
"Ayo, kita langsung ke sana" ajak Jingga begitu semangat.
Xinxin begitu senang melihatnya, ia lalu melesat terbang memimpin jalan ke kota yang dituju.
"Xin'er, jangan terlalu cepat. Kita tidak dikejar waktu untuk sampai ke sana" pinta Jingga.
Xinxin langsung mengurangi kecepatan laju terbangnya, sekarang ia memposisikan badannya berjajar di samping Jingga.
Keduanya terbang dengan santai sambil menikmati suasana alam yang begitu eksotis, cukup lama keduanya terbang, berbagai iblis terus berlalu lalang di sekitarnya.
"Xin'er, kau tahu apa yang membuat alam iblis begitu spesial?" Tanya Jingga.
"Apa, Kak?"
"Suasana langit alam iblis lebih ramai daripada di bawah, itu hal yang tidak aku temukan selama di alam fana" jawab Jingga.
Xinxin diam saja mendengarnya, ia tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
"Kak, sebelum kita ke kota Zhandou Shibing, kita akan melewati kota Huanjue. Tak lama lagi kita akan sampai di kota Huanjue, apakah Kakak ingin turun melihatnya?" Tanya Xinxin menawaran.
"Apa ada sesuatu yang spesial di kota itu?" Tanya balik Jingga.
"Kota Huanjue merupakan kota asal klan Xuenong, satu-satunya kota di alam iblis yang dihuni oleh para penyihir. Kalau Kakak tertarik, kita bisa singgah beberapa waktu untuk menelusurinya" jawab Xinxin sedikit menjelaskan.
Jingga semringah mendengarnya, ia begitu mengagumi sihir yang pernah ditunjukkan oleh klan Xuenong, bahkan sebelumnya Jingga berniat untuk membunuh gadis yang sekarang berada di sampingnya.
"Baiklah, kita akan singgah beberapa waktu di kota Huanjue. Aku ingin bisa sihir seperti dirimu" ucap Jingga menyetujuinya.
"Kak, kita terbang terlalu rendah. Ayo Kak, kita harus lebih tinggi lagi"ajak Xinxin yang melesat lebih tinggi ke atas langit.
Jingga mengikutinya saja tanpa tahu alasannya hingga ia menatap heran Xinxin yang terus terbang naik ke langit.
"Xin'er, tunggu!" Panggil Jingga.
"Iya Kak, ada apa?" Sahut Xinxin bertanya.
"Kenapa begitu tinggi?"
"Itu karena seluruh area kota dilindungi oleh aray ilusi, kalau kita terbang rendah pasti terjerat memasukinya. Kita tidak tahu di mana dinding perisainya, jadi kita harus mengantisipasinya sebelum memasuki area kota" jawab Xinxin menjelaskannya.
"Semakin atas kita tidak bisa melihat area bawah" kilah Jingga.
"Ha ha, kita kan iblis, gunakanlah mata iblis kita untuk melihatnya. Apa jangan-jangan Kakak belum bisa menggunakannya" timpal Xinxin.
"Ha ha ha, itu terlalu mudah. Aku bisa menggunakannya" balas Jingga lalu meningkatkan visibilitas mata iblisnya.
Ia memindai area bawahnya namun yang namanya jarak kalau semakin jauh akan membuat obyek semakin kecil, Jingga merasa tidak begitu berbeda hasil penglihatannya karena di alam iblis semua mata iblis akan menyala dengan sendirinya untuk biss melihat di alam tanpa adanya sinar matahari.
Xinxin lalu meneruskan terbang sampai ia merasa cukup jauh dari area bawahnya kemudian berhenti menunggu Jingga menyusulnya dan berada tepat di sampingnya.
"Kak Jingga terlalu lama berada di alam fana, jadinya Kak Jingga tidak begitu tahu kelebihan mata iblis" celetuknya.
"Apa maksudmu, Xin'er?" Tanya Jingga heran.
"Kita lanjutkan saja sampai berada tepat di atas kediaman Guruku" ucap Xinxin belum menjawabnya.
Jingga menganggukinya, lalu keduanya melaju terbang ke arah kota Huanjue, Jingga masih penasaran maksud ucapan Xinxin namun ia tidak ingin menanyakannya sampai gadis di sampingnya menceritakannya sendiri.
Tak lama kemudian, Xinxin mulai memperlambat laju terbangnya, raut wajahnya begitu senang memperhatikan area di bawahnya.
"Kak, lihatlah di bawah sana. Itu adalah Guruku" ujarnya sambil menunjuk.
Jingga semakin meningkatkan visibilitas penglihatannya, namun ia tidak berhasil menemukan keberadaan guru yang dimaksud oleh Xinxin. Jingga menggelengkan kepalanya.
