Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Memasuki Istana


Naray lalu membawanya ke arah lain di bawah kaki gunung Keranda Mistis. Ia kemudian memutar batu bundar yang pipih tiga kali putaran.


Kraak!


"Neng, tahu darimana ada batu penggerak di sini?" Tanya Jingga ingin tahu.


"Tahulah, A. Waktu duduk menunggu Aa yang tidak kunjung kembali, beberapa pendekar dari padepokan Kapak Tulang Naga melintas, Aku diam-diam mengikutinya dan melihat mereka memutar batu ini. Karena Aa masih belum datang, aku jadi bersembunyi menunggu Aa" jawab Naray menjelaskan.


"Sepertinya mereka pernah ke sini sebelumnya, baiklah. Pintunya sudah terbuka, kita langsung masuk saja" timpal Jingga lalu memasuki sebuah pintu rahasia.


Bruk!


Pintu otomatis tertutup ketika keduanya memasuki sebuah lorong yang memiliki obor api sebagai pencahayaan.


"Kata Guru, lorong ini adalah jalur rahasia kerajaan kuno Dewa Kim" ucap Naray.


"Apa Nenek Lakanti juga pernah ke sini?" Tanya Jingga.


"Ya" jawab Naray singkat.


"Hati-hati, A. Selalu ada jebakan di setiap jalur rahasia" imbuhnya.


Jingga mengerutkan bibirnya mendengar perkataan Naray, harusnya Jingga yang mengatakan seperti itu karena ia terbiasa memasuki jalur rahasia ketika berada di benua Matahari.


Beberapa langkah kaki keduanya menelusuri lorong, terlihat di depannya beberapa mayat pendekar yang tergeletak tewas dengan mengenaskan.


"A, bukankah mereka semua dari padepokan Macan Goreng?"


"Ya, tapi aneh juga. Tidak ada korban dari padepokan lainnya"


"Sebaiknya kita lebih waspada"


Naray mengangguk lalu melangkahi setiap mayat yang dilaluinya. Jingga yang terus memperhatikan beberapa mayat menemukan pria yang dikenalinya. Ia lalu berhenti dan memeriksa denyut nadi dari pria itu.


"Masih hidup" gumamnya.


Jingga lalu merangkul punggung pria itu dan menyandarkannya ke dinding lorong.


"Kang Brama, bangun Kang!"


Uhuk! Uhuk!


"Jingga, kau sudah sampai"


"Ya, apa yang terjadi dengan Kang Brama?"


"Kami diserang siluman ayam"


Jingga yang mendengarnya hampir saja tertawa, ia lalu menahannya karena tidak enak hati melihat Bramakeling yang tidak berdaya.


"Kenapa hanya kalian saja yang diserang oleh hewan yang biasa dimakan?"


"Aku tidak tahu. Sebelumnya kami berhasil menyusul teman-teman seperguruan yang sedang bertarung tidak jauh di ujung lorong sana, tiba-tiba saja siluman ayam menyerang kami dengan begitu bu-" jawab Bramakeling terputus.


Ia langsung menghembuskan napas terakhirnya di depan Jingga yang masih heran dengan siluman ayam.


"Tenang, Kang. Aku pasti akan menyembelih ayam kurang ajar itu lalu kita bakar dan memakannya sampai ke tulangnya" balas Jingga yang membayangkannya seperti ayam biasa yang sering ia temui.


"Kang, Kang Brama!" Panggil Jingga sambil menepuk pundaknya.


"Ya, mati" imbuhnya setelah menyadari pria yang diajak bicaranya tidak lagi bernapas.


"Ayo, Neng. Kita lanjutkan penelusurannya" ajak Jingga kembali berdiri.


"Nih, pakai dulu bajunya" balas Naray menyodorkan pakaian yang diambilnya dari mayat salah satu pendekar yang masih utuh.


Jingga melirik tubuh polos seorang pendekar yang tergeletak tak bernyawa.


"Masih kecil sudah berani membukanya, dasar nakal" sindir Jingga yang tidak menduganya.


Naray hanya cengengesan saja membalasnya.


Keduanya kembali berjalan menelusuri jalur rahasia, berada di ujung lorong. Terlihat dua jalur lorong yang harus dipilih keduanya.


"Kita ambil kiri" ucap Jingga memutuskan lalu memasukinya.


"A, berhenti!" Pinta Naray yang melihat seekor ayam jantan yang lumayan besar dan begitu menyeramkan berdiri di tengah lorong.


"Hanya ayam, tidak perlu takut. Kita bisa memanggangnya nanti" balas Jingga tidak mau menghentikan langkahnya.


Petok, petok, petok!


Ayam berlari cepat menyerang, Jingga menyeringai lalu berlari menyerangannya juga.


Wuzz!


Pukulan Jingga mengenai udara kosong. Siluman ayam berkelit menghindarinya.


Sret!


"Aa!" Pekik Naray yang terkena cakaran ayam yang melesat ke arahnya.


Wuzz! Dugh! Wuzz!


