
Ketika Ratu Kalandiva begitu mencemaskan keberlangsungan hidup bangsa beast monster, lain halnya yang terjadi di alam dewa.
Berada pada satu wilayah tersembunyi di alam dewa, seorang pemuda yang begitu tampan dengan satu mata bulat berwarna kuning keemasan yang terus berputar di antara kedua matanya.
Tampak dari wajahnya ia terlihat masih berusia dua puluh tahun walau usia aslinya sangatlah tua.
Pemuda itu membuka kedua matanya setelah bertapa selama ribuan tahun karena merasakan keberadaan satu kekuatan yang pernah dihadapinya.
"Ah! Sudah begitu lama waktu berlalu, akhirnya api semesta kembali menyala, ini menandakan rival terberatku telah kembali. Kemana saja kau selama ini?, Tapi aku ucapkan selamat datang kembali Yuangu Mowang" ucapnya dengan seringai tajam.
"Aku akan menunggumu di alam dewa seperti pertemuan terakhir kita. Kau tahu, aku begitu merindukan tebasan pedang Jianhuimie Yuzhou milikmu ha ha ha" imbuhnya begitu membara.
Pemuda itu langsung memancarkan gelombang energi semesta miliknya untuk memberitahu lawannya akan keberadaan dirinya. Setelahnya ia kembali menutup kedua matanya melanjutkan pertapaannya.
Gelombang energi yang terpancar terus menyeruak ke seluruh alam dewa dengan begitu cepat seperti badai yang membuat alam dewa mengalami guncangan hebat, semua penduduk alam dewa terlihat begitu panik dengan guncangan besar yang terjadi. Bahkan para dewa yang berada di istana kekaisaran juga merasakan dampaknya.
Kaisar Langit yang berada di singgasananya harus menutup kedua matanya merasakan gelombang energi yang menerpa dirinya.
Tak lama, Kaisar Langit membuka kembali matanya, ia menatap semua pejabat dengan tatapan dingin.
Seorang dewa yang memakai jirah emas melangkah mendekati kaisar langit.
"Yang Mulia, apakah gelombang energi yang begitu menekan ini merupakan suatu pertanda akan terjadi di alam dewa?" Tanyanya ingin tahu.
"Betul Jenderal, seperti beberapa tahun silam kita mengetahui kemunculan kembali Jianhuimie Yuzhou, yang kita sekarang rasakan adalah kemunculan sesuatu lainnya seperti yang sudah ditakdirkan. Semua ini adalah keseimbangan di alam semesta ini" jawab Kaisar Langit menjelaskan.
Alam fana
Jingga yang berdiri di atas bukit tidak jauh dari kota Luyan juga menutup kedua matanya merasakan sesuatu yang menghentaknya dari tempat yang sangat jauh.
"Semoga perasaan ini membuatku bisa bertemu dengan sesuatu yang membahagiakanku" gumamnya.
Jingga lalu berkelebat kembali melanjutkan perburuannya bersama monster kecilnya menangkap hewan di hutan yang berada di wilayah kekaisaran Xiao.
Berada di bawah tebing bukit, Jingga menyeringai melihat sebuah gua yang di dalamnya terdapat seekor beast singa api.
"Sepertinya ini akan menjadi pertarungan pertama Jirex" gumamnya lalu menarik Jirex keluar dari alam jiwanya.
"Monster kecil, apakah kau siap?" Tanya Jingga sambil mengusap kepala monster kecilnya.
Jirex mengangguk dengan sorot mata yang tajam lalu melompat dari tangan Jingga.
Jingga melihat monster kecilnya langsung memasuki ke dalam gua.
Dhuar!
Dhuar!
Suara dentuman dari dalam gua begitu keras terdengar.
"Ha ha, ayo Jirex tunjukkan kehebatanmu" ucap Jingga lalu melompat ke ranting pohon menyaksikan pertarungan pertama monster kecilnya menghadapi beast singa api.
Bugh!
Jirek terpelanting keluar gua dan menabrak pohon, tak lama ia berlari kembali memasuki gua dengan mulutnya yang menganga lebar.
Bugh!
Lagi-lagi Jirex terpelanting keluar menabrak pohon, tanpa kenal lelah, Jirex kembali memasuki gua.
Pertarungan kedua beast monster itu kembali berlanjut, kali ini keduanya keluar dari dalam gua dengan saling menyerang satu sama lainnya.
