Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Penantian Akhir Sang Adik


Qianfan mendongak ke atas langit, ia melakukannya untuk menenangkan diri yang begitu larut dalam emosi kebahagiannya lalu kembali menatap para muridnya dengan hati yang tegar.


"Pemuda di sampingku adalah Kakakku Jingga dan maaf-" ucapnya terputus lalu melirik ke arah Tang Niu yang termenung mendengarnya.


"Tang Niu, dia keturunan temanku Tang Xiu Juan" jawab Jingga mewakilinya.


Qianfan tersenyum lalu kembali melirik murid-muridnya yang terperangah sulit mempercayai perkataan pendiri sekte.


Ia lalu menyampaikan pelbagai hal yang salah satunya adalah pengunduran dirinya sebagai tetua sepuh sekte dan mengangkat cucunya Qianli sebagai tetua sepuh berikutnya.


Cukup lama ia berpidato dan diakhiri dengan menyerahkan sebatang tongkat bambu merah kepada cucunya Qianli.


Setelahnya ia membawa Jingga dan Tang Niu ke belakang sekte tepatnya di area pemakaman di mana Zhen Li dan Luo Xiang disemayamkan termasuk istrinya Du Zhia.


Jingga bersujud tiga kali di depan nisan kedua orang tuanya.


"Ayah, Ibu!" Ucap Jingga dengan raut wajah yang begitu sedih.


Sampai matahari terbenam, Jingga baru bangkit berdiri. Ia bersama Tang Niu dan Qianfan berjalan ke bale bambu untuk mengenang kembali kisahnya.


Di tengah malam, Qianfan menyampaikan maksudnya untuk memindahkan kekuatan jiwa miliknya dengan mereduksi energi spiritual yang membuat dirinya bisa hidup selama ratusan tahun sebagai salah seorang kultivator terakhir di alam fana.


"Apa kau yakin dengan keputusanmu, Fan'er? Kenapa kau tidak ingin kembali ke alam dewa?" Tanya Jingga.


"Aku sudah memutuskannya sejak ratusan tahun silam, Kakak tidak perlu meragukannya, bahkan Kakak sendiri yang melarangku kembali ke alam dewa dan pelbagai larangan lainnya yang disematkan padaku, makanya aku tidak bisa menceritakan apa pun kisah Kakak di alam dewa" jawab Qianfan menjelaskannya.


"Baiklah, sekarang apa yang harus aku lakukan untuk membantumu?" Balas Jingga menanyakannya.


Ia tidak ingin mengetahui hal yang tidak seharusnya ia dengarkan dari sang adik.


"Aku akan menyerahkan kekuatan jiwaku" jawab Qianfan.


"Energi spiritualku terkunci, bagaimana aku melakukannya?" Tanggap Jingga bertanya.


"Kakak tenang saja, karena aku yang akan mengirimkannya menggunakan energi spiritualku"


"Kenapa tidak kau wariskan saja kepada keturunanmu, Fan'er?"


"Andaipun bisa, aku tidak akan menunggu kedatangan Kakak. Tubuh mereka tidak akan sanggup menahannya"


"Ya sudah, ayo kita mulai!" Timpal Jingga mengakhiri perbincangan.


Qianfan lalu meminta Tang Niu meninggalkan bale bambu, ia lalu membuat dinding formasi di sekeliling bale bambu tempat keduanya akan memulai perpindahan kekuatan jiwa.


Qianfan dan Jingga dalam posisi bermeditasi saling berhadapan. Qianfan mulai membentuk pola dari kedua jemari tangannya.


Seberkas sinar energi terpancar keluar dari tubuh Qianfan yang langsung menerangi area hutan bambu merah.


Tingkat kultivasi Qianfan yang berada di ranah Dewa Langit Kristal membuat fluktuasi energinya dengan kuat menekan dinding formasi yang terus bergetar sangat keras hingga terdengar bergemuruh.


Tubuh Jingga mulai bergetar menahan energi yang memasuki tubuhnya, ia masih terus bertahan pada posisinya. Berbeda dengan Jingga, di depannya Qianfan mulai merasakan sakit yang teramat menyiksa seluruh tubuhnya, di mana kekuatan jiwanya ia paksa keluar dari tubuhnya.


"Aaah!" Pekik teriakan Qianfan yang terus berusaha untuk mengeluarkan semuanya kekuatannya.


Proses perpindahan kekuatan jiwa berlangsung sampai menjelang pagi, tepat ketika matahari terbit di ufuk timur. Qianfan berhasil melepaskan kekuatan jiwanya.


Boom!


Dinding formasi hancur, seperempat area hutan bambu merah berubah menjadi tanah datar. Tubuh Jingga memancarkan sengatan energi listrik berwarna keperakan lalu menghilang dengan sendirinya.


Di depannya Qianfan terkulai lemah dengan kondisi tubuh yang berubah menjadi penuh keriput. Ia terlihat sangat tua di tubuhnya yang sekarang.


"Kakak, terima kasih. Sebentar lagi aku akan menyusul istriku" ucap Qianfan begitu terlihat lega bisa kembali menjadi manusia biasa.


