
Jingga tahu, akan ada serangan yang lebih besar dari Dewa Matahari yang membuatnya harus selalu siap. Ia lalu memfokuskan diri pada nalurinya. Dirasakan olehnya, tingkat energi yang terus membesar dan sangat kuat dari sosok Dewa Matahari.
“Sebelum dia menyerangku, aku harus menyerangnya terlebih dahulu,” gumam Jingga lalu memindahkan Jianhuimie Yuzhou ke tangan kiri dan kemudian, tangan kanannya diangkat ke atas.
Bola api keluar dari telapak tangan yang menghadap ke atas langit dan terus membesar. Di sisi lain, Taiyangshen telah menyempurnakan bola api yang berputar cepat seukuran lima kali dari tubuhnya.
“Bersiaplah, Iblis!” ucap sang dewa lalu melemparkannya ke arah Jingga.
Wuzz!
Sementara itu, bola api ciptaan Jingga masih berukuran kecil. Tidak ada waktu baginya untuk memperbesar ukuran bola api yang setara dengan bola api ciptaan Taiyangshen. Meskipun demikian, bola api yang diciptakannya berasal dari perpaduan ketiga unsur api yang dibungkus dengan kekuatan jiwa.
“Kaa-paab, kaa-paab, haa!” pekik Jingga lalu melemparkannya ke bola api yang melesak cepat ke arahnya.
Wuzz!
Dua bola api besar berkelebatan di udara, berputar cepat membentuk bayangan mengerikan. Keduanya memiliki kekuatan yang menghancurkan, membara dengan intensitas yang luar biasa.
Boom!
Getaran energi meluap ke segala arah, menyebabkan langit bergetar dan tanah terbelah. Cahaya terang memancar dari titik benturan, menciptakan kilatan yang memesona.
Dalam sekejap, udara terbakar, menciptakan gulungan awan hitam yang menghampiri. Petir berkelebatan di langit, menghancurkan landskap di sekitarnya. Pusaran angin topan terbentuk melingkar dengan kekuatan yang melumpuhkan, mengoyak segala yang dilewatinya.
Dampak besar dari benturan bola api itu merambat melintasi berbagai kota di alam dewa, menciptakan gelombang energi yang tak terbendung. Gunung-gunung runtuh dan hutan-hutan terbakar dalam kobaran api yang tak terkendali.
Ledakan dahsyat dari benturan bola api tersebut menciptakan gelombang kejut yang menyebar ke berbagai kota di alam dewa. Penduduk kota yang tak berdaya menjadi korban dari amukan gelombang energi, terdorong dan terlempar ke segala penjuru oleh dahsyatnya ledakan yang menghancurkan.
Bangunan-bangunan kota yang megah dan indah berubah menjadi reruntuhan, mengisi langit dengan awan debu dan puing-puing yang berhamburan. Penduduk yang berada di jalanan kota terpental dan terjatuh, tertimpa oleh serpihan dari bangunan yang runtuh.
Teriakan kepanikan mengisi udara saat para penduduk berjuang untuk bertahan hidup di tengah kekacauan yang melanda.
Jingga dan Taiyangshen yang berada di dekat titik ledakan terpental jauh dengan tubuh terbakar. Keduanya meringis kesakitan karena dampak energi yang tak terkira oleh keduanya.
Dalam posisi tersungkur jatuh, Jingga kembali bangkit dengan menopang pada pedangnya. Tubuhnya masih dipenuhi oleh api yang berkobar.
Kongqi Zhuanhuan Qi
Jingga merapalkan mantra pembeku untuk menghilangkan kobaran api di sekujur tubuhnya. Setelah itu, ia kembali pada semangat bertarungnya. Kini, ia bisa melihat semua yang nampak di sekitarnya. Matanya melebar dengan mulut menganga.
“Untung saja aku tidak salah memperhitungkan kekuatan energi dari Dewa bodoh itu,” dengus Jingga setelah melihat kerusakan alam di sekelilingnya.
“Apakah dia berencana untuk menghancurkan alam ini?” imbuhnya begitu kesal.
