aku tidak pernah mengatakan akan mudah mengalahkanmu, aku hanya ingin menguji kemampuanmu saja" balasnya lalu mengayunkan rantai esnya ke arah Bai Niu.
Wuzz!
Rantai es mengenai udara kosong, Bai Niu menghilang dari tempatnya.
"Gadis bodoh! Tidak bisakah kau lebih cepat lagi" ucap Bai Niu mencoba untuk memprovokasinya.
Dewi Es Bingji berbalik ke arah suara di belakangnya.
Buzz!
Kembali dewi Es Bingji mengayunkan rantai esnya, namun serangannya kembali mengenai udara kosong.
Boom!
Tebasan Bai Niu mengenai bahu dewi Es Bingji yang langsung terpental jauh menabrak tebing bukit.
"Sialan! Pergerakkannya sangat cepat" kesal Bingji tidak sempat menghindarinya, ia lalu memulihkan kembali bahunya yang terbelah.
"Ini baru adik sang iblih ha ha ha" kekeh Jingga memuji kecepatan serangan Bai Niu.
Dewi Es Bingji melayang kembali ke udara menghampiri Bai Niu yang menunggunya.
"Kau sungguh menarik, Dewi Petir. Tapi itu tidak cukup untuk mengalahkanku" ucap Bingji menyeringai dingin menatapnya.
Boom!
Dhuar!
Dewi Es Bingji kembali terlempar ke tempat yang sama.
"Kesalahanmu adalah terlalu banyak bicara" ucap Bai Niu mengomentarinya.
Bai Niu terus menyerangnya dengan sambaran petir dari pedangnya.
Dhuar!
Dhuar!
Kilatan petir terus menyambar mengikuti pelarian dewi Es Bingji yang terus berpindah-pindah tempat.
"Mau lari ke mana kau dewi sialan!" Gumam Bai Niu terus menyambarkan kilatan petir.
Dewi Es Bingji tidak kalah diam terus diserang oleh Bai Niu, ia kemudian mereplika dirinya menjadi delapan dengan harapan membingungkan Bai Niu yang terus fokus menyambarnya.
Bai Niu tidak mempedulikan kemampuan lawannya, ia terus menyambar ke berbagai arah di mana pun keberadaan dewi Es Bingji berada.
Pelatihan ilmu bayangan yang ditempanya selama dua tahun lebih di hutan Bambu Merah membuat Bai Niu bisa berkelebat ke berbagai arah dengan sangat cepat. Hal ini membuat kemampuan dewi Es Bingji menjadi tidak berguna.
Dhuar!
Dhuar!
Dewi Es Bingji terus terlempar terkena sambaran petir.
"Tunggu!" Teriak Bingji meminta Bai Niu menghentikan serangannya.
Teriakan dewi Es Bingji tidak membuat Bai Niu menghentikan serangannya. Ia terus menyambar dewi Es Bingji dengan sangat brutal.
Dhuar!
Dhuar!
"Kristal es pembeku"
Dewi Es Bingji menggunakan salah satu kesaktian pamungkasnya, ia berhasil membekukan sambaran petir dari Bai Niu dan merambat cepat membekukan tubuh Bai Niu dengan bongkahan es yang terbentuk mengelilingi tubuhnya.
Setelah membekukan tubuh Bai Niu, dewi Es Bingji mengeluarkan pedang es berwarna biru.
Aura dingin dari pedangnya membuat suhu udara menjadi sangat ekstrem, bahkan arak yang diminum Jingga ikut membeku.
"Eh, airnya tidak keluar" ucap Jingga yang tidak bisa meminum arak, ia mencairkannya kembali dengan energi api iblisnya.
Dewi Es Bingji melesat terbang ke udara lalu menebaskan pedang birunya.
Dhuar!
Batu es yang menutupi tubuh Bai Niu langsung hancur berserakan, Bai Niu terlempar jauh menabrak pepohonan di bawahnya. Ia memuntahkan darah yang langsung membeku seketika.
Tidak ada kesempatan untuk Bai Niu bisa bergerak, tubuhnya kembali membeku.
Jingga yang melihatnya langsung menjentikkan jarinya menghancurkan ribuan panah es sebelum mengenai tubuh Bai Niu.
"Hei pria jelek, jangan campuri pertarunganku" tegur dewi Es Bingji merasa kesal serangannya digagalkan oleh Jingga.
Dewi Es Bingji berbalik melesat terbang dengan mengayunkan pedang birunya menyerang Jingga yang masih tenang duduk bersandar di bale bambu.
