
Dimensi Siksa Raja
Mei Moshu terlihat begitu senang mendapati rencananya berjalan dengan baik.
"Apa kau akan berhasil keluar dari ujian hati atau kau akan terperangkap selamanya di Ri Chu, Jingga? Ha ha ha"
Ujian kali ini adalah untuk menguji keteguhan pendirian hati Jingga sebagai seorang iblis penguasa. Apabila Jingga menggunakan perasaannya, ia akan terjebak selamanya di alam Ri Chu. Jingga harus bisa menunjukkan jati dirinya sebagai penguasa iblis yang kejam, bahkan dirinya harus sanggup membunuh orang-orang yang paling dicintainya tanpa terkecuali.
Kembali ke Ri Chu.
Jingga berada di sebuah kediaman khusus tamu kerajaan, raja Taiyangshen memutuskan untuk tidak mengeksekusinya. Jingga diberikan waktu satu malam untuk mempertimbangkan penawaran raja yang ingin menjadikannya seorang prajurit kerajaan.
Menatap langit-langit kamar kediamannya dalam posisi terlentang. Tatapannya tidak terbatas pada langit-langit, ia bahkan bisa menatap jauh menembus ruang dan waktu. Dalam benaknya, ia merencanakan rencana licik untuk menghancurkan kerajaan alam Ri Chu dan membuat raja dan ratu saling membenci satu sama lainnya.
"Menjadi prajurit kerajaan? Kenapa tidak? Aku bisa mengacaukan kerajaan dari akar rumput istana" pikirnya dengan bibirnya yang melengkung tajam.
Pagi hari setelah dirinya terbangun, Jingga melangkah pergi meninggalkan kamarnya menuju ke ruang dalam istana.
Langkahnya begitu santai dengan ekspresi senang seolah ia mendapatkan kehidupan baru yang menyenangkan.
Tap, tap.
Jingga memasuki pintu besar yang dijaga oleh empat prajurit yang hanya menggerakkan bola mata meliriknya.
Raja dan Ratu tersenyum lembut menyambut kedatangannya, berbeda dengan keduanya. Beberapa pejabat istana termasuk para jenderal berpakaian zirah menatapnya dengan sinis. Jingga tidak mempedulikannya, ia terus saja melangkah dengan kedua tangan yang tergenggam di punggungnya.
"Selamat datang, iblis muda" sapa sang raja dengan senyumnya yang merekah.
Di sampingnya sang ratu ikut menyambutnya dengan tersenyum lembut. Sekilas melirik sang ratu, Jingga lalu mengalihkan pandangannya kepada sang raja.
"Terima kasih, Yang Mulia Raja. Kedatanganku kemari untuk memberikan jawaban atas tawaran yang tidak sulit diputuskan. Hamba bersedia menjadi prajurit kerajaan" balas Jingga menerima tawaran.
"Ha ha ha, aku sudah menduganya. Kau tidak mungkin menolaknya" timpal sang raja lalu melirik jenderalnya.
"Jenderal Qei, silakan kau antar iblis muda ke kamp pelatihan prajurit untuk dikenalkan sebagai prajurit baru di bawah kepemimpinanmu" pinta sang raja.
"Baik, Yang Mulia. Hamba laksanakan" sahut Jenderal Qei mengepalkan kedua tangannya sambil membungkuk.
Jingga dibawa oleh jenderal Qei menuju sebuah lembah di bawah kaki bukit yang merupakan pusat pelatihan para prajurit kerajaan.
Tap, tap.
"Salam sejahtera, Jenderal perang Qei" seru para prajurit setengah berlutut menyambutnya.
Jenderal Qei melangkah dengan begitu gagah menuju kursi kebesarannya diikuti oleh Jingga di belakangnya.
Setelah jenderal Qei duduk, beberapa komandan memasuki ruang utama kediaman sang jenderal.
"Komandan Lung, iblis muda di sampingku adalah calon prajurit kerajaan yang direkomendasikan oleh Raja Taiyangshen. Aku menyerahkannya kepadamu" ujar jenderal Qei memperkenalkan Jingga.
"Baik, Jenderal" balas Komandan Lung lalu membawa Jingga keluar dari kediaman sang jenderal.
Jingga dibawa ke area kamp pelatihan prajurit, terlihat olehnya ribuan prajurit dalam satu divisi tempur sedang berlatih di lapangan rumput yang sangat luas.
"Jindan!" Teriak komandan Lung.
Seorang prajurit yang sedang memanggul puluhan tombak bergegas menghampiri.
"Saya, Komandan. Siap melaksanakan perintah" ucapnya tegas.
"Kau mendapatkan teman baru yang akan membantumu dalam mengatur logistik. Bimbinglah dia dengan baik"
"Siap, Komandan"
Komandan Lung melirik Jingga yang tenang saja memperhatikannya.
