
Huo Nuhai menarik kembali tangannya dan memasang ekspresi jelek di wajahnya. Jingga memejamkan matanya sambil sesekali menenggak araknya.
Di kediaman Xuenong, sekembalinya Xintio yang hanya menyisakan tubuh bagian atas dan Xanghua yang begitu lemah tak berdaya membuat para tetua begitu geram.
"Kenapa kalian bisa begini?" Tanya seorang tetua paruh baya tampak heran.
"Pemuda yang telah membunuh Zhan'er yang membuat kami seperti ini" jawab Xanghua.
"Kalian terkena api kematian, mungkinkah pemuda itu putranya si Janggut Iblis lembah Kematian" ujar tetua paling tua menerkanya sambil mengusap janggutnya.
"Bukan, pemuda itu bukan iblis hitam. Dia iblis Tongzhi" timpal Xanghua mematahkan tebakan tetua sepuh klan Xuenong.
"Bibi, apa yang membuat Bibi dan Paman bisa kalah darinya?" Tanya tetua iblis paling muda.
Xanghua termenung mengingat kembali pertarungannya dengan Jingga.
"Ketika aku membuat dimensi ilusi, suamiku bertarung dengan pemuda itu. Aku tidak tahu kapan keduanya bisa bertukar tubuh, setelah melihat pemuda itu masuk ke dalam dimensi ilusi, aku bergegas untuk melawannya langsung, sedangkan pemuda yang menyamar menjadi suamiku menungguku di luar.
Suamiku yang berubah menjadi pemuda mencoba menahanku dan terus berusaha meyakinkan diriku kalau ia adalah suamiku yang asli, tapi karena tubuhnya tertukar dengan pemuda itu, aku tidak mempercayainya sampai suamiku lengah, aku memanfaatkannya untuk menebas tubuhnya sampai seperti yang kalian lihat.
Untung saja suamiku bisa menunjukkan liontin punyaku, kalau tidak, aku mungkin sudah memenggal kepalanya" ungkap Xanghua begitu menyesal bercampul geram.
"Tetua sepuh, bagaimana cara kami untuk bisa memiliki kembali energi yang habis terkena api kematian?" Sambung Xintio menanyakan.
"Hanya ada satu cara, yaitu membunuhnya. Tapi kita harus cepat membunuhnya sebelum kalian berdua mati" jawab tetua Xinhaocun menjelaskan.
Xanghua dan Xintio tampak begitu cemas setelah mengetahui keduanya akan mati dengan sendirinya.
"Tetua, cepatlah!" Pinta Xintio yang kondisinya paling parah.
Tak lama setelah mengatakannya, Xintio langsung mati diikuti oleh istrinya Xanghua jatuh tergelatak mati di sampingnya.
"Terlambat" ucap tetua Xinhaocun melihat kedua saudara mudanya mati di hadapannya.
Tiga tetua langsung membakar tubuh keduanya.
Di area lain kediaman klan Xuenong, Xinxin yang terlepas dari belenggu ayahnya langsung bergegas keluar.
"Ayah, Ibu!" Pekik Xinxin dari kejauhan.
Ia langsung berlari ke arah ketiga tetua yang baru selesai membakar kedua orangtuanya.
Dalam posisi berlutut, Xinxin mengepalkan kedua tangannya dengan memenuhi hatinya akan dendam pada pemuda yang sempat disukainya.
"Aku akan membalaskan kematian Kakak dan kedua orangtuaku, apa pun caranya" tekadnya berambisi.
Di belakangnya, para tetua mulai memikirkan cara untuk bisa membunuh pemuda yang membuat salah tiga keluarga klan Xuenong tewas.
"Sepertinya pertarungan langsung akan menyulitkan kita, apa yang harus kita lakukan untuk membalasnya?" Tanya Xinfei seorang tetua paruh baya.
"Ya, Paman benar. Tapi ranah kultivasi iblis kita sudah berada di Master Emperor Berlian, aku meyakini pemuda itu hanya akan sedikit merepotkan saja" sambung Xinho begitu optimis.
"Ha ha ha, kau selalu saja melihat kemampuan seseorang berdasarkan ranah kultivasi. Ini alam iblis bukan alam fana yang mana tingkat kultivasi menjadi acuan kehebatan seorang kultivator. Kau bisa lihat Xin'er yang masih berada di ranah Emperor Kristal begitu mudahnya mengalahkan Kaibo yang berada jauh di atasnya. Apa kau masih berpikir ranah kultivasi yang akan menentukan kemenangan?" Ujar tetua Xinhaocun mengingatkannya.
Xinho langsung terdiam setelah mendengarkan perkataan tetua sepuh, ia sangat menyesali pemikirannya sendiri.
"Sudahlah, kita fokus saja menyusun rencana untuk membunuhnya" imbuh tetua Xinhaocun sambil berjalan bolak-balik memikirkannya.
"Paman tua, bolehkah aku memiliki api kematian setelah membunuhnya?" Pinta Xinho yang sudah lama mengagumi kesaktian api kematian milik iblis janggut.
"Boleh saja, itu sangat bagus untuk menambah kemampuanmu. Tapi sebelumnya kau jangan memikirkannya dulu, kita bahkan belum memiliki rencana apa pun untuk bisa mengalahkannya" jawab tetua Xinhaocun.
