
Sekembalinya duduk di tengah kedua adiknya, suasana tampak kondusif, tidak adalagi gerombolan kultivator bermantel putih di tengah pengungsian.
"Apa ayah dan ibu kita baik-baik saja?"
Bai Niu dan Qianmei langsung meliriknya dengan anggukan. Jingga tersenyum simpul menanggapi keduanya. Ia lalu memperhatikan Zhen Lie dan Luo Xiang yang berjalan dengan wajah lesu menghampiri ketiganya.
“Ayah! Apa yang terjadi?” tanya Jingga mengkhawatirkannya.
“Ayahmu diperas oleh orang-orang dari aliansi Es Utara,” ungkap Luo Xiang menjawabnya.
Jingga menyipitkan mata menatap lekat wajah Zhen Lie yang masih terlihat lesu.
“Berapa banyak yang Ayah keluarkan untuk mereka?” sambung tanya Jingga ingin mendengar langsung dari ayahnya.
Zhen Lie tidak langsung menjawabnya, ia duduk bersama sang istri di depan Jingga, Bai Niu dan Qianmei.
“Sudahlah, kau tidak perlu mencemaskannya. Hanya masalah kecil, bukan berarti apa-apa untukku,”
“Tidak, Ayah. Kalau itu masalah kecil, tidak mungkin Ayah terlihat begitu kesal. Sebenarnya siapa mereka? Aku sendiri baru mendengarnya sekarang.” Potong Jingga mulai merasa kesal atas perilaku dari aliansi Es Utara.
Zhen Lie menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Ia ragu untuk mengatakannya kepada Jingga, namun sang istri tidak demikian. Ia yang sudah hilang kesabaran akan perlakuan dari aliansi Es Utara mendesak suaminya untuk mengatakan semuanya kepada Jingga.
“Ayolah, Sayang. Katakan saja, kita tidak mungkin terus memberikan materi dan sumber daya yang susah payah kita kumpulkan selama ini kepada mereka.”
Mendapat desakan dari sang istri membuat Zhen Lie akhirnya mau menceritakan kebenarannya kepada ketiga anak-anaknya.
“Mereka semua berasal dari aliansi Bintang Selatan, awalnya mereka adalah kelompok pencari suaka yang kehilangan tempat tinggal. Entah kenapa, ketiga kekaisaran dengan kompak mengizinkan mereka bermukim di mana pun di seluruh wilayah kekaisaran,”
Jingga mengingat satu nama yang sangat ia kenali tentang pencari suaka. Ia pun menyeringai dingin mendengarkan cerita ayahnya. Zhen Lie yang memperhatikan perubahan raut wajah putranya langsung menghentikan cerita.
“Jingga, ada apa?” tegur Zhen Lie ingin tahu.
“Aku mengingat si penyihir Mei Moshu. Sepertinya aliansi Es Utara merupakan bagian dari anak buahnya. Aku akan memastikannya nanti. Ayah lanjutkan saja ceritanya.”
“Mei Moshu? Penyihir? Sepertinya aku pernah mendengarnya, …, apakah yang kaumaksud adalah penculik anak-anak itu?”
“Betul, Ayah.”
Zhen Lie mengangguk puas memastikan perkiraannya, ia lalu melanjutkan ceritanya tentang sepak terjang aliansi Es Utara dari awal terjadinya kekacauan di alam fana yang menyebabkan kerusakan yang begitu masif di seluruh sendi kehidupan, sampai datangnya para dewa membantu menyelamatkan kehidupan di alam fana khususnya di benua Matahari.
“Terima kasih, Ayah dan Ibu. Kami harus pergi ke kota Lanhua, tepatnya ke istana kekaisaran Fei untuk melihat kondisi Fan’er dan Zia’er di sana.” Kata Jingga berpamitan.
Zhen Lie dan Luo Xiang saling melirik, lalu keduanya mengangguk mengizinkan ketiga anaknya untuk pergi.
“Kalian berhati-hatilah, Desas-desus mengatakan bangsa iblis mulai banyak terlihat di hutan-hutan bahkan di pemukiman warga yang kosong.” Ujar Luo Xiang mengingatkannya.
“Bukankah Jingga seorang iblis?” celetuk Zhen Lie menimpali perkataan istrinya.
“Suamiku, tidak bisakah kaudiam saja?” tegur Luo Xiang yang kedua matanya berputar memperhatikan para pengungsi yang mungkin saja mendengar perkataan suaminya.
“Tidak apa-apa, Ibu. Baiklah kalau begitu, kami akan pergi sekarang.” Kata Jingga yang tidak ingin berlama-lama berada di pengungsian.
Luo Xiang tampak tidak rela ketiga anaknya harus pergi lagi meninggalkan dirinya, meskipun begitu, ia tidak bisa menahan ketiganya. Dengan berat hati ia pun melepas kepergian ketiga anaknya.
