Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Informasi berharga


Setelah selesai, ketiganya lalu pergi melanjutkan perjalanan ke ibukota kekaisaran Fei.


Dalam perjalanan ketiganya, Du Dung dan Bai Niu terus saja ribut dalam becandaannya, Jingga yang melihatnya dari belakang merasa terhibur dengan tingkah laku kedua temannya itu.


Dua hari berikutnya, ketiga pemuda tersebut telah sampai di depan gerbang yang begitu ramai dan sangat panjang antreannya.


"Wow, banyak sekali orang yang mengikuti turnamen kekaisaran" seru Jingga begitu takjub melihat keramaian yang jauh lebih banyak dari kota sebelumnya.


Jingga meminta kedua temannya untuk tidak membuat keributan dalam antrean yang diangguki oleh keduanya.


Setelah menunggu cukup lama ketiganya mengantre, akhirnya ketiganya mendapatkan giliran.


Berbeda dengan beberapa kota yang pernah dikunjunginya, kali ini Jingga tidak direpotkan dengan perbedaan ras seperti sebelumnya.


Jingga terus saja menatap gerbang besar dengan ukiran pohon anggrek bernama Lanhua.


"Namanya sama seperti yang dikatakan oleh monster jelek mata satu Yuangu Mowang, apakah gunung Lanhua ada di antara pegunungan kota ini?" Kata batinnya bertanya-tanya lalu memperhatikan sekeliling pegunungan yang menjulang tinggi di sekitar kota Lanhua


.


"Hei Jingga mata besar, kau tidak perlu membaca nama kota, itu tidak penting, ayo masuk" tegur Du Dung yang tahu kalau Jingga akan selalu membaca nama kota di setiap gerbang kota yang dikunjunginya.


Ketiganya langsung pergi ke lokasi pendaftaran yang mana lebih banyak antrean yang hampir semuanya adalah para kultivator muda dari seluruh wilayah kekaisaran Fei.


Du Dung mendaftarkan namanya sebagai petarung utama dan Jingga menjadi petarung cadangan yang akan menggantikan petarung utama apabila mengalami cedera fatal yang membuatnya harus memulihkan diri dengan syarat meraih kemenangan dan lolos ke tahap berikutnya, sedangkan Bai Niu hanya menjadi pendukung fanatik keduanya.


Selesai mendaftarkan diri, ketiganya pergi ke salah satu penginapan yang telah disiapkan oleh panitia turnamen di kota Lanhua.


Namun terjadi hal yang membuat ketiganya saling melirik satu sama lain ketika petugas penginapan menanyakan soal kamar.


"Apakah kalian bertiga akan satu kamar bersama?" Tanya petugas penginapan melirik ketiganya.


Jingga melirik Bai Niu lalu bertanya,


"Apakah kau akan menempati kamar sendiri?"


Bai Niu merasa dilema lalu ia mengambil keputusan untuk tidur bersama keduanya.


Mendengar keputusan dari Bai Niu, Du Dung beralih ke petugas penginapan untuk mengambil satu kamar untuk ketiganya.


"Masih ada waktu beberapa hari sebelum turnamen dimulai, sebaiknya kita mencari lokasi yang nyaman untuk berlatih" saran Jingga kepada keduanya.


"Betul juga katamu, aku harus mencoba peningkatan kekuatan baruku" ucap Du Dung menanggapi.


"Aku ikut" sambung Bai Niu tidak mau ditinggalkan.


"Ya sudah sebaiknya kita beristirahat dulu memulihkan tenaga yang telah terkuras selama perjalanan" ajak Jingga yang diangguki oleh keduanya.


Karena hanya ada satu dipan kayu, Jingga dan Du Dung tidur di bangku yang tersedia di dalam kamar, sedangkan Bai Niu menempati dipan kayu.


Esok hari ketiganya sarapan di lantai dasar penginapan.


Banyaknya tamu dari berbagai wilayah kekaisaran Fei menjadikan suasananya begitu meriah dengan diiringi oleh beberapa gadis yang memainkan alat musik dan tarian yang sengaja diadakan oleh pemilik penginapan.


Ketiga pemuda tersebut begitu menikmati hiburan yang disuguhkan, Jingga dengan sebotol araknya semakin terbuai dengan suasana yang begitu menghiburnya.


