
Puas dengan hasilnya, Jingga pun tersenyum lebar lalu berbalik menghampiri Ratu Kalandiva yang dari tadi terdiam dengan raut wajah keheranan.
“Nyonya, temani aku minum di taman belakang istana,” kata Jingga sambil mengulurkan tangan kanan.
Ratu Kalandiva yang sedang duduk langsung meraih tangan Jingga lalu berdiri dengan ekspresi keheranan yang tidak pudar. Itu terlihat dari Mata yang melebar, alis yang terangkat hingga menciptakan lipatan vertikal di dahi dan mulut yang sedikit terbuka. Hal itu pula yang membuat Jingga terkekeh pelan memperhatikannya.
“Taman istana ada di bawah kita, tinggal melompat saja, apa susahnya?” ucap sang ratu yang semakin heran dengan karakter Jingga yang sulit ditebaknya.
Jingga menyunggingkan senyum lalu menarik tangan sang ratu membawanya melompat turun dari puncak menara Monster.
WUZZ!
Tap, tap.
“Menurutmu, apakah para dewa tidak akan curiga dengan hilangnya para pasukan istana Langit?” tanya sang ratu sesampainya di depan batu besar.
“Biarkan saja, itu urusan mereka. Kita santai dulu sambil menunggu hasilnya,” kata Jingga menjawabnya.
Sementara itu di atas langit. Terhitung tujuh orang dewa baru saja tiba untuk melihat hasil dari serbuan pasukan istana Langit. Akan tetapi, mereka semua terlihat kebingungan dengan kondisi yang terjadi di bawahnya.
“Hah! Di mana para pasukan? Bukankah mereka datang untuk membumihanguskan kerajaan Beast Monster dan membawa sang ratu ke istana Langit.” Geming teredam pertanyaan dari para dewa yang tidak melihat keberadaan pasukan istana Langit.
“Ayo kita laporkan kepada Kaisar!” kata seorang dewa berjanggut emas.
“Tunggu! Kita harus memeriksanya dulu sebelum kembali ke istana Langit,” ujar cepat dewa berkepala plontos menahannya.
Beberapa dewa lainnya saling melirik dan sejurus kemudian, mereka pun mengangguk setuju. Lalu, ketujuhnya melayang turun ke arah istana Monster. Ratu Kalandiva yang duduk di samping Jingga tampak sedikit gugup. Ia lalu melirik Jingga yang sedang rebahan di atas sebuah batu besar dengan penuh tanya di dalam benaknya.
“Nyonya tenang saja, anggap saja tidak pernah terjadi sesuatu di istana ini. Sebaiknya Nyonya bersiap untuk menyambut kedatangan mereka,” kata Jingga memahami kegelisahan sang ratu.
“Baik, aku mengerti maksudmu,” balas Ratu Kalandiva lalu melompat dari atas batu dan melangkah memasuki istana.
DUAR!
Tiba-tiba saja pintu istana hancur. Ketujuh dewa langsung mengurung sang ratu yang baru saja tiba di ruang dalam istana.
“Apakah seperti ini cara kalian memasuki rumah orang? Tidak punya tata krama!” hardik Ratu Kalandiva tampak begitu emosi.
“Ha-ha-ha. Kau jangan berpura-pura, Nyonya. Katakan, di mana kau menyembunyikan pasukan istana Langit?” kelakar dewa kepala botak.
“Hah! Apa maksudmu, Tuan Anti Kutu? Kapan pasukan istana Langit datang ke istanaku?” tanya balik Ratu Kalandiva berpura-pura tidak memahaminya.
“Jangan berkilah, Nyonya! Katakan saja atau kami hancurkan istanamu sebelum membawamu menghadap Kaisar Langit!”
“Ha-ha-ha. Kalian mengancamku.”
“Huh! Kita bunuh saja wanita tidak tahu diri ini lalu kita bawa jasadnya ke hadapan Kaisar,” rutuk dewa berjanggut emas mulai tidak sabar.
SRING!
Tujuh pedang keluar dari sarungnya, para dewa mulai melangkah berputar mengelilingi sang ratu yang berdiri dalam posisi siaga mengawasi pergerakan para dewa. Tidak ada ketegangan yang terlukis di wajah sang ratu di tengah-tengah kepungan ketujuh dewa yang mengepungnya. Pembawaannya tenang dan matanya menyorot tajam ke setiap sudut untuk mencari celah dalam pertarungan yang akan dimulai. Setiap gerakan dan napas yang diambil Ratu Kalandiva sangat hati-hati. Ia mengamati gerakan mereka dengan seksama, mencari celah dan kelemahan untuk diserang.
Ratu Kalandiva lalu berbalik untuk menghadapi dewa lain, salah satu dari mereka menyerang dari belakang. Namun, Ratu Kalandiva cukup tangkas segera merasakan serangan itu dan kembali berbalik dengan cepat, menahan serangan dengan pedangnya yang kuat. Ia mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menahan serangan itu dan terus fokus untuk menghindari serangan serupa dari dewa lainnya.
