
Bai Niu dibantu Qianmei bergegas mengumpulkan cincin spasial dari para kultivator, setelahnya mereka langsung memindai isinya.
“Kak, isinya sangat banyak. Sepertinya mereka adalah perampok yang memanfaatkan bencana alam,” kata Bai Niu melaporkannya kepada Jingga.
Jingga tidak terkejut akan temuan yang dilaporkan oleh Bai Niu, karena ia sudah mengetahuinya sejak di pengungsian.
“Ambil secukupnya, sebagian lagi kita serahkan kepada orang tua kita,” balas Jingga lalu membuka portal ke pengungsian.
Jingga dan kedua adiknya beserta dengan Xian Hou langsung memasuki portal.
“Ayah, Ibu!” Panggil Bai Niu.
Zhen Lie dan Luo Xiang tampak bingung melihat anak-anaknya kembali dengan cepat. Biarpun begitu, mereka tetap menyambutnya dengan senang hati.
“Sepertinya ada sesuatu sampai kalian harus kembali secepat ini,” ucap Luo Xiang menatap serius keempatnya.
“He-he, iya betul, Ibu. Kami ke sini hanya ingin mengembalikan harta rampasan dari orang-orang aliansi Es Utara. Ini, Ibu. Terimalah!” balas Bai Niu lalu menyerahkan belasan cincin spasial ke tangan Luo Xiang.
Zhen Lie membelalakkan mata memperhatikan tumpukan cincin spasial yang tergenggam di telapak tangan istrinya.
“Apa kalian membunuh mereka?” tanya Zhen Lie penasaran.
Jingga, Qianmei dan Xian Hou langsung melirik ke arah Bai Niu yang cengengesan sambil garuk-garuk kepala.
“He-he, iya, Ayah. Mereka semua pantas mendapatkannya karena memanfaatkan situasi yang tidak seharusnya. Ayah bisa lihat sendiri isi dalam cincin spasialnya,” ujar Bai Niu.
“Ayah, Ibu, kami harus segera kembali. Sampai jumpa!” potong Jingga tidak ingin berlama-lama.
Ia lalu menarik tangan Xian Hou untuk memasuki kembali portal yang masih terbuka di belakangnya, diikuti oleh Qianmei dan Bai Niu yang menyempatkan diri memeluk kedua orang tuanya.
“Kalian semua, hati-hati.” Pekik Luo Xiang sambil mengayunkan jemari tangan.
“Baik, Ibu,” sahut Jingga dan yang lainnya serentak.
Sekembalinya di hutan, Jingga langsung mengedarkan pandangannya memperhatikan area hutan yang tidak terdampak oleh kehancuran alam yang disebabkan adanya fluktuasi energi berlebih di alam iblis.
“Suamiku, ada apa?” tanya Xian Hou yang kedua matanya tidak lepas memperhatikan suaminya.
Jingga meliriknya sekilas sambil tersenyum renyah. Ia lalu kembali memperhatikan area hutan di sekitarnya dan berkata,
“Aku masih belum dapat jawaban, kenapa hutan ini bisa aman dari bencana alam? Sedangkan area di luarnya hancur berantakan. Apa mungkin ada sesuatu yang menjaganya?”
Xian Hou mendongakkan wajah ikut memikirkannya. Ia membenarkan apa yang dikatakan oleh suaminya, namun, ia sendiri tidak bisa memahaminya. Akan tetapi, ia mulai mengaitkan hutan dengan para kultivator aliansi Es Utara yang memilihnya sebagai tempat berkumpul.
“Suamiku, apa menurutmu ini ada kaitannya dengan orang-orang tadi?”
“Maksudmu, mereka yang tewas itu?”
“Ya, aku merasa mereka terhubung dengan hutan ini. Mereka terlihat begitu menguasai area. Coba ingat kembali bagaimana mereka mengeluarkan formasi lingkaran dan prisma ketika bertarung dengan Niu’er, … bukankah itu bukti bahwa mereka tidak berada di sini dalam sehari?” beber Xian Hou menganalisisnya.
“Maaf, Kak Jingga dan Kak Hou’er. Aku iseng menghitung mayat orang-orang dari aliansi Es Utara. Bukankah seharusnya berjumlah 27 orang ya, Kak? Dari perhitunganku hanya berjumlah 17 orang saja, sisanya ke mana ya?” ujar Qianmei menyampaikannya.
