Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Gadis Penyihir Versus Permaisuri


Kaisar Xiao Manyue berkeringat dingin diselidiki oleh Jingga. Ia yang sebelumnya terlihat gagah, berwibawa dan penuh karisma, sekarang menampakkan watak aslinya sebagai seorang wanita.


Untung saja semua orang sedang fokus menyaksikan pertarungan sengit antara permaisuri Kim Rei dengan gadis penyihir Mei Moshu.


"Berhentilah menatapku seperti itu, aku memang seorang wanita. Puas!" Kesal Xiao Manyue dengan tatapannya yang menusuk ke dalam paru-paru.


Mendengar pengakuan dari kaisar Xiao Manyue, kedua bola mata Jingga langsung tertuju pada bagian berharga milik Kaisar yang terlihat sedikit membusung.


"Lihat apa kau pemuda mesum?" Tegur kaisar Xiao Manyue langsung menutupi miliknya dengan melingkarkan kedua tangannya di dada.


"Ya, lihat itu. Itu tuh" jawab Jingga yang seenaknya menunjuk bagian berharga milik kaisar Xiao Manyue dengan memutar telunjuknya.


"Bajingan tengik, kutu kupret, kadal budug, kucing kurap" umpat Kaisar dengan saliva yang menyembur ke wajah Jingga di depannya.


"Jangkrik, Bos!" Balas Jingga sambil mengeringkan wajahnya.


"aku hanya penasaran saja, kenapa kalian bisa terbalik begini? Apa kalian terkena kutukan?" Imbuh Jingga bertanya.


"Apa urusanmu?" Ketus Kaisar begitu jengkel.


"Gelarnya saja yang kaisar, orangnya lebih pantas jadi penjaga gerbang kota" ejek Jingga menilai bentuk fisik sang Kaisar yang maskulin.


...*Area Pertarungan*...


Pertarungan masih berlangsung seru dan seimbang, keduanya terlihat tidak menurunkan tempo serangan sehingga pertarungan keduanya tidak terlihat seperti pertarungan dua pendekar karena kecepatan dan kekuatan yang ditunjukkan keduanya di luar kemampuan para pendekar yang menyaksikannya.


Sedikit gambaran. Permaisuri Kim Rei merupakan keturunan seorang dewa dari klan Kim yang tinggal di alam dewa. Ia memiliki darah campuran dari ibunya bernama Kim Hafni, seorang dewi yang pada masa perang besar membantu menyelamatkan manusia dari kepunahan, khususnya di benua Majang yang sekarang berganti menjadi Tanah Para Dewa, dan ayahnya seorang petarung dari negeri Sakura.


Kembali ke pertarungan. Mei Moshu tampak sedikit terkejut dengan kemampuan silat permaisuri yang sanggup mengimbanginya.


"Kau bukanlah seorang manusia biasa, aku mencium bau darah dewa pada tubuhmu" ucap Mei Moshu di sela pertarungannya.


Wuzz! Trang! Trang!


Sabetan pedang terus dilayangkan oleh permaisuri Kim Rei yang sangat gencar menyerangnya.


"Kau tidak perlu banyak bicara, kita nikmati saja pertarungan kita sampai salah satu dari kita ada yang mati" balas permaisuri Kim Rei yang terus melayangkan tebasannya.


"Huh! Sombong sekali dirimu, Nyonya" dengus Mei Moshu lalu memancarkan aura iblisnya.


Wuzz!


Permaisuri Kim Rei terdorong beberapa langkah menahan aura iblis yang menekannya penuh intimidasi.


"Sial! Ini benar-benar aura iblis"


Permaisuri Kim Rei merasakan sesak di dadanya. Walaupun ia memiliki kekuatan seorang dewa, ia sangat jarang menghadapi lawan yang lebih tangguh darinya. Bahkan di alam fana sekarang, ia merupakan kultivator tertinggi kedua setelah tetua sepuh Qianfan dan sekarang ia menjadi satu-satunya kultivator tertinggi di alam fana.


Mungkin saja sekarang ia menjadi kultivator terakhir yang masih hidup paska perang besar yang menghancurkan tiga alam ratusan tahun silam.


"Ha ha ha, kekuatanku kembali" kekeh Mei Moshu yang akhirnya bisa merasakan kembali energi iblisnya setelah lebih dari delapan bulan terbelenggu.


"Jiandiyu" ucap Mei Moshu mengeluarkan sebuah pedang dari alam jiwanya.


Tampak sebuah pedang yang bagian bilahnya seperti lahar api yang menyala kemerahan.



ilustrasi pedang Jiandiyu. Sumber : artstation


Jingga yang menyaksikan dari kejauhan begitu terpana melihat pedang yang begitu mengerikan.


"Kaisar, eh Nyonya. Kau tunggulah di sini, aku akan memberikan pedang Langit kepada istrimu, eh Suamimu" pinta Jingga yang belepotan menyebut keduanya.


Wuzz!


Ia berkelebat menghampiri permaisuri Kim Rei yang masih menahan aura iblis yang semakin menekannya.


"Tuan cantik. Eh Permaisuri maksudnya. Pakailah Jiantian ini" ucap Jingga menyodorkannya.


Permaisuri Kim Rei menolehnya lalu menukar pedang miliknya dengan pedang yang disodorkan Jingga.


Tiba-tiba saja permaisuri Kim Rei terjatuh menahan berat pedang yang setara dengan dua ekor gajah dewasa.


