
Jingga terus berjalan melintasi pepohonan yang begitu rimbun, ia bernostalgia tentang masa kecilnya yang penuh kejutan di sepanjang perjalanannya.
"Kenapa aku begitu nyaman di hutan yang dipenuhi aura iblis ini?" Tanya pikirnya merasakan sensasi berbeda dari luar area hutan hantu.
"Karena kau iblis" jawab Xian Hou mengejutkannya.
"Walau aku iblis, tapi kau menyukaiku kan?" Tanya Jingga menggodanya, namun sayangnya Xian Hou tidak menanggapinya.
Jingga menghembuskan napasnya merasa kesal dengan istrinya, ia lalu melanjutkan perjalanannya sambil melamunkan istrinya yang begitu membahagiakan hatinya.
Lamunannya harus terhenti ketika merasakan aura yang terpancar dari arah luar hutan hantu.
"Datang lagi kesenangan" gumamnya dengan seringainya yang tajam.
Jirex yang di belakangnya langsung menengadah ke arah langit yang terselimuti oleh perisai iblis.
"Apa kau merasakannya juga?" Tanya Jingga yang dijawab dengan deraman oleh Jirex.
"Kau sudah menjadi manusia namun masih selalu berderam, aku akan meminta Naninu dan Memimu untuk mengajarkanmu berbicara yang benar" imbuh Jingga menanggapi jawaban gadis monsternya.
Jirex diam saja mendengar ucapan Jingga, tak lama kemudian, tangan monster Jirex keluar dengan sendirinya merespon aura yang terpancar dari bangsa beast monster yang memicu jiwa penguasanya.
"Tenanglah! Jangan membeli sesuatu yang tidak ditawarkan" ucap Jingga memintanya.
"Apa maksudnya Kak?" Tanya Jirex tidak mengerti.
"Maksudnya adalah jangan mencari keributan kalau mereka tidak memulainya, tunggulah dulu sampai mereka menginginkannya" jawab Jingga menjelaskan.
Jirex kembali berderam menimpali ucapan Jingga.
Di awan, beast naga hitam meraung keras tatkala ia mengetahui anaknya telah mati dalam pertarungan. Beberapa tetua beast naga berusaha menenangkannya.
"Long Yiban, tenanglah!" Pinta ratu Kalandiva ikut menenangkannya.
Kedelapan beast naga langsung melesat turun memasuki perisai iblis.
Dhuar!
Ledakan terjadi ketika tubuh kedelapan beast naga mencoba menerobos perisai iblis. Kedelapannya terpental kembali ke udara.
"Yang Mulia" ucap salah satu tetua merasa heran.
Ratu Kalandiva juga sama merasakan heran dengan perisai iblis yang tidak bisa ditembusnya, ia kemudian berpikir untuk merusaknya.
"Hanya ada satu cara, kita harus merusaknya" ujar Ratu Kalandiva lalu mengeluarkan pedang naga dan mengarahkan ujungnya ke langit.
Ketujuh beast naga lainnya juga mengikuti ratunya dengan melakukan hal yang sama.
Kedelapan ujung pedang memancarkan cahaya yang bersatu di udara.
Kedelapan beast naga langsung memutar pedang ke arah bawah menembakkan energinya.
Siu!
Boom!
Pancaran sinar energi menghantam keras perisai iblis lalu melebar ke sekelililingnya membuat perisai iblis bergetar hebat.
Tidak ada keretakan sama sekali dari usaha yang dilakukan oleh kedelapan beast naga.
Ratu Kalandiva begitu terperangah melihat hasilnya.
"Ini tidak mungkin, kecuali" ucapnya terpotong.
Ketujuh beast naga memperhatikannya dengan serius, penasaran dengan apa yang akan dikatakan selanjutnya oleh sang ratu.
Ratu Kalandiva mencoba menyangkalnya namun tidak ada jawaban lain selain apa yang ada dalam pikirannya.
"Kecuali ada Yuangu Mowang di dalamnya" imbuh sang ratu.
Ketujuh tetua beast naga langsung terperangah mendengar ucapan sang ratu yang sulit mereka percayai kebenarannya.
"Apa kau pikir aku bisa menyangkalnya?" Tanya ratu Kalandiva sedikit emosi.
"Maafkan hamba Yang Mulia, apakah ada cara lain untuk hamba bisa mengambil jasad putra hamba?" Potong Long Yiban menanyakannya.
"Ada, kita harus membawa banyak kultivator untuk menyenangkannya" jawab ratu Kalandiva mengetahui apa yang disukai oleh sang raja iblis.
