
"Bisakah kalian keluar dulu!" Pinta pangeran Fei Huang merasa tidak nyaman dengan keberadaan Jingga dan keluarganya di kamarnya.
Tanpa menjawabnya, Jingga langsung mendorong istrinya yang dilanjutkan mendorong yang lainnya kembali memasuki lorong rahasia.
Tak lama kemudian, pangeran Fei Huang memanggilnya kembali.
Du Zhia yang baru keluar dari lorong rahasia begitu terperangah melihat sepupunya yang berdiri di pojok ruangan.
"Xia'er!" Panggil Du Zhia.
Ia langsung berlari menghampiri sepupunya yang juga berlari ke arahnya. Keduanya langsung berpelukan dan menangis bahagia setelah lama terpisah karena perselisihan klan.
Melihat istrinya yang begitu bahagia bersama saudaranya, pangeran Fei Huang langsung mengajak Jingga dan yang lainnya meninggalkan kediamannya.
"Sepertinya ada suatu hal penting yang akan kau sampaikan kepadaku" ucap pangeran Fei Huang menebaknya.
"Ha ha ha, kau salah Pangeran, aku kemari untuk menemui adikku Zhu Xia" balas Jingga langsung menoleh ke arah Zhu Xia yang masih berpelukan.
"Biarkan istriku meluapkan kerinduannya!" Timpal pangeran Fei Huang tidak ingin mengganggu istrinya.
Jingga mengangguk memahaminya lalu mengikuti langkah kaki pangeran Fei Huang keluar dari kediamannya.
"Paman di desa menyebut Xia'er sebagai Ratu. Kau tahu, sebelum mengetahui dirimu yang menikahi adikku, aku merasa harus memberi pelajaran kepada Kaisar Fei Xing karena berani memperistri adikku. Oh iya, sejak kapan kalian menikah?" Ungkap Jingga yang sebelumnya salah paham. Ia lalu menanyakannya.
"Sudah tiga tahun lebih kami menikah, maafkan aku yang lancang tidak melamarnya kepadamu" jawab pangeran Fei Huang yang sekarang diketahui sebagai kaisar merasa tidak enak hati.
"Salam yang Mulia" sapa setiap pelayan yang dilewatinya.
"Tidak masalah selama adikku bahagia, tapi sekali kau membuatnya menangis, kekaisaranmu akan aku musnahkan" timpal Jingga mengancamnya.
Kaisar Fei Huang bergetar hatinya mendengar ancaman pemuda di sebelahnya, ia tahu bagaimana Jingga menghancurkan semua klan besar dan membantai ribuan kultivator jalur rahasia gurun pasir yang telah membumi hanguskan kerajaan Shuijing.
"Aku berjanji tidak akan pernah menyakiti istriku" ucap Kaisar Fei Huang mengangkat sebelah tangannya.
"Aku pegang janjimu. Lalu sejak kapan kau menjadi Kaisar?" Tanya Jingga terus berjalan bersamanya.
"Beberapa hari sebelum Ayahku meninggal. oh iya. Sebelum Ayahku meninggal, ia menitipkan sesuatu untukmu" jawab Kaisar Fei Huang lalu menyerahkan lencana kehormatan kepada Jingga.
"Dengan lencana itu, kau bebas memasuki istana dan seluruh wilayah kekaisaran, kau juga bisa menjadi Jenderal kekaisaran kalau kau mau" imbuhnya menjelaskan manfaat memiliki lencana kehormatan kekaisaran Fei.
Sesampainya di ruang yang begitu besar, semua keluarga Jingga langsung duduk di kursi yang biasa digunakan untuk menyambut tamu kekaisaran.
"Tadi katamu ada keperluan dengan istriku, silakan disampaikan" sambung Kaisar Fei Huang mengizinkannya.
Jingga langsung melirik ke arah Ratu Xia yang masih berjalan bersama Du Zhia. Sesampainya, Ratu Xia melangkah menghampiri suaminya yang duduk di singgasana, sedangkan Du Zhia menghampiri kekasihnya Qianfan.
Setelah keduanya duduk di tempatnya. Jingga langsung berdiri dari kursinya. Ia memperhatikan Zhu Xia yang begitu gugup menatap semua orang di depannya terutama Jingga yang sempat melihat kepolosannya.
"Tersenyumlah adikku, aku tidak akan mengatakan apa pun lagi kalau kau terlihat seperti itu" pinta Jingga.
Zhu Xia lalu tersenyum simpul menatap Jingga. hal itu membuat dirinya merasakan sedikit ketenangan.
"Terima kasih Xia'er, kau telah membuktikan kepadaku kalau kau akan selalu bahagia. Aku yakin Paman Jun akan merasakan kebahagiaan yang sama sepertiku, begitu juga dengan saudaraku Dang Ding Dung. Dia pasti akan merasakan hal yang sama denganku" ujar Jingga mengungkapkan kebahagiaannya.
Zhu Xia langsung turun dari singgasananya, ia berlari memeluk Jingga.
