Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Keanehan Jingga


Hari itu adalah hari di mana semua orang membicarakan pertandingan antara sekte Hiu Purba versus sekte Kelelawar Malam.


Bahkan dari keluarga istana pun membicarakan pemuda berbeda ras itu yang tak lain adalah Jingga.


Kaisar Fei Xing berkeinginan untuk merekrut Jingga memasuki militer kekaisaran Fei yang terkenal akan kekuatan militernya yang begitu kuat, namun keinginannya itu ditentang langsung oleh putranya pangeran Fei Huang dengan alasan tidak mengenal asal usul Jingga dengan jelas dan kekhawatiran akan adanya mata-mata dari aliansi Bintang Selatan (tujuh kerajaan yang berada di wilayah selatan benua Matahari) yang diam-diam membangun kekuatan untuk meruntuhkan ketiga (Xiao, Fei dan Zhao) kekaisaran di benua Matahari.


Atas dasar itulah pangeran Fei Huang meminta ayahnya untuk lebih berhati-hati dalam merekrut setiap pasukan kekaisaran.


Hal itu membuat kaisar Fei Xing menunda niatnya untuk merekrut Jingga walaupun ia begitu mengagumi kemampuannya.


Jingga, Du Dung dan Bai Niu kembali merayakan kemenangan dengan makan bersama, berbeda dengan dua edisi sebelumnya, kali ini ketiga pemuda tersebut merayakannya dengan pengunjung restoran lainnya yang telah mengenal ketiganya.


Seharian mereka semua merayakannya, entah sudah berapa botol arak yang ditenggak Jingga, namun ia tidak mengalami kemabukan seperti pengunjung lainnya.


Malam harinya Du Dung dan Bai Niu sudah tertidur pulas karena kecapekan dan kekenyangan dalam perayaan.


Jingga sendiri merasakan keanehan ketika menatap bulan yang belum sepenuhnya utuh, tubuhnya kembali berkeringat dan ia kembali merasakan lapar akan memakan sesuatu yang telah lama tidak ia rasakan.


"Apakah aku akan menjadi manusia lagi?" tanya batinnya heran.


Jingga menutup kembali jendela kamarnya, lalu beranjak tidur di bangku kayu.


Esok harinya ketiga pemuda terbangun dari tidurnya, setelah membersihkan diri, ketiganya bergegas turun untuk makan.


Du Dung dan Bai Niu terlihat begitu menikmati makannya, sementara Jingga hanya meminum arak yang hanya bisa ia tenggak sekali.


"kenapa arak ini rasanya begitu aneh?" gumamnya bertanya lalu melirik kedua temannya.


"Dang Ding Dung, kau begitu menyukai bakmie, bolehkah aku mencobanya?" pinta Jingga yang penasaran ingin mencicipinya.


Du Dung langsung tersedak mendengar ucapan Jingga yang baru pertama kalinya ia dengar.


"Kau, apa kau yakin dengan ucapanmu itu?" balik tanya Du Dung merasa heran dengan perubahan Jingga yang tiba-tiba itu.


Jingga mengangguk walaupun ia sendiri tidak begitu yakin bisa memakannya atau tidak.


"Pelayan" panggil Du Dung yang langsung membuat pelayan menoleh dan menghampirinya.


"Iya tuan, apakah ada yang ingin tuan pesan lagi?" tanya pelayan ramah.


"Buatkan semangkuk lagi bakmie yang sama seperti ini" pinta Du Dung yang langsung diangguki oleh pelayan yang langsung bergegas ke dapur.


Bai Niu yang begitu fokus ketika makan langsung melirik Du Dung.


"Kak, ada apa?" tanya Bai Niu masih belum menyadari sesuatunya.


"Lanjutkan saja makanmu, nanti kau akan tahu" jawab Du Dung yang juga kembali melanjutkan makannya.


"Ini tuan, silakan dinikmati" ucap pelayan setelah meletakkan semangkuk bakmie yang mengeluarkan asap di atasnya.


Jingga langsung mengambil sumpit dan mencoba memasukkan mie ke dalam mulutnya, lidahnya merasakan kembali rasa gurih mie yang begitu sedap, perlahan ia memasukkannya ke dalam mulutnya.


Bai Niu terperangah melihatnya, Du Dung dengan cepat menutupi mulutnya agar tidak mengganggu Jingga yang baru pertama kalinya makan selama ia mengenalnya.


