
Sang Ratu tidak bergeming pada permohonan para pejabatnya, namun ia tidak sepenuhnya mengabaikan permohonan tersebut. Ia kembali menutup matanya, pikirannya menerawang jauh pada kenangan bersama suaminya Yuangu Mowang. Ia kembali memikirkan keputusannya tersebut.
Dalam keheningan suasana di aula utama kerajaan iblis, muncul tiga gumpalan angin hitam berputar-putar mengelilingi bagian langit-langit aula istana.
Sang Ratu pun membuka kembali kedua matanya merasakan keberadaan ketiga gumpalan angin hitam. Wajahnya mendongak memperhatikan ketiga gumpalan angin hitam yang berubah bentuk ke wujud iblis berkulit hitam legam yang memiliki sayap kelelawar.
Ketiga iblis hitam turun perlahan di hadapan sang Ratu yang menatap dingin ketiganya.
"To Mu, To Tao, To Li, aku tidak menduga kalian bertiga hadir di istanaku. Sepertinya ada hal yang menarik perhatian kalian ... hem! Tapi aku ucapkan selamat datang di kerajaan iblis," sambut sang Ratu.
"Ha-ha-ha. Kau selalu bisa menebaknya, Ratu Xin Li Wei," balas seorang iblis bertelinga panjang,
"Kedatangan kami kemari karena mencium aura suamimu, Yuangu Mowang. Kami ingin bertemu dengannya untuk melanjutkan pertarungan yang tertunda selama ribuan tahun. Di manakah dia sekarang?" Imbuhnya begitu antusias.
Sang Ratu mengernyitkan wajahnya, ia kembali dibuat bingung oleh perkataan iblis bertelinga panjang.
"Kabar yang kudapatkan bukanlah suamiku, tapi seorang pemuda iblis ras Tongzhi yang mewarisinya. Aku pun masih mencarinya." Ujar sang Ratu.
"Ha-ha-ha, baguslah. Tentunya kami tidak perlu sungkan lagi untuk membunuhnya. Biar kami bertiga yang mencarinya." Timpal iblis bertelinga panjang.
"Kau terlalu bersemangat, To Mu. Kedua monsternya saja tidak bisa kami kalahkan, apalagi pemuda iblis itu. Sebaiknya kalian berhati-hati menghadapinya. Ha-ha." Tanggap sang Ratu mengingatkannya.
"Aku suka ucapanmu itu, Nyonya. Kekuatan kami yang sekarang bahkan di atas suamimu. Nyonya tidak perlu meragukan kemampuan kami. Ha-ha-ha." Sambung iblis bermata besar.
"Ha-ha, seorang iblis yang baru memasuki ranah Master Emperor Berlian bisa mengaku lebih tinggi dari suamiku. Tingkatanmu saja tidak lebih tinggi dariku." Balas sang Ratu mencemoohnya.
"Jaga ucapanmu itu, Nyonya. Kau hanya belum mengetahui tingkatan sebenarnya dari kami." Geram iblis bermulut lebar menegurnya.
"Ha-ha-ha. Buktikanlah ucapan kalian. Aku menantikannya," balas sang Ratu terus saja terkekeh.
"Huh!" Dengus kebencian ketiga iblis hitam tidak terima direndahkan oleh ratu iblis.
Ketiganya lalu memancarkan aura iblis dari ranah kultivasi yang sebenarnya.
Sang Ratu jatuh berlutut tidak bisa menahan tekanannya. Beberapa pejabat langsung ambruk di lantai, hanya Jenderal Jieru saja yang masih bisa menahannya walau ia tampak begitu kesakitan.
"Supreme Emperor Platinum!" Kejut sang Ratu tidak menduganya.
Hanya sebentar saja ketiga iblis menunjukkannya untuk membungkam kesombongan sang Ratu. Ketiganya lalu kembali menekan tingkat kultivasinya ke ranah Master Emperor Berlian.
Suasana kembali normal. Sang Ratu kembali berdiri dengan perasaan kesal karena kebodohannya merendahkan tingkatan kultivasi ketiga iblis.
