
Seminggu sudah Du Dung dan Bai Niu menunggunya di penginapan, namun tidak pernah sekali pun Jingga menampakkan dirinya.
"Niu'er, sudah seminggu kita menunggunya, apakah kau akan terus menunggunya di sini?" Tanya Du Dung.
"Iya Kak, aku akan terus menunggunya sampai kakak Jingga kembali ke sini, memangnya kenapa Kak?" Jawab Bai Niu memastikannya.
"Hem, kakak mengkhawatirkan keadaan rumah, apakah kau mau ikut kakak ke kota Yu Chen?, Kita bisa menunggunya di sana" jawab Du Dung menawarkannya.
Bai Niu tetap pada pendiriannya untuk menunggu Jingga di penginapan.
"Aku sudah berjanji akan mengikuti Kak Jingga seumur hidupku, maafkan aku Kak" ucap Bai Niu teguh pada pendiriannya.
"Baiklah kalau kau sudah bertekad seperti itu, kakak tidak bisa memaksamu" timpal Du Dung lalu berpamitan pergi meninggalkannya sendiri.
Di kedalaman gunung Lanhua,
Jingga membuka kembali kedua matanya yang telah tertutup selama beberapa hari, tatapannya tertuju pada sebilah pedang yang tertancap di depannya.
"Pedang siapa ini?" Gumamnya pelan.
Pedang itu bergetar mendengar suara Jingga, lalu memasuki kening Jingga.
"Hah!" Kagetnya melihat pedang yang langsung memasuki keningnya.
Tak lama Jingga merasakan sesuatu di kepalanya, ia langsung kembali menutup kedua matanya dalam posisi bersila.
Terlihat olehnya ribuan ingatan dari kesaktian yang diwariskan oleh Yuangu Mowang.
Bibirnya tersenyum melihat banyaknya jurus yang bisa ia pelajari, termasuk soal alkemis, baik di alam fana, alam iblis dan sedikitnya yang berasal dari alam dewa.
Jingga membuka kembali kedua matanya, ia teringat akan pesan dari Yuangu Mowang, lalu mencoba memasuki alam jiwanya.
Sekali mencobanya, ia langsung berhasil memasukinya, kali ini ia bisa melihat alam jiwanya dengan jelas, namun ia begitu kecewa, di dalam dimensi yang begitu luas, tidak ada apa pun sesuatu yang menarik perhatiannya.
Ketika ia memutuskan untuk keluar dari alam jiwanya, pedangnya keluar dari keningnya, seolah memberi tahunya untuk menjelajahi seluruh dimensi alam jiwa.
Jingga terkejut dengan jutaan jiwa yang terjebak di dalamnya, bahkan banyak jiwa dari bangsa beast monster berada di dalamnya. Namun semua jiwa itu begitu ketakutan ketika melihat kehadirannya.
"Mungkin aku bisa mengetahuinya nanti, sekarang aku harus mempelajari semua yang diwariskan oleh monster jelek itu" gumamnya lalu keluar dari alam jiwanya.
Di ruang yang berbentuk lonjong seperti berada di dalam sebuah telur, Jingga mulai melakukan meditasi pertamanya. Ia mempelajari semuanya secara bertahap melalui alam pikirannya dan ia melatihnya di alam jiwanya.
Tanpa terasa, ia sudah lima ratus tahun melatih semuanya, sama seperti ketika ia berlatih di hutan Bambu Merah, Jingga tidak akan berhenti sampai menyempurnakan semuanya.
Waktu di alam jiwa jauh lebih lambat dari waktu sebenarnya.
Di alam sebenarnya, Jingga sudah menghabiskan waktu selama lima tahun lamanya.
Ketika Jingga membuka matanya, ia terkejut dengan penampilannya sendiri, kumis dan janggutnya begitu panjang, rambutnya pun sudah sangat panjang menjuntai di punggungnya.
"Sepertinya aku harus menemui Naninu untuk memangkasnya" gumamnya.
Jingga kemudia memperhatikan sebuah garis tipis di salah satu jarinya.
"Bukankah ini cincin spasial pemberian kakekku dulu?" Imbuhnya lalu mencoba melihat isinya.
Tampak banyaknya harta peninggalan dari mendiang kakeknya, mulai dari berbagai jenis arak yang terkumpul, berbagai jenis artefak, senjata kuno, tanaman langka, pil-pil berkualitas tinggi, sumberdaya lainnya yang terkumpul rapi dan bahkan koin emas yang bertumpuk seperti bukit ia temukan, namun Jingga hanya mengambil satu set pakaian yang pernah dipakai oleh mendiang kakeknya.
"Ha ha ha, ternyata selama ini aku orang kaya, enaknya menjadi cucu seorang pelaut" ucapnya penuh kebahagiaan.
