Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Sang Penguasa Yang Urakan



Feichang mendekatinya dengan senyumannya yang merekah namun tidak terlihat indah.


"Berhentilah tersenyum aneh seperti itu. Aku tidak menyukainya." Kata Jingga yang langsung menyumpal bibir Feichang dengan telapak tangannya lalu melepaskannya.


"Aku ingin terlihat seperti para gadis di alam lain. kenapa kau melarangnya?"


Jingga mengerutkan bibir menanggapinya. Ia lalu mengalihkan pandangannya ke arah Ratu Xin Li Wei dan Jenderal Jieru yang baru saja menyusulnya. Sorot matanya begitu tajam.


"Sepertinya aku tidak perlu bersembunyi lagi untuk membangun pasukan. Namun, biarkan saja para pengikutku terus menjalankan misinya sesuai dengan apa yang aku butuhkan. Kalian tidak perlu mengganggunya."


Ratu Xin Li Wei bersama Jenderal Jieru menganggukinya.


"Yang Mulia, aku akan membuatkan acara penyambutan sekaligus pengukuhan Yang Mulia sebagai Penguasa alam iblis. Apakah Yang Mulia berkenan?"


Jingga mengusap dagu mempertimbangkan tawaran Ratu Xin Li Wei. Dalam benaknya, ia malah teringat paras cantik istrinya Xian Hou. Jingga tersenyum-senyum sendiri mengingatnya. Sontak saja, Ratu Xin Li Wei mengernyitkan wajahnya dengan tatapan heran memperhatikan pemuda yang berdiri di depannya itu.


"Apakah Yang Mulia tampan begitu senang akan dinobatkan sebagai Penguasa alam iblis?" gumam sang Ratu menerkanya.


Sementara di alam peri. Xian Hou yang bisa merasakan suasana hati suaminya langsung tersenyum kecut, akan tetapi ia tidak memungkiri bahwasanya hal itu membuatnya bahagia.


"Tumben, kauingat istrimu. ke mana saja?" Sindir Xian Hou sedikit ketus mengatakannya.


"He-he, tidak boleh ya kalau aku merindukanmu?" balas Jingga terkekeh.


"Kalau rindu, pulanglah!"


"Tunggu saja. Sebentar lagi aku pulang ... kita bisa guling-guling di taman bunga,"


"Dih! Tidak akan aku kasih." Ketus Xian Hou menggodanya.


Ratu Xin Li Wei yang semakin heran memperhatikannya, akhirnya tidak tahan lagi untuk melihatnya dari dekat. Ia lalu berjinjit merapatkan wajahnya tepat sejengkal mengenai wajah Jingga yang hatinya masih tertaut dengan Xian Hou istrinya.


Jingga yang kembali sadar dari lamunannya sedikit terkejut melihat mata bulat sang Ratu dengan jarak begitu dekat.


"Hei, Nyonya! Apa kau tidak malu dilihat semua orang?" tegur Jingga yang langsung menjauhkan wajahnya.


"Kukira kau akan menciumku, sudahlah! Jadi apa yang sedang kaulamunkan itu?"


"Aku melamunkan istriku. Kenapa? Cemburu?" kata Jingga dengan memasang wajah tak enak dipandang.


"Menyebalkan!" tanggap sang Ratu lalu berjalan cepat melewatinya.


Jingga menoleh ke arah tatapan heran para pengikutnya yang lain. Ia terkekeh pelan menanggapinya.


"Chang'er!" panggil Jingga mencairkan suasana.


"Iya, Pria Imut," Sahut Feichang mendekatinya.


"Tidak apa-apa. Memanggil saja."


"Hem, ada ya seorang penguasa iblis yang aneh begini,"


"Ha-ha-ha. Masalah?"


"Tahu ah, gelap!"


Setelah perbincangan tak jelas dengan Feichang, Jingga lalu berjalan menyusul Ratu Xin Li Wei yang melangkah ke arah dalam istana.


Sesampainya di dalam istana tepatnya di aula utama istana iblis. Sang Ratu meminta Jingga untuk menempati kursi singgasana miliknya. Namun Jingga langsung menolaknya dan meminta Ratu Xin Li Wei untuk menempatinya.


Tarik ulur di antara keduanya menjadi sengit karena tidak ada satu pun yang mau menduduki singgasana kerjaan iblis. Sontak saja hal itu membuat para iblis menjadi heran dengan tingkah laku keduanya. Pada akhirnya, Jingga mengalah setelah didesak oleh iblis lainnya untuk menempati singgasana. Ia pun mendudukinya dengan kedua kaki melintang di atas lengan kursi.


Tak ayal, para iblis kembali dibuat terperangah melihatnya. Jingga nampak seperti seorang pemuda urakan yang tidak mengenal tata krama kerajaan. Ia bertindak semaunya sendiri. Namun, tidak ada satu iblis pun yang berani memprotesnya.


Dengan lagaknya yang urakan, Jingga tidak memedulikan keberadaan pengikutnya yang sedari tadi menunggu titah pertamanya sebagai penguasa iblis. Ia malah mengeluarkan sebotol arak dari cincin spasial dan langsung menenggaknya.


"Ah! Ini luar biasa," ucap Jingga merasakan kembali kenikmatan yang sempat dilupakannya.


