Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Pelelangan Awan Raja


Du Dung mengerutkan bibirnya merasakan sedikit kecewa karena pertanyaannya dicampakkan oleh Jingga lalu mengikutinya dari belakang.


Tak lama kemudian ia menyimpulkan senyum mengumpulkan inti jiwa dari beast kalajengking.


"Apa yang kau ambil itu?" Tanya Jingga penasaran melihat puluhan batu berbentuk bulat berwarna hitam dengan kandungan energi di dalamnya berada di genggaman tangan Du Dung.


Du Dung meliriknya dengan tersenyum simpul sambil memasukkan satu persatu inti jiwa ke dalam cincin spasialnya.


"Ini disebut sebagai inti jiwa yang muncul ketika beast monster mati, sebagai salah satu sumberdaya untuk meningkatkan kultivasi, aku akan menyerapnya nanti" jawab Du Dung yang terlihat senang mendapatkan inti jiwa pertamanya dalam perjalanannya, sebelumnya ia hanya mendapatkannya dari pemberian ayahnya.


"Oh" timpal Jingga pendek lalu melanjutkan perjalanannya.


Pagi harinya mereka telah sampai di sebuah kota yang mirip dengan kota Yu Cheng, perbedaannya hanya tidak ada penjual ikan yang berlalu lalang.


"Aku kira kota selanjutnya akan megah seperti kota Lintang, ternyata lebih mirip dengan kota Yu Chen" ungkap Jingga sedikit kecewa.


Du Dung terkekeh mendengar ucapan Jingga,


"Kau hanya belum mengetahui apa yang ada di dalamnya, walau pun kecil, kota ini spesial" timpal Du Dung dengan mimik wajah tampak cerah.


Jingga mengerutkan kening menatapnya dengan heran.


"Apa yang spesial dari kota kecil ini?" Tanya Jingga ingin tahu.


"Kau akan tahu nanti" jawab Du Dung sambil mengedipkan sebelah matanya yang dibalas dengan tatapan tajam mata besar Jingga.


Beberapa langkah selanjutnya memasuki gerbang kota tanpa adanya penjagaan, Jingga menghentikan langkahnya lalu berbalik pergi ke arah gerbang.


"Hei, kau mau kemana?" Tanya Du Dung heran namun Jingga mengacuhkannya.


Setelah membaca tulisan gerbang kota, Jingga menghampiri Du Dung.


"Kenapa kau berbalik hanya untuk menatap gerbang?" Tanya Du Dung lagi.


"Tadi aku lupa membaca nama kota yang akan aku masuki" jawab Jingga lalu tersenyum tipis.


"Kenapa kau tidak menanyakan saja kepadaku?" Tanya Du Dung semakin heran.


"Nanti kau berteriak aku merampokmu" jawab Jingga dengan tersenyum tipis.


"Hahaha kau masih mengingat kejadian di kota Yu Cheng" kekeh Du Dung baru memahaminya.


Seperti biasa keduanya langsung pergi mencari penginapan untuk keduanya beristirahat.


Setelah cukup lama mencari penginapan, keduanya sampai di sebuah penginapan yang cukup besar berlantai dua.


"Apakah tuan tuan mau menginap?" Tanya petugas penginapan menyambutnya.


"Jangan bilang kamar sudah penuh, sebutkan saja berapa yang harus aku bayar" jawab Du Dung menyeringai ke arahnya.


"Tuan hanya perlu mengeluarkan seratus koin emas untuk semalam ditambah lima puluh keping emas untuk makan pagi dan malam hari, kami juga menyediakan token lelang seharga lima ratus keping emas untuk satu orang" urai petugas penginapan menjelaskannya.


"Hah! Mahal sekali, apa istimewanya penginapan ini?" berang Jingga menanggapi.


"Sudah aku bilang kepadamu kalau kota ini istimewa" kilah Du Dung malah membela petugas penginapan.


"Hahaha kalian berdua lucu, kalau tidak punya uang, silakan kalian cari penginapan lain yang lebih murah. Minggirlah, kami ingin memesan kamar" potong seorang pemuda dari belakang langsung menarik Jingga yang berada di depannya ke luar pintu.


Du Dung emosi melihat temannya ditarik ke luar pintu namun ia masih bisa bersabar, setelah membayar dan menerima kunci kamar, Du Dung langsung menghampiri Jingga yang masih terlihat tenang.


"Kau tidak apa-apa Jingga?" Tanya Du Dung mengkhawatirkannya.


"Seperti yang kau lihat, apa kau sudah mendapatkan kamar" jawab Jingga bertanya balik.


Du Dung menunjukkan sebuah kunci dan dua buah token reguler memasuki lelang.


Keduanya melangkah menuju kamar, dalam langkah keduanya menuju sebuah kamar yang berlokasi di paling ujung, Du Dung meliriknya dengan heran.


"Jingga, kenapa kau tidak melawan diperlakuan seperti tadi?, bahkan ketika kau dipukuli oleh anak buah tuan kota Jun, kau pun melakukan hal yang sama." tanya Du Dung penasaran.


