
Jirex berhasil menghabisi semua beast serigala, ia berjalan pelan menatap ke arah Raja Bei Eyu dan kedua komandannya dengan mangap-mangap ingin memakannya.
Roarr!
Raungan lebih besar kembali terdengar, Jirex menggaruk-garuk tanah bersiap untuk kembali bertarung menghadapi beast monster yang berlompatan memutarinya.
Roarr!
Dari puluhan sampai ratusan beast harimau api terus berlompatan menghampiri Jirex yang begitu berbinar sorot matanya melihat makanan selanjutnya.
Di atas awan, Jingga menatap heran ke arah para beast monster lainnya.
"Kenapa tidak sekaligus beast monster menyerang Jirex?" Tanya pikir Jingga memperhatikan ratusan beast monster lainnya yang masih menunggu giliran untuk menyerang Jirex.
Jingga memikirkan sebuah ide dan langsung mengeluarkan api iblis di jari telunjuknya.
Bai Niu melirik kakaknya dengan heran lalu bertanya,
"Kak, apa yang akan Kakak lakukan?"
"Lihatlah ratusan beast monster lainnya yang berada di kaki bukit" jawab Jingga memintanya memperhatikan area para beast monster yang sedang berdiam diri dalam kelompoknya.
Api iblis di jari Jingga semakin besar dan ketika merasa cukup, ia langsung melemparkannya ke arah para beast monster yang berkumpul.
Wuzz!
Siu!
Dhuar!
Ledakan dari bola api berhasil membuat para beast monster berhamburan dengan raungan yang begitu keras.
"Kak, aku akan membuat badai petir untuk lebih mendramatisir suasananya" usul Bai Niu yang langsung diangguki Jingga.
Bai Niu langsung mengeluarkan Jianshandian lalu mengangkatnya ke atas.
Langit cerah berubah menjadi gelap, gemuruh petir bersahutan dan menggelegar menyambar para beast monster secara acak.
Tampak suasana kota Lieren Guojia begitu mencekam, kobaran api yang menyala di bawah kaki bukit, petir yang terus menggelegar dan suara raungan yang bergemuruh laksana kiamat terjadi di kota Lieren Guojia.
"Teruskan, Naninu" pinta Jingga langsung melesat turun menyerang ratusan beast monster yang berlarian dalam kelompoknya masing-masing.
Ratusan bola api ditembakkannya ke arah beast rubah berekor tiga yang berada di dekatnya.
Lolongan panjang terus terdengar dari ratusan beast rubah yang berlarian merasakan bahaya yang memburunya.
"Jianhuimie Yuzhou"
Jingga memutar pedangnya berkelebat menebas ratusan beast rubah yang meringis kesakitan terkena tebasan Jianhuimie Yuzhou.
Dhuar!
Dhuar!
Suara ledakan dari tubuh beast rubah yang meledak terus terdengar begitu nyaring.
"Yang Mulia, bagaimana ini?" Tanya seorang komandan mulai merasa cemas melihat kondisi yang sangat mencekam.
Sret!
Kepala komandan yang bertanya jatuh menggelinding ke tanah, Raja Bei Eyu begitu panik melihat pasukan beast monsternya terus berjatuhan.
Kedua komandan begitu gugup melihat temannya mati begitu saja.
Jirex yang sedang menghadapi beast harimau api terlihat bergembira ketika puluhan beast api terus menembakkan bola api ke badannya, ia berjingkrak senang merasakan panasnya bola api seperti sedang memijiti badannya.
Namun ketika ada beast harimau api yang berhenti menembakkan bola apinya, Jirex dengan cepat langsung membunuhnya.
Hal itu terus berulang sampai jumlah beast harimau api yang awalnya berjumlah lebih dari seratus, sekarang hanya tersisa dua puluhan saja yang masih sanggup menembakkan bola api ke badannya.
Jirex menjadi kesal, ia lalu menggigit dan menggerogoti tubuh beast harimau api yang kehabisan energi.
Jingga yang baru menyelesaikan pembantaian kepada ratusan beast rubah berekor tiga langsung mengalihkan serangannya ke arah beast kadal yang terus menggali lubang untuk melarikan diri ke dalam tanah.
Kembali Jingga menancapkan jarinya ke tanah, ia mengalirkan api semestanya yang dengan cepat membuat tanah menjadi hitam pekat berasap dan terus menyebar hingga beberapa radius jauhnya.
Pohon-pohon dan tumbuhan langsung mati dan membentuk gundukan pasir hitam.
