Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Ratu Kreya



Jingga dan Zilla terus saja fokus memperhatikan badai api sambil berusaha menyusutkannya. Tampak keduanya begitu sibuk mengendalikan api yang berkobar di bawahnya.


"Aku tidak menyangka akan seluas ini, api menyebar," ucap Jingga yang kedua tangannya terus bergerak mengendalikan ketiga energi api miliknya.


Zilla langsung menolehnya lalu berkata,


"Inti api yang Kakak miliki mempunyai kemampuan mendeteksi target. Itulah kenapa sebarannya sangat cepat."


Jingga sedikit terkejut mendengarnya, ia yang memilikinya bahkan tidak mengetahuinya,


"Seperti itu rupanya. Ha-ha." Kekeh Jingga menanggapi perkataan Zilla.


"Eh, kenapa kau lebih tahu dariku?" imbuhnya bertanya.


Zilla tidak langsung menjawabnya. Ia mengalihkan pandangannya lalu kembali melanjutkan upayanya menekan energi api miliknya.


"Banyak hal yang belum Kakak ketahui. Salah satunya karena usiaku lebih tua dari Kakak."


"Masa?" tanya Jingga meragukannya.


"Hem!" deham Zilla sedikit kesal mendengarnya.


"Apa kita sudah sampai di benua Heibiantan?" tanya Jingga yang tidak mengetahui posisinya.


"Mana aku tahu, daritadi yang kita lihat cuma badai api saja." Jawab Zilla dengan ketus.


"Betul juga." Timpal Jingga sambil mengangguk.


"Hem!" Zilla hanya bisa berdeham menanggapinya.


"Deham terus, kenapa?" Jingga menanyakan hal tidak penting.


"Tidak apa-apa, ayo kita lanjutkan." Jawab Zilla tidak mau terus berdebat.


"Oh," Jingga menanggapinya dengan singkat.


"Oh iya, aku kangen istriku. Kamu sendiri saja ya," celetuk Jingga tiba-tiba.


"Mana bisa, tiga energi api bukan punyaku." Kata Zilla mulai kesal pada ucapan kakaknya.


"Oh iya, aku lupa." Ucap Jingga tanpa merasa bersalah.


"Hem!"


"Deham lagi, kenapa?" lagi-lagi Jingga bertanya tidak penting.


Zilla yang mendengar pertanyaan itu akhirnya tidak bisa menahan diri dari kekesalannya.


"Kak, boleh masuk ke alam jiwa?" pinta Zilla yang menyerah pada perkataan Jingga yang terdengar menyebalkan.


"Boleh," kata Jingga mengizinkannya, namun raut wajahnya tidak memberinya izin.


WUZZ!


Zilla tidak mempedulikan raut wajah kakaknya. Ia langsung saja menghilang masuk ke alam jiwa, akan tetapi, Jingga tidak membukanya.


"Kakak!" kesal Zilla tidak diberikan akses masuk ke alam jiwa.


"Temani aku dulu, aku jenuh." Pinta Jingga yang tidak mau sendirian berada di alam iblis yang terbakar.


"Mau aku temani, sayang."


Tiba-tiba terdengar suara lembut dari arah belakang yang membuat Jingga dan Zilla langsung berbalik melihatnya.


Tampak terlihat oleh keduanya, sosok cantik bergaun merah pekat dengan mahkota yang melingkar di atas kepalanya. Sosok cantik tersebut terlihat sangat anggun dan menawan. Memiliki tubuh ramping, berkulit putih kemerahan tampak kontras dengan para gadis di alam iblis yang berkulit pucat pasi. Warna rambutnya pun serupa dengan gaun yang dikenakannya. 


Jingga sampai tersihir oleh kecantikannya yang menawan hati. Untung saja reaksi berbeda ditunjukkan oleh Zilla yang langsung memancarkan aura monsternya. 


Suhu di alam iblis yang sangat panas karena badai api, kini menjadi lebih panas hampir tiga kali lipat oleh panas yang terpancar dari tubuh Zilla. Parahnya, kondisi alam iblis kembali mengalami goncangan keras karena fluktuasi energi yang meningkat tajam.