Beast singa api terlihat begitu besar seukuran gajah dewasa, bulu-bulunya tampak seperti duri tajam yang mengeluarkan bunga api di seluruh tubuhnya.
Kedua beast monster saling memutar untuk memposisikan serangannya. Singa api meraung keras untuk menekan Jirex yang melebarkan mulutnya bersiap untuk menggigitnya.
Jirex yang walaupun tubuhnya empat kali lebih kecil, ia terus berusaha melakukan perlawanan dengan melompatinya menargetkan leher singa api yang terus mengelak darinya.
Panasnya tubuh singa api tidak membuat Jirex kesulitan untuk terus melawannya.
Tidak ada luka sedikitpun yang didapati Jirex dari terkaman yang dilayangkan singa api termasuk bulunya yang tajam seperti duri tidak mampu melukainya.
Jirex yang semakin lama semakin bertambah kuat berhasil mengunci leher singa api dengan taringnya.
Singa api terus menggeliat berusaha melepaskan gigitan Jirex yang terus mengunci lehernya.
Sulit membuat Jirex melepaskan gigitannya, singa api berusaha dengan bergulingan di tanah.
Seperti lem yang merekat kuat, kekuatan tekanan dari gigitan Jirex tidak mengendur sedikit pun.
Taring-taring tajam Jirex terus menembus menusuk kulit tubuh singa api yang dipenuhi bulu tajam yang menyala.
Singa api mengaum kencang merasakan kesakitan pada bagian lehernya. Singa api pun semakin terkuras energinya menahan gigitan dari lawannya.
Tak lama kemudian, bulu-bulu apinya meredup.
Singa api berhenti melakukan perlawannya, ia akhirnya mati dengan leher yang tertembus oleh gigitan Jirex.
Setelah memastikan lawannya mati, Jirex melepaskan gigitannya dan langsung memakan singa api dengan lahap.
Jingga langsung mengambil inti jiwa singa api untuk diberikan kepada salah satu dari ketiga temannya.
Setelah selesai memakan habis tubuh singa api, Jirex langsung kembali ke alam jiwa dengan sendirinya.
"Anak pintar" puji Jingga setelah menyaksikan pertarungan sengit dari monster kecilnya.
Jingga lalu berkelebat kembali ke penginapan dengan ekspresi begitu puas.
Kota Luyan
Teng!
Teng!
Bunyi lonceng ditabuhkan dari menara kekaisaran Xiao yang merupakan suatu tanda peringatan kepada penduduk kota untuk tidak berada di luar rumah.
Terdengar suara gemuruh dari langkah kaki pasukan kekaisaran Xiao melewati penginapan.
Jingga yang sedang berbaring langsung melangkah ke arah jendela yang berada di ujung depan penginapan.
Ia bersama tamu penginapan lainnya melihat ribuan pasukan kekaisaran Xiao yang berjalan cepat ke arah istana kekaisaran Xiao.
Semua orang membicarakan tentang serangan yang terjadi di perbatasan wilayah kekaisaran.
"Paman, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Jingga kepada orangtua di dekatnya.
"Seminggu yang lalu telah terjadi serangan dari ratusan beast monster yang memasuki wilayah kekaisaran Xiao di punggung bukit tepatnya di desa Maotoying.
Semua penduduk desa Maotoying dilaporkan mati karena serangan itu, para pasukan yang kita lihat sekarang adalah pasukan tambahan yang dikerahkan Kaisar untuk membantu pasukan yang sudah berada di sana. Itu saja yang paman ketahui dari putra paman yang menjadi pasukan kekaisaran" jawab pria tua menjelaskannya.
"Terima kasih, Paman" timpal Jingga lalu kembali ke kamarnya.
Jingga begitu sumringah mengetahuinya karena para beast monster itu adalah makanan Jirex.
"Monster kecil, kau akan berpesta nanti, sekarang beristirahatlah" gumamnya lalu ia memejamkan matanya untuk tidur.
Esok harinya Jingga terbangun, ia langsung berkelebat ke desa Maotoying. Di tengah perjalanannya ia melihat ribuan pasukan kekaisaran Xiao masih terus berjalan dengan cepat ke arah desa Maotoying di depannya.
Jingga langsung terbang ke langit untuk melewati pasukan kekaisaran Xiao yang menghalangi jalan yang akan dilaluinya.