
Lama Jingga berada di kedai mendengarkan percakapan yang terus membahas tentang Neraka Kandao sampai akhirnya ia merasa jenuh sendiri.
"Pelayan!" Panggilnya.
"Ya, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" Sahut pelayan bergegas menghampirinya.
"Apa kau tahu di mana penginapan terdekat?" Tanya Jingga.
"Tuan hanya butuh beberapa langkah di kiri pintu kedai, ada tiga penginapan yang bisa Tuan pilih. Saranku sebaiknya Tuan menyewa rumah saja, jauh lebih murah dan lebih tenang" jawab pelayan menyarankan.
"Bagus juga saranmu itu, lalu di mana lokasinya?" Kembali Jingga menanyakan.
"Di seberang penginapan ada gang kecil, di dalamnya ada beberapa rumah yang bisa Tuan sewa" jawab pelayan lalu membisikinya.
"Di sana Tuan bisa menemukan banyak kupu-kupu cantik yang akan menemani Tuan" bisiknya lalu menyeringai.
Jingga begitu senang mendengar bisikannya.
"Naninu begitu menyukai kupu-kupu, dia pasti akan betah berada di sana" gumamnya teringat pada adik manjanya.
Jingga berdiri dari kursinya, ia memberikan beberapa koin emas kepada pelayan lalu melangkah pergi ke lokasi yang ditunjukkan oleh si pelayan kedai.
Sampai pada sebuah gang kecil yang terhimpit oleh dua bangunan toko, Jingga merasa aneh dengan suasana di dalamnya, ia tidak melihat satu pun kupu-kupu yang dikatakan oleh pelayan kedai.
Jingga melanjutkan langkah kakinya menyusuri gang kecil. Berada pada beberapa bangunan rumah yang terlihat rapi, seorang nyonya yang duduk di teras sebuah rumah menghampirinya.
"Sepertinya Tuan muda sedang mencari rumah sewa, mari saya antar memasuki rumahku, semoga Tuan muda terkesan" ucap seorang nyonya berdandan menor menyambutnya.
Jingga menatapnya heran lalu mengikuti nyonya tersebut ke dalam rumah.
Tampak di dalamnya terlihat bersih dan memiliki banyak hiasan dari berbagai ukiran kayu yang membuat suasana rumah begitu nyaman untuk ditinggali.
Nyonya tersebut langsung membawanya memasuki sebuah kamar, semerbak wangi bunga begitu menyeruak memasuki hidung pemuda yang merasa heran memperhatikan kelopak bunga bertebaran di atas kain sutera sebuah dipan kayu.
"Maaf, Nyonya. Sepertinya aku tidak bisa menempatinya" ucap Jingga merasa tidak cocok.
"Ayolah, Tuan muda! Aku pasti akan memberikan pelayanan terbaik untuk Tuan muda" balas Nyonya menor menahannya. Ia kemudian melepas gaunnya berharap pemuda asing itu menyukainya.
"Bagaimana kalau aku memberikanmu ucapan selamat datang?" Ucapnya merayu pemuda asing dengan tatapan nakalnya.
"Pakai kembali gaunmu itu, Nyonya" balas Jingga tidak menyukainya.
Nyonya itu langsung merangkul leher pemuda asing.
"Aku tahu kau tidak menyukai wanita dewasa sepertiku, aku akan memanggilkan beberapa gadis cantik untukmu" rajuknya terus berusaha agar calon pelanggannya tidak pergi.
Jingga langsung mendorongnya hingga terjatuh lalu melemparkan beberapa koin emas.
"Permisi Nyonya, tapi aku tidak tertarik dengan tawaranmu, apalagi dengan hutan rimba yang membuatku geli" ucap Jingga langsung pergi meninggalkannya.
Nyonya itu terdiam menatap punggung pemuda asing yang keluar dari rumahnya.
"Sepertinya dia menyukai gadis belia" pikir si Nyonya langsung memunguti koin emas di dekatnya.
Jingga kembali memperhatikan beberapa rumah, kembali ia dihampiri oleh seorang Nyonya menor lainnya namun ia langsung menolaknya karena mengetahui modusnya.
Sampailah pada sebuah gubuk sederhana, ia melihat seorang nenek tua sedang menyapu halaman rumah dengan membungkuk.
"Nenek!" Panggil Jingga lalu melangkah menghampirinya.
Nenek itu langsung meliriknya, ia berkali-kali memperhatikan pemuda asing yang menutupi sebagian wajahnya lalu mengacungkan sapunya.
