
Jingga dan Tang Niu terus berjalan sampai keduanya menemukan sebuah pemukiman di ujung padang rumput yang dilaluinya.
Tampak langit senja berangsur menghitam, keduanya memutuskan untuk beristirahat di atas rerumputan.
"Adik, bagaimana kita bisa berada di daratan? Sedangkan kapal layar butuh waktu sekitar dua minggu untuk sampai. Apakah aku pingsan selama itu?" tanya Tang Niu yang masih penasaran.
Jingga mendongak ke atas dengan mata terpejam lalu membuka kembali kedua matanya dan langsung melirik ke arah wanita cantik yang kedua bola matanya berbinar menatapnya. Ia lalu menceritakan semuanya tanpa ada yang disembunyikannya.
Tang Niu tertawa terbahak-bahak ketika Jingga menceritakan tentang kejahilannya pada ratu Samudera.
Setelah selesai bercerita, keduanya kembali melanjutkan perjalanannya ke arah pemukiman. Sesampainya di sebuah rumah kecil namun begitu rapi halaman depannya, Jingga dan Tang Niu terus mengetuk pintu namun tidak ada sahutan dan suara apa pun dari dalam rumah.
"Sepertinya tidak ada orang, kita bisa memanfaatkannya untuk menginap gratis malam ini" ujar Jingga lalu membukakan pintu.
Krak!
"Tidak terkunci, ayo masuk! Anggap saja bukan rumah sendiri" imbuhnya lalu melangkah masuk.
Tang Niu mengerutkan bibir mendengarnya, ia lalu mengikuti Jingga memasukinya.
Tampak isi dalam rumah begitu rapi dan bersih, Jingga dan Tang Niu melangkah ke setiap ruang dalam rumah. Di dalamnya terdapat satu kamar tidur, satu ruang tengah dan satu dapur namun tidak ditemukan keberadaan kamar kecil.
Jingga melirik Tang Niu yang langsung mengangkat pundak melemparkan keputusan kepada Jingga.
"Tidak menjadi masalah buat kita. Hanya semalam saja kita menginap di sini, kalau kamu mau buang air kecil, kamu bisa ke belakang rumah. Berhati-hatilah dengan ular" ucap Jingga mengingatkannya.
"Ularnya itu kamu, aku tidak takut" balas Tang Niu menggodanya dengan mengigit bibir.
"Maafkan aku Naninu, aku lelaki yang setia pada satu wanita" balas Jingga mengetahui maksudnya.
"Betulkah ucapanmu itu?" Tanya Tang Niu tidak mempercayainya.
"Hal lumrah seorang pendekar hebat memiliki banyak istri, bahkan seorang kaisar dan raja pun memiliki selir. Adik jangan membohongi diri. Aku siap menjadi yang kedua untukmu" imbuh Tang Niu mengutarakan.
"Tapi kau terlalu tua untukku, kau bahkan lebih cocok menjadi ibuku" kilah Jingga tetap menolaknya.
Tidak mau menyerah pada usahanya, Tang Niu yang sudah jatuh hati pada Jingga langsung melingkarkan kedua tangannya merangkul leher Jingga. Hidung keduanya bersentuhan, dengan jarak bibir yang begitu dekat membuat Jingga bisa merasakan deru napas yang cepat dari Tang Niu.
"Cium aku" pinta Tang Niu dengan pelan.
Bibirnya yang lembab sedikit terbuka memperlihatkan gigi putih yang berbaris rapi di dalamnya.
Jingga tersenyum jahat menatap kedua mata Tang Niu yang sayu menggodanya. Terlintas sebuah ide untuk membuat wanita cantik yang wajahnya begitu dekat berhenti menggodanya.
"Haa!" Pekik jeritan Tang Niu meraskan sakit di hidungnya.
Ia melangkah mundur sambil menutup hidungnya yang berdarah karena digigit oleh Jingga.
"Maafkan aku, Naninu. Cinta tidak bisa dipaksakan, kau pergilah!" Usir Jingga yang menyesali perbuatannya.
Tang Niu terduduk lalu menangis pilu, hatinya lebih sakit daripada luka di hidungnya.
"Kalau aku tidak bisa mendapatkanmu, lebih baik aku mati saja" ucapnya lalu menarik sebuah belati kecil yang terselip di pinggangnya.
"Terima kasih, menolakku. Selamat tinggal!" Imbuhnya lalu menggores urat nadi tangannya.
Namun belum sempat bilah tajam mengenai kulitnya, tangan kekar Jingga dengan cepat menahannya.
"Kau tidak ubahnya seperti Naninu adikku. Kalian para betina selalu menjengkelkan" keluh Jingga lalu meremukkan belati kecil milik Tang Niu.
