Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Keberangkatan 1


Dewi Serigala mendeliknya dengan tatapan tidak suka, terlihat dari rahangnya yang terkatup dan bibir yang mengkerut.


"Jangan sok imut begitu, Nyonya. Kau bukan lagi seorang remaja labil" imbuh Jingga mengomentarinya.


"Tak bisakah dirimu berhenti menyebalkan?" Tanya dewi Serigala dengan wajah ketus.


Jingga mengerutkan bibirnya sambil berkedip nakal lalu menarik tangan dewi Serigala berkelebat ke tempat Omeng yang masih mengunci Xuis dengan gigitannya.


Jingga menatap Omeng dengan tajam memintanya untuk melepaskan gigitannya. Omeng pun menurut, ia lalu melepaskan gigitan dan cengkeramannya. Setelahnya ia menundukkan kepala merasa ketakutan. Xuis yang terbebas langsung menghampiri dewi Serigala dengan bersikap manja.


Dari kejauhan, Naray berjalan menghampiri Omeng yang sedang ketakutan ditatap dingin oleh Jingga.


"Omeng, ayo sini!" Panggil Naray.


"Haoom!" Deram Omeng menyahutinya, namun ia tidak berani melangkah karena ada Jingga di depannya.


"Aa, jangan dilihat begitu, kasihan Omeng" tegur Naray menepuk pundak Jingga di depannya.


Jingga berbalik menolehnya sambil terkekeh pelan karena ia sengaja menakuti Omeng. Naray menggeleng pelan lalu mendekati Omeng dan mengusapi kepalanya.


Para warga pun membubarkan diri dan suasana kembali normal. Tak lama kemudian, terdengar suara seorang petugas pelabuhan berteriak meminta penumpang untuk menaiki kapal yang akan berlayar menuju Tanah Para Dewa.


"A, aku masih ingin bersama Aa. Apa aku menunggu kapal berikutnya saja ya?" Ucap Naray.


"Kau harus menunggu paling cepat dua minggu untuk mendapatkan tumpangan ke Tanah Para Dewa" potong dewi Serigala memberitahunya.


Naray mendelik tajam tidak menyukai dewi Serigala, ia lalu memalingkan muka kembali menatap Jingga yang belum menjawabnya.


"Neng langsung naik saja, ada Omeng yang menemani perjalan Neng ke Tanah Para Dewa" ujar Jingga yang sebenarnya merasa berat hati ditinggalkan adiknya.


Naray menangis lalu memeluk Jingga dengan erat, dalam hatinya ia tidak sanggup meninggalkan pria yang sangat dicintainya itu. Jingga membalas pelukannya sama erat dengannya.


Cukup lama keduanya berpelukan, Jingga lalu memangku Naray membawanya menaiki kapal layar yang akan membawa adiknya pulang ke Tanah Para Dewa.


Berada di tangga kapal, Jingga menurunkannya lalu mencium lembut bibir kecil adiknya. Naray menyambutnya dengan tetesan air mata yang terus jatuh membasahi pipi.


"Jangan lupakan aku, A" ucap Naray setelah melepaskan pagutannya.


Jingga mengangguk pelan, ia kembali memeluknya dengan erat.


"Jaga Biru ya Neng, dia yang akan menggantikan Aa. Neng tidak perlu bersedih, anggap saja dia itu Aa yang masih kecil" balas Jingga membisikinya.


Naray mengangguk lalu melepaskan pelukannya, ia lalu melangkah pelan menaiki tangga bersama Omeng yang terlihat begitu ceria karena tahu tidak akan bertemu lagi dengan Jingga yang sangat ditakutinya.


Tak lama kemudian, kapal layar mulai melaju ke tengah lautan. Keduanya saling melambaikan tangan sampai kapal layar terlihat kecil di kejauhan.


Dewi Serigala yang daritadi diam memberanikan diri menggenggam jemari tangan Jingga.


"Apakah aku juga bisa mendapatkan kelembutan seperti Adikmu itu?" Tanya dewi Serigala.


Jingga meliriknya, ia tersenyum lembut menjawabnya. Tanpa berkata apa pun, Jingga membawanya jalan ke tengah pemukiman.


"Kita masih harus menunggu kapal dari benua Matahari, sebaiknya kita mencari penginapan" ucap dewi Serigala menyarankan.


"Ya, kita memang harus menginap, kata paman Chen Tong, kapal dari benua Matahari akan tiba sekitar dua hari lagi" balas Jingga.


Sesampainya di penginapan, Jingga disambut hangat seorang gadis muda yang langsung menghampirinya sambil tersenyum manis.


"Selamat datang di pulau Intan, Tuan muda dan Nyonya" sapa sang gadis.


"Terima kasih, apakah masih ada kamar untuk kami berdua?" Tanya Jingga.


"Ada, Tuan. Mari ikut saya" jawab si gadis dengan senyumannya yang lembut.


