Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Berkumpulnya Keluarga Besar


"Kekuatan jiwa" ucap Jingga setelah menggabungkan semua huruf yang digambarkan oleh jemari tangan Qianfan.


Ia lalu bermeditasi dan mulai mencari kekuatan jiwanya. Tubuhnya bergetar, Jingga terus mempusatkan fokusnya pada energi jiwa. Namun usahanya tidak membuahkan hasil. Tiba-tiba saja letupan energi yang bersemayam di tubuhnya bergejolak.


Bukan kekuatan jiwa yang berhasil dirasakannya, melainkan energi iblisnya yang bergemuruh di dalam tubuhnya.


Kesal karena sudah menghabiskan waktu seharian dalam mencari kekuatan jiwanya, ia masih saja kesulitan menemukannya. Jingga menghentikan usahanya lalu membuka kembali kedua matanya. Ia memperhatikan adiknya yang tertidur lelap lalu menyelimutinya.


Di aula sekte, tetua Qianli terlihat begitu kebingungan untuk menentukan keputusannya.


"Andai saja pedang Langit bisa kita temukan, tentunya kita tidak perlu meminta bantuan Jingga. Bagaimanapun Kakek tidak akan mengizinkan Jingga meninggalkannya" ujar Qianli tidak bisa memutuskan apa pun.


"Kakak pertama, walaupun kita memiliki pedang Langit, kita tidak akan bisa menggunakannya, hanya pendekar setingkat dewa yang bisa memakainya. Sebaiknya kita tunggu saja kematian Kakek, baru kita putuskan untuk meyerang seluruh sekte" kata tetua Qiandai.


"Betul, sebaiknya begitu. Tapi aku berharap Kakek masih hidup lama" sambung tetua Qianzhao.


Semua tetua lalu mengangguk, tiga tetua paruh baya menghampiri kelimanya.


"Ayah, izinkan kami bertiga mengawasi para pendekar yang masih bertahan di kota Lintang" ucap seorang tetua meminta izin.


"Baiklah, kalian terus awasi pergerakan mereka. Tapi ingat, berhati-hatilah!" Balas Qianli mengizinkan putranya.


Jauh di ujung kota Luyan ibukota kekaisaran Xiao, seorang gadis penyihir tidak henti-hentinya membuat kekacauan dengan menculik anak-anak secara terang-terangan di tiap pemukiman warga. Hal itu dilakukannya untuk menarik perhatian pihak kekaisaran dan para pendekar di seluruh penjuru benua untuk menyenangkan dirinya dalam bertarung.


Ratu Kim Rei bersama Kaisar Xiao Manyue sampai harus membuat sayembara untuk bisa membunuhnya.


Sayembara yang dicanangkan oleh Kaisar dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru negeri. Tidak terkecuali dengan sekte Bayangan Jingga yang mendapatkannya langsung dari jenderal Qianbai yang meluangkan waktunya untuk menemui kakek buyutnya Qianfan.


Rombongan sang jenderal pun tiba di depan halaman kediaman tetua sekte. Ia lalu menghampiri para tetua yang berkumpul di aula sekte.


"Apa yang kau bawa?" Tanya Qianzhao.


"Ini selebaran sayembara dari kekaisaran, seorang gadis penyihir secara terang-terangan menculik anak-anak lalu mengembalikannya dengan kondisi tewas. Siapa tahu Ayah dan Paman mau memburunya. Siapa pun yang berhasil membunuhnya akan mendapatkan hadiah yang besar, bahkan kalau ada sekte yang berhasil membunuhnya, setiap muridnya akan dipromosikan menjadi prajurit kekaisaran Xiao" beber Qianbai dengan semangat yang membara menawarkannya.


Tetua sepuh Qianli langsung mengambilnya dari tangan Qianbai dan langsung dikerumuni oleh ketiga adiknya sedangkan Qianzhao lebih mempedulikan putranya yang baru tiba.


"Bai'er, apakah perangnya telah usai?" Sambung tanya Qianzhao.


"Perangnya hanya berlangsung dua hari, itu karena tujuan mereka bukan untuk menyerang wilayah kekaisaran, mereka mencari keberadaan pedang Langit, sepertinya mereka akan menuju ke sekte kita" jawab Qianbai menjelaskannya.


"Kau terlambat anakku, mereka sudah datang dari kemarin dengan membunuh lebih dari seratus murid sekte. Untungnya ada saudara Jingga yang berhasil mengusirnya" sambung Qianzhao.


"Jingga, bukankah dia sang legenda Kakaknya Kakek buyut?" Di mana dia sekarang?" Tanya Qianbai begitu semangat ingin melihatnya.


"Dia sedang menjaga Kakek buyutmu, temuilah!" Jawab Qianzhao.


Qianbai mengangguk lalu berbalik untuk menuju ke kamar kakek buyutnya namun langkahnya terhenti ketika ringkikan suara kuda terdengar di depan halaman kediaman tetua sepuh.


