Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Hadiah Istimewa Untuk Nianqing


Sesampainya di sekte Jangkrik Xianhui , para kultivator membawa ketiga gadis langsung ke kediaman tuan muda Nianqing yang lumayan luas untuk bisa menampung dua puluh orang di dalamnya.


Nianqing memindahkan ketiga gadis pada dipan yang berbeda di kediamannya, ia merupakan seorang predator para gadis yang sering memanfaatkan ketampanannya untuk menjerat gadis dan membawanya ke kediaman yang sudah ia atur sedemikian rupa untuk melancarkan aksi kotornya.


Tidak jauh dari kediamannya, seorang pria tua terus memperhatikan beberapa murid sekte yang keluar masuk kediaman putra semata wayangnya.


"Apa yang dilakukan anak itu di pagi buta begini? Apakah ia kembali menculik gadis incarannya" Gumamnya lalu berkelebat ke arah kediaman anaknya.


Prak!


Pintu kediamannya terbuka, pria tua memperhatikan tiga gadis cantik dalam kondisi tidak sadarkan diri.


"Ayah!" Kaget Nianqing melihat keberadaan ayahnya memasuki kediamannya.


"Siapa lagi gadis yang kau jadikan korban kebejatanmu itu? Sudah terlalu banyak keluarga yang kita bunuh karena kelakuanmu itu" ujar ayahnya mengingatkan.


"Ayah tenang saja, mereka bukan dari kerajaan Sheshe ataupun dari aliansi Bintang Selatan, jadi aman buat kita, Ayah tidak perlu repot berurusan dengan klan ataupun sekte" ucap Nianqing menjelaskannya.


"Terserah kau saja tapi ingat, ada waktunya kau akan menemui nasib sial. Jadi hentikanlah kelakuan burukmu itu, carilah seorang gadis yang bisa kau jadikan istri" timpal pria tua kembali memperhatikan ketiga gadis cantik yang terlelap tidak sadarkan diri.


"Qing'er, tampaknya gadis bergaun ungu itu terlihat lembut dan sangat cantik. Cobalah kau ambil hatinya daripada kau gunakan seperti barang yang bisa kau buang setelah menggunakannya" imbuh pria tua langsung berbalik meninggalkan anaknya.


Nianqing hanya diam saja merasa risih mendengar ocehan ayahnya.


"Semua gadis sama saja, kau sendiri tidak puas dengan satu istri, bahkan aku tidak tahu yang mana ibuku. Enak saja kau menceramahiku, dasar tua bangka!" Rutuk gumamnya.


Benar kata pepatah, jatuh pohon tidak jauh dari buahnya terjatuh.


Obrolan ayah dan anak membuat Jingga memiliki waktu untuk membuat kedua adiknya mengalami penyakit aneh.


"Selamat menikmati sajian istimewa dari kami" gumam Jingga menunggu kejutan yang akan didapat oleh Nianqing.


Nianqing tidak ingin waktunya terganggu oleh orang lain, ia langsung mengunci pintu kediamannya lalu melepaskan pakaiannya dan menghampiri gadis bergaun ungu.


"Kau tahu, walaupun aku sering melakukannya. Melihat kecantikanmu membuat diriku bergetar dan jantungku tidak henti-hentinya berdetak kencang. Kau sungguh seorang penyihir" ucap Nianqing sambil mengelus lembut wajah Qianmei.


"Benar kata tua bangka, kau begitu lembut dan harum layaknya seorang putri raja, mungkin aku akan mempertimbangkan dirimu menjadi selinganku" imbuh Nianqing terus bergurau.


Jingga yang mendengarkan ocehannya merasa mual.


"Ini anak sepertinya lahir dari batu, bisa-bisanya ia merayu gadis yang tergeletak pingsan" gumam pikir Jingga gerus saja mendengarkan ocehan pemuda yang tiada hentinya.


"Kau begitu cantik, aku tidak bisa terlalu cepat melakukannya, jadi aku akan sangat lembut memperlakukanmu, sungguh dirimu bagaikan bidadari kayangan yang terjatuh bergulingan di atas taman bunga" sambung gurauan Nianqing yang membuat Jingga semakin merutuk diri.


"Haduh nih anak, jadi apa tidak sih. Lama betul" rutuk batin Jingga semakin tidak sabar.


Setelah gurauan pemuda berhenti. Apa yang dinantikan Jingga mulai terkabul, Nianqing mulai merambah gaun atas yang dikenakan Qianmei. Sedikit ia membuka kain bagian bahu, berharap apa yang dilihatnya sesuai dengan keindahan wajah si gadis.


Harapan hanya tinggal harapan, Nianqing melebarkan matanya pada apa yang ia lihat.


Terdapat bercak nanah dari kulit bahu Qianmei, ia semakin melebarkan kain yang menutupi bahunya.


Bau busuk menyeruak memasuki hidungnya dengan luka basah yang terlihat begitu menjijikan, Nianqing merasakan mual lalu menutup kembali kain yang ia singkapkan.


