Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Lembah Anggrek Darah


Jingga yang begitu kesal memutuskan untuk berjalan melalui jalan setapak di luar gua. Ia masih saja menggerutu tak karuan dalam perjalanannya yang harus dilaluinya mulai dari titik awal batas dusun Sukamati.


Untuk menghemat waktu, Jingga berkelebat cepat ke tempat Naray yang sedang menunggunya.


Beberapa waktu kemudian, Jingga telah sampai di posisi keberadaan Naray, namun gadis itu sudah tidak lagi berada di posisinya.


Makin kesal Jingga dibuatnya, ia lalu memanjat pohon di dekatnya dan mencari-cari keberadaan sang gadis.


"Kemana lagi tuh orang? Menyusahkan saja!" Gerutunya.


"Biarkan sajalah dia mau pergi kemana juga, memangnya siapa dia" imbuhnya menenangkan hati.


Jingga melompat turun dan bergegas pergi dari posisinya, baru beberapa langkah kakinya berjalan, ia melihat tetesan darah dan jejak tarikan sesuatu di tanah.


"Tidak mungkin gadis itu dimakan ular" pikir Jingga yang melihatnya walau sedikit khawatir akan nasib si gadis.


Ia lalu mengikuti jejak sampai ke area rawa yang sama seperti sebelumnya.


Jingga menghentikan langkahnya tepat di pinggiran rawa, ia mencari jalan memutar ke area lainnya untuk memasuki gua di bawah kaki gunung Keranda Mistis.


Ia berkelebat ke arah tebing lalu memutarinya, sampailah ia berada di sebuah lubang yang hanya bisa dimasuki dengan cara merangkak. Ia lalu memasukinya dengan merangkak sampai seluruh tubuhnya berhasil masuk.


Gedebug!


Jingga terjatuh ke dasar lorong, sekarang terlihat olehnya dua cabang lorong di depannya.


"Lubang yang kiri ke arah lembah Anggrek Darah, yang kanan kembali ke arah dusun Sukamati. Arah mana Naray dibawa cacing hitam itu?" Gumam pikir Jingga.


Lama ia memikirkannya, Jingga akhirnya memilih lubang yang kiri yang mana kalau ia tidak menemukan Naray, ia masih bisa menuju ke arah lembah Anggrek Darah tanpa harus kembali ke dusun Sukamati.


Dengan langkah cepat, Jingga menelusuri lorong sambil merasakan sesuatu yang mungkin ditemukannya, entah itu bangkai ular ataupun keberadaan Naray yang sedang dicarinya.


Jauh Jingga menelusuri lorong, dari arah belakangnya terdengar suara bergemuruh. Jingga menghentikan langkahnya lalu berbalik melihat apa yang terjadi.


"Gila! Besar sekali itu cacing, kepalanya saja hampir menutupi diameter lorong" kaget Jingga berkomentar.


Jingga tidak berlari menghindarinya, ia malah mengepalkan kedua tangannya bersiap untuk menghadang ular hitam yang terus mendekatinya.


"Kemarilah! Cacing besar" gumamnya dengan seringai dingin.


Bruk! Bruk!


Dinding lorong bergetar hebat menahan tubuh ular yang begitu besar.


"Hiaat!"


Bak buk!


Trak!


Dua pukulan Jingga berhasil mematahkan dua taring ular, namun rahang ular menutup dan membuat Jingga tersungkur jatuh di dalam mulut ular.


Tubuhnya berlumuran cairan, ular hitam langsung menelannya hidup-hidup. Jingga kembali masuk ke perut ular untuk yang ketiga kalinya.


Bluk!


Seperti menaiki sebuah perosotan di kolam renang. Jingga dengan begitu lancarnya terjerembab jatuh memasuki perut ular dan tenggelam di dalam cairan yang sangat bau dan dipenuhi oleh bangkai hewan yang sedang dalam proses pembusukan.


Jingga melihat tumpukan potongan tubuh hancur, ia bersyukur tidak menemukan tubuh Naray di dalam perut ular, ia lalu berenang ke selaput. Kembali ia merobek lapisan selaput usus ular dengan jemarinya.


Berbeda dari sebelumnya, Jingga langsung berpegangan pada lapisan usus yang robek untuk menahan tubuhnya dari guncangan keras reaksi ular yang meringis kesakitan.


"Ha ha ha, dasar ular bodoh! Kau salah menelanku" kekeh Jingga sambil terus memukuli perut ular dari dalam.


"Sial! Keras sekali kulitnya" keluh Jingga yang belum berhasil melubangi kulit ular dari dalam.