Jingga yang melamun mengagumi paras cantik si wanita langsung tersadar,


“Apakah dia Ratu Kreya dari Sanbuqu Lima yang dikatakan oleh Zilla?” gumam pikir Jingga mengingatnya.


“Bagaimana kau bisa mengenali diriku? Aku bahkan baru saja menampakkan diriku selama lebih dari ribuan tahun lamanya, bahkan pada raja iblis sebelumnya pun aku tidak menampakkan diri.” Ujar Ratu Kreya menanggapi gumam pikir Jingga.


"Dasar bodoh! Tidakkah kau mendengar semua yang kupikirkan tadi?"


"Kak, dia ratu iblis Kreya dari Sanbuqu Lima." Sambung Zilla memberitahunya.


"Ya, aku sudah menerkanya. Kau kembalilah ke alam jiwa. Aku akan bermain-main dengannya."


"Tidak, Kak. Dia adalah misiku yang belum tercapai. Biar aku saja yang menghadapinya."


"Baiklah, tapi kultivasinya berada di ranah Supreme Emperor Platinum. Kau harus berhati-hati dengannya."


"Tenang saja, Kak."


Ratu Kreya yang mendengar perbincangan keduanya mulai merasa sedikit heran.


"Bagaimana dia bisa tahu ranah kultivasiku?" gumam pikirnya.


"Karena aku hebat." Timpal Jingga membalasnya.


"Ha-ha-ha, aku suka kesombonganmu. Tapi kau sangat menyedihkan," ujar Ratu Kreya sambil menggeleng pelan.


"Apa maksudmu?" Jingga merasa heran dengan perkataan sang Ratu.


"Kau berasal dari Sanbuqu Nol, dan aku dari Sanbuqu Lima. Apa kau tahu maksudnya?" Kata Ratu Kreya dengan tatapan merendahkan.


Jingga menggelengkan kepala tidak mengetahui maksudnya.


"Baiklah, aku akan memberitahumu agar kau tidak mati penasaran. Tingkatan ranah kultivasi di tempat asal kami lima kali lebih tinggi dari tingkatan kultivasi di alam ini. Artinya tingkat kultivasimu yang berada di ranah Supreme Emperor Kristal sama dengan ranah Warrior Perak di sanbuqu Lima," beber Ratu Kreya dengan bangga.


"Apakah aku harus bilang wow?" Jingga tidak memedulikannya.


"Huh! Kau masih saja menyombongkan diri. Kasihan!"


"Daripada dirimu yang terus saja mengoceh. Tunjukkan padaku semua omong besarmu itu. Ha-ha-ha."


WUZZ!


DHUAR!


"Lumayan," kata Jingga yang berhasil mengelak dari serangan Ratu Kreya.


"Harusnya aku yang mengatakan itu, Iblis sialan!" rutuk Ratu Kreya lalu kembali melesak menyerang Jingga dengan jurusnya.


Pertarungan keduanya pun dimulai.


WUZZ!


DHUAR! DHUAR! DHUAR!


Ledakan demi ledakan terdengar keras di langit alam iblis. Ratu Kreya terlihat seperti kesetanan menyerang Jingga dengan brutal dan begitu cepat.


"Aku harus terus memprovokasinya untuk mengukur kekuatannya," gumam batin Jingga sambil terus menghindari terjangan yang dilayangkan oleh Ratu Kreya.


Kraak! kraak!


Tiba-tiba saja langit alam iblis mulai mengalami retakan di tiap lapisannya. Jingga mulai sedikit was-was mendengarnya. Ia yang masih ingin mempermainkan Ratu Kreya, terpaksa harus membalikkan keadaan.


"Jianhuimie Yuzhou,"


"Tarian pedang Asura."


WUZZ!


Kali ini Jingga melancarkan serangan balik menyerang Ratu Kreya yang berbalik mundur menghindari tebasan cepat yang dilayangkan oleh Jingga.


Arah serangan kini berbalik. Jingga mulai bisa mendominasi pertarungan. Ratu Kreya terus saja berkelit menghindarinya.


"Zilla, kau gantikan aku. Alam ini tidak akan sanggup menahannya." Pinta Jingga yang semakin tidak tenang membayangkan dampaknya di alam fana.