Jingga mengerutkan dahi baru mengetahuinya, ia sendiri tidak menghitung jumlah orang-orang dari aliansi Es Utara. Ia pun menoleh ke arah adiknya Bai Niu meminta penjelasan.
“Sisanya adalah sepuluh orang yang menusukku. Mereka masih hidup,” ungkap Bai Niu yang tidak melihat keberadaan mayat dari sepuluh orang yang menusuknya ketika bertarung.
“Ha-ha-ha. Ini yang aku harapkan. Mereka akan mengumpulkan banyak orang dan menghimpun kekuatan untuk membalaskan dendam kematian anggotanya.”
“Apa kita akan menunggu mereka di sini, Kak?” tanya Bai Niu.
“Tidak perlu, biarkan mereka mencari kita …, ayo kita lanjutkan perjalanan ke kota Luyan!” jawab Jingga lalu memimpin jalan menelusuri hutan.
“Kenapa langit terlihat sama saja sejak kita memasuki hutan?” gumam Jingga yang tidak luput terus memperhatikan langit di atasnya.
“Suamiku, ada apa?” kembali Xian Hou menanyakannya.
Jingga menolehnya dengan seutas senyum yang terukir di bibirnya, namun, kali ini sorot matanya terlihat begitu tajam menatap Xian Hou yang berjalan di sampingnya.
“Sudah berapa lama kita berjalan di hutan ini?” balas tanya Jingga kepada istrinya.
Xian Hou tampak bingung mendapat pertanyaan yang tidak terlintas sekalipun dalam pikirannya.
“Sungguh, aku tidak tahu sudah berapa lama kita berada di hutan ini. Mungkin, Niu’er dan Mei’er mengetahuinya,”
Xian Hou lalu menoleh ke belakang, namun, ia hanya melihat keberadaan Bai Niu saja.
“Ke mana, Mei’er?”
Bai Niu langsung memutar badan mencari adiknya.
“Maaf, Kak. Aku tidak tahu,” jawab Bai Niu tampak bingung sendiri.
WUZZ!
Tiba-tiba Qianmei sudah berada di depan ketiganya dengan wajah sedikit memerah karena malu.
“Maaf, tadi kebelet buang air,” ucapnya sambil menundukkan wajah.
“Ya sudah, tidak masalah. Kita istirahat sejenak di sini.” Sambung Jingga mencairkan suasana.
Jingga menyandarkan tubuhnya pada pohon yang cukup besar di dekatnya, sementara Xian Hou seperti biasanya langsung bersandar di tubuh Jingga. Bai Niu dan Qianmei duduk bersila di hadapan Jingga dan Xian Hou.
“Sepertinya hutan ini memang aneh, lihatlah ke langit, dari awal kita masuk hutan sampai sekarang masih saja sama. Seolah waktu berhenti di senja hari,” ujar Jingga mengungkapkannya.
Bai Niu dan Qianmei langsung mendongak ke atas. Benar saja apa yang dikatakan oleh Jingga, langit masih terlihat terang.
“Kak Jingga, apa mungkin ada iblis di hutan ini?” tanya Qianmei menebaknya.
“Ha-ha-ha,” Jingga tertawa mendengarnya.
Qianmei mengernyitkan wajah tidak mengerti kenapa kakaknya menertawai pertanyaannya.
“Apa kamu lupa kalau aku ini seorang iblis?” balik tanya Jingga.
Qianmei langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia benar-benar malu karena mempertanyakan hal bodoh yang tidak seharusnya ia tanyakan.
“Lalu, apa yang akan kita lakukan selanjutnya? Apa kita akan memeriksa seluruh hutan ini?” tanya Xian Hou.
Jingga terdiam sejenak memikirkannya. Tak lama kemudian, ia tersenyum lebar mendapatkan ide yang menurutnya bisa mengungkap misteri keanehan hutan.
“Apa yang kamu rencanakan, suamiku?”
“Kamu akan tahu sebentar lagi, ayo kita terbang!”
Jingga bersama ketiganya melesak terbang meninggalkan kedalaman hutan.
"Kalian tahu apa yang salah dengan hutan di bawah kita?" kembali Jingga mengajukan pertanyaan kepada ketiganya.
Xian Hou yang mendengarnya mulai sedikit geram karena Jingga selalu saja melemparkan tanya yang membuatnya harus berpikir keras. Ia pun mendengus kesal karenanya.
"Katakan saja langsung, tak perlu bertele-tele. Kamu selalu saja membuatku pusing," keluhnya tidak mau lagi menguras otak untuk menjawabnya.