Xinxin meliriknya lalu berucap,
Jingga yang mendengarnya bukannya tidak tahu, semua ingatan milik Yuangu Mowang ada padanya, akan tetapi setiap teori perlu dibuktikan dalam momentum yang tepat. Jingga lebih mudah mempelajari langsung dari pengalamannya dibandingkan dengan apa yang ia pelajari dari sebuah ingatan dan catatan.
Ia menutup kedua matanya mengingat kembali apa yang pernah dipelajarinya soal mata iblis. Beberapa saat kemudian Akhirnya Jingga tersenyum lalu terkekeh mengetahui hal yang harusnya begitu mudah untuknya.
Jingga membuka kembali kedua matanya lalu mencoba memindai area yang begitu kecil di bawahnya.
"Ha ha ha, aku bisa melihatnya dengan jelas. Ini hebat!" Seru Jingga.
"Xin'er, apa kau tahu kalau mata iblis juga bisa melihat putaran sekitar kita?" Tanya Jingga.
"Ya, tapi hanya yang sudah mencapai Master Emperor Kristal yang bisa menggunakannya, aku masih jauh untuk itu" jawab Xinxin.
Jingga tersenyum simpul mendengarnya, ia lalu mencoba melihat sekitar dirinya tanpa harus menolehkan kepala dan ia kembali dibuat takjub oleh kemampuan mata iblis.
"Kak Jingga, ayo kita turun" ajak Xinxin yang tidak sabar bertemu dengan gurunya.
Jingga mengangguk lalu keduanya melesat turun ke sebuah rumah kecil tempat kediaman gurunya Xinxin.
"Kakek Guru" Pekik Xinxin begitu keras hingga membuat suaranya memantul di sekitar.
"Xin'er" sahut seorang kakek tua yang memiliki satu tanduk panjang melingkar di atas kepalanya.
Xinxin menghampirinya lalu berlutut di depannya, kakek tua membangunkannya. Ia kemudian melirik seorang pemuda yang berjalan menghampirinya.
"Xin'er, siapa pemuda itu? Apa dia kekasihmu?" Tanya Kakek tua lalu memindai ranah kultivasi Jingga.
"Mengejutkan, masih muda sudah menembus Supreme Emperor Platinum" gumamnya memuji.
Jingga yang balas memindainya bereaksi yang sama namun ia tidak bisa melihat ranah kultivasi kakek tua di depannya.
Xinxin melirik kedua lelaki yang terlihat sedang memindai ranah kultivasi masing-masing hanya bisa diam saja lalu ia menjawab pertanyaan gurunya.
"Kakek Guru, pemuda ini adalah Kakak angkatku, namanya Jingga"
"Salam Kakek" sambung Jingga menyapanya.
"Aku begitu mengenal auramu, iblis muda. Apa hubunganmu dengan Yang Mulia Agung? Lalu di mana Yang Mulia Agung sekarang?" balas kakek tua melontarkan tanya.
Jingga diam sejenak memikirkan apa jawaban yang tepat untuk pertanyaan kakek tua yang mengetahui dirinya.
"Maaf Kakek, aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya, Yuangu Mowang mewariskan kesaktiannya padaku dan merubahku menjadi iblis, Yuangu Mowang berada di suatu dimensi alam fana" jawab Jingga sejujurnya.
Kakek tua langsung bersujud membenturkan kepalanya tiga kali di depan Jingga. Ia yang sudah berumur ribuan tahun sangat mengetahui apa yang terjadi dengan Yuangu Mowang.
"Selamat datang di kediaman hamba, Yang Mulia. Perkenalkan, hamba Wu Yao. Hamba siap mengabdi pada Yang Mulia" ucap kakek tua masih dalam posisi bersujud.
Jingga yang terkejut akan perlakuan kakek tua padanya, ia lalu membangunkannya.
"Kakek Wu Yao, aku tidak pantas mendapatkan sambutan seperti itu, aku bukanlah Yuangu Mowang, Kakek tidak perlu seperti itu kepadaku" tukas Jingga tidak menginginkannya.
"Yang Mulia Agung telah memilihmu, itu berarti kau adalah penerusnya. Jadi sudah selayaknya hamba menghormatimu" balas kakek Wu Yao teguh pada pendiriannya.
"Baiklah, terserah Kakek saja. Tujuanku singgah di kota ini karena aku begitu kagum dengan sihir yang diperlihatkan oleh klan Xuenong. Apa Kakek Wu Yao bisa mengajarkannya padaku?" Pinta Jingga.
"Tentu Yang Mulia, semuanya akan hamba ajarkan pada Yang Mulia" balasnya begitu senang.
Sekarang giliran Jingga yang berlutut di depannya.
"Salam hormatku Guru" ucap Jingga lalu membenturkan kepalanya tiga kali di lantai.
Kakek Wu Yao langsung membangunkannya, ia lalu memeluk Jingga yang telah menjadikannya seorang guru.