"Aah! Berat sekali!" ringisnya berusaha mengangkat pedang yang menjatuhkan dirinya ke tanah.


"Payah! Alirkan energi spiritualmu ke bilah pedang" ujar Jingga lalu menggelengkan kepalanya.


"Kau ini, kenapa tidak bilang kepadaku daritadi?"


"Kau kan seorang kultivator, harusnya kau sudah mengetahuinya, bukan?"


Permaisuri Kim Rei langsung mengalirkan energi spiritualnya ke bilah pedang. Benar saja, energi spiritualnya dan energi pedang berpadu hingga memancarkan kilatan elektrik yang menyala di seluruh bagian pedang.


"Haaaa!" Pekik teriak permaisuri Kim Rei yang teraliri energi dari pedang.


Jingga yang masih berdiri di sampingnya merasa heran, ia yang sebelumnya tidak merasakan apa pun ketika menggunakan pedang Langit begitu keheranan.


"Sepertinya Jiantian hanya bisa dipakai oleh kultivator dewa" gumam pikirnya.


"Woi! Sudah belum?" Teriak Mei Moshu yang kesal menunggu lawannya kembali melanjutkan pertarungan.


"Tuan cantik. Selamat bertarung" ucap Jingga lalu kembali berkelebat menghampiri kaisar Xiao Manyue.


Tiba-tiba saja Mei Moshu tertawa terpingkal-pingkal baru menyadari lawannya adalah seorang pria. Ia yang sedang menggenggam pedang bisa melihat isi dalam pakaian yang dikenakan oleh permaisuri Kim Rei melalui mata iblisnya yang menyala.


"Ha ha ha" tawanya dengan begitu keras.


"Aku baru tahu ada seorang wanita cantik yang memiliki ekor di depannya. Ha ha ha" kelakar Mei Moshu yang tidak henti-hentinya menertawakan permaisuri Kim Rei sampai ia berjongkok karena tawanya.


Runtuh sudah martabat Kim Rei yang merupakan seorang permaisuri kekaisaran Xiao. Kaisar Xiao Manyue sampai harus menutupi wajahnya karena malu menjadi pusat perhatian dari ratusan pendekar yang bolak-balik memperhatikan dirinya dan juga suaminya permaisuri Kim Rei.


"Sepertinya kalian harus segera menyerahkan tahta kekaisaran kepada keturunan kalian" saran Jingga yang merasa iba kepada Kaisar.


"Eh, sebentar!" Potong Jingga tiba-tiba.


Ia lalu memperhatikan wajah merona Kaisar yang tertutupi oleh kedua telapak tangan.


"Kau tidak perlu bertanya, aku sudah tahu apa yang kau pikirkan" ujar kaisar Xiao Manyue menerkanya.


"Akulah yang mengandung pangeran dan putri kekaisaran. Berhentilah menatapku dengan tampangmu yang menjengkelkan!" Imbuh Kaisar Xiao Manyue semakin gusar.


"Hem! Kau salah menebaknya, Nyonya. Yang aku pikirkan adalah posisi kalian ketika bercinta. Aku kesulitan membayangkannya" ucap Jingga.


Merah padam wajah kaisar Xiao Manyue mendengarnya, tampak urat di leher dan keningnya terlihat jelas menonjol keluar. Emosinya sudah mencapai ubun-ubun kepalanya.


Tanpa mempedulikan tatapan para pendekar, ia langsung menjambak rambut Jingga lalu menaiki tubuhnya dan langsung membentur-benturkan kepala Jingga ke pohon.


Dugh! Dugh!


Jingga membiarkan saja Kaisar melampiaskan emosinya dengan terus membenturkan kepalanya. Para Jenderal kekaisaran yang paling dekat posisinya begitu terperangah melihat perilaku tak lazim seorang Kaisar yang sangat dihormati di hampir seluruh benua Matahari bertingkah seperti anak kecil.


Beberapa lama kemudian, Kaisar Xiao Manyue menghentikan aksinya, ia melepaskan rambut Jingga yang daritadi dijambaknya. Dengan naluri seorang wanita, ia lalu memeluk Jingga dengan erat sambil menangis tersedu.


Sontak saja hal itu membuat semua mata terbelalak melihatnya. Suatu hal tidak lazim terjadi pada diri Kaisar yang sebenarnya wajar-wajar saja seorang wanita yang sedang menangis memeluk pria sebagai sandarannya.


Namun sosok kaisar yang bertubuh maskulin itu menjadikan pelukan keduanya terlihat tidak lazim terjadi di benua Matahari.


Bukan kejadian itu saja yang membuat suasana menjadi aneh, pertarungan antara Mei Moshu dan permaisuri Kim Rei pun masih belum juga dilanjutkan.


Mei Moshu yang bersiap dengan pedangnya terpaksa menyimpannya kembali, ia lalu menghampiri permaisuri Kim Rei yang berdiri mematung menatap ke arah Kaisar.


Keduanya berdiri berdampingan memperhatikan Kaisar Xiao Manyue dan Jingga yang sedang berpelukan.


"Di alam iblis ada metode perpindahan jiwa, kalau kau ingin menukarnya dengan istrimu, aku bisa membawamu ke alam iblis" celetuk Mei Moshu menawarkannya.


Permaisuri Kim Rei menolehnya,


"Kami sudah nyaman dengan kondisi begini, maaf saja, aku menolaknya" balas permaisuri Kim Rei lalu berkelebat menghampiri Kaisar.