Sejurus kemudian, Ratu Kalandiva bergerak cepat menghindari tebasan yang datang dari kedua sisi tubuhnya. Ia berputar-putar menahan tebasan pedang dari para dewa yang menyerangnya.
TRANG! TRANG!
Dalam pertarungan sengit tersebut, sang ratu lebih sering menghadang serangan yang dilancarkan para dewa. Ia masih belum menemukan celah untuk melancarkan serangan balik. Suasana menjadi semakin tegang ketika ketujuh dewa semakin intens melancarkan serangan yang teratur dengan ritme yang semakin cepat.
Suara peraduan pedang yang nyaring dan percikan api semakin mewarnai sengitnya pertarungan di dalam ruang istana Monster.
Ketujuh dewa terus bergerak dengan cepat dan lincah. Namun, sang ratu tidak kalah cepat dari ketujuhnya. Ia terus bergerak seperti sedang menari-nari dalam kemampuan bertahan yang cukup solid diperagakannya.
“Kau lumayan juga, Nyonya. Tapi sampai kapan kau akan terus bertahan? Ha-ha.” Salah seorang dewa mencemoohnya.
“Jangan banyak bicara, Tuan. Sampai sekarang, kalian masih belum bisa menyentuhku. Ha-ha,” balas sang ratu.
“Cih! Jangan harap kau bisa lolos dari kematian,” timpal dewa lainnya sambil terus melancarkan serangan.
Terlecut untuk mengakhiri pertarungan lebih cepat. Ketujuh dewa tersebut terus bergerak maju, mencoba untuk mempersempit gerakan sang ratu dan membunuhnya dengan serangan brutal.
Ratu Kalandiva mulai merasakan dirinya semakin terdesak oleh serangan ketujuh dewa yang semakin beringas. Namun, ia tidak menyerah dan terus berjuang menghindari serangan pada dewa dengan cepat dan mulai melancarkan serangan balik yang mematikan. Setelah beberapa saat, ia berhasil memukul mundur ketujuh dewa tersebut, memberinya sedikit waktu untuk bernapas dan merencanakan serangan selanjutnya.
Arah serangan yang berbalik dari pertarungan, membuat ketujuh dewa kembali terlecut untuk menaikan tempo serangan yang lebih cepat dan liar demi membalikkan kembali keadaan. Ketika para dewa tengah sibuk dalam serangan yang semakin agresif. Diam-diam, Ratu Kalandiva mulai mengubah gaya bertarungnya. Ia tidak lagi menggunakan energi spiritualnya dalam pertarungan. Sekarang, Ratu Kalandiva mulai menggunakan kekuatan jiwa dan merapalkan mantra untuk menyerang ketujuh dewa.
Hawa di dalam istana mulai berubah menjadi panas dan waktu seolah berhenti, ketujuh dewa masih fokus dalam serangan yang dilancarkan dan belum menyadari gerakan mereka yang terus melambat seiring waktu.
Ratu Kalandiva tersenyum simpul melihatnya. Tanpa menundanya, Ratu Kalandiva langsung melancarkan serangan mematikan ke arah tujuh dewa yang mulai menyadari adanya perangkap sihir di tengah pertarungan. Akan tetapi, mereka terlambat menghindarinya.
“Sial! Kita terlena dalam serangan,” keluh salah satu dewa yang tersadar memasuki perangkap sihir.
TRANG! BUGH! BUGH!
“Ah!” jerit ketujuh dewa merasakan perih di sekujur tubuh yang disayat dengan brutal oleh Ratu Kalandiva.
Dalam sekejap, ketujuh dewa tergeletak tak berdaya di lantai istana dengan kondisi yang memprihatinkan. Tampak ketujuh dewa terlihat memilukan, pakaiannya compang-camping dan tubuh penuh sayatan pedang akibat serangan mematikan dari kecerdikan Ratu Kalandiva.
“Aku akan membiarkan salah satu dari kalian untuk kembali ke istana Langit,” kata Ratu Kalandiva sambil memutar bola mata untuk memilih satu dari ketujuh dewa yang akan dilepaskannya.
“Kau, Tuan Anti Kutu. Karena hanya dirimu yang tidak memiliki rambut, maka aku akan melepaskanmu. Ha-ha,” imbuh sang ratu lalu menjentikkan jari meledakkan keenam dewa.
DUAR! DUAR!
Setelahnya, Ratu Kalandiva lalu melemparkan dewa berkepala plontos ke langit. Ia lalu berbalik pergi menemui Jingga dan melaporkannya.
Jauh di istana Langit, dewa berkepala plontos terlihat susah payah berjalan di dalam istana. Beberapa pengawal yang melihatnya langsung membopong dan membawanya ke hadapan Kaisar.
“Apa yang terjadi denganmu, Dewa Gurun?” tanya Kaisar Langit menatapnya prihatin.
Dewa Gurun berkepala plontos lalu menceritakan semua yang dialaminya dengan mulut yang terbata-bata mengucapkannya. Kaisar Langit mendengarkannya dengan seksama dan penuh kesabaran.