
Kini Bobeng lebih mudah untuk menekan To Tao yang terbelenggu dalam ruang ilusi ciptaannya.
"Selamat menikmati siksaanku, Iblis buruk rupa!"
Bobeng merentangkan kedua tangannya lalu menjulurkannya ke depan. Ia bermaksud untuk menyusutkan ruang ilusi agar tekanannya semakin kuat hingga iblis hitam tak mampu lagi untuk bergerak di dalamnya.
"Ha!" jerit To Tao merasakan seluruh tubuhnya seperti mengecil oleh tekanan ruang yang terus menyusut menekannya.
Tak cukup hanya dengan menekan ruang ilusi saja, Bobeng lalu menghantarkan dua energi berwarna merah dan biru ke dalam ruang ilusi. Kepulan energi dua warna menyeruak cepat membungkus seluruh bagian tubuh iblis hitam lalu menggerogotinya dengan begitu lahap. Akan tetapi, To Tao tidak membiarkan dirinya menjadi santapan empuk energi dua warna tersebut. Diam-diam, ia memiliki api kematian sama seperti Jingga. Dengan api kematian, tubuh To Tao terhindar dari kerusakan parah. Namun tekanan ruang ilusi yang semakin menekan, membuat dirinya kesulitan untuk bergerak, bahkan sekedar berkedip pun ia tidak bisa melakukannya.
"Iblis tua itu sangat menyebalkan! Aku harus bisa keluar dari belenggu ini," rutuk batin To Tao.
Ia kemudian menggunakan kekuatan jiwanya untuk membalikkan tekanan di ruang ilusi. Namun usahanya sudah diprediksi oleh Bobeng yang langsung melapisi perisai ilusi dengan berlapis-lapis. Tak ayal, hal itu membuat To Tao menghadapi dua pilihan; menyerah atau hancur.
Dalam dilemanya, To Tao terpaksa diam tanpa perlawanan. Tanda ia menyerah pada Patriark klan Linghun Lieshou.
Bobeng menyeringai sinis penuh keangkuhan menatap lawannya yang berdiam diri tanpa daya. Ia lalu menghentikan aksinya dan membebaskan lawannya dari belenggu dimensi ilusi ciptaannya.
"Kau beruntung, Iblis buruk. Seandainya ini bukan ujian untukku. Tentunya, kau hanya akan meninggalkan nama saja. Ha-ha-ha." Cemooh Bobeng yang berhasil menunjukkan kejeliannya dalam menghadapi lawan yang memiliki kemampuan bertarung melebihi dirinya.
"Sialan kau, Bajingan Tua. Suatu saat nanti aku akan mengalahkanmu." Balas To Tao lalu melesak turun menghampiri Jingga diikuti oleh Bobeng yang terus saja tertawa lebar di belakangnya.
Tap, tap!
To Tao berjalan lesu karena malu akan kekalahannya. Ia sampai tidak berani menatap Jingga yang menyeringai dingin memperhatikannya.
"Jangan menunjukkan kelemahan di hadapanku atau akan kuhancurkan dirimu itu," ujar Jingga dengan sorot matanya yang tajam.
To Tao tersentak mendengarnya, ia lalu mengangkat wajah dan menatap Jingga dengan sorot mata yang menyala.
Akhir dari pertarungan keduanya membuat suasana seru di Xingchang berubah menjadi senyap seketika.
Tepat ketika para iblis kembali ke dua kubu berbeda. Jingga dengan seringainya yang dingin menatap para pengikutnya dengan tajam.
"Kalian tahu apa yang aku inginkan, bukan?"
Semua pengikutnya melirik Jingga dengan rasa penasaran yang tinggi. Tidak ada satu pun yang langsung bisa memahaminya meskipun di setiap benak mereka memiliki kesimpulan sendiri, akan tetapi, mereka ingin mendengarnya langsung dari si pemilik keinginan.
Waktu terus terbuang di setiap helaan napas. Sang pemilik kata-kata masih saja bungkam, berdiri mematung membakar rasa ingin tahu yang memuncak dari dahi-dahi yang mengkerut. Hingga salah seorang di antaranya tidak bisa lagi menahan luapannya.
"Tampan, katakanlah! Kami akan menuruti perintahmu." Ucap seorang wanita iblis memantik dinding tebal kebisuan.
Bagai hembusan angin dingin yang menerpa wajah-wajah kekalutan. Para iblis mengangguki ucapannya, dan si pemilik pertanyaan bereaksi dengan sebaris senyum yang terukir tegas dan sorot mata yang tajam. Ia pun akhirnya mengungkapkan maksud yang tersimpan dalam benaknya.
"Tidak ada yang boleh pergi kecuali kematian." Balasnya.
"Baik, Yang Mulia. Kami memahaminya." Tegas seorang iblis tua dengan sorot mata penuh ambisi menanggapinya.
