Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Dewi Serigala


Tidak ada yang berani melangkah mundur, yang terlihat hanyalah reaksi gemetar anģgota badan dari ketakutan yang berlebihan.


Jingga kembali menoleh ke arah kawanan serigala yang sudah tidak berdaya, ia lalu menghampirinya.


"Andai saja aku tidak mendengar bahwa kalian yang membunuh anak-anak dari warga kampung, tentu aku tidak akan menyiksa kalian begini. Beristirahatlah dengan tenang, kambing bertaring" ucap Jingga lalu menyembelih para serigala satu persatu.


Sret! Sret! Sret!


Kembali semua anggota klan Serigala mengigil ketakutan menyaksikan seorang pemuda yang begitu lihai menyembelih puluhan serigala tanpa adanya raut penyesalan di wajahnya, bahkan adiknya Naray pun tidak berani melihatnya, ia sampai memejamkan mata dan memalingkan wajahnya ke arah lain, namun sesekali ia menoleh ke arah Jingga hanya karena penasaran melihat kekejaman Jingga dalam membunuh musuhnya.


Selesai sudah Jingga membantai kawanan serigala bertubuh besar, Jingga lalu berbalik ke arah anggota klan serigala dengan menggenggam dua belati yang masih meneteskan darah serigala.


"Ampuni kami, pendekar muda" ucap salah seorang pendekar menjatuhkan dirinya berlutut memohon ampun.


Serentak semua orang mengikutinya berlutut memohon ampun. Jingga yang melihatnya bukannya senang, ia menjadi sangat marah.


"Bangunlah!' Teriak Jingga.


Tidak ada satu pun yang berani mengangkat kakinya, ada sesuatu yang tersirat di benak para anggota klan Serigala hingga tidak mau mengikuti perintah Jingga.


Sebagai seorang iblis, Jingga memahami ada sesuatu yang menjadi trauma seluruh anggota klan Serigala. Ia lalu mengujinya.


Jingga berkelebat menarik seorang anak perempuan berusia sekitar delapan tahun lalu menempelkan bilah tajam belati ke lehernya.


"Pendekar muda, tolong jangan bunuh anakku" lirih seorang wanita berusia tiga puluhan merangkak mendekatinya.


"Bibi, berdirilah! Jangan rendahkan dirimu di hadapanku" pinta Jingga tegas.


Wanita itu lalu memberanikan diri berdiri di hadapan Jingga, ia tidak peduli walaupun harus mati, asalkan anaknya masih bisa hidup.


"Pendekar, aku tahu dengan memberanikan diri berdiri di hadapanmu adalah menyerahkan nyawaku. Sebelum mati, tolong lepaskan anakku" ucapnya dengan lugas.


Jingga tersenyum menanggapinya, ia lalu melirik anak perempuan dengan tatapan lembut.


"Adik kecil, siapa namamu?" Tanya Jingga.


Anak perempuan berwajah imut tidak langsung menjawabnya, ia terus saja menatap Jingga sampai wajahnya bersemu merah. Ketakutan yang menghinggapi anak perempuan langsung lenyap seketika.


"Namaku Saulina, Bang. Abang sendiri, siapa namanya?" Jawab Saulina balik bertanya.


"Nama yang mempesona, aku Jingga" jawab Jingga dengan memuji sambil mengusapi kepala anak perempuan yang sangat imut.


"Ajaklah Ibumu pulang" imbuh Jingga memintanya.


"Maaf, Bang. Rumahku jauh di pulau Intan, selama ini kami tinggal di bukit Gemilang" balas Saulina menjelaskannya.


"Siapa juga yang memintamu pulang ke pulau Intan, aku hanya memintamu pulang ke rumah" timpal Jingga.


Saulina cengengesan mendengarnya sambil menggaruk kepalanya yang berambut panjang.


Jingga lalu melirik ibunya Saulina dan berkata,


"Bibi, mungkin Saulina banyak kutunya. Bawalah dia pergi ke rumah dan bersihkan rambutnya"


"Baik, Bang Jingga. Bibi akan membersihkan rambutnya di rumah" balas ibunya Saulina lalu menggenggam jemari kecil Saulina dan langsung berbalik pergi.


Sejak daritadi semua orang yang memperhatikan ketiganya yang begitu akrab berbincang mulai merasa lega, satu persatu anggota klan Serigala memberanikan diri untuk bangkit berdiri. Namun mereka masih tidak berani untuk pergi sebelum Jingga yang memintanya.


"Semuanya dengarkan! Aku masih belum tahu apakah harus membunuh kalian atau tidak, tapi ada hal yang aku ingin katakan kepada kalian yaitu" ucap Jingga menggantungnya.


Tampak semua orang kembali tegang mendengarnya, ada yang khawatir Jingga memutuskan untuk membunuh mereka dan ada juga yang penasaran akan kelanjutan ucapannya.


"Selama tiga bulan aku tinggal di kampung Sirintang, aku merasakan kehidupan yang begitu damai dan harmonis dengan suasana kekeluargaan yang begitu hangat.