“Jingga, sebelum kalian pergi, tidak bisakah kau sedikit memperbaiki wajah Niu’er? Tidakkah dirimu kasihan melihatnya,” pinta Luo Xiang yang kasihan melihat legamnya wajah Bai Niu.
Mendengar permintaan ibunya, membuat Jingga cengengesan sambil menggaruk kepalanya. Ia lalu mengusap wajah Bai Niu, dan sekarang penampilan wajah Bai Niu sedikit lebih baik dari sebelumnya. Tidak lagi berwarna hitam legam. Kini warna kulitnya kembali normal, akan tetapi masih saja tidak sama dengan wajah aslinya yang cantik.
“Lumayan,” kata Luo Xiang setelah melihat perubahan wajah Bai Niu.
“Huh!” dengus Bai Niu begitu kesal kepada kakaknya.
Sementara Qianmei hanya diam saja menerima nasib. Baginya yang penting bisa berpetualang bersama Jingga. Ketiganya pun berjalan meninggalkan tempat pengungsian.
Setelah cukup lama berjalan, Jingga merasakan suatu kejanggalan di hatinya. Ia terus saja memperhatikan kedua adiknya yang berjalan di kedua sisi tubuhnya.
“Kakak, ada apa? Kenapa melihat kami seperti itu?” tanya Qianmei ingin tahu.
“Aku sendiri bingung, apa ada yang aku lewatkan ya?” jawab Jingga sambil mengelus dagunya.
Qianmei mengangkat kedua bahunya tidak mengetahui apa yang dilewatkan oleh Jingga. Sementara itu, Bai Niu senyum-senyum sendiri mengetahui apa yang dilewatkan oleh Jingga.
“Naninu, apa kamu tahu yang aku lewatkan?” tanya Jingga menatapnya serius.
“Aku tidak tahu, kenapa?” jawab Bai Niu berpura-pura.
“Jangan bohong, atau …”
“Atau apa? Katakan saja, bukan aku yang celaka, tetapi Kakak yang akan celaka. Ha-ha.”
Jingga tampak kesal melihat adiknya yang tidak mau mengatakan kepadanya, biarpun begitu, ia masih saja tidak tahu apa yang telah dilewatkannya. Di sebelahnya, Qianmei mengangkat kedua alisnya meminta Bai Niu mengatakan kepadanya. Akan tetapi, Bai Niu hanya mengedipkan sebelah matanya lalu memicingkannya ke arah belakang. Qianmei langsung mengikuti arah pandangan mata Bai Niu. Ia sedikit tersentak setelah mengetahuinya lalu berpura-pura tidak melihatnya.
Jingga yang masih kebingungan mulai mengingat sesuatu dalam pikirannya.
“Sialan! Istriku, aku melupakan istriku. Sial! Sial! Sial!” rutuknya baru mengingat istrinya yang ia tinggalkan di penampungan.
Melihat Jingga yang panik, Bai Niu langsung menarik tangan Qianmei dan berjalan cepat menjauhi kakaknya itu.
“Hei, kalian mau ke mana?” tegur Jingga melihat kedua adiknya pergi meninggalkannya.
Bai Niu dan Qianmei terus saja berjalan cepat, keduanya bahkan tidak menoleh ke belakang.
“Sebentar lagi akan ada drama suami takut istri, kita tunggu saja.” Kata Bai Niu mulai tidak sabar menyaksikannya.
“Iya, Kak. Pasti sangat menegangkan,” balas Qianmei lalu menutup mulut agar tidak terdengar oleh Jingga di belakangnya.
Jingga yang masih kesal dengan dirinya kini hanya menunggu hukuman apa yang akan diberikan Xian Hou kepadanya. Ia tahu istrinya sedang berjalan sambil mengacungkan sebuah tongkat panjang ke arah dirinya.
“Suami kurang ajar, aku cincang dirimu!” ancam Xian Hou semakin mempercepat jalannya.
Tap, tap!
Terdengar langkah kaki dari seorang nenek tua yang marah ingin menghabisi lelakinya. Jingga yang mendengarnya bagaikan menghadapi seorang algojo yang siap melayangkan pedang ke lehernya.
“Kenapa istriku lebih menakutkan dari semua musuh yang pernah aku hadapi? Ya ampun, aku begitu tegang dibuatnya.”
Jingga terus saja meracau dalam ketegangan di hatinya. Ia benar-benar merasakan takut yang teramat mengerubungi seluruh lapisan tubuhnya.
PLETAK!
“Aduh!” ringis Jingga lalu membalikkan tubuhnya.
PLETAK! PLETAK! PLETAK!
“Ampun, Sayang, ampun!” mohon Jingga sambil menutupi kepalanya.
Xian Hou tidak memedulikannya, ia terus saja memukuli Jingga dengan tongkat yang dibawanya.
“Sayang, cukup! Sayang, aku mohon!” Jingga memelas meminta pengampunan dari istrinya.