Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Uji Tanding - Menuju Ibu Kota


"woi bangun!" Teriak Du Dung langsung di dekat telinga Jingga berhasil membuat pemuda yang hobinya tidur itu terperanjat seperti mendengar bom dalam perang.


"Ha ha ha, ternyata begitu wajahmu kalau terkejut" kekeh Du Dung mengejeknya.


"Sialan kau!" Kesal Jingga lalu duduk membiarkan kedua matanya yang masih konslet kembali dalam pose tidur.


"Aku kira kau orang yang rajin, tahunya kau pemalas" imbuh Du Dung yang terus memperhatikan teman barunya yang masih belum keluar sepenuhnya dari alam mimpi.


"Oh iya, aku penasaran kenapa kau tidak mau makan, bahkan makanan yang begitu enak dari masakan adik Zhu Xia tidak kau cicipi sama sekali?" Tanyanya yang dari semalam lupa ditanyakannya.


"Karena aku iblis" jawab Jingga masih dalam posisi setengah sadar.


"Masih pagi sudah becanda, ya sudah aku menunggumu di aula pelatihan sekte" timpal Du Dung lalu pergi meninggalkannya.


Siang hari Du Dung menghentikan latihannya memainkan tombak yang menjadi senjata andalannya.


"Apakah bocah itu masih tidur di siang begini?" Pikirnya lalu duduk sambil memperhatikan murid sekte berlatih.


Jingga yang sudah terbangun langsung berkelebat menghampirinya tanpa disadari oleh Du Dung yang terlihat sedang memikirkan sesuatu, Jingga duduk di sebelahnya.


"Apa yang sedang kau pikirkan Dang Ding Dung?" Tanya Jingga


"Sial! Kau mengagetkanku saja, sejak kapan kau berada di situ?" ketus Du Dung yang hampir melompat melihat Jingga sudah berada di sebelahnya lalu menanyakannya.


"Dari tadi" jawabnya singkat.


"Apa kau mau berlatih jurus?, Aku akan mengajarkannya padamu" tawar Du Dung.


"Tidak perlu, kau lanjutkan saja pelatihanmu, waktu seminggu itu sangatlah cepat" jawab Jingga mengingatkannya.


Du Dung mengangguk lalu melanjutkan latihannya dengan serius, gerakannya walaupun sangat lambat bila dibandingkan dengan Jingga, tapi kekuatannya sangatlah besar.


Siluet dari energi spiritual yang tercipta membuat setiap tebasan tombak yang dilayangkan berkali kali lipat kekuatannya.


Jingga mengambil sebuah pedang dari kotak penyimpanan lalu menghampiri Du Dung yang sedang berlatih.


"Dang Ding Dung, boleh aku mencoba kehebatanmu" pinta Jingga menantangnya.


"Tak bisakah kau menyebutku dengan benar, aku geli mendengarnya" protes Du Dung yang selalu dipanggil Dang Ding Dung oleh Jingga.


"Aku nyaman memanggilmu seperti itu, ayolah aku penasaran dengan kekuatan seorang kultivator" ucap Jingga yang mulai memainkan pedang.


"Hahaha aku kira kau bukan seorang petarung, tapi jangan pernah salahkan aku kalau kau terluka" timpal Du Dung langsung bersiap menghadapinya.


"Kau kalah" ucap Jingga yang menempelkan ujung pedang di lehernya.


"Ka kapan kau bergerak, kenapa aku tidak bisa melihatnya?" Tanya Du Dung yang terkejut dengan kecepatan Jingga.


"Karena kau meremehkanku" Jawab Jingga lalu kembali ke posisinya.


Semua murid sekte menghentikan latihannya dan langsung berkumpul melihat dua pemuda yang melakukan uji tanding.


"Ayo lagi, coba kau serang aku" sambung Jingga yang sekarang memberinya kesempatan untuk menyerangnya.


Tak ingin dipermalukan di depan para murid sekte yang menontonnya, Du Dung langsung mengerahkan jurus andalannya, ia berniat memberikan kejutan dengan mengalahkan Jingga hanya dalam satu serangan.


Slash


Du Dung membuat satu trik mengelabui Jingga dengan gerakan badannya, namun Du Dung tidak mengetahui kalau Jingga Ahlinya dalam variasi gerakan.


Du Dung melewatinya lalu memutar badan dan langsung mengarahkan tombaknya menukik cepat menebasnya secara vertikal.


Sret!


Tombaknya menghantam tanah, Du Dung kembali terkejut dengan Jingga yang berhasil mengelak hanya dengan memiringkan tubuhnya sedikit.


"Ba bagaimana kau bisa melakukan itu?" Tanya Du Dung yang gagal memberinya kejutan.


