
Perubahan ke wujud penguasa membuat Jingga tidak banyak bicara. Ia terus menatap dingin sang Ratu yang mulai merasakan takut di hatinya.
Jingga pun melayang mendekatinya.
Bola mata yang sepenuhnya berwarna putih seakan hanya bagian skleranya saja yang terlihat, meskipun di bagian pupilnya masih terlihat adanya iris dan kornea yang tersamarkan warnanya. Sorot matanya yang tajam mampu menyusutkan keberanian Ratu Kreya yang terus mundur menjauhinya.
Melihat kondisi sang Ratu yang menggigil ketakutan. Jingga lalu mengangkat tinggi jari telunjuknya.
Wuzz!
Seutas energi melesak cepat ke langit alam iblis yang tengah mengalami kerusakan. Langit yang rusak itu pun menjadi terang dipenuhi aurora berwarna-warni.
Ting, ting, ting!
Denting suara lembut mulai terdengar bertalu-talu hingga merasuki telinga sang Ratu.
"Se ... Senandung Iblis!" gumam Ratu Kreya mengetahuinya.
Ia lalu mengalirkan energi untuk melindungi pendengarannya.
"Kaupikir aku iblis lemah yang bisa terbuai oleh jerat Senandung Iblis. Ha-ha!" kekeh sang Ratu sanggup menahannya.
Berbeda dengan sang Ratu yang sanggup menahannya. Jauh di bawah pertarungan keduanya. Dewa Api yang sedang fokus menyurutkan api dengan menghisapnya ke dalam pagoda tampak menggigil merasakan dampak dari jerat senandung iblis.
"Kekuatan macam apa ini?" keluh sang Dewa yang mulai terbuai oleh denting suara langit.
Jingga yang mengetahui keberadaan dewa Api langsung menjentikkan jarinya. Seberkas energi tak kasat mata langsung melesak menghujam tubuh dewa Api.
Sret! Bugh!
Dewa Api tersungkur jatuh tak sadarkan diri sambil menggenggam sebuah pagoda yang masih aktiv menghisap badai api.
Setelah memastikan sang dewa aman. Ia lalu mengedipkan sebelah matanya.
Krak!
"Ah!" jerit Ratu Kreya merasakan sakit di kaki kanannya.
Beruntung sang Ratu memiliki tubuh yang berbeda dari semua makhluk di alam sanbuqu Nol, sehingga tubuhnya tidak mengalami kehancuran terkena jurus Kedip Mata Iblis.
Krak!
"Ah! Hentikan!" pekik sang Ratu memohon setelah merasakan sakit di kaki sebelah kiri.
Jingga tidak mengacuhkannya. Ia kembali mengedipkan mata untuk yang ketiga kalinya.
"Ah!" pekik lantang sang Ratu merasakan sakit yang paling menyiksanya.
Kali ini bagian pinggang Ratu Kreya mengalami kesakitan. Ia pun merintih lalu menunduk sambil mencengkram pinggangnya.
"Si ... sialan kau. Apa yang kaulakukan kepadaku?" sungut sang Ratu terus menahan sakit di tubuh bagian bawah.
"Aku tidak boleh mati! Aku harus membalasnya suatu saat nanti!" gumam batin sang Ratu lalu menutup kedua matanya.
Ia kemudian menggunakan kesaktian pamungkasnya untuk melarikan diri dari Jingga.
Entah apa yang diucapkannya, Ratu Kreya terlihat sedang membaca mantra yang tidak dipahami oleh Jingga yang mendengarnya. Lambat laun, tubuh sang Ratu berubah menjadi partikel kristal yang beterbangan di udara hingga ia menghilang sepenuhnya dari pandangan.
"Kutunggu kau di sanbuqu Lima!" terdengar suara sang Ratu yang sudah tak terlihat lagi.
Jingga tidak membalasnya. Ia masih berdiam diri menatap sisa-sisa partikel kristal sang Ratu iblis yang menghilang dari pandangannya.
Tak lama kemudian, Jingga pun kembali ke wujud sebelumnya.
"Tunggu saja. Kalau ramai lanjut part dua." Ucapnya lirih.
Dari kejauhan di alam iblis. Satu per satu, puluhan, ratusan sampai ribuan pasukan inti istana langit mulai memasuki alam iblis. Tampak sang Panglima melayang paling depan memimpin seluruh pasukan yang dibawanya dalam menjalankan misi menstabilkan kembali alam semesta khususnya di alam iblis.
Jingga yang merasakan kedatangan para dewa langsung melayang turun menghampiri dewa Api lalu menyentuh kening sang dewa untuk membangunkannya.
"Ta ... tadi apa? Kenapa begitu mengerikan?" tanya Dewa Api yang baru saja terbangun.
Jingga tersenyum kecut menanggapinya lalu berkata,
"Dasar bocah!"
Dewa Api mengerutkan wajahnya, ia tidak terima disebut bocah oleh pemuda iblis di depannya.
"Kurang ajar! Dasar iblis!" rutuknya lalu bangkit berdiri sambil memposisikan ulang pagoda yang digenggamnya.