"Kakak, aku punya ide bagus. Bagaimana kalau Xin'er yang mendekatinya lalu mengorek kelemahannya dan langsung membunuhnya?" Cetus tetua Xinfei yang daritadi diam memikirkannya.
"Ha ha, aku tidak suka bertele-tele, itu akan membutuhkan waktu lama. Aku sendiri tidak yakin Xin'er bisa melakukannya, apalagi sekarang emosinya sedang memuncak. Aku tidak menyetujuinya" sanggah tetua Xinhaocun menolaknya.
Keduanya lalu melirik Xinho dengan seringai dingin menemukan ide bagus yang bisa dicobanya.
"Ha ha ha" tawa keduanya setelah menemukan ide yang menarik.
"Ho'er, Paman punya ide bagus untuk bisa mengalahkan pemuda itu" ucap tetua Xinhoucun lalu mengemukakannya.
Ketiga tetua tampak begitu antusias akan ide yang sangat bagus terdengar.
Setelahnya tetua Xinfei langsung menoleh Xinxin yang daritadi terus mendengarkan perbincangan ketiganya.
"Kami akan membalaskan kematian keluargamu, di mana keberadaan pemuda itu sekarang?" Tanya tetua Xinfei.
"Dia berada di penginapan kota, bolehkah aku mengikuti kalian?" Jawab Xinxin meminta untuk mengikuti ketiganya.
Ketiga tetua langsung melayang terbang ke penginapan kota.
Di penginapan kota.
Tok, tok, tok!
Seorang pelayan penginapan berdiri di luar pintu kamar sambil terus mengetuk pintu.
"Nona, buka pintunya" pinta Jingga yang begitu malas beranjak dari kursinya.
"Baik" sahut Huo Nuhai lalu membukakan pintu.
Seorang pelayan langsung masuk begitu pintu terbuka, ia menghampiri Jingga yang masih menutup matanya.
"Tuan muda, maaf. Ada tiga orang dari keluarga Xuenong meminta Anda untuk menemuinya di bawah" ucapnya menyampaikan.
"Baiklah" balas Jingga langsung menghilang dari tempatnya.
Tampak tiga pria klan Xuenong sedang duduk menunggunya, Jingga begitu berbinar menatap ketiganya.
"Master Emperor Berlian" gumamnya setelah memindai ketiga tetua klan Xuenong.
"Halo, Tuan. Apakah kalian bertiga mencariku?" Sapa Jingga sambil menjura.
"Ha ha, kau iblis yang begitu sopan. Kami tidak akan berbasa-basi denganmu, tujuan kami datang hanya untuk membunuhmu guna membalaskan kematian ketiga saudara kami" balas seorang tetua yang paling muda.
"Oh, seperti itu rupanya, tapi sebelumnya aku sendiri yang mengantar Tuan dan Nyonya keluarga Xuenong, bagaimana bisa keduanya mati?" Timpal Jingga merasa heran.
Tapi baguslah kalau begitu, sekarang kalian bertiga bisa menyusul kematiannya. Mari, Tuan. Sebaiknya kita keluar dari sini" imbuh Jingga lalu berkelebat keluar penginapan.
Ketiga tetua saling lirik dengan senyum yang mengambang.
"Ho'er, kau layanilah pemuda itu. Kalau kau kesulitan baru kami akan turun tangan membantumu" pinta tetua Xinhaocun sambil mengangkat kedua alisnya.
Xinfei di sebelahnya mengangguk setuju dengan ucapan tetua Xinhaocun dengan menyeringai dingin.
"Baiklah, Paman berdua silakan duduk santai menyaksikan pertarungan" timpalnya lalu berkelebat menghampiri Jingga.
"Iblis muda, ayo kita mulai" ucap Xinho langsung mengeluarkan pedangnya yang dilapisi oleh lidah api yang berkobar.
Jingga lalu mengeluarkan dua belati milik Xintio yang diambilnya.
"Hei, belati itu punya saudaraku" ucap Xinho melihatnya.
"Ya, memangnya kenapa? Masalah?" Sanggah Jingga sambil menyeringai.
"Sombong betul dirimu, anak muda" cibir Xinho.
"Namanya juga iblis, wajar dong kalau sombong ha ha" pungkas Jingga langsung menghilang.
Wuzz!
Dhuar!
Xinho terlempar jauh menabrak atap rumah. Jingga menyeringai melihat lawannya yang lambat mengantisipasi serangannya.
"Sialan, dia begitu cepat" rutuk Xinho tidak menyadarinya.
Ia langsung melesat kembali menyerang pemuda yang masih berdiri melayang di udara.
Siu!
Sret!
"Aah!" Pekik Xinho melihat tubuhnya terbelah.
Tak lama, ia langsung menumbuhkannya kembali, Jingga kembali membelahnya dan Xinho menumbuhkannya lagi.
Jingga mengulanginya berkali-kali sampai ia berhenti karena bosan.
"Aneh, iblis dengan ranah Master Emperor Berlian begitu mudah dilawan" gumam Jingga.
"Ha ha ha, anak muda. Kenapa melamun?" Tanya kedua tetua terkekeh melihatnya.
"Apa maksudnya?" Gumam Jingga tidak memahaminya.