"Kau tidak serius, tunjukkan padaku energi spiritual yang kau miliki, aku ingin mencobanya" jawab Jingga kembali memintanya.


"Baiklah, kau bersiaplah" timpalnya lalu mengerahkan energi ke dalam tombaknya lalu menyerang dalam satu lompatan.


Hiyaa!


Trang!


Pedang terbelah, pada jarak beberapa centi, Jingga langsung berpindah.


Tangannya bergetar dan merasa sedikit nyeri merasakan kekuatan energi dari jalur spiritual.


"Sungguh perbandingan kekuatan yang begitu jauh bahkan yang berada di ranah pendekar sekalipun" gumam batinnya kembali merasa takjub akan energi spiritual.


"Kau tidak apa apa Jingga?" Tanya Du Dung yang melihat Jingga hanya terdiam dari tadi.


"Hahaha aku tidak apa apa, kau begitu hebat memainkan tombak" puji Jingga.


"Kau lebih hebat dariku, untuk seorang pendekar tanpa kultivasi, kau punya kecepatan yang menakutkan" balas Du Dung memujinya.


Du Ho yang dari tadi memperhatikan keduanya, merubah pemikirannya soal Jingga yang menurutnya bakal merepotkan anaknya karena tidak memiliki kultivasi sekarang menjadi tenang.


"Kalian berdua sangat hebat" puji Du Ho menghampiri keduanya.


"Ayah" sahut Du Dung yang tidak tahu ayahnya menyaksikan uji tanding keduanya.


Setiap harinya kedua pemuda selalu berlatih bersama dan saling memberi masukan satu sama lainnya hingga hari yang ditunggu pun telah tiba.


Dudung dan Jingga berpamitan kepada Du Ho untuk mengikuti turnamen yang digelar oleh kekaisaran Fei.


"ayah hanya minta satu hal darimu, HIDUP" ucap Du Ho melepas kepergian anaknya.


"baik ayah" sahut Du Dung mengingatnya.


"Jingga" panggilnya


"Ya paman" sahut Jingga


"kemarilah sebentar" pintanya


Jingga mendekatinya lalu paman Du Ho membisikinya.


"setelah turnamen selesai, biarkan Du Dung untuk kembali pulang, kau pasti mengerti maksudku" bisiknya lalu diangguki oleh Jingga.


"baiklah paman, kami pamit" ucap Jingga lalu melangkah pergi.


setelah berada cukup jauh dari kota Yu Chen, Du Dung menanyakan apa yang dibisikkan oleh ayahnya kepada Jingga.


"aku minta kau jujur kepadaku, apa yang telah ayahku bisikan kepadamu?" pinta Du Dung sedikit memaksanya.


"baiklah, tapi kau harus berjanji kepadaku tidak pernah mengungkapkannya suatu hari nanti apa pun yang terjadi" pinta Jingga menampakkan wajah serius.


"aku berjanji, pasti aku tidak akan mengatakannya kepada ayahku apa pun yang terjadi" ucapnya dengan yakin.


"tapi kau jangan terkejut setelah aku mengatakannya padamu" pinta jingga lagi mengulur waktu.


"tak bisakah kau langsung mengatakannya, kau tahu aku sudah gemetar sejak dari rumah ingin mengetahuinya" sahut Du Dung mulai emosi menghadapinya.


"tapi aku masih belum yakin, apakah kau bisa dipercaya atau tidak" ujar Jingga dengan ekspresi tenang tanpa beban.


"sebenarnya kau mau mengatakannya atau tidak Jingga mata besar" timpal Du Dung berusaha menahan sabarnya yang semakin tipis.


"ya, aku pasti mengatakannya setelah kita dekat dengan ibu kota" ucap Jingga terus memprovokasinya.


"hei kau yang benar saja, ke ibu kota butuh waktu delapan hari berjalan kaki, belum lagi harus melewati dua bukit dan dua kota sebelum memasuki ibukota, aku tidak mau menunggu selama itu" ucap Du Dung mulai menyerah.


"ya sudah, kalau delapan hari kelamaan, aku akan mengatakannya di hari ketujuh, lumayan kan kepotong sehari" ujarnya lagi menawarkan bonus.


"kau teman paling menjengkelkan selama aku hidup, tahu begini aku tidak akan membantumu ketika kau ditangkap oleh anak buah tuan kota Jun" kesal Du Dung yang akhirnya menyerah juga.


"kasian dirimu, selalu mengingat kebaikan yang sudah dilakukan, kau tahu kebaikan itu harus kita lupakan sesegera mungkin, itu baru ketulusan" kata Jingga menasehatinya.


"kau!" geram Du Dung diceramahi oleh seorang pemuda yang membuat dirinya begitu tersiksa karena kesal.


keduanya berjalan tanpa berbicara sepatah kata pun.