"Nyonya, sepertinya kau tidak pernah lagi disentuh oleh suamimu. Aku terpana oleh kedua bukit indah milikmu. Ha-ha." Celetuk iblis bermata besar terus memperhatikan bagian berharga sang Ratu.
Sring!
Jenderal Jieru bangkit lalu mengacungkan ujung pedang ke arah leher iblis bermata besar.
"Jaga ucapan mesummu itu, Tuan To Tao!" Tegur Jenderal Jieru bersiap untuk menghunusnya.
Iblis bermata besar menyentuh ujung pedang dengan jari telunjuknya lalu mengalirkan energi iblisnya.
Krak!
Pedang Jenderal Jieru pecah seketika dan,
Dhuar!
Jenderal Jieru terpental jauh dari tempatnya lalu ambruk menghantam dinding tebal aula istana.
"Nyonya, sepertinya kami harus pergi sebelum terbesit keinginan untuk menghancurkan istana ini. Ha-ha" ujar iblis telinga panjang.
Ketiganya berubah kembali menjadi gumpalan angin dan langsung menghilang dari aula istana iblis.
Ratu Iblis Xin Li Wei hanya termenung menanggapi ketiga iblis hitam yang telah pergi hingga tak lama kemudian, ia kembali memperhatikan para pejabatnya yang gemetar ketakutan dalam posisi tengkurap di lantai.
"Kalian semua, bangunlah!" Pinta sang Ratu kepada para pejabat.
Semua pejabat termasuk Jenderal Jiru serentak berdiri dengan tubuh yang masih bergetar.
"Kutarik kembali keputusanku sampai kalian semua mengetahui kebenarannya," ujar sang Ratu meralat keputusannya,
Ia lalu melirik ke arah Jenderal Jieru yang memegangi dada karena kesakitan setelah terkena serangan energi iblis bermata besar.
"Jenderal, pergilah ke klan Linghun Lieshou dan tangkap semuanya. Kita akan mengeksekusinya segera." Perintah sang Ratu.
"Baik, Yang Mulia. Hamba laksanakan." Sahut Jenderal Jieru lalu menghilang pergi.
Sang Ratu menoleh ke arah penasihatnya, Chao Fu lalu berujar,
"Aku akan mengikuti ketiga iblis itu secara diam-diam. Urusan istana kau yang mengurusnya."
"Baik, Yang Mulia." Sahut penasihat Chao Fu.
****
Kembali ke posisi Jingga berada. Lebih dari tiga puluh iblis berkultivasi rendah ditangkapnya. Hal itu ia lakukan karena masih tidak menemukan iblis yang berada di ranah Emperor Platinum.
Ketiga puluh iblis yang ditangkapnya hanya sebatas ranah Warrior Iblis Perak.
"Sepertinya cukup untuk mengembalikan energi iblis Feichang," gumam Jingga lalu berdiri dari tempatnya berbaring.
Jingga memperhatikannya satu per satu lalu menghisap seluruh energi iblis dari ketiga puluh iblis yang langsung tergeletak tidak berdaya.
"Kalian mati saja ya, hidup juga percuma kalau kalian tidak memiliki energi," ucapnya lalu menjentikkan jari memancarkan api kematian yang langsung meleburkan ketiga puluh iblis.
Setelahnya Jingga lalu kembali memasuki gua. Belum sampai langkah kakinya memasuki lawang gua, ia menghentikan langkahnya dan berbalik mendongakkan wajah melihat tiga iblis hitam yang melayang di atasnya.
"Sialan! Kenapa kalian baru melintas di atasku?" Rutuk Jingga sedikit kesal.
Andai saja ketiga iblis hitam melintas sebelumnya, Jingga tidak perlu direpotkan untuk menangkap tiga puluh iblis berkultivasi rendah.
Tak mau kehilangan targetnya, Jingga langsung melemparkan benang energi ke arah tiga iblis hitam yang sudah berada cukup jauh dari tempatnya berdiri.
Tiga untaian benang energi melesat cepat mengejar tiga iblis yang masih belum menyadarinya.
Siu!
Sret!
"Kena kalian! Ha-ha." Seru Jingga yang terlihat seperti sedang bermain layang-layang.
