Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Sambutan Pendekar Gila


Du Dung mulai melancarkan aksinya, di setiap kesempatan ia akan menjewer telinga, memijit hidung bahkan sesekali ia menarik rambut si gadis yang terikat seperti ekor kuda.


Semakin lama si gadis semakin emosi dibuatnya, ia terus saja menyerang Du Dung dengan beringas kehilangan kendali atas emosinya.


"Ha ha ha, kena juga kau" gumam Du Dung yang terus membalas serangan si gadis dengan aksinya.


Saking kesalnya si gadis sampai melemparkan pedangnya ke lantai lalu berlari mengejar Du Dung yang langsung berlarian memutari arena pertandingan.


Sontak semua orang terkejut dibuatnya lalu semuanya tertawa melihat pertarungan dari kedua sekte yang seharusnya diwarnai baku hantam dengan kesaktian keduanya menjadi ajang kejar-kejaran seorang gadis yang meminta pertanggungjawaban seorang pemuda yang melarikan diri.


Dalam satu gerakan, Du Dung menghadang kaki si gadis yang membuat si gadis tersandung keluar arena.


Bugh!


Si gadis jatuh tersungkur keluar arena dengan wajahnya yang begitu geram menatap Du Dung yang dengan santainya mengangkat kedua tangannya ke arah penonton, tanda ia memenangi pertandingan.


Jingga dan Bai Niu bersama penonton lainnya tertawa dengan aksi konyol Du dung yang berhasil mengalahkan si gadis imut perwakilan sekte Mawar Merah tanpa ada yang terluka karena pertarungan.


Du Dung langsung melangkah kembali ke tempatnya dengan wajah yang begitu puas.


"Awas kau pria sialan, akan ku balas perbuatanmu" teriak si gadis tidak terima dengan kekalahannya yang membuat sekte Mawar Merah menjadi malu karenanya.


"Dari mana kau mendapatkan ide itu?" Tanya Jingga ketika Du Dung sudah di dekatnya.


"Kau yang memintaku menggunakan akal menghadapinya" jawab Du Dung lalu duduk di antara keduanya.


"Kak, lapar" ucap Bai Niu yang membuat kedua pemuda tersenyum menoleh ke arahnya.


"Ayo kita kembali ke penginapan" ajak Du Dung kepada keduanya.


"Apa kau tidak ingin melihat pertandingan yang lain?" Tanya Jingga.


"Tidak perlu, bukankah kau telah memenangkan taruhan denganku?, Aku akan mentraktirmu dengan arak sebanyak yang kau mau" jawab Du Dung yang hari itu begitu bahagia.


"Baiklah" ucap Jingga menimpali, lalu ketiganya pergi meninggalkan turnamen.


Dalam perayaan keduanya yang telah memenangkan pertandingan, ketiganya tertawa-tawa mengomentari pertarungan Du Dung yang mengocok perut, namun tak lama ketiganya terdiam mendengar keributan dari lima orang gadis sekte Mawar Merah yang baru memasuki penginapan.


"Ternyata mereka menginap di sini juga" ucap Jingga yang memperhatikan kelima gadis yang mewakili sekte Mawar Merah itu.


Dalam keributan kelimanya, diketahui gadis yang dikalahkan oleh Du Dung hanyalah peserta pengganti dari seniornya yang terluka di pertandingan pertama.


"Hei pria sialan" teriak si gadis yang tidak sengaja melihat ke arah meja yang ditempati oleh Du Dung dan kedua temannya.


Kelima gadis menghampirinya lalu melabrak Du Dung yang mereka anggap berbuat curang dalam pertandingan.


Perdebatan pun terjadi di antara Du Dung dengan kelima gadis yang memiliki paras cantik itu.


Keributan yang terjadi membuat beberapa pengunjung meliriknya ingin mengetahui penyebab keributan di antara para kultivator muda.


"Berhenti!" Teriak Bai Niu yang kesal oleh kelima gadis yang terus memojokkan kakaknya Du Dung.


Seorang gadis kecil yang terlihat begitu ngotot memarahi Du Dung langsung menghampiri Bai Niu yang meneriakinya, dengan emosi si gadis mencoba menamparnya, namun Jingga tidak memberinya kesempatan menampar Bai Niu di dekatnya, ia dengan sigap menangkis tangan si gadis.


"Jangan kau coba menyentuh adikku atau kau akan menyesalinya" ujar Jingga mengingatkannya dengan tatapan dingin yang membuat si gadis begitu ketakutan melihatnya.