"Apa kau akan memperkosaku?" Tanya si nenek yang membuat Jingga terperangah dengan pertanyaannya.
Jingga lalu membuka tudung dan masker yang menutupi sebagian wajahnya.
"Maaf Nek, aku hanya seorang pengembara yang mencari rumah sewa, apakah rumah Nenek bisa aku sewa?" Ucap Jingga menimpalinya.
Jingga menggaruk kepalanya merasa heran dengan si nenek.
"Ya sudah, aku tidak jadi menyewanya. Permisi!" Ucapnya lalu berbalik pergi.
"Tunggu anak muda!" Panggil si nenek menahannya.
Jingga langsung berbalik ke arah si nenek.
"Kau tidak perlu menyewanya, kalau kau ingin beristirahat di rumahku, kau bebas menggunakannya, tapi ingat! Jangan menodai diriku yang suci ini, aku bukan gadis murahan" imbuh si nenek mengizinkannya.
Jingga hampir saja tertawa mendengar ucapan si nenek yang tidak tahu diri.
"Tertawa saja, jangan kau tahan seperti itu pemuda jelek" tanggapan si nenek yang mengetahuinya.
"Dasar nenek gila!" Gumam Jingga pelan.
"Kau yang gila!" Balas si nenek mendengarnya.
Jingga terkekeh mendengarnya lalu mengikuti langkah si nenek memasuki gubuknya.
"Kau bisa tidur di alas bambu itu" ucap si nenek menunjukkannya.
"Terima kasih, Nek" balas Jingga melangkah ke alas bambu lalu merebahkan tubuhnya.
Nenek itu kembali keluar melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
"Rumah yang nyaman, aku bisa tidur puas di sini" gumamnya sambil menatap langit-langit lalu memejamkan kedua matanya.
Tanpa terasa beberapa hari berlalu, si nenek memukuli pemuda asing dengan tongkatnya.
"Bangun! Bangun!, Mau sampai kapan kau tertidur di istanaku?" Teriak si nenek terus memukulinya.
Jingga terbangun dari tidurnya lalu duduk sambil menutupi kepala menahan pukulan si nenek.
"Sudah Nek, aku sudah bangun. Berhentilah memukuliku" ucap Jingga memintanya.
Si nenek langsung berhenti memukulinya, ia terus meracau tidak jelas memarahi pemuda asing di depannya lalu berbalik pergi ke arah dapur.
"Sialan! Kenapa aku selalu bertemu nenek tidak waras?" Rutuk Jingga mengingatkannya pada sosok nenek gila gunung Lanhua.
"Kau yang gila!" Balas si nenek dari kejauhan.
Jingga menepuk-nepuk keningnya merasa kesal. Tak lama si nenek kembali membawa secangkir teh.
"Minumlah dulu, kalau kau ingin makan, carilah ke tengah kota, aku tidak tahu harus memberimu makan apa?" Pinta si nenek menyodorkan secangkir teh.
"Maaf Nek, aku hanya meminum arak saja" balas Jingga lalu meletakkan cangkir teh di meja kecil.
"Terserah kau saja, siapa dirimu dan asalmu?" Tanya si nenek ingin mengenalnya.
"Aku Jingga berasal dari benua Majang dan besar di sebuah kampung kecil wilayah kekaisaran Xiao" jawab Jingga.
"Bagaimana kau bisa sampai di kekaisaran Xiao?" Sambung tanya si nenek penasaran.
Jingga langsung menceritakan kisahnya waktu kecil sampai ia dewasa dan menjalani pengembaraannya sampai akhirnya tiba di kerajaan Sheshe, namun dari ceritanya, ia tidak menceritakan tentang pembantaiannya.
"Maaf, Nek. Apakah aku boleh tahu siapa Nenek?" Tanya Jingga setelah menyelesaikan ceritanya.
"Apa pentingnya untukmu mengetahui siapa diriku yang cantik jelita ini?, Tapi baiklah aku akan memberitahukannya kepadamu, kau bisa memanggilku Sashuang" jawab si nenek menyebutkan namanya.
"Kau seperti mayat hidup yang tertidur selama lima hari, bersihkan dirimu dan gantilah pakaianmu yang bau itu" imbuh Nenek Sashuang langsung pergi meninggalkannya.
"Tunggu Nek! Aku punya empat orang adik, bolehkah aku membawanya ke sini?" Tanya Jingga meminta izin.
"Terserah!" Jawab Nenek Sashuang lalu meneruskan langkahnya.