
Xanghua langsung mempercayainya, ia begitu menyesali diri telah memotong tubuh suaminya.
"Maafkan aku suamiku, kau jadi seperti ini" ucap Xanghua langsung merangkul tubuh Xintio yang hanya menyisakan bagian atas dan kepalanya saja.
"Tidak masalah, aku bisa menggantinya nanti. Sekarang kau hilangkan ilusi iblismu" balas Xintio.
"Maaf, sayang. Tetapi energiku juga hilang, sama seperti dirimu" ucap Xanghua menggelengkan kepala.
Xintio mendengus kasar mendengarnya, ia merasa hidupnya juga istrinya akan berakhir di tangan pemuda yang sudah mengelabui keduanya.
"Sial! Kita bisa terpedaya oleh bocah ingusan. Sungguh memalukan" gerutu Xintio merasa bodoh.
Jingga tidak lagi melihat pertarungan dari sepasang suami istri di dalam dimensi ilusi.
"Tuan dan Nyonya. Apa kalian sudah selesai bercintanya?" Tanya Jingga.
Xintio dan Xanghua begitu murka mendengarnya, namun apa daya, keduanya sudah tidak memiliki daya untuk melawannya, bahkan untuk keluar dari dimensi ilusi pun keduanya tidak sanggup lagi.
Tidak ada sahutan dari keduanya, Jingga menjentikkan jarinya menghancurkan perisai iblis dan dimensi ilusi yang membelenggu sepasang iblis.
"Aah!" Jerit Xanghua yang terjatuh bersama tubuh suaminya.
Melihat keduanya terjatuh, Jingga melemparkan rantai energi mengikat tubuh keduanya lalu mendarat dengan pelan.
"Nyonya, kau beringas sekali memperlakukan suamimu. Lihatlah, kau begitu kejam sampai tubuh suamimu terpotong-potong begitu. Dasar iblis!" Celetuk Jingga berjongkok di depan keduanya yang terikat.
"Kau yang iblis!" Balas Nyonya Xanghua tidak terima dengan cemoohan pemuda di depannya.
"Ha ha, bahkan seorang iblis pun tidak sudi disebut iblis, sungguh tidak tahu diri" kekeh Jingga.
"Kau yang tidak tahu diri" timpal Nyonya Xanghua tidak mau kalah.
"Bunuh saja kami, iblis muda" potong Xintio menghentikan perdebatan keduanya.
Jingga menarik pedang di tangan Xanghua lalu memukul kepala Xintio dengan ujung gagang.
Pletuk!
"Dasar iblis tua bodoh! Apa untungnya bagiku membunuh kalian yang begitu tidak berdaya? Sebaiknya kalian pulang saja dan lanjutkan percintaan kalian, aku yakin tubuhmu akan habis tak bersisa ha ha ha" cemooh Jingga merasa lucu membayangkannya.
"Kau jangan kurang ajar kepada kami" bentak Xanghua begitu kesal mendengar cemoohan Jingga.
Jingga mengerutkan bibir menanggapinya, ia langsung berdiri dan melangkah pergi meninggalkan keduanya.
"Tunggu, anak muda" panggil Nyonya Xanghua menahannya.
Jingga langsung membalikkan badan meliriknya, namun ia sudah tidak berkeinginan untuk meladeninya.
"Bisakah kau melepaskan kami dulu sebelum kau pergi" pintanya yang masih terikat rantai energi.
Jingga lalu menjentikkan jarinya menghilangkan rantai energi yang mengikat sepasang iblis.
"Terima kasih" ucap Nyonya Xanghua lalu bangkit sambil memanggul tubuh suaminya.
Melihat nyonya iblis sempoyongan berjalan dengan lunglai, membuat Jingga begitu kasihan melihatnya.
"Nyonya, biar aku bantu mengantar kalian" ucap Jingga lalu mengambil tubuh Xintio dengan menggenggam satu tanduknya.
"Tidak perlu, kau pergi saja" tolak Nyonya Xanghua berusaha mengambil kembali tubuh suaminya.
Bruk!
Tiba-tiba saja Nyonya Xanghua terjatuh karena lemah, ia tidak memiliki energi iblis di dalam tubuhnya.
"Maaf Nyonya, izinkan aku memangkumu" pinta Jingga tanpa menunggu persetujuannya langsung mengangkat tubuh Nyonya Xanghua lalu membawanya kembali ke kediamannya.
"Woi!" Teriak Xintio yang terjatuh menggelinding di tanah.
Jingga menghentikan langkahnya, ia kemudian berbalik menghampirinya.
"Maaf, Tuan. Tapi tanganku cuma dua, aku tidak bisa memegangmu" kilah Jingga sengaja menjatuhkan tubuhnya.
"Anak muda, biar aku yang memeganginya" potong Nyonya Xanghua.
Jingga langsung menurunkan tubuh Nyonya Xanghua yang langsung mengambil tubuh suaminya. Setelahnya Jingga kembali memangkunya dan berjalan ke arah kediaman klan Xuenong.
"Anak muda, maafkan aku yang meminta Zhan'er untuk membunuhmu" ucap Xanghua yang dipangku oleh Jingga.
"Tidak masalah, Nyonya" balas Jingga.
