Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Perjuangan Sang Pemuda



Dalam sekejap, suasana pertempuran berubah drastis. Jingga dengan kecepatannya, berkelebat cepat melintasi pepohonan seperti kilat, memotong jalan melalui barisan perampok dengan begitu cepatnya. Setiap gerakannya mengirimkan ledakan cahaya hitam, menandai kehancuran yang mengikuti setiap serangan. 


Sementara itu, Qianmei, datang dengan memutar tubuhnya bak seorang penari yang anggun memainkan gerakan tubuh. Ia mengayunkan kedua tangannya dengan elok, menghasilkan putaran angin yang kuat yang mengacaukan barisan perampok. Serangan-serangan keduanya bergabung dalam harmoni yang sempurna, mengejutkan dan menghancurkan perampok yang terpana akan keduanya.


Kelima pemuda bangsawan, yang sebelumnya hampir menyerah pada keadaan yang suram, mendapatkan semangat baru ketika melihat bantuan tak terduga ini. Mereka mengumpulkan keberanian mereka dan bergabung dengan Jingga dan Qianmei. Namun apa daya, kondisi tubuh mereka tidak memungkinkan untuk melanjutkan pertarungan. Mereka hanya bisa menyaksikan dengan tatapan kagum melihat kedua sosok yang datang membantu. 


Pertarungan semakin memanas, dan medan pertempuran penuh dengan aksi yang memukau. Kombinasi kecepatan Jingga dan keterampilan dari kekuatan elemen kayu yang diperagakan Qianmei, menciptakan kekacauan bagi para perampok. Serangan demi serangan dilancarkan, teriakan histeris menggema di tengah keheningan hutan belantara.


Waktu berlalu dengan cepat, dan setelah pertarungan yang sangat memukau, para perampok akhirnya mati dengan tubuh hancur tak tersisa sedikitpun bersama dengan kuda-kuda mereka yang tak luput dari kematian.


Selesai memberantas para perampok, Jingga dan Qianmei berjalan menghampiri kelima pemuda yang terduduk dengan tubuh dipenuhi luka sayat. Dua di antara kelima pemuda dalam kondisi tidak sadarkan diri. Melihat kesempatan itu, Jingga melirik Qianmei dengan mengangguk pelan memberikan isyarat. Keduanya lalu menghilang untuk memasuki tubuh dari dua pemuda yang dijadikannya sebagai inang untuk menyembunyikan aura iblis.


“Ke mana dua penyelamat kita pergi?” tanya seorang pemuda sedikit gemuk memutar wajah ke sekelilingnya.


“Entahlah, keduanya menghilang meninggalkan kita,” jawab pemuda di sampingnya.


“Kak Fu, Kak Chen, bagaimana cara kita membawa kak An’er dan kak Guo?” sambung seorang pemuda yang paling muda.


Kedua pemuda langsung melirik ke sebelah kanan. Di mana seorang pemuda yang berwajah imut dihimpit oleh dua pemuda yang bersandar di pundaknya dalam keadaan tidak sadarkan diri. Seorang pemuda sedikit gemuk menggeser tubuhnya mendekati si pemuda berwajah imut. Ia lalu memeriksa beberapa titik akupuntur dari tubuh kedua saudaranya.


“Dantiannya rusak, kak An’er dan kak Guo tidak bisa lagi berkultivasi,” katanya dengan suara yang parau.


Tampak terukir kesedihan di raut wajahnya. 


“Ba-bagaimana mungkin? Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya pemuda berwajah imut tidak memercayainya.


“Bermeditasilah! Kita tunggu kedatangan orang-orang kita!” timpal pemuda sedikit gemuk menenangkannya.


Malam hari di dalam hutan yang gelap dan rimbun, ketiga pemuda bangsawan duduk berkultivasi di bawah pohon besar yang menjulang tinggi. Suasana malam menggantung dalam keheningan yang hanya dipecah oleh suara angin yang lembut dan bisikan dedaunan yang bergoyang.


Cahaya bulan purnama menerobos celah-celah pepohonan, menciptakan bayangan-bayangan yang menari-nari di sekitar mereka. Suasana hutan dipenuhi dengan kelembutan dan misteri, menciptakan atmosfer yang tenang namun penuh ketegangan.


Cukup lama ketiganya berkultivasi hingga terdengar sayup-sayup suara teriakan yang menggema dari kejauhan memanggil nama kelima pemuda. Salah seorang dari ketiga pemuda yang berkultivasi membuka mata dan langsung memfokuskan pendengarannya.


“Kai’er, Kak Fu! Mereka datang,” ujar sang pemuda memberitahunya.


Kedua pemuda langsung menghentikan meditasi lalu bangkit berdiri dan memfokuskan pendengaran untuk mengukur jarak dari teriakan orang-orang yang memanggil nama kelimanya.


“Kita harus memberi tanda. Kai’er, Chen’er, bisakah kalian berdua mengumpulkan ranting?” tanya pemuda sedikit gemuk bernama Fu.


“Bisa,” jawab Chen si pemuda kurus mengiyakan.


Sementara pemuda berwajah imut menggelengkan kepala karena harus menopang kedua tubuh pemuda yang masih tidak sadarkan diri.


“Baik, Kak Fu,” timpal Kai menurutinya.


Kedua pemuda itu pun pergi meninggalkan pemuda imut bernama Kai yang harus menjaga kedua saudaranya yang masih tidak sadarkan diri.