"Bekerjalah dengan baik bersamanya" pesan komandan Lung.
"Baik, Komandan" balas Jingga lalu berjalan dengan prajurit bernama Jindan.
Beberapa langkah berikutnya, Jindan meminta Jingga untuk merapikan tombak yang tercecer bekas pelatihan. Ia pun mengikutinya merapikan semua tombak.
"Aku harus membuat sesuatu yang menyenangkan di tempat ini" pikirnya mencari sebuah ide.
Setelah selesai merapikan tombak, Jingga masih belum menemukan sebuah ide yang akan dicanangkannya.
Tong, tong, tong!
Terdengar suara lonceng berbunyi, tak lama terdengar deru langkah kaki prajurit berjalan cepat ke arah timur kamp pelatihan. Jingga mengikuti langkah kaki prajurit ke arah yang dituju.
"Jingga!" Teriak seorang prajurit memanggilnya.
Jingga menghentikan langkah lalu berbalik menoleh ke arah prajurit yang melambaikan tangan. Dengan langkah cepat, Jingga menghampirinya.
"Kau gantilah pakaianmu dengan zirah prajurit logistik" pinta seorang prajurit yang diketahui bernama Jindan menyerahkan seragam zirah berwarna hitam bergaris biru.
Jingga menerimanya lalu memasuki sebuah barak dan langsung mengganti pakaiannya. Tak lama kemudian, ia berjalan santai menyusul prajurit yang sudah berkumpul di area lapangan luas.
Seorang komandan yang berada di atas podium menghentikan pidatonya, ia menatap dingin seorang prajurit yang berjalan santai dari kejauhan.
"Prajurit yang di sana, kemari!" Teriaknya memanggil.
Semua kepala serentak menoleh ke belakang, Jingga yang sedang berjalan santai mengacuhkan panggilannya. Ia celingak-celinguk mencari kelompok prajurit yang memakai zirah yang sama sepertinya.
"Hei!" Teriak komandan semakin keras terdengar.
Jingga masih saja tidak mempedulikannya, ia berjalan santai ke arah kelompoknya tanpa mempedulikan pandangan semua orang yang menatapnya dengan heran.
"Tangkap dia dan seret ke hadapanku" perintah komandan yang sudah kesal meneriakinya.
Dua orang prajurit berbadan besar keluar dari barisannya dan langsung menghampiri Jingga yang berbaris seorang diri di belakang barisan kelompoknya.
Tanpa sepatah kata, keduanya lalu menarik tangan Jingga dan menggiringnya ke hadapan komandan.
Bugh! Bugh!
Kedua lutut Jingga ditendang keras oleh kedua prajurit untuk berlutut, namun Jingga masih saja berdiri kokoh dengan santainya ia menatap komandan yang semakin geram melihatnya.
Sring!
Pedang ditarik keluar dari sarungnya, sang komandan turun dari podium lalu dengan cepat menebaskan pedang ke arah leher Jingga. Namun bilah tajam pedang mengenai lehernya sendiri.
Sret! Bugh!
Kepala jatuh menggelinding di atas rumput, sang komandan pun mati di hadapan para prajurit.
Semua mata prajurit terbelalak kaget melihatnya, tidak ada yang tahu bagaimana sang komandan bisa tewas tanpa adanya seorang pun yang menyerangnya. Mereka semua tidak percaya seandainya sang komandan menebas lehernya sendiri.
Jingga sendiri terlihat masih dipegangi tangannya dengan erat oleh kedua prajurit.
Suasana pun menjadi hening, dua prajurit yang menggenggam lengan Jingga langsung melepaskannya.
"Seru juga membunuh tanpa menyentuh" gumam pikir Jingga yang menggunakan kekuatan jiwanya memenggal leher komandan.
Ia lalu berjalan ke arah podium dan berbalik menatap para prajurit yang masih terdiam membisu.
"Hem!" Deham Jingga sambil mengusapi tenggorokkannya.
"Halo semuanya, perkenalkan saya Jingga yang akan menggantikan komandan kalian yang bunuh diri" ujar Jingga memperkenalkan diri.
Para prajurit terus saja diam memperhatikannya. Jingga menyapu pandangannya memperhatikan seluruh prajurit yang berjajar rapi di hadapannya.
"Baiklah, aku ingin kalian pergi ke kota untuk membunuh semua orang yang kalian temui dan bakar setiap bangunan kota" imbuhnya memberikan perintah.
Jingga menyihir semua prajurit dengan kekuatan jiwa pengendali hati dan pikiran.
Semua prajurit serentak menganggukinya lalu berjalan ke area gudang senjata dan berlalu pergi meninggalkan kamp pelatihan.
"Ha ha ha, ini seru" ucapnya lalu turun dari podium mengikuti para prajurit berjalan.