Setelah memilih kamar, Jingga dan dewi Serigala langsung memasukinya.


"Kamar yang bagus, terima kasih, Nona" ucap Jingga langsung membayarnya.


"Oh iya, bawakan arak dua kendi sedang" imbuhnya sambil memberikannya koin emas.


"Baik, aku akan membawanya" balas si gadis lalu pergi meninggalkan keduanya.


Jingga melirik dewi Serigala yang sedang mengusapi serigalanya.


"Nyonya bisa tidur di dipan kayu bersama serigala, aku akan beristirahat di kursi. Jangan mengganggu meditasiku" ucap Jingga memintanya lalu duduk dan langsung bermeditasi.


Dewi Serigala menganggukinya namun ia tidak menaiki dipan, ia dan serigalanya ikut duduk berhadapan dengan Jingga.


"Diamlah, suaramu mengganggu meditasiku" tegur Jingga lalu berdiri dan melangkah keluar kamar.


Dewi Serigala menyusulnya dengan perasaan bersalah, ia berdiri di samping Jingga.


"Maafkan Xuis" ucapnya.


"Tidak masalah, apa Nyonya lapar?" Tanya Jingga.


"Ya" jawab dewi Serigala dengan singkat.


Keduanya lalu pergi menuju kedai yang tidak jauh dari penginapan.


Acara makan malam keduanya berjalan normal tanpa ada kejadian apa pun, setelah selesai mengisi perut, keduanya kembali ke kamar.


Jingga langsung menenggak araknya dengan perasaan yang begitu damai.


"Boleh aku tahu siapa namamu?" Tanya dewi Serigala memulai percakapan.


"Akhirnya Nyonya bertanya juga, tapi maaf, aku tidak bisa menjawabnya" jawab Jingga merahasiakannya.


"Kenapa?" Sambung tanya dewi Serigala.


"Karena akan banyak pertanyaan lainnya, Nyonya Bai Niu" jawab Jingga.


Dewi Serigala mengernyitkan kening karena heran mendengarnya, ia lalu berkata


"Namaku Tang Niu bukan Bai Niu, siapa yang kau sebut Bai Niu?"


Jingga tersedak mendengarnya, ia lupa setiap nama orang benua Matahari memiliki nama marga di depannya.


"Ha ha, maaf, Nyonya. Aku salah menyebut nama Nyonya" balas Jingga.


"Hem! Ya sudah, terserah dirimu saja. Tapi aku minta kau tidak memanggilku dengan sebutan nyonya"


"Baiklah, bagaimana kalau aku memanggilmu Naninu?"


Dewi Serigala menatap Jingga dengan mulut menganga, ia merasa geli mendengarnya.


"Terserah!" Jawabnya dengan terpaksa.


Jingga tertawa melihat reaksi dewi Serigala yang sangat lucu baginya.


"Aku panggil dirimu adik saja ya" imbuh dewi Serigala.


Dua hari yang ditunggu keduanya pun tiba, Jingga sangat bersemangat menaiki kapal besar seperti masa kecilnya dulu. Tanpa mempedulikan tatapan orang lain padanya, Jingga berjalan memutari badan kapal dengan senyuman yang terus mengembang merasakan suasana yang sangat dirindukannya.


Di belakangnya, Tang Niu merasa keheranan dengan tingkah Jingga. Ia bersama Xuis terus mengikuti kemana pun Jingga berjalan.


Tidak hanya bagian luarnya saja yang dikelilingi Jingga, ia juga memasuki setiap bagian dalam area kapal.


"Di mana kamar kita?" Tanya Jingga yang melihat orang-orang memasuki kamar.


"Hem! Bayar naiknya juga belum. Adik tunggulah di sini. Aku akan menemui petugas" jawab Tang Niu lalu meminta Xuis menunggu bersama Jingga.


Beberapa saat kemudian, ia kembali dengan membawa sebuah kunci pintu, namun wajahnya terlihat murung.


"Naninu, kau kenapa murung begitu?" Tanya Jingga ingin tahu.


"Di kamar kau akan mengetahuinya" jawab Tang Niu masih terus saja merengut.


Memasuki sebuah kamar yang besar dan berisi banyak arak yang berjajar rapi di atas meja, Jingga begitu terpana. Ia seenaknya saja mengambil botol arak lalu menenggak isinya.


"Naninu, terima kasih. Kau sangat pandai memilih kamar" ucap Jingga dengan senang.


"Aku tidak memilihnya, hanya kamar ini yang tersisa untuk kita" balas Tang Niu.


"Berarti kita beruntung" balas Jingga menimpalinya.


"Koin emasku habis untuk membayar kamar ini" ucap Tang Niu lalu menangis.


Jingga baru menyadari kemurungan Tang Niu, ia lalu mendekati dan memeluknya dengan erat.


"Tenang saja, aku masih punya banyak" bisiknya menenangkan wanita yang dipeluknya.