"Sial! Kaki kita terlilit benang energi. Siapa yang berani melakukannya?" Geram To Mu, si iblis bertelinga panjang.
Wuzz!
Ketiga iblis hitam langsung jatuh ke arah Jingga berada. Ketiganya langsung membuat pedang energi dan menebas benang yang melilitnya sebelum jatuh ke tanah.
Tap, tap!
Ketiga iblis menjejakkan kaki di atas tanah. Tampak raut kebencian tergambar di wajah ketiganya dengan sorot tatapan intimidasi diperlihatkan ketiganya.
"Halo, tiga iblis buruk rupa," sapa Jingga yang kedua bola matanya naik turun memperhatikan ketiga iblis yang begitu jelek,
"Yang satu telinganya kepanjangan, satu lagi matanya kebesaran, eh yang satunya lagi malah bibirnya kelebaran. Ha-ha-ha." Celetuk Jingga mengejek ketiganya.
To Mu, To Tao, dan To Li semakin murka mendengarnya. Namun, seorang iblis bertelinga panjang mampu menekan emosinya, ia lalu merentangkan kedua tangannya meminta kedua temannya untuk tidak terburu-buru membunuh pemuda iblis di depannya.
"Tingkat kultivasinya tidak bisa aku lihat. Apakah dia yang dimaksud oleh Nyonya Xin Li Wei?" Kata To Mu berbicara dengan keduanya di alam pikir.
"Kita harus berhati-hati dengannya," tanggap To Tao.
"Aku masih belum percaya, kita harus mengujinya dahulu." Sambung To Li.
"Aku setuju." Timpal To Mu dan To Tao.
Jingga yang seorang penguasa iblis tersenyum kecut mendengar percakapan ketiga iblis di alam pikir ketiganya.
"Siapa kau iblis Tongzhi?" Tanya To Mu si iblis telinga panjang.
"Kau tidak perlu tahu siapa diriku. Aku membutuhkan energi iblis kalian untuk kuberikan kepada temanku yang kehabisan energi. Aku minta ya! Aku pastikan kalian bertiga akan mati dengan mudah," ujar Jingga menjawabnya.
"Hei, apa maksudmu?" Tegur To Tao si iblis bermata besar.
"Ha-ha-ha. Kukira kalian pintar, ternyata bodoh!" Ejek Jingga.
"Sepertinya mereka bertiga suka bertarung. Akan seru kalau aku yang menguji ketiganya." Pikir Jingga ingin bermain-main dengan ketiganya.
Ketiga iblis hitam terpancing oleh provokasi yang dilancarkan oleh Jingga. Tanpa aba-aba apa pun. Ketiganya langsung melancarkan serangan.
Sring!
Wuzz!
Tebasan pedang energi ketiganya hanya mengenai udara kosong. Jingga telah menghilang dari hadapan ketiganya. Ia lalu muncul kembali di belakang ketiga iblis hitam.
"Hei, aku di sini," kata Jingga memberi tahu.
Ketiga iblis langsung berbalik dan melayangkan kembali tebasannya.
Sring! Wuzz!
Lagi-lagi, Jingga menghilang dari posisinya. Ia kembali berada di belakang ketiganya.
"Hei, aku di sini. Ayo lebih cepat lagi." Ucap Jingga memintanya.
Ketiga iblis langsung berkelebat mundur membentuk formasi segitiga. Sedangkan Jingga masih berdiri diam dengan tenang di posisinya.
"Sialan! Iblis muda itu mengerjai kita." Rutuk To Li si iblis bermulut lebar.
Jingga yang mendengarnya langsung tertawa terbahak-bahak.
"Woi, iblis mulut lebar! Kau tidak usah bicara. Mingkem saja, biar terlihat tampan!" Pekik Jingga mencemoohnya.
"Bajingan! Dia berani menghinaku." Gumam To Li lalu berkelebat cepat menyerang Jingga dengan tebasan vertikal.
Wuzz!
Dhuar!
Jingga berkelit dengan memindahkan sebelah kakinya menghindari tebasan yang dilayangkan oleh iblis bermulut lebar.