Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Kampung Cerita Hati



Jingga cengengesan saja mendengarnya. Ia lalu melesak terbang menghampiri para pengikutnya disusul Xian Hou di belakangnya yang begitu kesal ingin mencabik-cabiknya.


Tap, tap.


“Hormat, Yang Mulia Jingga,” ucap para pengikutnya serentak berlutut menyambut kedatangan Jingga.


“Bangunlah! Selamat, kalian berhasil memenangkan perang.” 


Jingga mendongak ke langit lalu meminta Bai Niu dan Qianmei untuk turun menghampirinya. 


Badai petir pun berhenti dengan sendirinya. Langit gelap berganti terang. Tampak matahari berada di ufuk barat yang menandakan hari sebentar lagi akan berganti malam. 


“Aku tidak pernah berpikir perang akan secepat ini. Meskipun begitu, kita patut merayakannya. Kalian para iblis kembalilah ke alam jiwaku dan berpestalah di sana,” ujar Jingga.


“Baik, Yang Mulia,” sahut para iblis lalu memasuki alam jiwa.


Kini, tinggal Jirex, Bai Niu, Qianmei, dan Xian Hou yang bersama Jingga. 


“Aku memiliki firasat kurang baik soal peperangan yang baru saja kita menangkan. Akan tetapi, itu tidak begitu masalah untuk kita. Sekarang kita harus secepatnya pergi ke alam dewa. Namun, sebelum kita ke sana. Aku ingin pergi ke kampung Cerita Hati untuk memastikan kondisinya. Semoga saja bibi Ning Rum dalam kondisi sehat,” ujarnya.


“Sayang, bagaimana dengan beast beruang hitam?” tanya Xian Hou mengingatkannya.


Jingga tersenyum lembut sambil membelai rambut istrinya, dan ia pun menjawab,


“Mereka akan tinggal di alam jiwa dan Jirex yang akan melatihnya menjadi lebih tangguh dari yang sekarang.”


“Bertambah lagi pasukanmu, Sayang,” tanggap Xian Hou cepat.


Jingga mengangguk lalu berkelebat menghampiri beast beruang hitam yang berkumpul dalam sebuah formasi.


“Semuanya, masuklah ke alam jiwa. Kalian akan dilatih menjadi lebih tangguh di dalamnya,” ujar Jingga lalu menarik semua beast beruang hitam memasuki dimensi alam jiwa.


GROAR!


Raung beast beruang hitam mematuhinya.


Setelahnya, Jingga langsung melirik Jirex yang baru menyusulnya bersama istri dan kedua adiknya.


“Lakukan tugasmu, Nona!” kata Jingga memberi perintah.


“Baik, Kakak,” balas Jirex lalu memasuki alam jiwa.


Jingga kemudian membuat portal dimensi menuju kampung Cerita Hati lalu memberi isyarat kepada istri dan kedua adiknya untuk mengikutinya.


Suasana yang sangat kontras dari waktu Jingga terakhir kali mengunjungi kampung Cerita Hati membuatnya semakin menyesali diri. 


Tidak ada lagi kampung kecil yang asri dan penuh kedamaian yang dirasakannya sekarang. Bahkan puing-puing dari reruntuhan bangunannya pun tak nampak terlihat. Hanya tanah kosong yang mulai ditumbuhi rumput liar yang menjadi pemandangannya kini.


"Maafkan aku, bibi Ning Rum. Maafkan aku, semuanya," lirih Jingga tampak gontai berjalan menyusuri tanah bekas sebuah kampung di mana dirinya tumbuh besar.


DUGH!


Jingga menjatuhkan diri dalam posisi berlutut dan menundukkan kepala. Xian Hou ikut berlutut di belakangnya sambil memeluk erat suaminya. Bai Niu dan Qianmei pun mengikuti keduanya berlutut di kedua sisi menemani Jingga yang tengah berduka.


Rona jingga di ufuk barat memudar berganti kegelapan. Semilirnya angin terasa semakin cepat mengembuskan aura dingin dan menggoyangkan gaun-gaun indah yang dikenakan kedua gadis. Aroma khas dari tanah yang basah menyeruak di keheningan. 


Keheningan tak kenal ampun menyayat perasaan rapuh seorang pemuda yang dikalahkan sesal.


Xian Hou yang paling merasakan kepiluan hati Jingga, semakin mempererat dekapannya. 


Jingga yang merenung tiba-tiba teringat dengan hutan Hantu yang berlokasi tidak jauh dari kampung Cerita Hati. Ia kemudian melepaskan kedua tangan Xian Hou yang melingkar di perutnya lalu berdiri dan memindai area keberadaan hutan Hantu.


"Ha-ha-ha," tawa Jingga setelah memperhatikan kedalaman hutan Hantu..


“Suamiku, kau terlihat begitu senang. Ada apa?” tanya Xian Hou ingin tahu.


