
Kakek tua yang wajahnya cekung kembali muncul di hadapan keduanya.
"Bukannya cepat membunuhnya, kau malah berdebat dengannya. Apa yang kalian perdebatkan?" Tegur kakek cekung pada adiknya.
"Dia menanyakan klan keluarga kita, sepertinya dia mengagumi salah satu dari kita" jawab kakek lele.
"Dih! Siapa juga yang mengagumi kakek bau tanah seperti kalian, hanya satu orang yang aku kagumi dari klan Tang. Dia adalah kakekku Tang Xie Zhang" potong Jingga dengan bangga mengatakannya.
"Ha ha ha" tawa keduanya sambil menahan perut.
"Kau ini lucu, bagaimana kau bisa mengaku menjadi cucu dari Kakek buyut kami?"
"Kau bahkan belum lahir ketika anak-anak kami masih muda, dasar bodoh!" Imbuh si kakek cekung terus saja menertawainya.
Jingga terdiam baru menyadari perbadaan zaman keberadaan dirinya yang sekarang sangatlah jauh.
"Kakek aneh, boleh aku bertanya satu hal padamu" pinta Jingga.
"Katakanlah, anggap saja kami berbaik hati sebelum membunuhmu" balas kakek cekung mengizinkannya.
"Apakah Juan'er memiliki suami? Eh, maksudku Nyonya Xiu Juan, bukan, bukan. Maksudku Nenek Xiu Juan" Tanya Jingga belepotan.
Pupil mata kedua kakek membesar, bahkan dewi Serigala yang daritadi mendengarkannya langsung menghampiri ketiganya.
"Bagaimana kau bisa mengenal mendiang Ibu kami?" Tanya kakek cekung penasaran.
"Jawab dulu pertanyaanku, kenapa kau bertanya balik?" Dengus Jingga.
"Bodoh! Aku bilang dia Ibu kami, berarti dia sudah menikah dan melahirkan kami" balas kakek cekung.
Jingga cengengesan sambil menggaruki kepalanya yang tidak gatal menanggapi ucapan kakek cekung.
"Ya maaf, aku pikir kalian lahir dari batu" ucapnya.
"Tapi kenapa kalian berdua begitu jelek, apa Juan'er menikah dengan pria jelek? Kasihan!" Imbuh Jingga sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Kurang ajar! Kau menghina Ayah kami" bentak kakek lele tidak menerima.
"Enak saja kau menyebut Nenekku seperti dia temanmu saja. Dasar tidak tahu diri!" Sambung dewi Serigala memprotesnya.
Jingga langsung meliriknya, ia menyipitkan mata mencari kemiripan dewi Serigala dengan Xiu Juan yang dikenalinya.
"Ha ha, tidak mirip!" Ucap Jingga setelah menelaah wajah dewi Serigala.
"Secara fisik kau tidak memiliki kemiripan dengannya, tetapi kau mewariskan sifat judes Juan'er" imbuh Jingga menilainya.
Kembali kedua kakek tua terkejut dengan ucapan Jingga, memang benar dewi Serigala tidak memiliki kemiripan dengan mendiang ibunya secara fisik, namun keduanya menyetujui dewi Serigala mewariskan sifat judes ibunya.
Keduanya menjadi semakin penasaran dengan apa yang diketahui Jingga tentang mendiang ibunya.
"Kau menarik, bocah! Aku tidak akan membunuhmu kalau kau menceritakan semua yang kau ketahui tentang Ibu kami. Ceritakanlah!" Ujar kakek lele yang disetujui oleh kakek cekung.
Jingga menggaruk-garuk keningnya mengingat kembali kisah dengan Tang Xiu Juan yang walaupun sebentar namun memiliki kesan mendalam di hatinya.
"Tapi kalian bertiga jangan marah, aku hanya ingat Juan'er memiliki hutan rimba di tubuhnya" ucap Jingga menahan tawa.
Kedua kakek tua tidak memahami ucapannya, berbeda dengan keduanya. Dewi Serigala memahami maksudnya, wajahnya berubah merah dengan geraham yang menggeretak menahan amarah.
"Niu'er, apa kau memahami maksudnya?" Tanya kakek lele meliriknya.
Kali ini Jingga yang terkejut mendengarnya, sebuah nama yang begitu familiar baginya.
"Jangan katakan kau bernama Bai Niu" potong Jingga menerkanya.
Tiga pasang mata terbelalak kembali menatap Jingga. Dewi Serigala yang mendengarnya begitu heran.
"Kau, bagaimana kau tahu namaku?" Tanya dewi Serigala.
Jingga mengerutkan kening mendengar pertanyaan dari dewi Serigala, ia berpikir apakah salah satu dari kedua kakek di depannya memakai nama dirinya. Ia lalu menatap keduanya.
"Siapa di antara kalian yang bernama Jingga?" Tanya Jingga dengan serius.
Lagi-lagi ketiganya tersentak kaget mendengarnya, kakek lele dan dewi Serigala menatap pada kakek cekung.
"Aku, kenapa?" Jawab kakek cekung menunjuk dirinya sendiri.
