Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Iblis Meriang



Mereka pun tertawa bersama melepaskan penat setelah mengalami pertempuran sengit selama berhari-hari di kota Luyan.


"Fan'er, di mana istrimu?" tanya Xian Hou ingin mengetahuinya.


"Dia bersama Xia'er sedang mempersiapkan hidangan untuk kita. Bukankah kalian sudah lama tidak makan enak? Kita akan makan malam bersama untuk menyambut kemenangan dan kedatangan kalian semua, keluargaku," jawab Qianfan dengan gembira.


Bai Niu dan Qianmei terharu mendengarnya, keduanya langsung meluruh memeluk Qianfan. Jingga mengepalkan tangan beradu jotos dengan adiknya itu, sementara Xian Hou hanya tersenyum lembut menyikapinya.


Tak lama kemudian, acara makan malam pun berlangsung dengan khidmat dan penuh kehangatan. Suasana semakin bahagia ketika Du Zia, adik dari mendiang Du Dung yang merupakan istri dari Qianfan mengabarkan kehamilannya. Satu per satu menghampirinya memberikan ucapan selamat. Dari semua orang, yang paling berbahagia adalah Jingga. Namun, ia tidak menampakkan kebahagiaannya, ia yang pernah terlempar ke masa depan mengetahui bahwasanya sang adik ditakdirkan memiliki keluarga besar dan membentuk klan sendiri dan juga sebuah sekte yang dinamai dengan dirinya.


Jingga menghampiri Qianfan lalu memeluknya dengan erat.


“Selamat, Fan’er. Kau memiliki banyak hal yang tidak aku miliki,” kata Jingga berbisik.


“Terima kasih kembali, Kak. Aku harap Kakak selalu bahagia bersama Kak Hou’er,” balas bisik Qianfan.


Jingga mengangguk lalu melepaskan pelukannya. Acara berlanjut dengan seutas kata sambutan dari Kaisar Fei Huang yang didampingi oleh Ratu Zhu Xia. Setelahnya, mereka membentuk kelompok masing-masing. Jingga menikmati malam bersama Qianfan dan Kaisar Fei Huang di salah satu meja yang berisi banyak botol arak. Sedangkan sang istri membentuk kelompoknya sendiri bersama Bai Niu dan Qianmei beserta Ratu Zhu Xia dan sepupunya Du Zia di meja lainnya.


Acara berlangsung sampai tengah malam. Satu per satu mulai meninggalkan taman istana yang dipakai sebagai tempat makan malam. Jingga kembali memangku istrinya memasuki sebuah kamar petak yang biasa diisi oleh tamu kerajaan yang menginap.


“Suamiku, kamu makan begitu banyak. Apa tubuhmu sekarang sudah bisa menerima makanan dari alam?” tanya Xian Hou.


“Entahlah, Sayang. Tapi perutku merasa aneh sejak aku memakan kue kacang dari siang tadi,” jawab Jingga mengungkapkan kondisinya.


“Maksudnya?” lanjut tanya Xian Hou tidak memahaminya.


Jingga tidak menjawabnya, kulit tubuhnya tiba-tiba menjadi merah dan berasap. Xian Hou yang melihatnya mulai panik dengan kondisi Jingga yang seperti orang kesakitan.


“Suamiku, kamu kenapa?” 


Jingga langsung memalingkan wajahnya menjauhi Xian Hou.


“Hoek!” 


BUUR!


Jingga memuntahkan semua isi perutnya yang berubah menjadi pasir hitam yang panas. Xian Hou membantunya dengan memijit tengkuk secara teratur.


“Sayang, aku kedinginan,” ucap Jingga langsung memeluk istrinya.


“Aku baru tahu ternyata iblis pun bisa meriang seperti manusia alam fana,” balas Xian Hou lalu membaringkan tubuh Jingga dan menyelimutinya dengan kain tebal yang diambil dari cincin spasialnya.


“Kamu malah mengejekku, menyebalkan!” keluh Jingga lalu memalingkan wajahnya.


“Punya suami kok pundung!” balas Xian Hou menggodanya.


Ia lalu mengembalikan wujudnya ke bentuknya yang asli. Semerbak wangi bunga khas tubuhnya menyeruak menusuk indra penciuman sang suami yang menoleh kembali melihatnya.


Keduanya saling tatap dalam kerinduan yang memuncak. Tanpa menunggu lama, Jingga langsung menarik tubuh Xian Hou dan membenamkannya dalam selimut. 