Walaupun singkat, banyak hal berharga yang aku dapatkan dan menjadi kesan mendalam di hatiku, salah satu pesan sederhana yang membuatku begitu terkesan pada warga kampung Sirintang yaitu


'Bencilah pada perilaku buruk seseorang, tapi jangan pernah membenci orangnya'.


Maka dari itu, aku ingin kalian meniru kepribadian warga kampung Sirintang dan minta maaflah pada mereka atas perbuatan kalian, aku sangat yakin mereka semua akan memaafkan kalian" sambung Jingga yang teringat pada kebaikan warga kampung Sirintang padanya juga pada adiknya Naray.


Semua anggota klan Serigala menunduk malu mendengarnya, mereka semua pada dasarnya ingin memiliki kehidupan seperti layaknya warga kampung Sirintang, namun karena terus diimingi kesaktian, kekuatan dan kejayaan membuat mereka menjadi sangat kejam kepada siapa pun.


"Tegakkan kepala kalian! Bersyukurlah kalian masih hidup untuk merubahnya. Sekarang kembalilah pulang!" Lanjut Jingga.


"Eh, tunggu dulu! Katakan siapa orang yang menaungi kalian?" Tanya Jingga menahannya.


Semua orang saling lirik satu sama lainnya lalu seorang pria tua memberanikan diri mendekati Jingga.


"Apakah Nak Jingga mau membantu kami semua?" Tanya pria tua ingin kepastian.


Tampak keraguan masih menghinggapi pria tua yang tidak langsung menjawabnya.


Tiba-tiba saja seorang wanita cantik muncul di hadapan Jingga dengan menunggangi serigala, semua anggota klan langsung berlutut kecuali Jingga yang dingin memperhatikannya.


"Hormat kami, Yang Mulia Dewi" ucap mereka serentak.


"Pemuda yang hebat, tapi sayang kau akan mati hari ini" ucap wanita cantik dengan seringainya yang dingin.


"Maaf, Nyonya. Tapi aku tidak menyayangimu" balas Jingga.


"Apa maksud ucapanmu?"


"Kau tadi mengatakan sayang padaku, kenapa mengelak?"


"Bodoh! Kubunuh kau pria kurang ajar!"


"Silakan, kalau bisa"


Wuzz!


Dewi serigala melompat terbang menyerang Jingga dengan telapak tangannya. Jingga mengangkat kedua tangannya dengan mengarahkan telapak tangannya menahan serangan telapak tangan dewi serigala.


Keempat telapak tangan saling beradu, Jingga terdorong mundur beberapa langkah.


"Tenaga dalammu lumayan juga" ucap dewi serigala memujinya.


"Kau juga lumayan, Nyonya. Cukup berisi dan sangat mulus" balas puji Jingga melihat sesuatu yang menyembul di balik kain.


"Sialan! Pria mesum!" Rutuk dewi serigala langsung menutupinya.


Jingga yang melihat kelengahan dewi serigala tidak melewatkannya. Ia memukul keras wajah cantik dewi serigala.


Bugh!


Wuzz! Bruk!


Dewi serigala terlempar menabrak dinding rumah dan jatuh ke tanah dalam posisi telungkup. Tak lama kemudian, ia kembali bangkit dengan wajah biru matang dan nanar. Tanpa diduga, Jingga sudah berada di hadapannya.


Plak, plak, plak!


Jingga menamparnya berkali-kali sampai keluar darah dari mulut tipis dewi Serigala.


"Kau!" Geram dewi Serigala langsung melayangkan pukulan balasan ke wajah Jingga.


Mendapatkan pukulan bertubi-tubi dari dewi serigala, Jingga terus berkelit menghindarinya.


Kesal karena tidak bisa memukulinya, dewi serigala menggunakan sihir menghilang dari posisinya. Tak lama ia kembali berlari dengan menggenggam sebuah tombak dan langsung mengayunkannya.


"Langkah bayangan"


Jingga berkelebat menghampiri dewi serigala yang datang menyerangnya.


Wuzz!


Bugh!


Dhuar!


"Aah!" Jerit dewi serigala yang kembali terlempar menabrak dinding rumah hingga menghancurkannya.


Jingga langsung menghampirinya dan berjongkok sambil memperhatikan wajah lebam dewi serigala yang terus meringis menahan sakit.


"Aku kira kau benar seorang Dewi, tapi kemampuanmu begitu lemah. Kau Tidak layak menyandang gelar seorang Dewi" ejek Jingga.


"Huh! Siapa kau sebenarnya?" Dengus dewi serigala bertanya.


"Aku hanyalah pendekar muda yang tampan sampai seorang wanita yang dipanggil Dewi mengatakan sayang padaku"


"Cuih"


Dewi serigala melemparkan salivanya ke wajah Jingga, ia begitu murka dengan ucapan Jingga.


"Dasar jorok! Wanita jorok tidak akan mendapatkan jodoh" gerutu Jingga sambil membersihkan wajahnya.


"Nih, aku kembalikan padamu" sambung Jingga lalu mengoleskan telapak tangannya yang lengket ke wajah dewi serigala.


Dewi serigala langsung mencengkeram wajah Jingga membalasnya, tidak ingin kalah, Jingga *******-***** wajah dewi serigala hingga menjadi tak karuan bentuknya.