Jingga meliriknya lalu tersenyum mengingat kembali paman dan bibinya di kampung Cerita Hati.


pamanku pernah berkata, semua permasalahan bisa diselesaikan dengan hati, hiduplah dengan hati dan berhati-hatilah, maka kau akan menang dengan bijaksana" ulasnya menjawab pertanyaan Du Dung.


"kau beruntung bisa hidup bersama orang-orang yang baik" ucap Du Dung merasa iri.


Sesampainya kedua pemuda pada pintu kamar di depannya, Du Dung langsung membukanya, Jingga langsung mengerutkan keningnya melihat ke dalam area kamar.


"Aku kira kita mendapatkan kamar yang luas dengan harga yang begitu mahal, ternyata kamar ini begitu sempit" keluh Jingga memperhatikan kamar yang akan ditempati keduanya.


"Katakan kepadaku di mana istimewanya kota ini?" Imbuhnya bertanya.


"Hem, kau ini. Baiklah akan aku ceritakan keistimewaan kota ini" jawabnya lalu menceritakan semua yang ia ketahui dari ayahnya.


Du Dung menceritakan bahwa kota ini adalah surganya pembudidaya di kekaisaran Fei.


Banyak para kultivator dan pembudidaya yang berasal dari jauh mengunjungi kota ini untuk membeli, menjual atau pun menukar sumberdaya di kota ini.


Jingga mulai tertarik dengan apa yang diceritakan oleh Du Dung.


"Hem, menarik, jadi itu alasan kenapa penginapan ini begitu mahal" timpalnya lalu tertidur.


Du Dung menggelengkan kepalanya melihat kelakuannya temannya yang selalu cepat tertidur.


Malam hari keduanya terbangun, berbeda dengan Jingga yang terlihat bermalasan.


Du Dung terperanjat langsung membuka jendela di kamarnya.


"Sudah malam, ayo kita ke pelelangan Awan Raja" ajaknya lalu menarik tangan Jingga yang masih berbaring menatap langit-langit.


"Hei kenapa harus terburu-buru?" Tanya Jingga yang langsung berdiri ditarik oleh Du Dung.


"Kita sudah terlambat, pelelangan sudah dimulai dari sore hari" jawab Du Dung berlari mendahuluinya.


"Hei cepatlah" teriak Du Dung yang sudah dekat dengan tempat pelelangan.


"Kau tidak perlu berteriak seperti itu" tegur Jingga yang sudah berada di sampingnya.


Kedua pemuda itu pun menyerahkan token masuk lalu berjalan ke arah ruangan besar yang begitu bergemuruh saling merebutkan sebuah item lelang.


"Jadi ini namanya pelelangan" gumam Jingga sambil mencari kursi kosong di kelas reguler, bergabung dengan ratusan orang yang terlihat berasal dari banyak wilayah.


"Jingga di sini" ucap Du Dung menemukan kursi kosong paling pojok tidak jauh dari pintu masuk.


Selama duduk Jingga terus mengerutkan kening mendengar harga item lelang yang semakin lama harganya semakin melambung tinggi.


"Apa kau akan membeli sesuatu dari pelelangan ini?" Tanya Jingga melirik Du Dung yang tanpa ekspresi memperhatikan perebutan item lelang yang di dominasi oleh peserta dari ruang VIP.


"Tadinya aku mengejar sumberdaya termurah yang biasanya ditawarkan di awal lelang, sekarang dengan patokan harga termurah berada di angka lima puluh juta keping emas berada di luar jangkauanku" jawabnya dengan wajah lesu.


"ya sudah, sebaiknya kita kembali ke penginapan" ajak Jingga merasa kasihan.


"aku sudah menghabiskan seribu keping emas untuk mengikuti lelang, kau malah memintaku pulang" kilahnya menolak.


Jingga mengerutkan bibirnya mendengar ucapan Du Dung yang menolak ajakannya lalu kembali memperhatikan pelelangan yang terus menaik nominalnya.


Tak lama berselang, puncak acara pelelangan telah usai, semua orang langsung keluar meninggalkan aula lelang.


"Kau terlihat begitu tidak bersemangat, kasihan" ucap Jingga yang begitu tenang memperhatikan kerumun orang yang keluar dari pelelangan.


"kau bukanlah seorang kultivator, jadi kau tidak merasakan apa yang aku rasakan sekarang, sumberdaya apa pun dan senjata apa pun akan sangat berguna untukku" timpal Du Dung dengan wajah muram.


"mending sepertiku, tak perlu repot mencari sumberdaya yang begitu mahal, lagian bukankah dirimu sudah memiliki inti jiwa beast kalajengking, kenapa tidak kau manfaatkan" sambung Jingga tanpa menoleh ke arahnya.


Du Dung yang mendengar ucapan Jingga seketika mengingatnya.


"hahaha aku melupakannya, masih ada waktu dua minggu sebelum turnamen dimulai, terima kasih Jingga mata besar" ucap Du Dung lalu berkelebat pergi meninggalkannya.


Jingga hanya tersenyum kecut melihat perubahan suasana hati Du Dung yang begitu cepat.