Jingga menepuk keningnya sendiri, ia tidak rela namanya dipakai oleh kakek jelek di depannya.
"Sudahlah, aku tidak lagi bersemangat bertarung dengan kalian. Permisi!" Pamit Jingga lalu berbalik.
"Tunggu! Katakan siapa kau sebenarnya?" Tanya dewi Serigala menahan bahu Jingga.
"Dijawab pun, kau tidak akan memahaminya" jawab Jingga berlalu pergi.
Kakek cekung dan kakek lele menjadi bingung, keduanya tidak memahami bagaimana bisa seorang pemuda bisa mengenali ibunya.
Wuzz!
Kedua kakek bersama dewi Serigala menghadang Jingga.
"Mau pergi kemana kau?" Tanya kakek cekung tidak membiarkan Jingga pergi.
"Aku harus pergi ke pelabuhan. Minggirlah!" Jawab Jingga.
"Pendekar muda, apa kau akan pergi keluar pulau? Kemana tujuanmu?" Tanya dewi Serigala.
Jingga menarik napas dalam lalu membuangnya perlahan, ia diam sejenak menatap dewi Serigala di depannya.
"Aku akan pergi ke benua Matahari. Sudah ya, aku malas meladeni kalian" jawab Jingga lalu melanjutkan langkah melewati ketiganya.
Ketiganya membiarkan Jingga berlalu pergi. Dalam diam ketiganya saling melirik. Banyak hal yang ingin ketiganya ketahui tentang Jingga yang mungkin menyimpan banyak cerita tentang mendiang Tang Xiu Juan ataupun keluarga Tang lainnya.
"Ayah, sudah tidak ada yang bisa aku lakukan di pulau ini, aku akan mengikutinya pergi ke benua Matahari" ucap dewi Serigala memutuskan.
Kakek cekung berpikir sejenak, ia yang bersusah payah mendirikan klan Serigala di pulau Intan merasa berat hati meninggalkannya.
"Niu'er, maafkan Ayah tidak bisa meninggalkan pulau ini, Ayah akan membangun ulang klan Serigala dengan tangan Ayah sendiri. Ayah tidak bisa meninggalkan anak-anak yang terlantar di pulau Intan ini" ujar kakek cekung memutuskan.
"Paman juga tidak akan meninggalkan pulau Intan ini. Kalau kau tidak mendapatkan kehidupan yang lebih baik di kota Luyan. Kembalilah! Paman akan selalu menunggumu" sambung kakek lele ikut memutuskan.
"Baiklah, jaga diri Ayah dan Paman. Maafkan aku" timpal dewi Serigala lalu berjalan menuruni bukit menyusul Jingga.
"Tunggu, Niu'er! Bawalah Xuis bersamamu" ujar kakek cekung menyarankannya membawa serta serigala yang biasa ditumpangi putrinya.
Dewi Serigala menghentikan langkahnya, ia mengangguk menyetujui saran ayahnya dengan membawa serigala lalu merapalkan mantra memanggil serigala.
Tap! Tap!
Seekor serigala bernama Xuis menghampirinya, ia lalu merendahkan tubuhnya menunggu dewi Serigala menaiki punggungnya.
"Ayah!" Panggil dewi Serigala sambil melambaikan tangan pada ayah dan pamannya.
Keduanya mengangguk lalu tersenyum dengan wajah sedih yang disembunyikan.
Dewi Serigala memalingkan wajah, ia lalu memperhatikan area di bawahnya, namun ia tidak melihat keberadaan Jingga di bawah kaki bukit, ia bersama Xuis berjalan memasuki tengah kota dan terus mencari Jingga sampai keluar dari gerbang kota dan berjalan lurus ke arah pelabuhan.
"Cepat sekali dia menghilang, atau jangan-jangan dia bersembunyi dariku" gumam pikir dewi Serigala.
Setiap pemuda yang terlihat mirip dengan Jingga di dekatinya, namun ia masih belum menemukan keberadaan Jingga.
...*Pelabuhan*...
Sama seperti dewi Serigala, Jingga juga sedang sibuk mencari adiknya Naray di sekitar pelabuhan, Jingga bahkan harus memanjat pohon untuk memperluas jangkauan penglihatannya memperhatikan area di sekitarnya.
"Di mana Adikku?" Tanya pikir Jingga yang duduk di atas dahan pohon.
Tak lama kemudian, dewi Serigala yang menaiki serigala melintas di bawahnya.
"Mau apa dia kemari?" Gumam Jingga yang melihatnya dari atas.
Xuis yang memiliki penciuman tajam menghentikan langkahnya. Ia mendongak ke atas menatap Jingga.
Haoom! Grrr!
"Hei, tenanglah!" Ucap dewi Serigala mengusapi kepalanya.
Ia lalu mendongak ke atas mengikuti arah pandangan Xuis. Namun Jingga sudah menghilang dari tempatnya. Xuis terus saja menggeram ingin mengejar Jingga yang berkelebat membentuk bayangan hitam ke arah lainnya.