Berbeda dengan gadis yang terdiam ketakutan, keempat gadis lainnya tidak terima salah seorang temannya diancam lalu mendekati Jingga, baru satu langkah keempat gadis yang ingin menampar Jingga, keempatnya terpental menabrak meja makan tanpa ada satu pun yang melihat siapa yang melakukannya.


Du Dung dan Bai Niu yang sudah kehilangan selera makan kembali ke kamarnya, sementara Jingga masih menikmati araknya lalu menyusul keduanya.


Di dalam kamar Bai Niu langsung memeluk Jingga dengan erat.


"Kakak, terima kasih sudah membelaku" ucapnya lalu melepaskan pelukannya.


"Kau tidak perlu berterima kasih kepadaku, sudah seharusnya aku membantumu" balas Jingga sambil mengusap rambut Bai Niu.


"Dang Ding Dung, di arena aku tidak melihat keberadaan para pemuda yang menghajarmu, kenapa mereka tidak hadir di turnamen?" Tanya Jingga melirik ke arahnya.


"Sepertinya mereka berbeda jadwalnya denganku, namun di putaran ketiga, kita akan melihatnya, atau kita bisa ke kaki gunung Lanhua untuk menemuinya di sana" jawab Du Dung menjelaskan sekaligus menyarankan.


"Oh seperti itu, terus kapan kau bertanding di putaran ketiga?" Ucap Jingga kembali menanyakan.


"Tidak lama, tiga hari lagi, kenapa?" Jawab Du Dung bertanya balik.


"Tidak apa-apa, lalu apakah kau akan berlatih di kaki gunung Lanhua memanfaatkan waktunya?" Jawab Jingga kembali melemparkan tanya.


"Tidak mau, aku takut" potong Bai Niu menjawabnya.


"Tidak perlu, waktunya terlalu sempit, aku akan memanfaatkannya dengan bermeditasi" sambung Du Dung menjawabnya.


Malam hari Du Dung memulai meditasinya, sementara Bai Niu tertidur di pangkuan Jingga yang terus membelai rambutnya.


"Aku masih penasaran dengan getaran tanah yang terjadi di kaki gunung Lanhua, sepertinya aku harus menemukan jawabannya di sana" kata pikirnya yang masih teringat dengan kejadian aneh itu.


Jingga membenarkan posisi tidur Bai Niu lalu berkelebat meninggalkan penginapan.


Sesampainya di pinggir danau melingkar di kaki gunung Lanhua, Jingga berdiri tepat di batasannya.


Getaran tanah berguncang keras membuat gunung terlihat seperti akan mengalami runtuh.


Kedua pasangan gila yang menjadi kuncen di puncak gunung membuka kedua matanya dalam bermeditasi, merasakan kehadiran Jingga di bawahnya.


"Nenek gila, dia berada di bawah, apakah kita harus menemuinya?" Tanya kakek gila meminta pendapat.


"Belum waktunya Jianhuimie Yuzhou bertemu tuannya, baiklah sebelum getaran meluas ke arah ibu kota" jawab nenek gila, lalu keduanya menghilang menjadi seberkas kabut hitam turun ke bawah.


Jingga yang masih berdiri di pinggir danau tiba-tiba terpental jauh menabrak satu pohon besar yang langsung roboh karena saking kuatnya serangan energi tak kasat mata yang mengenainya.


"Sial! Kekuatan macam apa ini?, Aku tidak bisa melihatnya" keluhnya lalu berdiri mencari siapa yang telah menyerangnya.


"Ha ha ha ha" tawa kedua pendekar gila muncul di dekatnya.


"Ternyata kalian berdua kakek Kun Tao dan Nenek Yan Wei, kalian benar-benar pendekar gila, kalian tidak menyambutku dengan ramah" rutuk Jingga selalu kesal dengan tingkah kedua pendekar gila.


"Kau datang mencari jawaban atas getaran yang terjadi, ada saatnya kau akan mengetahuinya, jadi kembalilah" ujar kakek Kun Tao, lalu keduanya menghilang.


"Dasar orangtua gila! Aku belum bertanya sudah diusir" keluhnya lalu berbalik kembali ke penginapan.


Berdiri di jendela kamarnya, Jingga menatap keluar dengan tatapan kosong.


"kenapa aku begitu bodoh, bukankah monster jelek itu sudah mengatakannya kepadaku, kenapa aku harus penasaran dengan apa yang terjadi di kaki gunung Lanhua?" beberapa pertanyaan keluar dari kepalanya.


Jingga memukuli kepalanya yang tidak salah lalu menenggak kembali araknya.