Lebih dari dua puluh kuda terus berdatangan ke halaman kediaman tetua sepuh. Raut wajah kelima tetua terlihat semringah menyambut kedatangan keluarga besar sekte Bayangan Jingga.


Suasana di aula sekte menjadi sangat ramai oleh canda gurau para remaja yang saling bercerita. Jingga yang mendengar keramaian langsung menyembunyikan kembali pedang Langit ke tempatnya lalu kembali dalam posisi bermeditasi di pinggir dipan pembaringan.


"Ka- ka" panggil Qianfan yang terbangun oleh suara ramai di luar.


"Tenanglah, aku akan menegur para tetua" ucap Jingga yang terpaksa bangkit dari meditasinya.


Qianfan menahan tangan Jingga, ia menggelengkan pelan kepalanya melarang Jingga pergi meninggalkannya.


Jingga lalu menuangkan air ke dalam cangkir kecil lalu menyodorkannya ke mulut Qianfan.


Tok, tok tok!


Lima tetua yang mendengarnya langsung berlarian ke arah kamar Qianfan. Sontak saja hal itu membuat semua keturunannya merasa heran. Mereka semua lalu mengikuti kelima tetua.


"Jangan berisik!" Bisik Qianli di telinga cucunya sambil membekap mulut.


Seorang gadis yang berdiri tepat di depan pintu tidak memahaminya, ia langsung mendorong pintu sampai terbuka.


Kelima tetua begitu cemas melihatnya, kelimanya hanya bisa pasrah kalau Jingga akan menegurnya.


Seorang gadis yang membuka pintu langsung meluruh menghampiri Qianfan yang tersenyum melihatnya.


"Kakek, kenapa Kakek jadi begini?" Tanya si gadis lalu memeluk Qianfan.


Beberapa orang yang berada di luar langsung memasuki kamar Qianfan dan bergantian memeluknya. Mereka tidak sadar keberadaan Jingga yang berdiri di samping pintu sampai kelima tetua sekte yang terakhir masuk pun tidak melihat keberadaan Jingga.


"Betapa beruntungnya dirimu, Fan'er" gumam pikir Jingga melihat semua keturunan adiknya berkumpul.


"Hem!" Deham Jingga keras.


Semua orang langsung menoleh padanya, Jingga memanfaatkan momentum dengan bergaya sok keren, ia mengepalkan kedua tangannya di belakang sambil menampilkan raut wajah yang tegas penuh karisma seolah dia adalah pahlawan perang. Langkahnya pelan menghampiri adiknya tanpa mau melirik siapa pun, ia mengambil mangkuk bubur lalu menarik pundak seorang gadis yang duduk di pinggiran dipan dan menggantikan posisinya.


"Sudah waktunya Adikku makan" ucap Jingga sambil menyodorkan sendok makan ke mulut Qianfan.


Semua keturunan adiknya terperangah oleh pemuda yang memanggil sang kakek dengan kata adik, hanya kelima tetua sekte saja yang menatapnya biasa.


"Paman Qianli, tolong ambilkan minum untuk Adikku" pinta Jingga.


Tetua Qianli memahami apa yang dilakukan oleh Jingga, ia lalu menurutinya menuangkan air ke dalam cangkir kecil lalu menghampirinya.


"Ini airnya, Yang Mulia" ucap Qianli sambil membungkuk hormat.


Kembali semua keturunan Qianfan semakin terperangah dengan apa yang dilihatnya, namun ada seorang gadis cantik nan imut yang berusia sekitar tujuh belas tahunan tidak mempercayai sosok pemuda yang sedang menyuapi kakek buyutnya.


"Heh, pemuda aneh! Siapa kau?" Tanya si gadis dengan berkacak pinggang.


Semua mata langsung meliriknya, mereka terkejut karena keberaniannya.


Jingga meletakkan kembali mangkuk bubur lalu berdiri menghampiri si gadis.


"Aku Jingga, kenapa? Tidak senang?" Jawab Jingga balik bertanya.


"Ha ha ha, dasar pembual! Jingga tidak mungkin semuda dirimu, dia pasti lebih tua dari Kakek buyutku" kekeh si gadis.


Tidak jauh dari keduanya, Tetua Qiandai menghampiri lalu menjewer telinga si gadis.


"Aduh! Sakit Kek, sakit!" Ringis si gadis tidak menyangka dirinya akan mendapatkan jeweran.


"Cucu nakal, minta maaf sama Jingga!" Pinta tetua Qiandai masih terus menjewer cucunya.


"I- iya, Kek! Lepaskan Kek, aku kan malu dilihat semua orang" balas si gadis yang wajahnya sudah berubah merah karena sakit bercampur malu.


Tetua Qiandai melepaskannya, ia lalu menjura ke arah Jingga yang mesem-mesem melihatnya.


"Tidak masalah, Paman. Dimaklukmi saja, namanya juga anak kecil" ucap Jingga.


"Eh, enak saja sebut aku anak kecil, aku sudah besar!" Potong si gadis menyanggahnya.


Tetua Qiandai memelototinya, si gadis langsung menciut lalu menundukkan wajahnya.