"Dewa kok pemarah," sindir Jingga yang pandangannya tertuju ke arah gerombolan pasukan yang semakin dekat menghampirinya.
Tap, tap!
Panglima Tianfeng bergegas menghampiri Jingga dengan tatapan penuh tanya.
"Wanita iblis itu telah pergi." Kata Jingga menjawab tanya dari sorot mata Panglima.
"Bagus kalau begitu. Banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu...." Balas Panglima Tianfeng lalu menceritakan kondisi yang terjadi di alam fana.
Cukup panjang lebar Panglima Tianfeng menjelaskan kondisi di alam fana. Jingga memutuskan untuk pergi ke alam fana membantu keluarga dan saudaranya yang terkena dampak dari apa yang diperbuatnya.
"Terima kasih, Panglima. Kalian bisa bebas dan tenang memperbaiki kerusakan di alam iblis. Aku akan pergi ke alam fana untuk membantu menyelamatkan kehidupan di sana."
"Iblis muda, bolehkah aku tahu siapa namamu?"
Jingga tersenyum simpul mendengarnya lalu menjawab,
"Panggil saja aku Jingga,"
"Jingga ... nama yang aneh namun terdengar tidak asing." Gumam Panglima Tianfeng memikirkannya.
"Tak usah dipikirkan. Semoga alam semesta kembali stabil. Aku harap kalian bisa cepat menyelesaikannya. Ha-ha-ha."
"Kau yang merusak, kami yang memperbaiki. Dasar iblis tak tahu diri!" celetuk dewa Api lalu menggeleng-gelengkan kepala.
"Berisik kau, bocah!" bentak Jingga lalu cengengesan.
"Bilang sekali lagi, kumasukkan juga kau ke dalam pagoda," ancam dewa Api sambil terkekeh.
"Dih! Ngancam. Ha-ha,"
"Iblis somplak!"
"Bocah tua sengklek!"
"Iblis somplak!"
"Bocah tua sengklek!"
Keduanya saling membalas umpatan seperti anak kecil yang sedang berkelahi. Panglima Tianfeng hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal melihat kelakuan kedua makhluk berbeda ras tersebut. Lama kelamaan ia pusing juga dibuatnya.
"Tak bisakah kalian berhenti bertingkah seperti anak kecil? Ada ribuan pasukan yang memperhatikan tingkah kalian? Kalian berdua memalukan." Tegur Panglima yang mulai tidak tahan melihatnya.
"Diam!" pekik Jingga dan dewa Api serentak.
Plak!
Panglima Tianfeng menepuk keningnya sendiri. Hilang sudah harga dirinya sebagai panglima tertinggi di alam dewa.
Jingga dan dewa Api kembali saling beradu mulut hingga cipratan saliva keduanya tak kalah sengit saling berjibaku di udara.
Tak tahan dengan keributan keduanya. Panglima Tianfeng lalu mengeluarkan dua kendi arak dari cincin spasialnya dan langsung menyumbat kedua mulut lelaki yang masih bertikai. Usahanya pun membuahkan hasil. Jingga dan dewa Api akhirnya berhenti bertikai.
"Sialan! Kalian berdua merepotkan." Rutuk Panglima sambil mengelus dada.
Glek, glek, glek!
"Ah! Arak yang enak. Terima kasih, peliharaan Kaisar." Ucap Jingga merasa puas dengan arak yang diberikan oleh Panglima Tianfeng.
"Kaubilang apa?" geram Panglima tidak terima dikatakan sebagai peliharaan oleh Jingga.
"Sudahlah! Jangan terpancing olehnya," lerai dewa Api menahannya.
Panglima Tianfeng terdiam menuruti ucapan dewa Api.
"Sebaiknya kaubagi pasukan. Waktu kita tidak banyak. Cepatlah bergegas!" imbuh dewa Api memintanya.
"Baik. Aku akan mengerjakannya." Balas Panglima langsung berjalan ke arah pasukannya yang masih setia berbaris menunggu perintahnya.
"Tunggu, Peliharaan!" panggil Jingga menahannya.
Panglima Tianfeng membalikkan badan. Tampak wajahnya sudah merah karena menahan geram dipanggil tak sopan oleh Jingga.
"Berhentilah memanggilku seperti itu. Katakanlah cepat!" protes Panglima begitu tidak sabar ingin menjauh darinya.
"Di mana akses menuju alam fana?" tanya Jingga ingin tahu.
"Ya ampun. Di dekatmu ada dewa Api, kenapa kau tidak tanyakan saja padanya?" kesal Panglima Tianfeng ingin mencabik-cabik pemuda yang begitu menjengkelkannya.
"Dih! Marah. Sudahlah ... sana pergi!" balas Jingga malah mengusirnya sambil melambaikan punggung tangannya.
"Kau!" geram Panglima Tianfeng dengan menggertakkan gigi menahan emosinya.
Sementara itu, dewa Api menundukkan kepala tidak tahan dengan tingkah pemuda iblis yang selalu menyulutkan emosi. Dalam batinnya ia merutuk kesal,
"Iblis satu ini memang harus disumpal mulutnya. Menyebalkan!"