"Terima kasih, Kak" bisiknya lalu kembali ke tempatnya dengan kebahagiaan di hatinya.
"Enak ya dipeluk Ratu" sindir Xian Hou begitu cemburu melihat suaminya dipeluk oleh Zhu Xia.
"Dia adikku" balas Jingga singkat.
"Apakah semua wanita cantik adalah adikmu?" Tanya Xian Hou.
"Ratu Xia dan Kaisar Fei Huang. Maksud kedatangan kami akan disampaikan langsung oleh Ayah dan Ibuku" ucap Jingga lalu berbalik ke arah istrinya yang menatap dirinya dengan dingin.
Jingga langsung melirik ayah dan ibunya lalu mempersilakan keduanya untuk mengatakan tujuannya.
"Mei'er, sepertinya Kak Hou'er lebih kejam dari Niu'er. Lihatlah!" Bisik Qianfan kepada adiknya Qianmei yang duduk di sebelah kirinya.
Qianmei langsung memperhatikan nenek Sashuang yang terus mencubit kakaknya Jingga. Ia langsung terkekeh sambil menutupi mulutnya.
Di depan, Zhen Lie dan Luo Xiang langsung menyampaikan maksud kedatangannya yaitu meminta restu Zhu Xia untuk melamar saudaranya Du Zhia.
Tanpa memikirkannya, Zhu Xia langsung menerima lamarannya dengan syarat pernikahannya berlangsung di istana kekaisaran Fei.
Semua orang langsung menyetujuinya dan semuanya sepakat akan melangsungkan pernikahan seminggu ke depan.
Acara pertemuan pun dibubarkan oleh Kaisar Fei Huang dengan kebahagiaan di hati setiap orang.
Malam harinya kaisar Fei Huang bersama istrinya Zhu Xia menghampiri kediaman Jingga di salah satu komplek istana.
Tok, tok, tok!
Kaisar Fei Huang mengetuk pintu.
Jingga yang mengetahui kedatangan keduanya langsung membukakan pintu dan mempersilakan keduanya untuk masuk.
"Maaf mengganggu waktu kalian berdua, bisakah kita bicara berdua?" Ucap kaisar Fei Huang memintanya.
Jingga langsung melirik istrinya.
Xian Hou menganggukinya, ia beranjak keluar bersama ratu Zhu Xia.
"Kau mungkin pernah mendengar tentang kekacauan yang terjadi di tiga kekaisaran. Aku bersama Pangeran Xiao Mai dan Pangeran Zhao Dang menyelidikinya langsung setelah tim yang kami buat selalu gagal mengungkapnya" ujar kaisar Fei Huang lalu melirik kiri dan kanan kediaman yang ditempati Jingga.
"Kau tenang saja, tidak akan ada yang menguping pembicaraan kita. Aku sudah memasang perisai dari pertama aku memasuki kamar ini" ucap Jingga memahami kecemasan kaisar.
Kaisar Fei Huang langsung melanjutkan ucapannya.
"Awalnya kami mencurigai keterkaitan aliansi Bintang Selatan sebagai dalang kekacauan, namun apa yang kami duga ternyata salah. Yang kami hadapi sekarang adalah sekte aliran hitam yang bersekutu dengan bangsa iblis" imbuh kaisar Fei Huang menceritakannya.
Jingga yang memang sedang mencari informasi tentang kekacauan yang terjadi akhirnya bisa mendapatkannya langsung dari kaisar Fei Huang.
"Ini sungguh menarik, aku memang ingin mengetahuinya. Untuk masalah itu kita akan merencanakannya setelah pernikahan Fan'er dan juga pernikahanku" ucap Jingga begitu bersemangat untuk membantai bangsa iblis.
Kaisar Fei Huang langsung terdiam mendengar ucapan Jingga yang akan menikah.
"Jingga, maaf. Siapa calon istrimu?" Tanya kaisar Fei Huang tidak melihat adanya calon istri Jingga.
Ia mendengar dari istrinya kalau Bai Niu dan Qianmei adalah adik angkat Jingga sama seperti istrinya, jadi tidak mungkin Jingga menikahinya.
"Yang tadi bersamaku adalah istriku, kami belum meresmikan pernikahan di depan Ayah dan Ibuku" jawab Jingga begitu bahagia.
"Kau, kau akan menikahi Nenek tua itu!" Balas kaisar Fei Huang memastikannya.
"Tentu, siapa lagi kalau bukan dia. Bagaimana menurutmu, cantik bukan?" Timpal Jingga.
Kaisar Fei Huang langsung menelan salivanya begitu sulit untuk mempercayainya.
"Baiklah, nanti kita diskusikan kembali masalah bangsa iblis. Raut wajahmu memberitahuku kalau kau akan membantuku mengatasinya. Jadi aku tidak akan menanyakan lagi kepadamu" ucap kaisar Fei Huang langsung berdiri untuk pergi.
"Ha ha ha, terserah kau saja" balas Jingga lalu mengantarnya keluar.