"Jadi, kita akan melakukan penukaran jiwa kultivator dengan jasad beast naga" sambung Long Yiban mulai merasa senang.
"Ya, hanya itu yang aku tahu" timpal ratu Kalandiva.
Long Yiban memahami apa yang harus ia lakukan dalam aksinya.
"Yang Mulia, tidak jauh dari sini aku merasakan ada kumpulan energi dari para kultivator, bolehkah hamba mengambil beberapa kultivator untuk menukarnya dengan jasad beast naga?" Ujar Long Yiban meminta persetujuannya.
Ratu Kalandiva terdiam sejenak memikirkannya, ia lalu menatap Long Yiban.
"Aku sebenarnya tidak ingin memulai perselisihan yang akan menyebabkan peperangan di alam semesta ini, tapi kalau kau memang bersikeras untuk membawa jasad anakmu. Kau harus menyembunyikan identitasmu sebagai beast naga agar tidak diketahui oleh para kultivator alam fana.
Satu hal lagi yang harus kau ketahui, kau tidak bisa menukarnya dengan kultivator rendahan, minimal kultivator yang berada di ranah Master Perak" jawab ratu Kalandiva menyetujuinya dengan syarat.
"Terima kasih yang Mulia, untuk menjaga identitas bangsa naga, biarkan hamba sendiri yang melakukannya" ucap Long Yiban tidak ingin melibatkan bangsa beast khususnya klan naga.
"Baiklah, kami akan kembali ke istana. Setelah berhasil, kau harus secepatnya kembali" balas ratu Kalandiva lalu melesat terbang bersama keenam tetua beast naga.
Long Yiban dengan menyeringai merubah dirinya menjadi seorang kakek tua dalam misinya memburu kultivator untik dijadikan alat tukar dengan jasad putranya. Ia langsung melesat terbang ke lokasi tujuannya.
Hutan Hantu
Jingga dan Jirex akhirnya sampai di danau yang dulunya tempat bersemayam beast naga api dan juga tempat Jingga tidur.
"Kakak, untuk apa kita ke sini?" Tanya Jirex tidak memahaminya.
"Ini adalah salah satu tempat favoritku, kalau kau tidak suka berada di sini, kau boleh kembali ke alam jiwa" jawab Jingga lalu bersandar di bawah pohon menghadap ke arah danau.
Jirex langsung menghilang memasuki alam jiwa, Jingga lalu menyusulnya.
"Naninu dan Memimu, tolong ajarkan Jirex berbicara. Dia lebih sering berderam daripada berucap" pinta Jingga yang langsung keluar kembali.
Kedua adiknya lalu menghampiri gadis dingin tanpa ekspresi.
Di bawah pohon, Jingga langsung mengeluarkan arak kesayangan yang diberikan oleh sang istri tercinta.
Sambil sesekali menenggaknya, Jingga lalu memejamkan matanya merasakan kedamaian di hutan hantu.
Di langit, beberapa dewa yang dari lama memantau pergerakan bangsa iblis mulai mendapatkan titik terang keberadaan bangsa iblis di alam fana. Mereka tidak sengaja melihat kedelapan beast naga yang tidak biasanya berada di benua Matahari.
Setelah mengamati apa yang dilakukan oleh beast naga dalam upayanya menghancurkan perisai iblis, membuat para dewa meyakini keberadaan dimensi iblis di area ilalang wilayah kekasiaran Xiao.
"Dicari sekian lama tidak ketemu, tidak dicari muncul sendiri ha ha ha" kekeh seorang dewa begitu senang.
"Ayo kita laporkan penemuan kita" ajaknya kepada dewa lainnya yang berpatroli di alam fana.
Jingga yang tidak sengaja melihatnya langsung melesat ke udara menyusul tiga dewa yang melayang terbang.
Ketiga dewa tidak menyadari ada seseorang yang mengikutinya dari belakang ketiganya.
Cukup lama ketiganya terbang sampai ke puncak sebuah gunung yang sangat dikenali oleh Jingga.
"Gunung Juanmi" gumam Jingga memperhatikannya.
Ia terus saja mengikuti ketiga dewa yang terus menaik lurus di atas titik puncak yang menghubungkan antara alam dewa dan alam fana.
Jingga begitu terkejut ketika memasukinya, tampak terlihat olehnya sebuah kota besar yang sama dengan kota Luyan di kekaisaran Xiao.
"Luar biasa" puji Jingga merasakan pekatnya energi di alam dewa.
"Di masa depan, aku akan menjelajahi alam ini" gumamnya dengan tersenyum.
Ia lalu melesat kembali ke alam fana melalui jalur titik energi yang bertumpu ke puncak gunung Juanmi.