
Suasana hutan mulai gelap, Naray yang kelelahan meminta Jingga untuk beristirahat, namun Jingga tidak mau menghentikan langkahnya, ia kemudian menggendong Naray di punggungnya.
Suasana semakin gelap gulita menandakan hari berganti malam. Jingga terus melangkah di kedalaman hutan sambil mengamati suara-suara yang terdengar di sekitarnya.
Sampai pada keduanya melihat beberapa genangan air yang terbentuk di depannya. Jingga memutuskan untuk beristirahat sebentar sebelum melanjutkan kembali perjalanannya.
"Aa merasa ada keanehan di sekitar kita" celetuk Jingga mengatakannya lalu menurunkan Naray dari punggungnya.
"Keanehan apa, A?" Tanya Naray yang tidak merasakan kenaehan apa pun di sekitarnya.
"Tidak tahu, hanya mengikuti naluri saja" jawab Jingga lalu merebahkan tubuhnya di dekat genangan air.
"Hem! A, aku lapar" balas Naray sambil duduk memegangi perutnya.
"Minum saja dulu, Aa malas mencari hewan di tengah malam begini" timpal Jingga menanggapinya.
Kruuk! Kruuk!
Suara perut Naray merengek meminta diisi. Jingga yang mendengarnya langsung terkekeh pelan.
"Tahan dulu ya, Neng. Ada beberapa hewan buas yang mengintai kita. Sepertinya enak kalau kita panggang" ucap Jingga memintanya.
"Aa, lihat di sana" tunjuk Naray memperhatikan beberapa pasang mata yang bersinar di balik pepohonan.
"Ha ha ha, itu tandanya kita sudah dekat di pulau Intan. Apa Neng mau memakan serigala?" Kekeh Jingga menawarkannya.
"Memangnya daging serigala enak dimakan?" Tanggap Naray tidak pernah merasakannya.
"Tidak enak sih, tapi kan kita membawa bumbu rempah. Siapa tahu bisa menjadi enak" timpal Jingga lalu bangkit duduk dari pembaringannya.
"Kita coba saja, A. Aku juga penasaran ingin memakan dagingnya" sambung Naray menyetujuinya.
"Baiklah, Neng tunggu sebentar" balas Jingga lalu berkelebat ke arah para serigala yang memperhatikan keduanya.
Wuzz!
Jingga sudah berdiri di hadapan tujuh serigala, ia merasa heran dengan ukuran tubuh serigala yang normal tidak sebesar yang ditemuinya di hutan Harimau ataupun di bukit Gemilang.
Ketujuh serigala mendengus sambil mencakar tanah bersiap untuk menyerang. Jingga langsung mengeluarkan sebilah belatinya, ia pun bersiap untuk menebas para serigala yang mulai mengelilinginya.
"Strategi yang sama ha ha" kekeh Jingga memperhatikannya.
Wuzz!
Sret! Sret!
Jingga dengan cepat menebas leher ketujuh serigala yang langsung ambruk dan merintih kesakitan.
"Maaf ya, kali ini aku tidak ingin bermain-main dengan kalian. Adikku sudah tidak sabar untuk memakan kalian" ucap Jingga kembali menyelipkan belatinya.
Ia lalu memilih dua ekor serigala yang berbadan gemuk dan memanggulnya lalu berbalik ke tempat Naray menunggunya. Sesampainya Naray langsung menguliti kedua serigala, sedangkan Jingga sibuk membuat pembakaran.
Naray terlihat begitu cekatan menguliti kemudian melumuri tubuh serigala dengan bumbu yang selalu dibawanya.
"Neng, kupas kulitnya dengan utuh, kita bisa memakainya untuk menghangatkan tubuh dari cuaca dingin" pinta Jingga yang masih sibuk membuat pembakaran.
"Siap, A" sahut Naray menyetujuinya.
Sambil memanggang dua ekor serigala, Jingga membersihkan kulit dalam serigala lalu memanaskannya di sisi pembakaran.
"Baunya enak, A. Semoga saja rasanya juga enak" ucap Naray mencium bau daging serigala yang menggugah seleranya.
"Ya, semoga saja" balas Jingga yang ikut juga menghirup bau daging yang sebentar lagi matang.
Setelah menunggunya, akhirnya dua ekor serigala guling telah matang. Tanpa sungkan, Jingga langsung melahap rakus daging serigala, di sampingnya Naray hanya mencuil sedikit daging lalu menggigitnya. Ia mengunyah daging serigala untuk pertama kalinya, kedua matanya langsung berbinar merasakan kelezatan daging serigala.
"Lezatnya" ucap Naray lalu memotong bagian paha serigala.
Ia mengikuti cara Jingga makan, dengan lahap Naray menggerogotinya.