Siu!
Sret!
Jingga memiting ujung pedang biru dengan dua jarinya.
Dewi Es Bingji langsung menarik kembali pedang birunya, namun ia begitu kesulitan.
"Pria jelek, lepaskan pedangku!" Pinta Bingji begitu kesal, usahanya untuk melepaskan pedang tidak berhasil.
"Tidak" jawab Jingga lalu menenggak araknya.
Sulit melepaskan pedangnya dari pitingan dua jari pemuda di depannya, dewi Es Bingji sampai harus menggunakan kedua kakinya untuk bisa menarik pedang.
Melihat kedua kaki dewi Es Bingji menjepit lengannya, Jingga meletakkan botol araknya lalu melepaskan kedua sepatu putih dewi Es Bingji.
"Apa yang kau lakukan pria jelek?" Tanya Bingji yang terus berusaha menarik pedangnya.
Jingga langsung menggelitiki dampal kaki dewi Es Bingji.
"Brengsek! Pria kurang ajar! Tak tahu diri! Berhenti menggelitiki kakiku" umpat dewi Es Bingji lalu melepaskan pedang birunya.
Jingga langsung memasukkan sepatu dan pedang biru ke dalam cincin spasialnya.
"Kembalikan barangku, pria sialan!" Bentak dewi Es Bingji yang seenaknya menduduki Jingga lalu menjambak rambut pria yang didudukinya dengan begitu kesal.
Dengan isengnya Jingga mencubit hidung gadis berambut putih itu.
"Aw! Sakit!" Rintih dewi Es Bingji merasakan sakit di hidungnya.
Plak!
Plak!
Dengan spontan, dewi Es Bingji menampar Jingga berkali-kali.
"Adem" ucap Jingga merasakan sensasi dingin di pipinya sambil tersenyum.
Kesal dengan reaksi Jingga yang tersenyum ditamparnya, dewi Es Bingji langsung melayangkan bogem mentah ke wajah Jingga.
Dengan cepat Jingga menahan kepalan tangan gadis bersuhu dingin itu.
"Seorang gadis yang baik itu tidak boleh menyakiti pria baik hati sepertiku" ucap Jingga.
"Dih! Kau begitu menyebalkan pria jelek" balas dewi Es Bingji yang sekarang beralih mencekik leher Jingga.
"Aku baru sadar ternyata kau cantik juga gadis es, sayangnya kau galak" ucap Jingga memperhatikan wajah gadis di depannya.
Dewi Es Bingji semakin menguatkan tenaganya mencekik leher pria yang memujinya.
"Kau bagaikan seorang dewi kayangan dalam cerita pengantar tidur anak-anak, aura dinginmu membuatku ingin selalu dihangatkan oleh kasih sayangmu" gombal Jingga menggodanya.
"Tapi sayang, hanya ada satu gadis tercantik di semesta ini, ia adalah Ratu Peri Xian Hou" imbuhnya teringat akan pujaan hatinya.
Wajah putih dewi Es Bingji yang dingin sekarang menjadi merona, entah karena marah atau melayang karena pujian pria yang sedang dicekiknya.
Tak lama ia melepaskan cekikannya lalu duduk di sebelah Jingga. Ia begitu penasaran akan gadis yang disebutkan pemuda di sampingnya.
"Apa benar wanita itu paling cantik di alam semesta?" Tanya Bingji ingin tahu.
"Ya, dia gadis egois yang mengambil semua keindahan alam syurgawi" jawab Jingga lalu teringat adiknya Bai Niu.
"Naninu" imbuhnya lalu berkelebat menghampiri adiknya.
"Lalu, kenapa tadi kau mengatakan aku cantik?" Tanya dewi Es Bingji tidak menyadari Jingga sudah tidak ada di sebelahnya.
"Sialan! Dasar pria jelek" rutuknya lalu melayang ke rumahnya yang berada di seberang bukit.
Jingga mencairkan bongkahan es yang menutupi tubuh Bai Niu.
"Uhuk!"
"Kakak!" Ucap Bai Niu sambil terbatuk melihat kakaknya Jingga berada di depannya, ia langsung memeluknya.
"Maaf, aku kalah dari dewi sialan itu" imbuhnya lalu mendekap erat Jingga karena kedinginan.
"Tidak masalah, kemampuanmu sungguh hebat" balas Jingga memujinya.
Jingga memangku tubuh adiknya lalu melayang kembali ke atas bukit.