"Sialan! Wajahnya saja yang cantik, isinya busuk" keluh Nianqing melemparkan wajah.


"Kalau atasnya tidak bisa aku sentuh, mungkin bawahnya bisa" gumamnya lalu menyingkap kain bagian bawah.


Woek!


Nianqing langsung muntah mencium kembali bau busuk yang begitu menyengat hidungnya. Kesal karena hal itu, ia langsung menutupi tubuh Qianmei dengan kain tebal.


"Ha ha ha, kau terlihat begitu menikmatinya" kekeh Jingga dalam hati.


Nianqing yang merasa setengah tanggung dalam aksinya langsung beralih ke gadis lainnya yang bergaun putih yaitu Du Zhia.


Berbeda dengan perlakuannya kepada Qianmei, ia dengan kasar menyingkap gaun atas yang dikenakan Du Zhia.


Matanya kembali melebar, kulit gadis Du Zhia terlihat seperti kulit seekor monyet yang dipenuhi banyak bulu.


Raut wajahnya begitu marah, Nianqing langsung menghampiri gadis terakhir bergaun hitam.


"Awas saja kalau kau sama dengan kedua gadis penipu itu" kecamnya kepada gadis di depannya.


Ia langsung melepaskan sepatu hitam milik Bai Niu, matanya kembali melebar tidak percaya. Kaki Bai Niu terlihat bersisik tebal dan begitu kasar seperti kulit buaya.


Ia terhuyung ke belakang tidak mempercayai apa yang dilihatnya dari ketiga gadis cantik yang begitu disukainya di awal pertemuannya.


"Sialaaan!" Teriaknya begitu keras lalu membanting semua barang yang ada di kediamannya hingga hancur berantakan.


Ia memakai kembali pakaiannya lalu menendang keras pintu kediaman yang ia kunci sebelumnya.


Prak!


Pintu kediamannya hancur setelah ditendangnya, Nianqing langsung memanggil para murid sekte. Namun tidak ada satu pun yang menyahutinya.


"Ke mana mereka semuanya?" Tanya Nianqing langsung meledakkan sebuah pohon di depannya.


Dhuar!


Beberapa orang langsung berkelebat menghampirinya termasuk para tetua sekte.


"Tuan muda, ada apa?" Tanya seorang murid sekte yang pertama menghampirinya.


Nianqing langsung menebasnya karena emosi.


Sret!


Tubuh murid sekte terbelah dua.


Para tetua sekte yang melihatnya menebas seorang murid begitu heran.


"Qing'er, apa yang terjadi denganmu?" Tanya tetua sekte menghampirinya.


Prang!


Nianqing melemparkan pedangnya ke tanah lalu duduk di dekat tanggul pohon yang telah hancur.


Beberapa saat kemudian, pria tua yang merupakan ayahnya langsung menghampiri kerumunan tetua dan murid sekte yang berkumpul di halaman.


"Hormat Tetua Lao" sambut semua murid sekte begitu mengetahui pemimpin tertinggi sekte menghampiri.


Pemimpin tertinggi sekte lalu melirik anaknya yang terduduk di samping tanggul pohon yang sudah dihancurkannya.


"Qing'er, apa yang terjadi denganmu? Kenapa kau mengamuk di pagi hari?" Tanya ayahnya langsung berjongkok di depannya.


"Ayah!" Sebut Nianqing langsung menolehnya.


Tetua Lao hanya diam menanggapi anaknya, ia membiarkan anaknya untuk menceritakan apa yang sedang dipermasalahkan anaknya.


"Benar kata Ayah, hari ini aku mengalami nasib sial. Ketiga gadis itu bukanlah manusia, mereka bertiga adalah siluman yang menyamar menjadi manusia. Yang paling cantik berpenyakit aneh yang membuatku muntah karena bau busuknya, yang bergaun putih kulitnya seperti monyet ditumbuhi banyak bulu sedangkan yang bergaun hitam kakinya bersisik dan kasar seperti kulit buaya, aku begitu ngeri melihat ketiganya" ungkap Nianqing menceritakannya.


Woek!


Ia kembali muntah mengingat ketiga gadis.


"Tenanglah Qing'er, kita akan membakar ketiganya" timpal Lao Xishuai berusaha menenangkan anaknya.


Sebelumnya, Jingga yang melihat Nianqing meninggalkan kediamannya langsung memasukkan kedua gadis ke alam jiwanya.


Setelahnya Jingga merubah dirinya menjadi bayangan lalu melumpuhkan tiga gadis murid sekte yang berlarian ke arah Nianqing dan merubahnya menjadi ketiga gadis yang berada di dalam kediaman Nianqing.


"Sepertinya aku harus merubah rencana" gumam Jingga merasa gagal mencari informasi di sekte Jangkrik Xianhui.


Jingga langsung melayang terbang kembali ke gubuk Nenek Sashuang.