"Hiaat!"


Bugh!


Lubang pembuangan kotoran ular terbuka, Jingga lalu melebarkannya dengan kedua tangannya dengan begitu kuat hingga terdengar suara robekan dari kulit ular.


Seperti ketuban pecah, Jingga terdorong keluar bersama dengan bangkai binatang yang membusuk.


Tubuhnya dipenuhi oleh kotoran dari ular, Jingga langsung bangkit namun ia terhimpit oleh tubuh ular yang memenuhi dinding lorong.


"Hiat!"


Jingga menarik paksa sisik ular yang berukuran meja kantor. Sontak saja sang ular yang masih hidup menggeliat dan membuat Jingga menabrak dinding dan menghancurkannya.


Kesal karena sulit bergerak, Jingga kembali menarik sisik ular hingga terlepas. Kali ini ular hitam langsung menjauhinya. Namun tubuh Jingga yang terhimpit membuatnya harus terseret pada dinding dan tubuh ular.


"Aah!" Teriak Jingga yang merasakan gesekan dari dua kontur yang berbeda.


Tubuh ular yang bersisik dan dinding yang kasar hingga memunculkan percik api dari tubuhnya.


Setelah ular menjauhinya, Jingga akhirnya bisa bergerak bebas, namun pakaiannya menjadi hancur terbakar. Jingga nampak seperti orang gila. Kotor, bau dan pakaiannya menjadi robek compang camping.


"Sialan! Aku seperti sampah begini" rutuk Jingga melihat kondisinya sendiri.


Ia lalu mengejar ular untuk membunuhnya. Mengikuti bercak darah yang ditinggalkan ular, Jingga akhirnya menemukan tubuh ular besar di depannya.


Sayangnya ular besar itu telah mati karena ususnya hancur. Tidak peduli pada ular yang tewas, Jingga yang sedang kesal terus saja memukulinya sampai ia puas.


Setelahnya Jingga berbalik pergi mencari jalan keluar, banyaknya bercak darah dari ular membuat Jingga tidak kesulitan menemukan lokasi awalnya, ia lalu melanjutkan menelusuri lorong ke arah lembah Anggrek Darah.


Setelah cukup lama Jingga berjalan, akhirnya ia sampai di ujung lorong dan benar saja sesuai perkiraannya, Jingga telah sampai di lembah Anggrek Darah.


Tidak terlihat keberadaan para pendekar di sekitarnya, Jingga melanjutkan langkahnya di area lembah yang sebenarnya cukup indah dengan banyaknya bunga-bunga yang bermekaran.


"Sebenarnya di mana lokasi reruntuhan istana kerajaan? Tanpa bisa memindai, apa yang harus aku lakukan?" Lontaran pertanyaan diajukannya sendiri.


Jingga tampak bingung dengan situasinya sendiri, ia bahkan tidak tahu harus melangkah kemana.


Berdiri di tengah taman bunga, Jingga mendongak ke langit senja. Ia tampak seperti lalat di dalam segelas air susu.


"Aa" teriak seorang gadis dari kejauhan.


Jingga mengenali suara itu lalu menoleh ke sumber suara, terlihat senyumnya begitu lebar melihat si gadis yang masih hidup. Namun berbeda dengannya, si gadis mengerutkan kening menatapnya begitu heran.


"Neng Naray" sahut Jingga lalu menghampirinya.


"Aa, kenapa Aa seperti orang gila begini? Apa yang terjadi dengan Aa?" Tanya Naray masih mengerutkan keningnya.


"Ular sialan! Sewaktu aku mencari hewan di bawah kaki gunung Keranda Mistis, aku malah bertemu ular besar" jawab Jingga lalu menceritakan semua kejadiannya hingga menjadi seperti yang terlihat oleh Naray.


"Aa, Hei!" Tegur Naray melihat Jingga terdiam setelah selesai menceritakannya.


Jingga lalu tersadar dan kembali tersenyum padanya, dalam pikirannya masih mengingat jejak darah tidak jauh dari lokasi terakhir keberadaan Naray. Namun hal itu ditampiknya setelah memastikan Naray baik-baik saja.


"Tidak apa-apa. Di mana keberadaan para pendekar?" Jawab Jingga balik bertanya.


"Mereka memasuki lorong gua tidak jauh dari sini" jawab Naray memberitahunya.


"Ya ampun, gua lagi" timpal Jingga lalu geleng-geleng kepala mendengarnya.


"Ha ha ha, tenang saja A. Tidak ada ular besar yang akan memakan Aa di sana" kekeh Naray merasa lucu melihat reaksi Jingga.