Habis sudah daging kedua ekor serigala dimakan keduanya, Naray yang kekenyangan langsung terlentang di atas rerumputan. Jingga sendiri langsung berdiri mengambil dua kulit serigala yang mengering lalu mulai berkreasi seperti yang pernah diajarkan oleh Xian Hou istrinya dalam membuat baju.
Entah teknik apa yang digunakan oleh Jingga, ia terlihat seperti sedang menjahit kulit serigala. Beberapa saat kemudian, dua buah baju hangat yang terbuat dari kulit serigala berhasil dibuatnya.
Dengan tersenyum puas melihat hasilnya, Jingga lalu memakainya. Satu lagi ia bawa untuk dikenakan adiknya, namun sayangnya sang adik telah tertidur pulas, Jingga langsung memakaikannya ke tubuh Naray. Ia kemudian ikut berbaring di sebelah adiknya dan menutup mata.
"Mmuuach"
Satu ciuman mendarat di pipi Jingga yang terpana melihat adiknya begitu cantik dengan pakaian baru hasil kreasinya.
"Terima kasih, A. Ini baju terindah yang pernah aku pakai" ucap Naray langsung memeluk kakaknya.
"Ha ha, itu karya pertama Aa. Semoga Neng suka" balas Jingga.
"Suka pisan, A" balas Naray.
Keduanya kembali melangkah melanjutkan perjalanannya. Beberapa ratus langkah kemudian, keduanya berada di atas ketinggian tebing.
"Aa kira pulau Intan masih dalam kesatuan daratan dengan pulau Emas, ternyata terpisah oleh lautan" ucap Jingga sambil menggaruk kepalanya.
"A, bagaimana kita mencapainya?" Tanya Naray.
"Kita berenang" jawab Jingga.
Naray termenung membayangkan harus berenang dengan jarak sekitar dua kilo meter menuju pulau Intan.
"Ha ha ha, Neng terlihat imut kalau lagi melamun"
"Kita tidak perlu berenang mencapainya. Kita cari perahu di bawah, semoga saja kita menemukannya" sambung Jingga terkekeh melihat melihat wajah imut adiknya.
"Kalau tidak ada, bagaimana, A?" Kembali pertanyaan diajukan Naray.
"Aa akan merakitnya" jawab Jingga memberikan solusi.
Keduanya bergegas mencari jalan untuk menuruni tebing. Sedikit jauh dari tempat sebelumnya, akhirnya Jingga dan Naray menemukan undakan bebatuan yang tertata rapi di dekatnya. Undakan bebatuan terlihat sengaja digunakan oleh orang-orang untuk turun naik lereng tebing.
Sampailah keduanya di area bawah yang banyak ditumbuhi oleh pohon kelapa. Jingga dan Naray kembali memutari area tebing mencari perahu yang bisa digunakan untuk menyebrangi pulau Intan.
Beruntung apa yang diperkirakan oleh Jingga, tiga perahu kayu tertahan tali di batu karang.
"Aa, lihat di batu sana ada tiga perahu yang terkait" tunjuk Naray begitu senang.
"Syukurlah, Aa jadi tidak perlu merakitnya" balas Jingga yang ikut senang melihatnya.
"A, kalau di sini ada perahu, bukankah ada pemiliknya?" Tanya Naray terus melangkah menghampiri ketiga perahu.
"Ya, tapi pemiliknya sudah mati dimakan oleh manusia kanibal" jawab Jingga sekenanya.
"Sok tahu, Aa tuh. Nanti bagaimana kalau pemiliknya mendatangi kita?"
"Ya bunuh saja" jawab Jingga simpel.
"Dasar! Seenaknya saja bunuh dan bunuh orang, itu sih namanya perampokan, A"
"Sudah, jangan bawel! Cepat naik!" Pinta Jingga yang sudah melepaskan tali perahu yang terikat pada batu karang.
Naray langsung saja menaiki perahu lalu duduk di pojokan.
Jingga tampak celingak-celinguk memperhatikan sekitarnya.
"Aa, ada apa?" Tanya Naray heran.
"Dayungnya tidak ada" jawab Jingga yang lebih heran melihat perahu tanpa memiliki dayung.
"Ya ampun! Kenapa Aa baru sadar?"
"Itu karena Neng daritadi berkicau terus, Aa jadi tidak memikirkannya"
Dugh! Dugh! Kraak!
Jingga terpaksa merusak kayu dari perahu di sebelahnya untuk digunakan sebagai dayung.
"Aa!" Jerit Naray ketakutan.
Perahu yang dinaikinya melaju terbawa ombak ke tengah lautan.
"Ha ha ha, sampai jumpa, Neng" kekeh Jingga sambil melambaikan tangan melihatnya.