Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Biru Langit


Bukannya takut, anak kecil itu langsung melompat menggigitnya dan mencengkeram wajahnya, Jingga begitu geli dengan serangan anak kecil yang menyerangnya.


"Sudahlah, jangan menggelitiku seperti itu" ucapnya lalu mendorong anak kecil menjauhi dirinya.


Anak kecil menangis dengan kencang. Ia yang sudah berusaha keras melukai Jingga malah gigi dan kukunya merasakan sakit karena didorong oleh Jingga.


Beberapa saat kemudian, anak kecil berhenti menangis. Ia terus menatap Jingga dengan lekat, Jingga mengacuhkannya. Dengan posisi bersila, Jingga menutup kedua matanya mengistirahatkan tubuhnya setelah berjalan cukup jauh di kedalaman hutan.


Siang hari Jingga membuka kembali kedua matanya, ia melirik kanan kiri tidak menemukan keberadaan anak kecil di dalam gubuk. Ia lalu keluar kemudian meregangkan tubuhnya yang sedikit kaku.


"Kemana tuh bocah?" Gumam Jingga memperhatikan sekitarnya.


Merasa tidak membutuhkannya, Jingga memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya ke lembah Anggrek Darah. Baru beberapa langkah kakinya meninggalkan gubuk, anak kecil berlari menghampirinya lalu menggesekkan kepalanya di punggung Jingga.


"Hei bocah, kenapa kau berperilaku seperti Jirex?" Tanya Jingga membalikkan tubuhnya.


Ia berjongkok di depan anak kecil yang sorot matanya terlihat cerah.


"Kembalillah ke gubuk! Aku tidak bisa membawamu" pinta Jingga mengusirnya.


Anak kecil itu malah mendekap Jingga dengan menjulurkan lidahnya, ia mengendus-endus seperti hewan.


Jingga merasa iba dengannya, ia lalu mengusapi anak kecil itu dan memangkunya di pundak yang mana kedua kaki anak kecil melingkar di lehernya.


"Entah anak siapa dirimu ini, bocah? Tapi aku tidak bisa membiarkanmu hidup seperti hewan di tengah hutan" ujar Jingga memutuskan membawanya.


Lumayan jauh ia berjalan menyusuri hutan sambil memangku anak kecil. Jingga akhirnya menemukan aliran sungai yang terlihat sangat jernih airnya.


Ia langsung menurunkan anak kecil yang tertidur bersandar di kepalanya.


"Bangunlah, bocah! Aku akan memandikanmu yang begitu tak terurus" ucap Jingga langsung menutup hidung si bocah dan berhasil membangunkannya.


Anak kecil itu terus saja menatap Jingga tanpa berkedip, tak lama ekspresi wajahnya berubah tatkala air dingin membasahi kulitnya.


Jingga memandikannya dengan sedikit kasar karena harus menggosok tubuh anak kecil yang terlihat begitu kucel.


Air mata menetes membasahi wajah anak kecil yang membiarkan Jingga terus menggosok tubuhnya. Selang beberapa lama, anak kecil yang tadinya kusam, kotor dan penuh luka sekarang terlihat bersih.


"Kau lumayan tampan juga, bocah. Tapi masih lebih tampan diriku ha ha" ucap Jingga terlihat begitu senang setelah memandikan anak kecil yang ditemuinya di gubuk kayu.


Jingga lalu menopang dagunya sambil terus memperhatikan wajah anak kecil yang begitu imut.


"Aku kasih nama apa ya yang cocok untukmu?" Gumam pikirnya.


Cukup lama Jingga memikirkannya, namun ia tidak berhasil menemukan nama yang sesuai keinginannya. Sambil memangkas rambut anak kecil yang panjang dengan pedangnya, Jingga terus memilah dan memilih nama yang sesuai.


"Hei, sekarang kau sangat tampan" pujinya setelah selesai memangkas rambut anak kecil.


Jingga membuka pakaian atasnya dan memakaikannya ke tubuh polos anak kecil di depannya.


Ia ikut bersandar di batang pohon sambil mengusapi kepala anak kecil yang bersandar di bahunya.


Jingga mendongak memperhatikan langit biru yang begitu cerah di balik rimbunnya dedaunan.


"Walau terhalang oleh ranting-ranting dan dedaunan, langit tetaplah indah dan begitu perkasa. Lihatlah ke atas sana!" Ujar Jingga dengan menunjuknya.


Anak kecil di sebelahnya mengerti pada apa yang ditunjukkan oleh Jingga. Senyumnya lebar memperhatikan langit biru di atasnya.