Beberapa hela napas ketika kedua pemuda sibuk mengumpulkan ranting pohon di kejauhan. Pemuda berwajah imut mendadak mendapat panggilan alam. Ia merasa seperti ada semburat kegelisahan yang menggeliat di dalam perutnya, menyengatnya dengan kekuatan yang tak terelakkan. Sensasi tak tertahankan itu bagaikan ribuan ular bergerak dengan gesit di dalam rongga gelap yang ada di dalam tubuhnya.


Meskipun begitu, sang pemuda berwajah imut itu terus berjuang dengan sisa tenaganya, mencoba menahan dahsyatnya ledakan yang merontokkan harapannya. Ia berusaha meredam lautan mara bahaya yang berkecamuk di dalam perutnya, namun, kekuatannya semakin luntur di hadapan ancaman yang tak terbendung.


Akan tetapi, alam semesta memiliki rencana lain. Dalam sebuah orkestrasi kejam yang hanya dipahami oleh alam itu sendiri, ia pun akhirnya menyerah kepada kekuatan yang lebih besar. Dalam serangan yang maha dahsyat, segala apa yang ada di dalamnya berkecamuk dan merayap keluar dengan kecepatan yang mengagumkan.


“Aduh! Kenapa perutku begitu sakit?” keluhnya menahan ampas kedai resto yang merangsek untuk dikeluarkan.


Dalam detik-detik yang begitu menegangkan, ia berpacu dengan dahsyatnya kekuatan yang melanda, wajah pemuda imut itu menunjukkan ekspresi yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Raut wajahnya dipenuhi dengan rasa tegang dan penderitaan yang tak terbantahkan. Matanya melintas dari kecemasan hingga kesakitan, mencerminkan perjuangan batin yang sangat keras.


Keningnya berkerut dengan erat, mengisyaratkan ketegangan yang membebani pikirannya. Bibirnya tertutup rapat, menahan erangan dan keluhan yang mungkin ingin meloloskan diri. Namun, di antara serangkaian ketidaknyamanan, terlihat tekad yang terpancar di dalam matanya. Sebagai penunjuk perlawanan yang tak terucapkan, tatapan matanya menghadapi rasa sakit itu dengan keberanian dan ketabahan yang sempurna.


Dalam ekspresi wajah yang menahan sakit, tergambar potret seorang pahlawan yang berjuang melawan ujian terberat dalam dirinya sendiri. Ia adalah gambaran hidup yang penuh dengan perjuangan dan keteguhan hati. Meski terlihat rapuh dan rentan, namun ketabahan dan keberanian dalam wajahnya mengilhami dan menggugah rasa kagum bagi mereka yang melihatnya. Pada akhirnya, ledakan itu tak terelakkan lagi.


BROOT! BROOT! BROOT!


Seperti letusan gunung berapi yang mencengkram langit dengan gemuruh yang memekakkan telinga, isi perut pemuda imut itu pun keluar dengan kekuatan alam yang tak terduga. Seperti sungai yang meluap dari bendungan yang jebol, semburan itu menghancurkan semua harapan dan keinginan yang terpendam. 


Dalam momen yang mencekam dan penuh kehancuran itu, sang pemuda berwajah imut mendapatkan kelegaan yang hakiki. Meski terasa sakit dan malu menyergapnya, rasa lapang yang menyusul seperti langit yang jernih setelah badai mengguncangkan bumi. Seolah, beban yang bertahun-tahun ia pikul telah terlepas, memberikan ruang bagi kesegaran dan pemulihan yang mendalam. 


“Ah! Leganya!” Pemuda berwajah imut melenguh dengan napas yang terengah.


Di tengah hutan yang diam, bekas perjuangannya tetap terlihat jelas. Jejak yang terbentuk acak dari keluarnya sisa proses penyerapan gizi menjadi simbol dari ketahanan dan keberanian yang ia tunjukkan dalam menghadapi ujian terberatnya. Meski harus dibayar dengan harga yang sangat mahal, pemuda berwajah imut itu mampu mengatasi cobaan yang terberat dengan penuh ketabahan.


Di samping perjuangan berat yang telah diselesaikannya, terdapat dua sosok pemuda yang kini menjadi inang bagi Jingga dan Qianmei harus mengalami penderitaan menjadi saksi tragedi paling mengerikan di alam semesta.


“Bocah sialan! Bangkai monster apa yang dia makan? Bau betul!” kesal Jingga menggerutu dalam batin.


Sementara itu, Qianmei yang seharusnya hanya berpura-pura tak sadarkan diri di dalam tubuh sang gadis, kini menjadi kenyataan. Ia tak sadarkan diri setelah ledakan hebat yang terjadi tepat di ledakan yang kedua. 


“Kai’er, apa yang terjadi denganmu? Mengapa kau terlihat begitu berantakan?” tanya gusar pemuda bernama Fu yang baru saja kembali dengan memikul banyak ranting kering di pundaknya.


“Ma– maafkan aku, aku tidak bisa menahannya,” jawab Kai sambil menundukkan wajah.


Ia tidak berani menatap kedua saudaranya yang keheranan melihatnya. 


HOEK!


Tiba-tiba saja seorang pemuda berbadan kurus memuntahkan isi perutnya setelah ia mencoba mendekati Kai.