"Hem, apa hubunganmu dengan putriku Xin'er?" Tanya Nyonya Xanghua.
"Aku baru mengenalnya di penginapan, dia mengajakku ke kediamannya untuk melihat pertanian klan Xuenong" jawab Jingga seadanya.
"Karena putrimu tidak menyebutkan tumbuhan apa yang kalian tanam"
"Tumbuhan! Kami tidak menanam tumbuhan apa pun di kediaman kami"
Jingga mengerutkan keningnya merasa heran dengan ucapan Nyonya Xanghua.
"Lalu apa yang klan kalian kerjakan?"
"Kami pengolah darah yang dikumpulkan oleh penyalur untuk berbagai kebutuhan bangsa iblis"
"Jadi kalian adalah petani darah"
"Betul, itulah pekerjaan klan Xuenong, tidak ada yang istimewa kan?"
Jingga menghentikan langkahnya, ia masih bingung dengan apa yang baru ia ketahui.
"Nyonya, darah apa saja yang kalian olah?" Tanya Jingga penasaran.
"Apa saja yang kami dapat dari penyalur. Kebanyakan yang kami dapat adalah darah beast monster di benua Intibumi, untuk darah manusia pun kami mengolahnya, namun semenjak perjanjian damai dengan bangsa dewa, kami menyerahkan pekerjaan kami kepada manusia"
"Hem, menarik. Bagaimana cara kalian mendapatkannya dari manusia?"
"Mudah saja, kami menawarkan kerja sama yang saling menguntungkan dengan manusia, salah satunya adalah pertukaran darah dengan sihir. Bahkan sekarang sudah semakin banyak manusia yang berkultivasi di jalur iblis. Hal itu yang memudahkan kami mendapatkan darah dan tubuh manusia"
Jingga mulai memahaminya, namun perbincangannya harus terhenti karena perjalanannya sudah sampai di kediaman klan Xuenong.
"Baiklah, Nyonya. Karena sudah sampai, aku pamit pergi" ucap Jingga lalu menurunkannya.
"Terima kasih anak muda" balasnya lalu membawa masuk tubuh suaminya.
Jingga melesat terbang ke udara, ia melihat banyak iblis berseliweran di sekitarnya.
"Pemandangan yang begitu luar biasa" gumam Jingga mengaguminya.
Berbagai iblis dari banyak jenis beterbangan di udara, hal yang jarang ia saksikan di alam fana.
Jingga meneruskan terbangnya kembali ke penginapan. Tidak ada kejadian apa pun selama penerbangannya sampai ia mendarat tepat di depan pintu penginapan yang berayun.
"Selamat datang kembali di penginapan, Tuan muda" sambut pelayan penginapan begitu ramah.
Jingga mengangguk lalu menaiki anak tangga menuju ke kamarnya di lantai dua penginapan.
Krak!
Pintu terbuka, Jingga menyipitkan matanya melihat tubuh polos terbaring miring di dipan menatapnya dengan begitu menggoda.
"Nona, kau kenapa?" Tanya Jingga merasa risih dengan tatapan gadis pucat yang menggodanya.
"Sudah hampir habis waktumu menginap di sini, namun kau masih belum membayarku" jawab Huo Nuhai lalu menghampiri Jingga dan kembali melingkarkan kedua tangannya di leher Jingga.
"Katakan saja, berapa jiwa kultivator untuk membayarmu" timpal Jingga lalu melepaskan ikatan tangan gadis iblis yang melingkar di lehernya.
"Aku tidak dibayar dengan itu, Tuan muda tampan"
"Yang aku tahu di alam iblis hanya jiwa kultivator yang dijadikan alat transaksi, apa ada lagi alat tukar selain itu, Nona pucat?"
"Tentu ada, klan kami dibayar dengan ini"
Sret!
"Aw!" Jerit Huo Nuhai melihat tangannya terputus karena memegang tombak.
"Kurang ajar kau Nona, perkakasku hanya boleh disentuh oleh Istriku" ucap Jingga yang langsung memotong tangan Huo Nuhai.
"Bagus sayang, itu baru suamiku" celetuk Xian Hou begitu senang dengan sikap Jingga.
Jingga langsung berbinar setelah mendengar ucapan istrinya.
"Tentu sayang" balas Jingga.
Huo Nuhai langsung menumbuhkan kembali tangannya lalu kembali memakai gaunnya.
"Kau pria aneh, aku hanya meminta hakku malah kau potong tanganku" gerutu Huo Nuhai begitu kecewa di wajahnya karena tidak mendapat bayaran.
"Lagian, ada-ada saja kelakuan kalian bangsa iblis" tanggap Jingga lalu duduk selonjoran sambil menenggak araknya.
"Ha ha, itu satu-satunya tugas paling menyenangkan di alam ini. Kami sudah turun menurun melakukannya dan kami sangat bahagia. Kau saja yang tidak menyadari diri sebagai iblis" timpal Huo Nuhai baru menemukan pria iblis yang begitu aneh menurutnya.
"Aku dengar, kau pergi bersama Nona muda klan Xuenong. Apa kau membawa darah? Itu bisa menggantikan hakku yang tidak kau penuhi" imbuhnya sambil menyodorkan tangan.
"Mau aku potong lagi tanganmu?" Ancam Jingga.