
Hal itu membuat ketiga kekaisaran dalam posisi genting sekarang. Kekaisaran Fei yang baru saja membangun kembali pemerintahannya tidak bisa membantu apa-apa, Kaisar Fei Xing bahkan menarik mundur armada lautnya untuk mengurangi kematian pasukannya." jawab Jenderal Lie Zhou meneruskan ceritanya.
Jenderal Lie Zhou lalu menceritakan tentang asal muasal kemunculan beast monster di desa Maotoying, yang mana semuanya didatangkan oleh aliansi Bintang Selatan dari benua Intibumi yaitu benua bangsa beast monster alam fana di bawah kepemimpinan Ratu Kalandiva.
Jumlah beast monster yang ada di desa Maotoying hanyalah sebagian kecil saja. Aliansi Bintang Selatan memiliki maksud memberikan sedikit peringatan kepada ketiga kekaisaran di benua Matahari.
Jingga begitu serius mendengarkan semua cerita pamannya, ia lalu berpikir untuk bisa membantu ketiga kekaisaran dalam menghadapi aliansi Bintang Selatan, khususnya membantu pamannya.
"Rumit sekali masalah yang dihadapi Paman, hem aku punya ide, Paman" ucap Jingga begitu serius.
Jenderal Lie Zhou langsung serius menatapnya.
"Sepertinya kau memiliki ide yang brilian, katakanlah" timpal Jenderal Lie Zhou memintanya.
Dengan sorot mata yang begitu serius, Jingga mendekatkan wajahnya ke arah Jenderal Lie Zhou lalu membisikinya.
"Kita minum arak bersama" ucap Jingga begitu serius.
"Ha ha ha idemu cemerlang, Jingga" timpal Jenderal Lie Zhou menyetujuinya.
Jingga langsung mengambil kendi besar dari cincin spasialnya.
"Ayo, Paman. Minum yang banyak" ujarnya langsung menuangkan arak ke dalam mangkuk kecil.
"Ha ha ha, persetan dengan semesta, kita nikmati arak dengan puas ha ha ha" cecar Jenderal Lie Zhou melepaskan kepenatan yang dirasakannya.
Sang Jenderal berkali-kali menuangkan arak sampai mangkuk kecil terjatuh dari pegangan tangannya.
Melihat pamannya sudah tertidur karena mabuk, Jingga langsung membopongnya ke dipan kayu lalu menyelimutinya.
"Istirahatlah yang nyenyak, Paman" ucap Jingga lalu pergi dari kamar Jenderal Lie Zhou.
Jingga berkelebat ke pondok bambu di kebun belakang istana.
Sesampainya, Jingga langsung menyandarkan punggungnya pada tiang bambu dengan arak yang terus ditenggaknya.
"Sehebat apa pun seseorang, ia tidak akan bisa menyelesaikan banyak masalah dalam satu waktu" gumamnya terus memikirkan semua permasalahan yang dihadapi Jenderal Lie Zhou.
"Aliansi Bintang Selatan dan perompak Hei Sha adalah akar dari semua masalah yang terjadi, aku harus bisa melenyapkannya" pikirnya dengan serius.
Jingga lalu merebahkan badannya sambil terus mematangkan rencananya.
"Sepertinya akan seru menghadapi ribuan beast monster, Jirex pasti akan menyukainya" imbuhnya lalu menutup kedua matanya.
Esok harinya Jingga terbangun karena terik matahari menyoroti wajahnya. Ia langsung duduk memperhatikan sekitarnya.
Jingga menyeringai melihat selir Mei Yang bersama ketiga dayangnya sedang berjalan ke arahnya.
"Ah, pagi yang begitu indah" ucapnya lalu merubah dirinya menjadi bayangan.
Tak disangka olehnya, selir Mei Yang menghampiri pondok bambu lalu merebahkan dirinya di alas bambu, sedangkan ketiga dayangnya langsung duduk di pinggiran.
"Kalian bertiga, pijiti kaki dan punggungku" pinta selir Mei Yang langsung membalikkan tubuhnya dalam posisi telungkup.
Ketiga dayang langsung menaiki alas bambu lalu memijiti sang selir.
Jingga melihat kesempatan untuk mengerjainya, ia langsung menotok ketiga dayang yang langsung terdiam tidak bisa bergerak, hanya bola matanya saja yang masih bisa bergerak bebas.
Setelahnya Jingga menampakkan dirinya yang membuat ketiga dayang berkeringat dingin melihatnya.
Jingga mengedipkan sebelah matanya ke arah dayang lalu mulai memijiti selir Mei Yang menggantikan ketiganya.
"Tumben kalian memiliki tenaga memijitku" ucap selir Mei Yang mengomentari ketiga dayangnya.
"Jangan kaki saja, punggung juga" imbuh selir Mei Yang memintanya.
