
"Aa, bisa bantu aku naik ke atas pohon" pinta Naray.
Jingga langsung meliriknya, ia memahami maksud permintaan adiknya yang ingin berada pada posisi nyaman membidik.
Wuzz!
"Aah!" Jerit Naray terkejut tubuhnya dilemparkan oleh Jingga ke atas pohon tanpa aba-aba.
"Neng, fokus!" Ucap Jingga dengan membentuk kode dari kedua jari yang diarahkan ke mata.
Jingga kembali fokus pada kawanan serigala yang masih diam saja memperhatikan dirinya, sedangkan Naray bersiap dengan busur panahnya.
Tap tap!
Seorang kakek tiba-tiba sudah berada di depan Jingga dengan senyumnya yang mengejek.
"Siapa dirimu pendekar muda? Kenapa kau memasuki wilayahku?" Tanya kakek berpakaian serba hitam.
"Pertanyaan basi!" Ketus Jingga menjawabnya.
"Kurang ajar, berani sekali kau berkata seperti itu, sudah bosan hidup kau rupanya" balas kakek tua mulai kesal.
"Ha ha ha, aku malah sudah mati dari lama" timpal Jingga terkekeh.
"Hah! Apa maksud..." ucap kakek tua terputus.
Bugh!
Dhuar!
Tiba-tiba saja Jingga memukul si kakek tua dengan keras hingga terpental menabrak pohon. Ia tidak menyangka terkena pukulan cepat dari pemuda yang dianggapnya lemah.
Hoek! Cuih!
Kakek tua memuntahkan seteguk darah dari mulutnya. Dengan penuh emosi ia kembali bangkit.
"Hiaaat!"
Bugh! Krak!
Sambil melompat, Jingga memukuli bagian belakang kepala si kakek yang belum sempurna berdiri hingga terdengar suara tulang remuk yang begitu memilukan.
Kakek tua mati dengan kepala membentur tanah begitu keras.
"Ya, langsung mati. Kirain jago" ucap Jingga sedikit kecewa.
"Auuu!" Lolongan keras kawanan serigala sambil menengadahkan kepalanya ke atas.
Jingga begitu senang melihatnya, ia berharap lolongan lantang kawanan serigala untuk memanggil kawanannya yang lain.
Tidak butuh waktu lama, gemuruh langkah kaki terdengar dari kejauhan, beberapa saat kemudian lebih dari tiga puluh serigala berlompatan menghampiri kawanan serigala yang berdiri menunggu.
"Yuhuu!"
"Semakin banyak akan semakin seru" imbuh Jingga begitu senang.
Ia lalu mengangkat dua jarinya ke atas, memberi kode pada adiknya untuk memanah.
Sring!
Sleb!
Bruk!
Seekor serigala jatuh tersungkur ke tanah lalu mati.
"Bagus, Neng!" Puji Jingga.
GROARR!
Kawanan serigala tampak marah melihat seekor temannya mati tertancap anak panah tepat dibagian lehernya.
"Ha ha ha, teruslah meraung dengan keras" kekeh Jingga begitu gembira.
Ia kembali mengeluarkan dua belati yang terselip di pinggangnya.
"Hiaat!"
Wuzz!
Sleb sleb sleb!
"Ha ha ha, ayolah! Jangan bisanya berputar saja" ledek Jingga yang sudah membantai tiga serigala.
GROARR!
Serigala mulai terpancing, Jingga sengaja memberi kawanan serigala kesempatan untuk menyerangnga. Namun setelah ditunggunya, tidak ada satu pun yang berani menyerangnya.
"Baiklah, kalau kalian takut pada belatiku, aku akan menyimpannya" imbuh Jingga lalu menyelipkan kembali kedua belatinya.
Groaaar!
Wuzz! Buk! Dhuar!
Seekor serigala yang menyerangnya dari belakang terpental menabrak dua serigala lainnya.
"Bagus, ayo lagi!" Serunya semakin semangat bertarung.
Wuzz! Srek!
Tiga ekor serigala berhasil menggigit kedua kaki dan sebelah kiri tangannya. Jingga masih berdiri dengan tenang membiarkannya, seekor serigala lainnya datang menggigit tangan kanan Jingga yang tersisa.
"Lumayan"
Wuzz!
Jingga memutar tubuhnya dan melemparkan keempat serigala ke berbagai arah.
Bruk! Bruk! Gedebuk!
Keempat serigala saling bertabrakan dengan puluhan serigala lainnya.
"Langkah bayangan"
Wuzz!
Bugh! Bugh! Bugh!
Dhuar! Dhuar!
"Ha ha ha" tawa Jingga setelah memukul puluhan serigala yang bertumbangan menabrak pepohonan.
Sring!
Wuzz!
Sleb! Sleb!
Dua puluh anak panas menancap di tubuh para serigala. Naray yang melihat hasil lesatannya tampak puas.
"Aa, lemparkan kembali anak panahnya" pekik teriakan Naray yang kehabisan anak panah.