Demikian juga dengan Taiyangshen yang kini berada sangat jauh dari posisi Jingga. Sang dewa matahari bangkit dengan tatapan takjub melihat kehancuran yang diakibatkan oleh benturan bola api miliknya.
“Ha-ha-ha, ini sangat hebat!” ujarnya merasa bangga.
Dalam perasaan bangga, Taiyangshen mengangkat tinggi kedua tangannya.
Krak!
"Ah!" ringis Taiyangsen mendapati bahu kirinya hancur terkena ledakan. Ia lalu mencoba untuk memulihkannya. Namun sangat disayangkan, luka di bahunya tak dapat disembuhkan dengan energi spiritualnya.
Taiyangshen menjadi panik, ia lalu mengambil sebuah pil hitam keemasan dari cincin spasial dan langsung menelannya. Setelah beberapa saat ditunggu, terjadi reaksi dari jaringan otot dan daging yang melakukan perbaikan dengan sendirinya. Taiyangshen begitu senang melihatnya.
“Syukurlah,” ucapnya.
Tak lama kemudian, tiba-tiba saja bahunya mengeluarkan asap hitam dan meninggalkan bau daging terbakar. Rasa sakit kembali menghinggapinya, Taiyangshen sampai menggertakkan gigi geraham menahannya.
“Ah, mengapa bisa begini? Apa yang terjadi dengan bahuku?” Taiyangshen begitu panik melihatnya.
Ia lalu mengalirkan energi inti matahari yang dipusatkannya ke bahu kiri. Rasa sakitnya mulai berkurang secara signifikan, dan bahu kirinya kini pulih kembali.
“Dewa kok lemah!” ejek Jingga yang sekarang berdiri beberapa tombak di depan Dewa Matahari.
Taiyangshen menatap tajam pemuda iblis di depannya dengan sorot mata ingin mencabik.
“Huh, aku tidak akan bermain-main lagi denganmu!” dengus kesal Taiyangshen menanggapinya.
Jingga tersenyum seraya bergaya santai, yang mana kedua tangannya melingkar di dada, dan kaki yang bersilangan. Ucapan Taiyangshen hanya dianggapnya sebagai celoteh burung di malam hari.
“Harus kuakui, kekuatan terbesarmu hanyalah menjadi kunang-kunang yang menyilaukanku,” sarkas Jingga merendahkannya.
Taiyangshen mengerutkan dahi lalu menggerakkan tangannya dengan cepat, mulutnya komat-kamit merapalkan mantra. Cahaya berkilauan muncul di sekelilingnya saat dia mempersiapkan serangan sihirnya. Jingga menaikkan alis memperhatikan gerakan Taiyangshen.
Mendengar celaan Jingga, hampir membuat Taiyangshen kehilangan konsentrasinya. Untungnya, ia berhasil mengendalikan amarah.
Tiba-tiba saja, gelombang panas keluar dari tubuh Taiyangshen lalu melesak cepat ke arah Jingga dan langsung menyegel tubuh Jingga dengan panas api yang menyengat. Jingga terkekeh keras melihatnya.
“Seorang dewa komat-kamit tak jelas hanya untuk menutupi tubuhku dengan api. Kamu bercanda?” ejek Jingga merasa lucu.
“Ha-ha. Ternyata kau sangat bodoh,” balas Taiyangshen lalu menebaskan pedang secara diagonal ke tubuh Jingga.
Slash!
Jingga terbelah dua lalu jatuh ke tanah. Taiyangshen langsung menjentikkan jari membakarnya dengan energi inti matahari.
“Huh, kau terlalu mudah dikalahkan!” Taiyangshen tampak kecewa melihat Jingga langsung mati seketika.
“Begitukah? Kaupikir dengan membakar bayanganku bisa membuatku mati? Dewa bodoh!” kata Jingga yang melayang di atas Dewa Matahari.
Taiyangshen menengadah ke langit lalu menoleh ke arah pemuda iblis yang melayang sambil menikmati arak.
“Itu hanya simulasi saja,” sanggah Taiyangshen tidak ingin terlihat bodoh.