“Tunggu dulu!” Xian Hou melepaskan diri dari peraduan cinta.


“Pasang dulu perisaimu, aku tidak ingin ada yang mengganggu atau terganggu oleh kesenangan kita,”


Jingga menepuk keningnya sendiri karena melupakan hal penting yang menjadi pelindung aksi teatrikal seni yang memukau. 


“Baik, Sayang,” balasnya lalu memasang perisai iblis untuk menutupi aksi keduanya.


Diawali dengan pertukaran jurus yang berasal dari naluriah alami berlanjut ke hukum fisika dalam gerakan terpadu dengan ritme yang semakin cepat intensitasnya menuju penggabungan dua lintas aliran pada muara jiwa yang menjadi lokasi kolaborasi di antara dua kromosom berlainan huruf tersebut yang menjadi akhir proses usaha kedua insan dalam memadu kasih pada alibi kesenangan lahiriah.


Tatapan sayu dengan bibir mungil ceri yang melukis senyum dipadukan dengan semrawutnya rambut panjang nan lembut dari seorang gadis tercantik di jagat semesta itu pun mewarnai puncak sebuah proses. Napasnya tersengal, suara derunya yang syahdu berhasil membungkam keheningan malam di salah satu sudut area istana.


“Suamiku, aku masih teringat akan hal yang tadi kamu katakan tentang bangunan istana. Katakan yang sebenarnya padaku, atau ini menjadi akhir dari kesenangan kita,” ucap Xian Hou membumbuinya dengan sedikit ancaman.


Jingga mengerutkan bibirnya menanggapi perkataan sang istri yang harus selalu diturutinya.


“Itu semua hanya pengalihan pembicaraan dari apa yang dikatakan oleh Fan’er. Sejujurnya, akulah yang menyebabkan alam fana menjadi seperti sekarang. Namun, kamu harus tahu, aku melakukannya untuk memusnahkan iblis senyap. Mereka tidak akan mati kecuali pada cahaya matahari. Aku jadi membuat tiruannya di alam iblis, sayangnya hal itu berdampak pada terjadinya badai api di alam iblis dan fluktuasinya menyebabkan alam fana mengalami bencana alam,” ungkap Jingga membeberkannya.


Xian Hou membelalakkan mata tidak memercayainya. Sulit baginya untuk menyangkal perkataan suaminya itu, ia akhirnya hanya bisa menghembuskan napas memaksakan diri percaya pada semua yang dikatakan oleh Jingga.


“Kamu kok jadi terlihat semakin cantik dengan ekspresi seperti itu. Ulangi yuk, Sayang,” kata Jingga terpesona pada ekspresi wajah sang istri.


“Tidak mau!” tolak Xian Hou lalu memalingkan wajah.


“Yakin,” Jingga terus menggodanya.


“Hem!” deham Xian Hou mulai tertarik.


“Ya sudah kalau tidak mau, aku mau keluar minum arak,” 


“Kok begitu, aku kan tidak menolaknya,” balas Xian Hou yang wajahnya semakin merona.


“Tapi aku tidak mau menjadi yang pertama memintanya,” timpal Jingga terus saja menggoda istrinya.


"Dih! Aku kan wanita, tidak pantas memintanya," sanggah Xian Hou.


"Jadi, kita mau memulainya atau hanya berbincang saja?" 


Xian Hou begitu gemas mendengarnya. Saking gemasnya, ia lalu menyerang Jingga dengan buas. Hal yang tadi pun berulang kembali.


Mentari pagi mulai menampakkan diri di ufuk timur. Suara ketukan pintu terdengar berulang di kamar yang ditempati oleh Jingga dan istrinya.


"Kembalilah ke wujud nenek Sashuang," ucap Jingga memintanya.


Xian Hou menurutinya lalu merubah diri menjadi sosok seorang nenek.


"Ayo, suamiku. Sepertinya mereka sudah menunggu kita daritadi," ajak Xian Hou menarik tangan Jingga yang masih berbaring pada dipan kayu.


Keduanya lalu keluar kamar. Di luar, seorang pelayan tersenyum menyambut keduanya.


"Selamat pagi, Tuan dan Nyonya. Yang Mulia memintaku mengantar Tuan dan Nyonya ke taman belakang istana. Mari, Tuan dan Nyonya!" sambut pelayan begitu ramah.


Jingga dan Xian Hou membalasnya dengan senyuman lalu mengikutinya berjalan ke tempat yang disebutkan si pelayan.