Jingga berkelebat mencabut kedua puluh anak panah yang tertancap di tubuh kawanan serigala yang tergeletak lalu memanjat pohon dan menyerahkannya ke Naray.
"Biarkan saja yang lainnya kabur, Aa ingin mereka menggalang kekuatan lebih banyak lagi untuk mengejar kita" ujar Jingga lalu duduk di atas dahan pohon.
"Apa Aa tidak takut dikejar serigala?" Tanya Naray heran.
"Pertanyaan yang aneh, Aa justru ingin mendapat pertarungan sengit dengan mereka" jawab Jingga.
"Ya sudah kalau begitu terserah Aa saja, sekarang kita tunggu mereka semua pergi" timpal Naray.
Setelah ditunggu keduanya, belasan serigala yang tersisa akhirnya memilih pergi meninggalkan lokasi. Jingga dan Naray kembali turun.
Beberapa langkah kaki keduanya berjalan, suasana berbeda di dalam hutan dirasakannya. Terpaan angin yang berhenbus dari area yang lebih terbuka menerpa keduanya.
"Sebentar lagi kita sampai di desa Lembayung. Semoga saja mereka sama ramahnya dengan kampung Sirintang" kata Jingga dengan harap.
"Aku tidak yakin, kata Bibi Lina, di desa lembayung banyak praktisi sihir. Kita harus berhati-hati" timpal Naray mengingatkannya.
Bibir Jingga melengkung membentuk senyuman dengan menampilkan kebahagian yang bersinar di matanya setelah mendengar sihir.
Hidung Naray berkerut keheranan memperhatikannya, ia tidak habis pikir ada orang yang begitu senang pada hal yang dikhawatirkannya.
"Kenapa dia lebih terlihat seperti seorang iblis daripada seorang manusia? Apakah memang benar dia makhluk gaib seperti yang dikatakan Eyang Guru?" Tanya pikir Naray mulai mempercayai perkataan gurunya.
Tak terasa, pagi pun tiba dengan sendirinya, pancaran sinar matahari melesat cepat membentuk energi cahaya seperti bilah pedang menerobos celah dedaunan dengan begitu cepatnya.
"Hoam!"
Naray menguap, kedua matanya berair. Ia tidak sanggup lagi untuk melanjutkan perjalanannya.
'Aa, aku ngantuk" ucapnya lalu berbelok ke arah pohon yang rindang di dekatnya.
Tanpa menunggu balasan Jingga, Naray langsung terlelap tidur di samping busur panahnya.
Melihat adiknya yang memang belum fit badannya ditambah dengan begadang semalaman, Jingga terpaksa memangkunya dan terus melanjutkan perjalanannya sampai benar-benar keluar dari area hutan.
Tampak sebuah desa terlihat di balik area sawah yang tidak begitu luas. Hanya beberapa langkah saja, Jingga sampai di desa Lembayung.
Beberapa warga desa yang mengenakan tudung melihatnya sedikit heran.
"Pendekar muda, apa yang terjadi dengan kekasihmu?" Tanya seorang wanita berusia tiga puluhan.
"Maaf Bibi, Adikku hanya tertidur saja. Semalaman dia tidak bisa tidur karena takut berada di dalam hutan" jawab Jingga menjelaskannya.
"Oh begitu, bawa saja ke rumah Bibi. Kasihan Adikmu" ujarnya menawarkan.
Wanita itu lalu memimpin jalan ke rumahnya, Jingga tidak bisa menolak kebaikannya, ia mengikutinya saja dari belakang.
Lumayan jauh juga ketiganya berjalan, rumah-rumah warga desa Lembayung tidak berdekatan. Masing-masing rumah berjarak 50 sampai 100 meter.
Sambil berjalan, Jingga banyak bercerita soal kampung Sirintang. Ia mengaku dari sana.
Tanpa terasa, ketiganya sudah sampai di depan rumah berdinding pohon.
"Maaf, rumah Bibi tidak besar, tapi Adikmu bisa tidur dengan nyenyak di dalamnya" tutur bibi bernama Duma dengan lirih.
"Terima kasih, Bibi Duma. Aku jadi tidak enak hati sudah merepotkan Bibi" balas Jingga sedikit menundukkan wajahnya.
"Tidak apa-apa, mari!" Balas bibi Duma mempersilakan Jingga masuk.
Jingga lalu membaringkan Naray di alas jerami, ia lalu berbincang sedikit dengan bibi Duma.
"Jingga, Bibi harus pergi ke sawah. Kamu beristirahatlah dulu, jangan membuka pintu sampai senja hari" ucap bibi Duma memintanya.
"Kenapa, Bi?" Tanya Jingga heran.
"Desa Lembayung terlihat seperti sungai yang tenang, namun ada arus kuat di dalamnya. Ikuti saja perkataan Bibi" jawabnya.
Jingga mengangguk saja menanggapinya, bibi Duma lalu pergi dan langsung menuntup pintu dengan rapat.