"Jingga, kenapa kau malah duduk kembali?" Tanya Du Dung yang sudah berdiri akan pergi.


"Duduklah dulu, ada informasi yang sayang kita lewatkan" pintanya yang menanggapi pertanyaan Du Dung.


Obrolan tentang kemusnahan klan Chu tidak membuatnya menarik, namun obrolan tentang kematian empat murid sekte Api Abadi menarik minatnya untuk terus mendengarkan obrolan para kultivator muda yang tidak jauh dari tempatnya duduk.


Dalam isi obrolan para pemuda itu, Jingga mendapatkan informasi soal dibumi hanguskannya hutan di kaki gunung Juanmi oleh sekte Api Abadi karena kekecewaan pada kegagalannya mencari sepasang pendekar bayangan.


"Semoga kedua orangtuaku baik-baik saja" gumamnya berharap.


Tak ada lagi hal lain yang menarik hatinya untuk mendengarkan obrolan para kultivator muda tersebut, Jingga mengajak kedua temannya untuk pergi.


Kali ini giliran Du Dung yang menunda keberangkatan.


"Tunggu dulu Jingga, ada satu lagi yang pasti ingin kau dengar" bisiknya pelan di telinga Jingga, Bai Niu yang mulai kesal hanya menatap keduanya dalam diam tidak beranjak dari kursinya.


Kedua pemuda tersebut kembali duduk menyimak obrolan para kultivator muda dari meja lainnya.


Kali ini Jingga terdiam merenungkan apa yang ia dengarkan dari obrolan tersebut.


Kabar tentang akan munculnya purnama darah, membuat dirinya begitu cemas, ia melirik ke arah dua temannya dengan tatapan sayu lalu mendukkan wajahnya.


Di dalam benaknya, Jingga masih tidak percaya betapa cepatnya waktu akan kemunculannya.


"Bukankah waktunya masih lama, kenapa harus secepat ini?" gumam batinnya terus bertanya-tanya.


Berbeda dengan Jingga, Du Dung begitu tertarik dengan pedang penghancur semesta yang memiliki nama lain Jianhuimie Yuzhou yang menjadi incaran semua kultivator, namun sampai sekarang tidak ada satu pun yang berhasil menemukannya, purnama darah yang akan terjadi dalam kurun waktu sebulan ke depan berkaitan dengan kemunculannya.


"Kak Jingga, kenapa kakak menatapku seperti itu?" Tanya Bai Niu merasakan kecemasan hati temannya Jingga.


"Aku tidak apa-apa Naninu, ayo kita bergegas pergi dari sini" jawab Jingga yang langsung berdiri melangkahkan kaki ke luar pintu.


"Ada apa dengannya?" Tanya Du Dung heran.


"Aku juga tidak tahu, sebaiknya kita mengikutinya saja" jawab Bai Niu menghampiri Jingga di luar.


Ketiganya kembali masuk menghampiri petugas penginapan untuk menanyakan lokasi gunung Lanhua yang memiliki tiga puncak.


Setelah mendapatkan informasinya, ketiganya berjalan cepat ke arah pegunungan.


Dengan langkah kaki yang cepat, kedua pemuda itu melupakan seorang gadis yang berbeda dari keduanya.


"Kakak, aku capek" keluh Bai Niu yang terlihat pucat karena harus menyeimbangkan kecepatan langkah kaki kedua pria di depannya.


Jingga lalu berbalik menghampirinya, ia berjongkok memposisikan diri untuk menggendongnya, tanpa menunggu lagi, Bai Niu langsung menaiki punggung Jingga dengan kedua tangannya melingkari leher pemuda yang menggendongnya.


Jingga langsung berkelebat ke arah pegunungan.


"Sialan! Lagi-lagi kau meninggalkanku" gerutu Du Dung langsung mengejarnya.


Berada di sebuah taman yang begitu indah dengan beraneka ragam bunga-bunga bermekaran yang terbentang luas, membuat hati ketiganya begitu gembira.


Bai Niu sebagai seorang gadis, tentu lebih merasakannya, ia merentangkan kedua tangannya, berjalan sambil berputar-putar diantara tanaman bunga menikmati suasana membahagiakan hatinya, sedangkan Jingga dan Du Dung terus mengikutinya sambil mencari lokasi yang cocok untuk keduanya berlatih.