Jingga tidak langsung menjawabnya. Dengan wajah yang bahagia, ia menarik Xian Hou ke dalam pelukannya lalu mengecup kening dengan lembut.


“Aku sangat bahagia karena penduduk kampung Cerita Hati dalam keadaan yang sangat baik,” ungkapnya.


Xian Hou masih tidak memahaminya. Ia tidak merasakan adanya kehidupan di wilayah yang ditempatinya. 


“Apa kau masih ingat tentang hutan Hantu?” tanya Jingga.


“Aku ingat … jadi, para penduduk menyelamatkan diri ke hutan Hantu?” jawab Xian Hou disertai tanya.


“Betul dan aku tahu siapa orang yang menyelamatkan para penduduk,” imbuh Jingga menerkanya.


“Sebentar, Sayang. Bukankah para dewa menghancurkannya ketika mengetahui hutan Hantu menjadi pintu para iblis memasuki alam fana?” imbuh tanya Xian Hou.


“Ya, itu betul. Akan tetapi, para dewa tidak akan bisa menghancurkan seluruh wilayah hutan Hantu. Tahukah kau alasannya?”


Xian Hou menggelengkan kepala tidak mengetahuinya. Raut wajahnya begitu antusias untuk mendengarkan alasan yang akan dikemukakan oleh Jingga.


“Hutan Hantu bukanlah hutan sesungguhnya. Hutan Hantu merupakan dimensi ilusi yang diciptakan oleh Yuangu Mowang untuk mengelabui para kultivator alam fana dan juga para dewa yang selalu berpatroli di atas langit,” beber Jingga memberitahunya.


“Ha-ha. Bangsa iblis memang selalu cerdik,” kekeh Xian Hou memahaminya.


Jingga lalu berkelebat ke hutan Hantu diikuti oleh Xian Hou dan kedua adiknya. Sesampainya di area ilalang yang menjadi lokasi keberadaan hutan Hantu, Jingga tidak langsung memasukinya. Ia mundur beberapa langkah lalu mendongakkan kepala menatap lekat langit di atasnya.


“Suamiku, ada apa?” tanya Xian Hou penasaran.


Jingga langsung menoleh istrinya lalu berkata,


“Ada banyak beast phoenix yang beterbangan di atas langit. Dari auranya mereka berasal dari alam dewa.”


GROAR!


Gemuruh suara deraman saling bersahutan di kegelapan malam. Jingga kembali mendongakkan kepala untuk melihatnya. Tampak puluhan beast naga yang bertubuh besar dan panjang beterbangan di belakang kelompok beast phoenix.


“Kenapa beast dari alam dewa berseliweran di langit alam fana?” gumam Jingga tidak habis pikir.


“Itu suara klan naga alam dewa. Untuk apa mereka turun ke alam fana?” celetuk Xian Hou menanyakannya.


“Itu yang tadi aku pikirkan. Biarkan saja selama tidak membawa kerusakan di alam fana. Ayo kita temui para penduduk!” kata Jingga menanggapinya.


Xian Hou mengangguk setuju. Jingga lalu merobek perisai iblis untuk membuka akses memasuki hutan Hantu. Setelahnya, ia meminta Xian Hou dan kedua adiknya untuk memasuki lebih dahulu sebelum dirinya. 


Setelahnya, Jingga langsung menutup celah perisai yang telah disobeknya.


“Mereka berada di tepian danau. Ikuti aku!” kata Jingga lalu berkelebat ke arah danau.


Tap, tap.


Jingga menghentikan langkah di sebuah pohon besar tidak jauh dari keberadaan penduduk kampung Cerita Hati bermukim. Ia kemudian mendongakkan kepala lalu memanjat pohon. Xian Hou dan kedua adiknya pun mengikutinya memanjat pohon.


“Kak, kenapa kita tidak langsung menghampiri para penduduk?” tanya Bai Niu merasa heran.


“Bukan masalah tidak ingin menghampiri penduduk, tapi aku mengkhawatirkan keselamatannya. Para beast alam dewa masih berputar-putar di atas langit. Aku khawatir mereka memiliki niat buruk terhadap penduduk,” jawab Jingga menjelaskan.


“Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang?” sambung tanya Bai Niu.


“Kamu tenang saja, aku akan memanipulasi hutan Hantu agar tidak terendus keberadaannya oleh para beast monster.” Jingga lalu membuat pola rumit di jarinya.


Seberkas energi berwarna putih menyebar mengelilingi wilayah hutan Hantu. Hal itu menyebabkan hutan Hantu menjadi berkabut dan kehijauan hutan tersamarkan warnanya. Namun bukan itu yang menjadi tujuan Jingga. Ia membuatnya untuk menyamarkan aura dan menghilangkan jejak kehidupan di seluruh wilayah hutan Hantu.