"Baik, Kak." Sahut Zilla lalu melesak menyerang Ratu Kreya.


Jingga lalu menghilang dari tempatnya. Namun, Ratu Kreya tidak membiarkannya lari dari pertarungan.


SRING!


Ribuan energi pedang meluncur cepat seperti hujan deras menyerang ke arah Jingga melesak.


Tak ingin terganggu oleh serangan Ratu Kreya, Jingga berbalik lalu mengeluarkan jurusnya.


"Chuanguo Yinying,"


TRANG! KRAK!


Ribuan bilah pedang energi langsung hancur menjadi debu.


WUZZ!


Setelahnya, Jingga berbalik kembali dengan cepat menjauhi pertarungan. Posisinya sekarang digantikan oleh Zilla yang langsung menyemburkan api ke arah sang Ratu.


DHUAR! DHUAR!


Ledakan keras kembali terdengar saling bersahutan di langit alam iblis.


Sementara Jingga sudah berada di ketinggian langit alam iblis.


"Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mungkin bisa memasang perisai pelindung di seluruh hamparan langit." Gumam batinnya mulai merasa bingung.


Sementara itu, Panglima Tianfeng yang ditugaskan oleh Kaisar Langit merasakan adanya pergumulan energi iblis jauh di depannya saat ini.


"Dewa Api, aku merasakan adanya pertarungan besar di arah sana. Aku akan memeriksanya. Dua komandan akan kutinggalkan untuk membantumu."


"Silakan, Panglima. Berhati-hatilah. Iblis yang mampu menciptakan badai api bukanlah iblis biasa." Balas dewa Api mengingatkannya.


Panglima Tianfeng mengangguk setuju. Ia bersama belasan komandan langsung melaju cepat ke arah pertarungan.


***


Jingga yang sedang mencari sesuatu dari ingatan Yuangu Mowang merasakan adanya pergerakan energi yang melaju cepat ke arahnya. Namun Jingga tidak menghiraukannya. Ia masih sibuk mencari cara untuk menahan dinding langit agar tidak runtuh.


Di bawahnya, pertarungan Zilla dan Ratu Kreya berlangsung semakin sengit.


Ratu Kreya terlihat begitu mendominasi pertarungan, Zilla bahkan harus mengakui ketangguhan bertarung lawannya, ia berkali-kali terpelanting oleh berbagai serangan yang dilayangkan oleh sang Ratu. Meskipun begitu, ketahanan tubuh Zilla mampu membuat sang Ratu masih belum mampu mengalahkannya.


"Aku harus menariknya ke tanah," pikir Zilla yang tidak mau menjadi bulan-bulanan serangan sang Ratu.


"Ha-ha-ha. Kau tidak perlu menarikku ke bawah. Akan aku turuti. Ayo turun!" ajak sang Ratu lalu kembali melancarkan serangannya yang cepat dan mematikan.


WUZZ! DHUAR!


Zilla terpelanting jatuh ke tengah badai. Ratu Kreya bergegas menyusulnya dengan menjulurkan kepalan tangan untuk kembali menghantam tubuh Zilla di bawahnya.


Zilla yang terlentang di tanah yang menyala langsung bertransformasi ke tubuh monsternya.


GROARR!


Ia menderam keras sambil mengayunkan kedua cakar tangannya menepuk tubuh Ratu Kreya.


PLAK!


Sayangnya, Ratu Kreya berhasil menghindarinya.


"Ha-ha-ha. Transformasi yang terlalu dini. Monster bodoh!" ejek sang Ratu yang wujudnya tidak terlihat oleh Zilla.


GROARR!


Zilla kembali menderam dengan keras. Dari arah kejauhan, Ratu Kreya kembali menciptakan ribuan energi pedang yang langsung dilesakkan ke arah tubuh Zilla.


SRING!


Denting suara pedang melesak cepat menembus badai api lalu menancap dihampir seluruh tubuh Zilla. Hanya menyisakan bagian kepalanya saja yang tidak terkena energi pedang.


SREET! BRUK!


Zilla tersungkur jatuh dengan tubuh penuh lubang. Ia pun kembali ke wujud manusianya.