"Kalian adalah iblis yang imut, lucu, dan menggemaskan. sekali-kali aku ingin membuat permainan seru untuk kalian semua. Ha-ha-ha." Ujar Jingga yang lagi-lagi membuat para pengikutnya merasa jengkel dibuatnya.


"Mimpi apa bangsa iblis mendapatkan penguasa aneh sepertinya?" keluh batin To Tao begitu gemas ingin mencabik tuannya.


"Memangnya iblis bisa bermimpi? Tidur saja tidak pernah." Ucap Jingga menimpalinya.


To Tao langsung menunduk malu mendengarnya. Ia melangkah mundur bersembunyi di belakang punggung iblis tua yang mengalahkannya.


Jingga menggelengkan kepala melihatnya, ia lalu kembali menenggak arak sambil menutup kedua matanya. Para iblis saling melirik satu dengan yang lainnya.


"Ratu Xin Li Wei, coba kautanyakan kepada Yang Mulia, titah apa yang harus kami laksanakan?" tanya Bobeng tidak ingin dirinya terus berada di istana.


"Kau boleh pergi bersama Chang'er dan Nyonya Nuren ke klanmu. Aku belum memiliki misi untukmu." Sosor Jingga tanpa menolehnya.


"Terima kasih, Yang Mulia. Kalau ada perintah, jangan ragu menyampaikan kepada kami," ujar Bobeng dengan menjura bersama anak dan cucunya,


"Hem!" Jingga hanya berdeham saja menanggapinya.


Bobeng lalu menghilang pergi meninggalkan istana bersama Feichang dan Nuren. Kini yang tersisa hanya To Tao, penasihat Chao Fu, Ratu Xin Li Wei, dan Jenderal Jieru yang masih berdiri tenang menunggu titah dari Jingga. Sementara kedua puluh pasukan yang setia kembali ke tempatnya masing-masing tanpa ikut memasuki ke dalam aula istana.


Setelah puas dengan araknya, Jingga akhirnya duduk dengan sikap normal di hadapan pengikutnya.


"Nyonya, istana ini begitu sepi. Ke mana para pejabatmu yang lain?" tanya Jingga tidak melihat keberadaan siapa pun lagi di dalam aula istana.


Sang Ratu begitu geram mendengarnya. Tampak, ia mencoba meredam kekesalannya. Setelah sedikit tenang, ia lalu menjawabnya.


"Jujur saja, aku ingin mencabik-cabik tubuhmu lalu memakannya. Kau begitu menyebalkan," ungkapnya meluapkan kekesalan,


"Pejabat yang kumiliki di istana hanya menyisakan penasihat Chao Fu dan Jenderal Jieru. Tapi, Yang Mulia tidak perlu khawatir. Pejabat di luar istana sangatlah banyak, aku akan mempromosikan beberapa iblis untuk menggantikan semua yang telah mati." Imbuh sang Ratu menjelaskannya.


"Mereka mati kenapa?" sosor Jingga menyambungnya.


"Ah! Aku tidak tahan lagi!" Geram sang Ratu lalu berkelebat menyerang Jingga.


Wuzz!


Ratu Xin Li Wei dengan gemas mencengkram pemuda yang terkekeh melihatnya. Namun bukanlah Jingga yang ia cengkeram dengan kesal. Melainkan si iblis hitam yang entah kapan sudah menggantikan posisi Jingga di kursi singgasana.


"Uhuy! Kalian pasangan yang serasi," ejek Jingga yang berdiri di samping penasihat iblis Chao Fu.


Ratu Xin Li Wei menghentikan aksinya memberondong iblis hitam yang diam saja karena senang diperlakukan tak senonoh oleh sang Ratu. Ia lalu melirik Jingga dengan sorot mata membunuh dan langsung mengeluarkan pedangnya.


Sring!


Wuzz!


Ratu Xin Li Wei melayang cepat menyerang Jingga dengan menjulurkan pedangnya. Namun bukan serangannya yang dicemaskan oleh Jingga, akan tetapi sesuatu yang membusung indah yang membuat Jingga tidak ingin beranjak dari posisinya.


"Wow! Indahnya." Puji Jingga terus menatap sesuatu milik Ratu Xin Li Wei dengan sorot mata berbinar.


Sret!


Tiba-tiba saja bilah pedang Ratu Xin Li Wei langsung melebur ketika ujungnya menyentuh dada Jingga yang sengaja membiarkannya. Jingga lalu menangkap tubuh sang Ratu ke dalam pelukannya.


"Apa kau menyukainya, Nyonya?"


Sang Ratu menganggukinya lalu membenamkan kepalanya di dada bidang Jingga sambil melingkarkan tangan memeluknya begitu erat.


"Sejak kapan suamiku menyukai wanita tua? Jelek pula," suara sinis dari sang Istri terdengar jelas di alam pikirnya.


Jingga yang panik langsung saja melempar tubuh Ratu Xin Li Wei yang sedang memeluknya dengan erat.


Wuzz! Dhuar!


Ratu Xin Li Wei terkejut mendapatkan dirinya terpelanting cepat hingga membentur dinding tebal istana. Saking cepatnya, ia tidak sempat menghindari tubuhnya dari benturan keras yang dialaminya. Ia pun tergeletak merasakan sakit di sekujur tubuhnya.