Jingga menolehnya, ia mendapatkan nama yang cocok untuk anak kecil di sampingnya.


"Langit Biru, sekarang namamu adalah Langit Biru"


"Ah jangan, seperti namaku yang diambil dari warna. Aku lebih suka memanggilmu Biru. Jadi namamu sekarang adalah Biru Langit, ya kau adalah Biru Langit" ucap Jingga memberikannya nama pada anak kecil yang tersenyum lebar menatapnya.


Jingga melangkahkan kaki menyebrangi sungai, ia terkejut bagian tengah sungai sangatlah dalam.


"Ha ha, sesuatu yang terlihat aman tidak selalu memberi ketenangan" ucapnya lalu melanjutkan langkah melintasi sungai.


Saking dalamnya, Jingga sampai harus merentangkan kedua tangannya ke atas agar Biru tidak ikut tenggelam bersamanya.


Beberapa saat kemudian, kepalanya menyembul keluar setelah mendekati bagian daratan. Biru didudukkannya kembali di pundaknya dan sekarang berjalan menyusuri area ilalang yang cukup tinggi sampai menyisakan bagian kepala Jingga yang masih bisa melihat area luasnya ilalang.


Setelah berjalan ke tengah ilalang, tiba-tiba saja Biru meraung dengan menjambak rambut Jingga merasakan adanya bahaya di dekatnya.


"Kau memiliki insting yang bagus, tenanglah! Biarkan mereka terus mengintai kita" ucap Jingga yang merasakannya juga.


Jingga terus melangkah di tengah ilalang yang tinggi dengan waspada, tangan kanannya menggenggam gagang pedang.


Desis ular mulai terdengar, Jingga tersenyum mendapati beberapa ekor ular mulai mendekatinya.


"Langkah bayangan"


"Tarian pedang Asura"


Wuzz!


Jingga berkelebat cepat menebaskan pedangnya di tengah ilalang.


Sret! Sret! Sret!


Ratusan sayatan pedang dilayangkannya ke tubuh beberapa ular yang merayap di bawah rerumputan.


Hanya beberapa helaan napas Jingga memasukkan kembali pedang ke dalam sarungnya.


Biru yang menjabak rambut Jingga terbelalak akan aksi yang ditunjukkan oleh Jingga. Ia memperhatikan area bundar yang dipenuhi oleh potongan tubuh ular yang mati terkena tebasan pedang. Setelahnya Biru langsung melompat dari pundak Jingga dan memakan daging mentah dari tubuh ular.


Jingga yang melihatnya dibuat heran, namun ia membiarkan Biru terus memakan tubuh ular. Ia lalu mencari batu dan membuatkan api untuk memasak ular.


Kobaran api menyala di tengah ilalang, Jingga menusuk beberapa bagian tubuh ular dengan pedangnya dan memanggangnya.


Setelah cukup matang, Jingga membaginya ke Biru di dekatnya.


"Makanlah" ucap Jingga menyodorkannya.


Biru langsung mengambilnya dan mengunyah daging ular yang telah matang. Sayangnya ia telah kenyang sebelumnya, ia hanya mencicipinya saja.


"Ayo naik lagi, sebentar lagi langit gelap" pinta Jingga yang memperhatikan matahari mulai terbenam di ufuk barat.


Biru langsung menaiki pundak Jingga. Tidak ingin kemalaman di area ilalang. Jingga berlari cepat untuk bisa keluar area ilalang.


Wuzz!


Langkah cepat Jingga terus berkelebat membelah ilalang yang dilaluinya.


Sampai pada area tinggi, Jingga mulai memperlambat larinya, ia berlompatan dari undakan ke undakan lain pada tebing sebuah bukit.


Langit mulai gelap, Jingga akhirnya sampai pada puncak bukit yang terhampar area datar di atasnya.


"Sementara kita istirahat di sini, besok kita lanjutkan mencari sebuah desa di bawah kaki bukit" ucap Jingga lalu menurunkan Biru.


Jingga kembali bermeditasi, Biru yang melihatnya langsung mengikutinya bermeditasi. Ia merasa kehebatan Jingga karena sering duduk bersila. Jingga membuka kedua matanya lalu tersenyum simpul memperhatikan Biru yang menirunya.


Sinar mentari pagi membangunkan keduanya, Biru langsung saja menaiki kembali pundak Jingga tanpa diminta. Jingga berdiri lalu berjalan ke ujung tebing. Ia melihat keberadaan sebuah desa yang cukup banyak penduduknya dilihat dari banyaknya bangunan rumah.


Dengan begitu bersemangat, Jingga langsung melompat dari puncak bukit menuruni tebing yang sangat curam.