"Baiklah, kau akan menjadi kekasihku selama beberapa bulan terakhir aku di alam ini" imbuhnya dengan terpaksa menerimanya.
Jingga lalu menarik tangan Tang Niu untuk berdiri, ia lalu menciumnya dengan begitu lembut.
Dengan penuh kebahagiaan, Tang Niu mengikuti irama lembut yang diberikan oleh Jingga.
Brak!
Dhuaar!
Rumah sederhana yang ditempatinya langsung hancur terbakar, tidak sampai di situ, bola-bola api beterbangan di atas keduanya saling melintas ke dua arah berbeda.
"Sialan! Ternyata kita berada di zona perang, pantas saja rumah yang kita tempati sudah ditinggalkan penghuninya" rutuk Jingga yang memperhatikan ribuan anak panah yang menggantikan bola api beterbangan di atasnya.
Berbeda dengan Jingga, Tang Niu tidak mempedulikan adanya perang, ia begitu kesal karena kebahagiannya harus terganggu.
"Sayang, mereka telah mengganggu kita. Bagaimana kalau kita menghukum mereka semua? aku akan menghancurkan area timur dan kamu menghancurkan area barat" celetuk Tang Niu memberikan ide.
"Mulia sekali dirimu, Naninu. Baiklah, mari kita bersenang-senang" balas Jingga menyetujuinya.
Ia lalu menoleh ke arah barat di mana banyak pasukan yang mulai bergerak ke arahnya.
"Sayang" panggil Tang Niu dengan lembut.
Jingga kembali menoleh ke arahnya, ia heran melihat Tang Niu masih berdiri di bekakangnya. Tang Niu dengan cepat langsung memagutkan bibirnya dengan buas lalu melepaskannya kembali.
"Kau pasti menyukainya, itu untuk menyemangatimu, sayang. Selamat bertarung" ucap Tang Niu lalu berkelebat ke arah timur.
Jingga masih berdiri di tempatnya sambil mengusapi bibirnya yang digigit oleh Tang Niu.
"Kasar sekali dirimu, Nyonya"
"Tapi benar katamu, aku menyukainya, semoga saja istriku tidak marah, ha ha" imbuhnya lalu berbalik ke arah barat.
"Langkah bayangan"
Wuzz!
Jingga berkelebat ke arah ribuan pasukan bersenjata tombak.
Bugh! Bugh!
Satu persatu tubuh prajurit dipukulnya dengan keras hingga terpental menabrak prajurit lainnya.
Ribuan prajurit lainnya terlihat kebingungan melihat prajurit lainnya beterbangan terkena angin hitam yang melesak menghantam setiap tubuh prajurit.
"Hindari angin hitam!" Teriak seorang komandan memberikan perintah.
Para prajurit berlarian menghindari angin hitam yang terus melemparkan tubuh para prajurit. Jingga yang mendengarnya begitu senang. Ia semakin mempercepat langkahnya menghantam tubuh para prajurit.
"Itu bukan angin, itu jurus bayangan dari sekte Bayangan Jingga kota Lintang" ujar seorang pria yang terus memperhatikannya.
Ia lalu berkelebat mendekati bayangan yang terus melemparkan tubuh para prajurit. Sementara Jingga yang mendengar ucapannya mulai menurunkan tempo, akan tetapi ia tidak berniat menghentikan keasyikannya memukuli para prajurit.
"Tuan pendekar, hentikan! Kami prajurit kekaisaran Xiao" pekiknya dengan lantang meminta Jingga menghentikan aksinya.
Jingga menurutinya, ia lalu berkelebat ke arahnya. Terlihat jelas olehnya seorang pria berusia empat puluhan yang begitu tampan rupanya memakai zirah berwarna emas.
"Wajah Paman sangat mirip dengan Adikku Fan'er. Oh iya, tadi Paman mengatakan Sekte Bayangan Jingga. Bisakah Paman menceritakan padaku sekte yang tadi Paman katakan?" Ucap Jingga terus memperhatikannya.
"Ha ha ha, usiaku memang sudah matang, tapi aku masih bujang. Jangan panggil aku paman. Aku Jenderal Qianbai, kau boleh memanggil namaku saja" kekeh pria itu menanggapinya.
"Mungkin setelah perang berakhir, aku akan menceritakannya padamu pendekar muda" imbuhnya lalu mengangkat pedang ke atas memberi kode untuk kembali bersiap menyerang musuh.
"Sepertinya Jenderal Qianbai keturunan Adikku Fan'er" gumam batin Jingga menerkanya.
"Tidak perlu ada perang, Jenderal tunggulah di sini. Aku akan kembali" balas Jingga lalu berkelebat ke arah timur.