Jingga terus melayangkan pukulan dan tendangannya ke tubuh siluman ayam, namun usahanya selalu gagal. Siluman ayam terus saja berkelit menghindarinya.


"Ha ha, lumayan cepat juga kau ayam bakar" ucap Jingga yang mulai mengendurkan serangan.


Petok, petok, petok!


Wuzz!


Siluman ayam menyerang Jingga dengan kedua cakarnya dan paruhnya yang terus mematuk kening Jingga sambil mengepakkan kedua sayapnya. Jingga tersenyum geli mendapatkan cakaran yang terasa seperti garukan, namun patukannya membuat ia begitu kesal.


Petok, petoook!


"Kena juga kau ayam jelek"


Krak!


Jingga memelintir dua sayap ayam sampai terlepas dari tubuh ayam yang menggeliat menahan sakit lalu mati.


"Neng, ambil!" Ucap Jingga melemparkan ayam mati ke arah Naray yang langsung menangkapnya.


"A, buang saja ya? Ayamnya terlalu menyeramkan"


"Ya" jawab Jingga singkat.


Keduanya kembali melanjutkan perjalanan menelusuri lorong yang berkelok-kelok dan memiliki banyak cabang pintu.


"Berhenti dulu, Neng!"


"Kenapa, A?"


"Di jalur rahasia ini kita mau cari apa?"


"Tidak tahu, A"


"Ya ampun" dengus Jingga lalu menepak keningnya sendiri.


"Kenapa, A?"


"Ganti pertanyaannya, Neng!"


Hening, Naray tidak tahu harus tanya apa, ia diam saja menatap Jingga yang tampak seperti orang linglung.


"Kau tahu, tujuanku ke sini untuk mencari peninggalan kerajaan, walaupun aku sendiri tidak tahu apakah nantinya berguna atau tidak. Kenapa Neng mengajakku memasuki lorong ini?" Tanya Jingga.


"Aku hanya mengikuti para pendekar yang memasukinya" jawab Naray.


"Apa Neng tahu lokasi kerajaannya?"


"Kata Guru. Kerajaannya tersembunyi di sekitar gunung Keranda Mistis"


"Ya sudah, sekarang kita cari jalan keluar dari lorong ini" kata Jingga.


"Apa kita akan berbalik ke jalan yang tadi, A?"


"Tidak perlu, ikut saja" jawab Jingga.


Keduanya kembali melanjutkan langkahnya, Jingga menggenggam jemari Naray lalu memimpin jalan.


"Sepertinya ada sesuatu yang mengarah ke kita" ucap Jingga mulai memperlambat langkahnya.


Gemerisik suara terdengar nyaring dari arah sebuah pintu lorong.


"Lari!" Teriak Jingga menarik Naray berbelok ke lorong di sebelah kanannya.


Ribuan kumbang beterbangan seperti air bah yang ditumpahkan.


Jingga dan Naray semakin cepat berlari menghindari serangan kumbang yang begitu berisik.


Beberapa kali berbelok, Jingga dan Naray terpaksa menghentikan langkahnya ketika terpojok di jalan buntu.


Keduanya bersandar pada dinding sambil menutup telinga karena tidak tahan dengan suara dengungan kumbang yang begitu keras.


Gerombolan kumbang berbalik menjauhi keduanya.


Bugh! Bugh!


Jingga terus memukuli dinding batu hingga bergetar keras. Ia terus memukulinya karena begitu kesal.


Bruk!


Dinding batu hancur berantakan, Jingga dan Naray saling melirik melihat anak tangga di balik hancurnya dinding.


"Sepertinya ini jalan rahasia menuju istana" ucap Jingga lalu menarik tangan Naray untuk menaikinya.


"Krak! Krak!"


Tiba-tiba saja anak tangga mengalami retakan, Jingga dan Naray langsung berlari secepatnya menaiki tangga.


"Lompat!" Teriak Jingga lalu melompat memasuki sebuah ruangan.


Bruk!


Anak tangga langsung hancur seketika, Jingga berbalik meliriknya. Pupil matanya membesar, ia begitu heran melihat ruang kosong dan gelap di balik pintu.


"A, ada apa?" Tanya Naray ingin tahu.


"Nah, begitu. Kan enak dengarnya, jangan tahunya cuma kenapa dan kenapa" ucap Jingga lalu menggelengkan kepala menjawabnya.


"Perasaan tadi tidak begitu deh" gumam Naray.


Keduanya lalu mematung memperhatikan ruangan dalam istana yang begitu luas dan tampak megah.


"Aku ingin menjadi seorang ratu dan Aa yang menjadi rajanya" celoteh Naray sambil berputar-putar mengkhayalkannya.


Pletak!


"Aw! Sakit" ringis Naray sambil mengusapi kepalanya yang dijitak oleh Jingga.


"Jangan dulu berkhayal, kita cari apa pun yang bisa kita temukan di dalam sini" pinta Jingga terus memperhatikan ruangan luas istana kerajaan.