Jingga langsung menurutinya memijiti bagian punggungnya.
Jingga cengengesan mendengarnya, ia lalu memotong rambut selir Mei Yang yang terurai. Sekarang bagian belakang rambut selir Mei Yang menjadi botak.
Ketiga dayang yang matanya masih bisa bergerak menjadi gemetar.
Melihat rambut selir Mei Yang yang jatuh, Jingga lalu menempelkannya ke bibir ketiga dayang hingga menjadikan ketiganya memiliki kumis yang panjang.
"Hei, kenapa berhenti memijitiku, cepatlah" tegur selir Mei Yang yang begitu menikmati pijitan Jingga sampai dirinya mulai merasakan kantuk.
Jingga kembali memijitnya sampai selir Mei Yang terlelap dalam tidurnya.
Setelahnya Jingga melirik ketiga dayang dengan senyuman yang terlihat begitu puas.
Jingga langsung melepaskan totokan ketiga dayang lalu menghilang meninggalkan pondok bambu.
Sekembalinya Jingga ke kediaman Jenderal Lie Zhou, raut wajahnya terlihat begitu ceria.
"Paman suka semangatmu" puji Jenderal Lie Zhou menyambutnya.
"Ha ha ha, itu harus, Paman" sahut Jingga lalu duduk berhadapan dengan Jenderal Lie Zhou.
"Oh iya, Paman. Semalam aku sudah memutuskan untuk membantu Paman, aku akan pergi ke selatan benua Matahari, di sana aku akan membuat kekacauan dengan membantai semua kultivator yang kabarnya didominasi oleh sekte aliran hitam" ujar Jingga memberitahunya.
Jenderal Lie Zhou langsung menatapnya dengan serius.
"Betul juga, mereka tidak akan mengenalmu tapi kau tidak akan bisa memasukinya tanpa identitas, apalagi menggunakan token kekaisaran, kau akan langsung dieksekusi di tempat, namun terkait dengan para kultivator aliran hitam, sebaiknya kau memiliki perencanaan yang matang." timpal Jenderal Lie Zhou mengingatkannya.
"Paman tenang saja, bukan hal sulit untukku memasukinya dan untuk kuktivator aliran hitam, aku akan mengukur kekuatannya sebelum merencanakan sesuatu" balas Jingga lalu berpamitan untuk melaksanakan misinya.
"Baiklah, tapi kau harus berhati-hati, aliansi Bintang Selatan tidak bisa diremehkan" ucap Jenderal Lie Zhou begitu mengkhawatirkannya.
Jingga mengangguk memahami maksud pamannya.
"Satu lagi Paman, sebentar lagi selir Mei Yang akan membuat kegaduhan di istana. Paman bersiaplah mendengar ocehannya ha ha" kekeh Jingga langsung menghilang pergi.
Tak lama Jingga muncul kembali sambil cengengesan.
"Ada apa Jingga?" Tanya Jenderal Lie Zhou heran.
"Apakah Paman punya sesuatu yang bisa berguna untukku?" Balik tanya Jingga.
"Ha ha ha, Paman sampai melupakannya" timpal Jenderal Lie Zhou langsung mencari sesuatu di dalam cincin spasialnya.
"Kau bisa menggunakannya sebagai navigasi menuju wilayah aliansi Bintang Selatan" ujarnya lalu menyerahkan gulungan peta yang terbuat dari kulit beast monster.
"Terima kasih, Paman" timpal Jingga lalu memasukkannya ke dalam cincin spasialnya.
"Jinggaa!" teriak selir Mei Yang dari kejauhan membuat Jingga terkekeh.
"Paman, bersiaplah! Ha ha ha" imbuh Jingga lalu menghilang pergi.
Jenderal Lie Zhou hanya menggelengkan kepalanya mengetahui kelakuan ponakannya itu.
Prak!
Pintu kamar kediaman Jenderal Lie Zhou terbuka paksa.
selir Mei Yang dengan wajah garangnya memasuki kediaman Jenderal Lie Zhou yang terperangah melihatnya.
"Di mana pemuda sialan itu?" Tanya selir Mei Yang langsung memutari kamar.
"Dia sudah pergi dari tadi, ada apa denganmu, Nyonya?" jawab Jenderal Lie Zhou menanyakannya.
"Diam kau Jenderal!" Ketus selir Mei Yang setelah mendengarnya.
"Kalau dia kembali, aku pastikan akan mencincangnya lalu tubuhnya aku jadikan makanan untuk anjing liar" geramnya semakin menjadi-jadi. Selir Mei Yang terus saja mencari Jingga di kamar sang Jenderal.
Jenderal Lie Zhou hampir tertawa melihat kepala bagian belakang selir Mei Yang yang botak, tak ingin terkena pelampiasan kemarahan sang selir, Jenderal Lie Zhou langsung berkelebat pergi.