Jingga tidak memedulikannya, ia mengedarkan pandangan mencari keberadaan Qianmei. Namun, ia merasa heran sendiri karena tidak merasakan keberadaannya. Bahkan tidak ada pula jejak dari pertarungan adiknya.
“Sedang cari apa kau, Iblis?” tanya Taiyangshen.
“Bodoh, apa kau melupakan istrimu? Di mana mereka bertarung? Aku tidak menemukannya,” jawab Jingga tanpa meliriknya. Ia memperluas jangkauan penglihatannya.
“Mungkin saja keduanya mati terbakar oleh ledakan tadi,” ucap Taiyangshen sekenanya.
“Rupanya kau ingin sekali dibakar ya, …, aku akan membakarmu,” balas Jingga.
Wuzz!
Chuanguo Yinying
Jingga menukik tajam menyerang Taiyangshen dengan ujung pedang yang menjulur ke bawah.
Duar!
Hunusan pedang menancap tanah dan meledakkannya. Taiyangshen berhasil menghindarinya, namun ia tak luput dari kengerian yang ditimbulkan oleh serangan cepat yang dilayangkan oleh Jingga. Tiba-tiba saja, ia merasakan sakit di perutnya. Taiyangshen menundukkan wajah melihatnya.
Tampak lubang menganga di bagian perutnya yang entah kapan terkena hunusan pedang. Ia lalu mengalirkan inti energi matahari ke luka yang didapatnya.
Slash!
Buk!
Belum juga sembuh luka di perutnya. Taiyangshen ambruk dengan kepala yang terpenggal. Jingga lalu menginjak kepalanya.
“Sudah kubilang, keluarkan kemampuan terbaikmu, Dewa Bodoh!” kata Jingga lalu mengalirkan api semesta dan menjentikkannya ke tubuh Taiyangshen, namun ia menghentikan aksinya untuk melebur tubuh sang dewa.
Brr!
Langit alam dewa bergemuruh keras, Jingga mengernyitkan wajah memperhatikannya dengan seksama.
“Apakah alam ini akan hancur?” gumamnya.
Rintik cahaya berjatuhan dari langit, menyerupai bintang-bintang jatuh yang terbakar. Lapisan langit yang indah terbelah, mengungkapkan pemandangan yang menakjubkan namun menyeramkan di baliknya.
Seperti pecahan kaca yang hancur, langit alam dewa runtuh dengan perlahan. Bongkahan-bongkahan langit terlempar ke segala penjuru, menghujam tanah dengan kekuatan yang besar. Asap dan debu mengisi udara, menciptakan suasana yang gelap dan mencekam.
Jingga berdiri dengan kepala yang menengadah memperhatikan reruntuhan langit di atasnya. Tidak ada hal yang dipikirkannya, seolah ia merupakan makhluk terakhir di alam dewa yang menjadi saksi kehancuran alam.
Dalam kehancuran dan kegelapan yang melingkupi alam dewa, terjadi perubahan yang tak terduga. Tubuh Taiyangshen berubah menjadi serpihan yang memancarkan cahaya seperti kunang-kunang.
Cahayanya begitu terang dan terlihat sangat indah di kegelapan alam. Serpihan cahaya itu terbang ke langit dan berputar-putar membentuk spiral. Pandangan Jingga beralih memperhatikannya.
“Indahnya!” puji Jingga yang terbuai memandangi serpihan cahaya.
Seiring waktu, spiral cahaya membentuk wujud seorang pria dewasa. Wujudnya yang sama persis dengan sosok Dewa Matahari membuat Jingga langsung menundukkan wajah melihat ke arah tubuh Taiyangshen. Benar saja, tubuh dan kepala Taiyangshen tidak ada lagi di tempatnya. Ia kembali menengadah ke arah sosok Taiyangshen di atasnya.
Sinar cemerlang menyelimuti tubuh Taiyangshen yang gagah perkasa. Tampak, Taiyangshen yang sekarang terlihat begitu berkarisma dan sangat berwibawa. Tatapannya tajam dengan ekspresi datar. Inilah wujud transformasi puncak sang dewa matahari.
“Aku harus membinasakanmu sebelum alam ini hancur,” ucap dingin Taiyangshen.