Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Terlambat


Aliansi klan bangsawan membentuk tim pencari fakta untuk mengungkap kematian klan Ming.


Selama dua minggu tim yang dibentuk menyelidikinya, tidak ada petunjuk apa pun yang berhasil ditemukannya. Para patriark memutuskan untuk menghentikan penyelidikan.


Pertemuan aliansi klan bangsawan kembali digelar, patriark klan Chun begitu emosi terhadap klan lainnya yang sudah mengulur waktu untuk menyerang ibukota kekaisaran Fei karena alasan menyelidiki kematian klan Ming.


Di balik waktu yang terbuang, klan Chun harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk membiayai ribuan kultivator yang berada di jalur rahasia gurun pasir.


Hal ini karena biaya yang dikeluarkan oleh klan Chun untuk membiayai ribuan kultivator di jalur rahasia gurun pasir terus membengkak seiring semakin menipisnya timbunan harta hasil korupsi di kekaisaran Fei.


"Tidak ada lagi tawar-menawar untuk menunda penyerangan ibukota kekaisaran, semuanya harus terlaksana sesegera mungkin" ujar patriark klan Chun dengan tegas.


"Beri kami waktu untuk menentukan sikap" pinta patriark klan Lin yang langsung berdiskusi dengan ketiga klan lainnya.


Menimbang keberadaan pasukan tempur kekaisaran Xiao, membuat keempat klan bangsawan memutuskan untuk menarik diri dari aliansi pemberontak kekaisan Fei.


Klan Chun begitu kecewa dengan keempat klan yang langsung keluar dari aliansi.


"Baik, kami tidak akan memaksa kalian untuk mengikuti langkah kami dalam upaya kudeta, perlu kalian ketahui semuanya, tidak ada tempat bernaung untuk kalian semua di benua Matahari, silakan kalian pergi" ancam patriark klan Chun lalu meninggalkan tempat pertemuan dengan raut wajah begitu kecewa.


Di dalam kediaman klan Chun, patriark klan Chun dengan terpaksa melakukan rencana ekstrem dengan membumi hanguskan para bangsawan yang berubah haluan, mereka sudah menyiapkan tiga ratus kultivator bayangan untuk mengeksekusinya.


Jingga yang menyelinap dalam pertemuan klan bangsawan merasa puas dengan hasilnya.


"Ha ha ha, aku tidak perlu bersusah payah untuk memporak-porandakan para pecundang seperti mereka" seringainya begitu puas.


Jingga lalu mengikuti langkah Chun Chou yang diperintahkan oleh Chun An pergi ke suatu tempat tersembunyi di kota De Shenshi.


Setelah sampai, Chun Chou begitu terkejut dengan kultivator bayangan yang sudah dipersiapkannya jauh hari hanya tersisa sekitar lima puluhan orang saja.


"Maaf tuan muda, banyak murid kami yang tewas oleh seorang pemuda yang berasal dari benua lain beberapa bulan yang lalu" ujar seorang tetua kultivator bayangan melaporkan.


"Ya sudah, apa mau dikata, ada tugas untuk kalian semua, musnahkan empat klan bangsawan" ucap Chun Chou sambil memberikan daftar klan bangsawan yang akan dimusnahkan.


"Baik tuan muda, akan kami laksanakan secepatnya" sahut tetua langsung meneruskan pesannya kepada kultivator lain.


Jingga langsung menghilang setelah mengetahuinya.


Di kamar penginapan, Jingga terlihat begitu bahagia mondar-mandir sambil tersenyum.


"Kak, apa yang membuat kakak begitu bahagia?" Tanya Bai Niu ingin tahu.


Jingga langsung menceritakan pengintaiannya sampai ia mengikuti Chun Chou ke kota De Shenshi.


"Beberapa hari lagi kita akan mendengar kabarnya" ujarnya mengakhiri ceritanya.


"Apakah kau lapar Naninu?, Ayo kita turun" tanya Jingga mengajaknya.


Ketika sedang asyiknya Jingga menikmati arak, dari depan penginapan terdengar suara benda jatuh dan pekikan seekor kuda.


Dua pelayan berlarian menghampirinya lalu menggotong seorang gadis yang penuh luka di sekujur tubuhnya.


Jingga menghampirinya lalu mengobatinya dengan memasukkan pil kehidupan lalu menyentuh kening si gadis mencari tahu apa yang terjadi.