Jingga tersenyum kecut mendengarnya, lalu berkata,
"Sudahlah, kalian tidak perlu melakukan apa pun. Biar aku saja."
"Baik, Yang Mulia." Sahut Bobeng.
Jingga menyeringai sinis lalu mengedarkan pandangannya ke arah kubu Jenderal Jieru yang sedang dikelilingi oleh pasukannya.
"Yang Mulia. Bagaimana kalau kita menjerat mereka ke alam jiwa punyaku?" usul To Tao menyela.
"Ide yang bagus. Tapi itu kurang indah, menurutku." Balas Jingga yang kemudian mengangkat tinggi jari telunjuknya.
Seutas energi melesat cepat ke langit gelap alam iblis yang langsung berubah menjadi terang dipenuhi aurora berwarna-warni. Para pengikut Jingga terperangah melihatnya. Begitu pun para iblis di kubu Jenderal Jieru memiliki reaksi yang sama.
Ting, ting, ting.
"Teruslah bersenandung para pujangga. Romantisme langit akan menghanyutkan kalian pada keindahan dan kemerduannya." Gumam Jingga yang pertama kalinya ia menggunakan teknik Senandung Iblis untuk menjerat para iblis termasuk para pengikutnya.
Setelah berhasil menjerat para iblis ke dalam ilusi Senandung Iblis. Jingga kemudian menggunakan teknik jerat penghisap jiwa untuk menghisap jiwa iblis satu per satu dari kubu Jenderal Jieru dan meledakkan ampasnya (tubuh).
Dhuar! Dhuar! Dhuar!
Ledakan dari setiap tubuh iblis mulai bersahutan seirama dengan suara denting langit yang membentuk simfoni dari senandung ungkapan sajak kelam para iblis yang terbuai.
Alam hitam
Iblis hitam
Sayap hitam
Karena itu;
Aku alam lata
Aku iblis laknat
Aku sampah semesta
Aku lepahan makhluk
Aku ketiadaan
Aku keabadian semu
Bait demi bait meluncur deras dari mulut kering para iblis menikmati kematiannya. Sampai pada seorang iblis betina yang tersisa. Jingga menghilangkan ilusinya. Entah apa yang terbesit dalam benaknya. Ia sendiri tidak mengetahuinya.
Sang iblis betina terkulai lemah lalu jatuh tersungkur. Tidak ada lagi iblis-iblis yang menjadi pengikutnya. Ia menatap sayu ke arah iblis di kejauhan hadapannya.
"Kenapa di alam ini ada kekuatan yang begitu indah?" lirih sang iblis betina sulit mempercayainya.
Tak hanya dirinya saja yang merasakan kekuatan itu. Semua iblis di barisan Jingga merasakannya juga. Tubuh mereka begitu menggigil walau tidak jatuh tersungkur seperti seorang iblis dari kejauhan. Namun mereka semua membisu karena tidak tahu harus apa menyikapinya.
Jingga melayang rendah menghampiri sang wanita iblis yang masih tertelungkup di tanah.
"Kau adalah satu-satunya iblis yang kubiarkan hidup, walaupun aku tidak tahu alasannya. Pergilah untuk meningkatkan kekuatanmu atau tunduklah kepadaku." Ujar Jingga memberinya pilihan.
Sang iblis betina mendongakkan kepala menatapnya lalu menggeleng pelan.
"Aku sudah mengkhianati ratuku, dan seumur hidupku mungkin tidak akan bisa melampaui kekuatanmu. Maka, hancurkanlah aku sebagai kehormatan yang kauberikan untukku."
"Baiklah, kalau itu yang kau inginkan." Imbuh Jingga lalu menjulurkan ujung jarinya.
"Tunggu!" pekik suara Ratu Xin Li Wei yang berkelebat cepat menghampiri keduanya.
Ratu Xin Li Wei lalu menjatukan dirinya berlutut di hadapan Jingga sambil menggenggam jemari tangan wanita iblis di sampingnya.
"Yang Mulia, berikanlah kesempatan padanya. Dia adalah satu-satunya iblis yang tidak pernah membuatku kecewa." Pinta Ratu Xin Li Wei penuh harap.
"Bukankah dia telah mengkhianatimu dan membentuk kubunya sendiri,"
"I-itu karena dia belum mengetahui siapa dirimu, Yang Mulia," sergah Ratu Xin Li Wei.
Jingga mendengus pelan. Ia lalu melirik ke arah Jenderal Jieru dengan tatapan meminta tanggapan.
Ratu Xin Li Wei membantu jenderalnya duduk. Sang jenderal lalu mengepalkan tangan dan bersumpah akan setia menjadi pengikut sang penguasa iblis.
"Aku terima sumpah setiamu, Jenderal!" kata Jingga lalu melayang kembali ke barisannya.