"Seandainya para dewa mengetahui kematian begitu indah, mungkin mereka tidak akan mau menjadi dewa dan setiap manusia tidak akan pernah mencari keabadian" ucap Jingga sambil menggenggam jemari adiknya yang keriput.


Jingga lalu memangku adiknya seperti ia memangku tubuh seorang gadis dan membawanya kembali ke kediamannya.


Para murid sekte berjajar dalam posisi berlutut di kedua sisi jalan setapak mengiringi Jingga yang membawa tubuh rapuh pendiri sekte.


Ribuan murid sekte menangis pilu menyaksikannya. Jingga melangkahkan kedua kakinya dengan pelan. Dalam pangkuannya, Qianfan terus melambaikan tangan kepada para murid yang dilaluinya.


Suasana menjadi begitu menggetarkan hati setiap orang, sampai pada ujung jalan di depan kediaman sepuh sekte, para tetua yang merupakan cucu dan cicit Qianfan langsung menjatuhkan diri bersujud dalam linangan air mata.


Jingga memasuki kediaman sepuh sekte lalu membawa adiknya ke dalam kamar yang ditunjukkan oleh Qianli yang mengantarkannya.


"Kakak, mungkin tidak lama lagi aku akan menyusul Zhia'er. Maukah Kakak menemani hari-hari terakhirku?" Pinta Qianfan.


"Baiklah, aku akan menemanimu, Fan'er" balas Jingga menyetujuinya.


"Tapi, apakah kau tahu berapa lama lagi aku akan berada di alam fana ini? Aku lupa menghitungnya" Tanya Jingga.


"Ha ha, Kakak pernah memintaku menyampaikannya, maafkan aku yang baru mengingatnya. Waktu Kakak di alam fana tinggal 40 hari lagi" kekeh Qianfan menjawabnya.


Jingga yang mendengarnya langsung berpikir akan waktu yang begitu cepat berlalu.


"Berarti ada selisih waktu di kerajaan Samudera. Aku harus memberitahu Naninu tua. Tunggulah! Aku akan kembali lagi" timpal Jingga lalu pergi meninggalkan Qianfan yang terbaring lemah.


Masih berada di kediaman tetua sepuh, Tang Niu terlihat sedang berbincang dengan tetua sekte di sebuah aula.


Semua orang melirik ke arah Jingga yang berjalan menghampiri. Mereka terlihat kebingungan untuk menyapanya. Jingga yang memperhatikan semua mata memahaminya.


"Panggil saja Jingga, kalian tidak perlu sungkan kepadaku" kata Jingga meredakan kebingungan para tetua.


"Nyonya, ada yang ingin aku sampaikan kepadamu" imbuh Jingga melirik ke arah Tang Niu yang langsung berdiri dari kursinya.


Qianli langsung berdiri diikuti para tetua lainnya, mereka mempersilakan Jingga untuk berbicara dengan nyaman di ruang aula. Para tetua langsung pergi meninggalkan keduanya.


"Akhirnya aku tahu kenapa kamu tidak mau menyebutkan identitasmu, setelah mengetahuinya aku jadi bingung memanggilmu apa" ujar Tang Niu memulai percakapan.


"Ha ha, tenang saja. Nyonya bebas memanggilku dengan apa pun yang Nyonya inginkan"


"Hem! Aku ingin mengatakan tentang selisih waktu yang kita alami ketika berada di kerajaan Samudera yang lebih cepat dari waktu sebenarnya. Artinya kapal layar sudah tiba dari beberapa bulan yang lalu. Apakah Nyonya akan mencari Xuis yang tertinggal di kapal?" Ujar Jingga menjelaskannya.


Tang Niu sedikit tersentak mendengarnya, ia baru mengingat serigalanya yang tertinggal di kapal. Namun ia masih terlihat tenang.


"Adik tidak perlu khawatir soal itu, Xuis bisa mencari keberadaanku. Apa Adik akan tinggal lama di sekte ini?" Balas Tang Niu disambung sebuah tanya.


"Ya, aku akan lama berada di sini" jawab Jingga.


"Baiklah, sampaikan salamku pada Sepuh Sekte. Aku akan langsung pergi ke ibukota"


"Kalau sempat, berkunjunglah ke klan Tang. Aku akan menunggu Adik di sana" imbuh Tang Niu lalu melangkah pergi meninggalkannya.


Jingga mengantarnya sampai ambang pintu lalu menarik tangan Tang Niu menahannya.


"Ada apa?" Tanya Tang Niu sedikit terkejut langkahnya dihentikan Jingga.


"Tidak ada apa-apa. Berhati-hatilah di perjalanan!" Jawab Jingga tidak berani mengatakan yang sebenarnya.


Tang Niu memahaminya, ia langsung melingkarkan kedua tangannya di leher Jingga lalu memagut bibir Jingga dan memberinya sebuah gigitan sedikit keras lalu melepaskannya.


"Nyonya sangat mengerti diriku, terima kasih" ucap Jingga.


Tang Niu tersenyum lembut menanggapinya lalu berbalik pergi meninggalkan Jingga yang bersandar pada ambang pintu.