Jingga menarik kembali tangannya setelah tidak lagi merasakan ada kehidupan dari dalam tanah. Ia langsung memindai area dalam tanah memastikan beast kadal telah hangus terbakar.
"Wow! Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui" ucapnya memperhatikan di dalam tanah tidak hanya beast kadal yang mati terbakar, bahkan beast ular dan beast kalajengking ikut mati terbakar dan menjadi pupuk organik.
Jingga tersenyum puas melihatnya, ia kembali mencari keberadaan beast monster lainnya dan terkejut melihat ratusan beast beruang hitam meringis kesakitan karena keempat kakinya sudah menjadi daging panggang yang terus mengeluarkan asap terdampak oleh panasnya tanah yang dipijak.
Jingga langsung berkelebat menghampirinya, ia mengerutkan keningnya melihat genangan air mata dari para beast beruang hitam yang menahan rasa sakit dalam posisi tertidur miring, bahkan sebagian tubuhnya mengalami luka bakar.
"Maafkan aku, aku akan menyembuhkan kalian semua dengan syarat kalian harus kembali ke asal dan menuruti perintahku" ucap Jingga kepada semua beast beruang hitam.
Seperti memahami perkataan Jingga, semua beast beruang hitam berderam menyetujuinya.
Jingga melambaikan tangannya memasang segel iblis ke dalam jiwa beast beruang hitam, lalu mengalirkan energi iblisnya menyembuhkan luka bakar ratusan beast beruang hitam.
Jirex yang telah menyelesaikan pertarungannya berlari menghampiri Jingga, ia menatap lapar ke arah beast beruang hitam yang masih terkapar dalam proses pemulihan lukanya lalu menoleh ke arah Jingga.
Tatapan matanya mengisyaratkan untuk meminta Jingga membiarkannya memakan semua beast beruang hitam yang tidak berdaya.
Jingga menggelengkan kepalanya melarang Jirex untuk memakan beast beruang hitam.
"Kau kembalilah ke alam jiwa" pinta Jingga sambil mengusapi kepala Jirex yang menunduk. Tak lama kemudian Jirex menghilang memasuki alam jiwa.
Jingga menengadah ke langit yang kembali cerah, namun bukannya karena pertarungan telah selesai, di atas awan Bai Niu sedang sibuk bertarung dengan puluhan beast rajawali yang menyerangnya.
Tak lama kemudian, ratusan beast beruang hitam menderam lalu berdiri berkumpul di depan Jingga.
Jingga yang sedang memperhatikan pertarungan adiknya langsung melirik ke arah suara deraman beast beruang hitam.
"Pergilah, aku akan memanggil kalian ketika aku membutuhkan bantuan" pinta Jingga kepada lebih dari dua ratus beast beruang hitam yang telah pulih.
Beast beruang hitam lalu berbalik dan berlarian ke arah bukit paviliun puncak.
Setelahnya, Jingga langsung berkelebat menghampiri raja Bei Eyu yang masih berada di tempatnya.
Raja Bei Eyu yang sedang kebingungan dikejutkan oleh kehadiran Jingga yang sudah berdiri di dekatnya.
"Ha ha ha, kau seperti anak kecil" kekeh Jingga melihat reaksi wajah sang raja.
"Mau apa kau?" Tanya Raja Bei Eyu.
Jingga menyeringai menatapnya lalu dengan cepat memenggal Raja Bei Eyu dan kedua komandannya.
Sret!
Bugh!
Tiga kepala jatuh menggelinding di tanah menyusul kepala komandan yang lebih dulu jatuh terpenggal oleh pedang sang raja.
Jingga termenung dengan apa yang dilakukannya, ia kemudian melayang terbang menghampiri adiknya yang baru saja menyelesaikan pertarungannya dengan beast rajawali.
"Kakak, kenapa murung seperti itu?, Lihatlah, aku punya dua puluh inti jiwa beast rajawali" tanya Bai Niu sambil memperlihatkan kedua puluh inti jiwa yang berhasil didapatkannya.
"Tidak apa-apa, ayo kita turun" jawab Jingga lalu kembali turun ke tanah bersama adiknya.
"Kak, kenapa kita tidak terbang saja biar lebih cepat?" Tanya Bai Niu.
"Aku belum tahu kita mau ke mana, kita tunggu sampai Fan'er, Mei'er dan Zhia'er selesai berkultivasi, sebaiknya kita berjalan pelan meninggalkan kota ini" jawab Jingga.
Keduanya tidak benar-benar berjalan, banyaknya mayat dari kultivator dan para beast monster membuat keduanya harus terbang rendah di atasnya.