Jingga lalu mengunyahnya dengan perlahan merasakan tekstur lembut dan kenyal dari bakmie yang berada di mulutnya membuat ia begitu meresapi rasanya, tak lama ia langsung menelannya.


Matanya berbinar merasakan kebahagiaan, bisa kembali menikmati makanan yang sudah lama tidak ia rasakan. Dengan cepat Jingga langsung menghabiskan sisanya.


Seorang pelayan berlari menghampirinya lalu berkata,


"Apakah masih ada yang ingin dipesan lagi, Tuan?" tanya pelayan dengan ramah.


"Bawakan semua makanan yang enak ke sini, cepat jangan pakai lama" jawab Jingga begitu bersemangat.


"Baik, Tuan" sahut pelayan kembali bergegas ke dapur.


Du Dung dan Bai Niu hanya bisa termenung tidak percaya dengan apa yang diminta Jingga, hal yang tidak pernah mereka lihat sejak pertama kali mengenalnya.


Tak lama berselang, beberapa pelayan membawakan banyak menu masakan ke meja yang ditempati oleh ketiganya.


"Silakan dinikmati hidangannya Tuan dan Nona" ucap salah seorang pelayan setelah selesai menata makanan lalu memberikan senyuman kepada ketiganya.


"Hei, kenapa kalian diam saja, ayo kita habiskan semuanya" tegur Jingga lalu mengajak kedua temannya untuk sama-sama menghabiskan makanan yang telah tersaji di hadapan ketiganya.


Du Dung dan Bai Niu saling tatap, lalu keduanya mengangguk dan mulai melanjutkan makannya.


Dengan begitu cepat ketiganya berhasil menghabiskan makanan di atas meja.


"Dang Ding Dung, kau bayar semuanya" ucap Jingga memintanya.


Du Dung langsung menepuk keningnya sendiri, ia dari awal sudah tahu akan terkena imbasnya, namun karena ini adalah pertama kalinya ia melihat Jingga makan, ia tidak merasa menyesal menghabiskan sebanyak apa pun uang yang akan ia keluarkan untuk menyenangkan kedua temannya itu.


"Semuanya dua ribu keping emas, Tuan" ucap pelayan setelah menghitung semuanya.


Du Dung lalu mengeluarkan koin emas sebanyak yang ditagihkan kepadanya.


"Ayo kita kembali ke kamar, kita biarkan perut kita bekerja dengan tenang" ajak Jingga yang selonong pergi tanpa mempedulikan kedua temannya yang masih tidak bisa berdiri karena kelebihan isi di perut keduanya.


Sore harinya ketiga pemuda terbangun dari tidurnya, tidak tahu apa yang harus dikerjakan ataupun akan pergi kemana untuk mengisi waktu.


Ketiganya hanya duduk bersandar sambil menatap langit dari jendela yang terbuka.


Tiba di hari pertandingan berikutnya, Jingga dan kedua temannya berjalan ke alun-alun kota dengan semangat yang berlipat karena memasuki babak delapan besar.


Du Dung masih belum pulih sepenuhnya, ia masih diwakili oleh Jingga yang akan menentukan lolos tidaknya ke babak semi final nanti.


"Apa kau akan memberikan kejutan lagi di pertandingan ini?" tanya Du Dung ingin tahu.


"Kau akan melihatnya nanti" jawab Jingga begitu yakin dengan pertandingan yang akan dihadapinya.


Namun ketiganya harus bersabar, Jingga dijadwalkan memasuki arena di pertandingan keempat setelah tiga pertandingan selesai dimainkan.


Tidak selalu menjadi sesuatu yang harus dibuat kecewa karena harus menunggu, mereka bisa melihat langsung kemampuan semua peserta yang menembus delapan besar.


Setelah selesai menyaksikan dua pertandingan pertama, di pertandingan ketiga, Jingga terdiam membisu menatap seorang gadis berpakaian merah dengan anggun memasuki arena, ini pertama kalinya membuat Jingga begitu tertarik pada sosok seorang gadis.


Tidak hanya Jingga seorang, Du Dung menatap lekat gadis itu, ia merasa begitu mengenali wajahnya yang terasa dekat dengan dirinya.


Di samping keduanya, Bai Niu malah tertarik dengan ekspresi kedua kakaknya yang begitu berbeda dari sebelumnya.


"sepertinya kedua kakakku akan bersaing memperebutkannya, dan aku bisa fokus mendapatkan hati pangeran tampan pujaanku" gumamnya sambil menyeringai mengingat sosok pangeran Qianfan yang diidolakannya.