"Terima kasih kakek Zhang" imbuhnya tidak melupakan mendiang kakekknya.
Tidak menunggu lama, Jingga langsung mengeluarkan aura iblisnya menghancurkan sisa lapisan segel formasi yang membelenggunya.
Boom!
Gunung Lanhua langsung meledak, puing-puing berhamburan ke semua sisi, daya ledaknya menciptakan kawah besar di bawahnya.
"Ah! Segarnya!" desis Jingga menghirup kembali udara segar yang tidak dirasakannya selama lima tahun ini.
Dalam posisinya yang masih melayang di atas kawah yang terbentuk, Jingga langsung berkelebat ke arah penginapan.
Kali ini ia hanya membutuhkan waktu beberapa detik saja untuk sampai di pintu masuk penginapan.
Jingga berjalan santai memasuki ke dalam ruang restoran yang biasa ia tempati untuk menikmati arak.
Seorang pelayan wanita menghampirinya dengan senyumnya yang lembut.
"Kenapa wajahnya tidak asing bagiku" gumam pelayan wanita memperhatikan seorang pria yang penampilannya mirip seperti orang yang tidak terurus memasuki restoran penginapan.
Pelayan wanita langsung menghampirinya dengan sikapnya yang profesional sebagai seorang pelayan.
"Apakah tuan akan menginap atau memesan sesuatu di penginapan ini?" ucap tanya pelayan wanita menyambutnya.
"Naninu" kata batin Jingga mengenali sosok pelayan wanita yang menyapanya, Jingga tidak mau mengejutkannya, ia kemudian memintanya untuk membawakan sebotol arak lalu menghampiri sebuah meja yang biasa ia tempati bersama kedua temannya.
Dalam posisi duduknya Jingga terus memperhatikan wanita yang berlalu pergi ke arah dapur.
"Kenapa dia menjadi pelayan di penginapan ini?" gumamnya pelan.
"Silakan dinikmati, Tuan" ucap Bai Niu setelah meletakkan sebotol arak di meja.
Jingga mengangguk menjawabnya lalu menenggak arak yang sudah lama tidak dinikmatinya.
"Hem, lumayan!" ungkapnya setelah merasakan kembali nikmatnya seteguk arak yang masuk ke dalam kerongkongannya.
Dari balik pintu masuk, seorang pemuda menggenggam seikat bunga di balik badannya, ia melangkah menghampiri Bai Niu yang berdiri tidak jauh dari pintu, namun Bai Niu membuang muka mengacuhkan keberadaannya.
"Sampai kapan kau akan terus menolakku?" tanya pemuda itu lalu meletakkan seikat bunga di meja.
"Berhentilah menggangguku pria sialan!" jawab Bai Niu terlihat begitu kesal.
Plak!
Pemuda itu menamparnya lalu mencekik leher Bai Niu yang terkejut dengan perilakunya.
Jingga terus memperhatikan tingkah pria itu sambil terus menenggak araknya.
Plak!
Lagi-lagi pria itu menampar Bai Niu sambil mengeluarkan kata-kata mutiara yang begitu syahdu terdengar.
"Bagaimana bisa seorang pria mendapatkan hati seorang wanita dengan paksaan dan bahkan melakukan penganiaayan kepadanya?" ucap Jingga menyindirnya.
"Hei kau pria gila, sebaiknya kau tidak ikut mencampuri urusanku, kau harusnya mengetahuiku sebagai tuan muda klan Lin yang tersohor di kota ini ha ha ha" balas pemuda menyombongkan diri.
"Ha ha ha, kenapa setiap pemuda dari klan harus selalu menyombongkan diri?, apakah aku harus melenyapkan semua klan di alam ini?" timpal Jingga dengan tenangnya terus menatap pemuda yang mulai kesal mendengarkan celotehannya.
Pemuda itu melepaskan cengkramannya pada Bai Niu dan langsung menghampiri Jingga yang masih tenang meminum arak.
Bugh!
Pemuda itu memukul wajah Jingga dengan keras.
"Hei! apa kau sedang membelaiku?" tanya Jingga lalu tersenyum.
"Aku akan menunjukkanmu cara membelai yang lembut" imbuhnya langsung membalas pukulannya.
Sret!
Jingga membelai lembut wajah pemuda di depannya, namun belaian lembutnya membuat wajah pemuda itu menjadi tidak berbentuk lagi, bagian wajahnya hilang dengan menyisakan bagian dalam yang keluar berhamburan, pemuda itu langsung mati mengenaskan.
Hampir semua pengunjung yang melihatnya memuntahkan makanannya karena merasa jijik melihat bagian dalam wajah pemuda jatuh ke lantai.