Giginya menggeretak menaham geram setelah melihat apa yang terjadi pada si gadis.


"Kerajaan Shuijing, bukankah itu kerajaan pangeran Qianfan?" Tanya Bai Niu mengingatnya, namun sayangnya Jingga sudah pergi meninggalkannya.


"Dasar Kakak jelek, kebiasaan langsung hilang tanpa memberiku kesempatan bicara" rungutnya kesal.


Bai Niu langsung meminta pelayan untuk membawa si gadis ke kamarnya.


Jingga terbang dengan kecepatan tinggi ke arah utara. Setelah cukup lama ia terbang, dari depannya terlihat kepulan asap yang sangat pekat di balik gunung.


Jingga terus mendekatinya melewati pegunungan lalu terdiam melihat seluruh wilayah kota dan istana kerajaan Shuijing habis terbakar.


"Sial! Aku terlambat" geramnya.


Namun tidak jauh dari tempatnya melayang, terdengar suara langkah kaki berlarian di balik hutan lebat di bawahnya, Jingga menggunakan mata iblisnya memindai area hutan, terlihat olehnya ribuan gerombolan kultivator berlarian sambil membawa jarahan melintasi kedalaman area hutan.


Jingga langsung membuat pola rumit di jarinya menciptakan perisai ilusi iblis untuk menutupi area hutan yang terbentang di antara pegunungan.


"Kalian berputar-putarlah di sana, aku akan kembali setelah memasuki istana" ucapnya lalu terbang ke arah istana.


Tampak suasana istana kerajaan Shuijing tak ubahnya sebuah neraka yang dipenuhi oleh potongan tubuh yang terbakar.


Jingga berputar-putar mengelilingi bagian dalam istana melintasi api yang masih menyala.


"Bagian mana lagi yang belum aku jelajahi?" Gumamnya sambil terus berharap ada orang yang bisa ia selamatkan.


"Dapur" gumamnya kembali mengingat area belakang istana yang mungkin masih ada seseorang yang bisa ia selamatkan.


Jingga berkelebat ke arah belakang, ia terus mengamati setiap ruang yang ia masuki.


Dalam kepulan asap yang pekat dan lidah api yang terus menyala membuatnya sedikit pesimis akan adanya seseorang yang bisa ia selamatkan.


Setelah lama Jingga mencari dalam penjelajahannya, raut wajah pilu merasukinya, Jingga melayang ke atas menara kerajaan kemudian duduk di puncaknya, menyesali keterlambatannya dalam mengantisipasi kultivator jalur rahasia gurun pasir.


Dalam posisi duduknya, Jingga terus memperhatikan kehancuran kerajaan Shuijing yang gagal ia selamatkan.


"Entah siapa sebenarnya yang pantas disebut iblis, manusia kadang melebihi iblis sepertiku ha ha ha" ucapnya dalam suasana hatinya merasakan ironi dengan apa yang telah diperbuat oleh para manusia di alam fana.


Jingga langsung terbang kembali untuk memberantas para kultivator yang ia kurung di hutan, ia melayang dengan lambat menjauhi istana.


"Tolong! Tolong!" Suara seseorang dengan tubuhnya yang terbakar keluar dari salah satu ruangan istana.


"Hah! Masih ada yang hidup" ucapnya sedikit terkejut melihat seorang pria dengan tubuh yang terbakar berjalan lambat ke arah taman istana bagian belakang.


Dengan cepat Jingga meluncur turun lalu membawanya ke arah sungai tidak jauh dari istana, ia langsung menceburkannya lalu menariknya kembali dan memasukkan pil kehidupan ke dalam mulutnya.


Setelah kondisi dalam tubuhnya pulih, Jingga menggunakan kekuatan iblisnya untuk menyembuhkan luka bakar pria yang ia selamatkan.


"Pangeran Qianfan" ucapnya sedikit terkejut dan senang secara bersamaan.


Setelah beberapa waktu, Pangeran Qianfan membuka matanya.


"Adikku, apakah adikku selamat?" tanya Pangeran Qianfan menarik tangan Jingga.


"Tenanglah, aku tidak tahu apakah adikmu selamat atau tidak, maafkan aku yang terlambat menyelamatkan kerajaanmu" jawab Jingga dengan perasaan kecewa di hatinya.