Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Memasang Umpan


Semua orang langsung merenungkan apa yang disampaikan oleh Jingga. Tak lama kemudian seorang pria tua yang terlihat bijaksana mengemukakan pendapatnya.


"Maaf anak muda, kedua cara itu hanya akan mengorbankan nyawa, saya sebagai penasihat raja menolaknya, semoga yang Mulia pun demikian" ucap seorang pria tua tidak menyetujuinya.


Beberapa pejabat lainnya pun menolak ide dari Jingga yang membuat efek domino penolakan hampir dari semua orang.


Hanya satu orang yang belum memutuskan pendapatnya yaitu Raja Daxiang. Semua pejabat istana dan keluarga istana langsung meliriknya.


Dilirik oleh semua orang, Raja Daxiang masih terlihat tenang menimbang dengan matang keputusannya. Setelah meneguhkan hati, Raja Daxiang langsung mengungkapkan keputusannya.


"Lebih dari seribu anak dan ratusan gadis remaja yang hilang, bukankah itu juga nyawa yang kita sendiri tidak tahu apakah masih hidup atau sudah mati dan juga sudah sering kita mencoba berbagai cara untuk mengungkap kasus penculikan, namun sampai sekarang hasilnya nihil, jadi aku sebagai raja Xin Yue menyetujuinya" ujar Raja Daxiang begitu tegas menyampaikan keputusannya.


"Baik yang Mulia, kami semua mengikuti keputusan yang Mulia" ucap semua pejabat istana berbalik arah.


"Lalu siapa anak yang akan menjadi umpan?" Tanya Penasihat Raja.


Raja Daxiang langsung melirik istrinya Ratu Haixiu untuk menggunakan putrinya sebagai umpan.


"Tidak, aku tidak akan membiarkan putriku menjadi korban berikutnya" timpal sang ratu menolaknya.


"Nyonya, aku yang akan menjamin keselamatannya" potong Jingga dengan serius.


"Aku tidak percaya padamu, kau hanya akan membuat putriku menderita, cari saja anak lainnya" ketus sang ratu masih menolaknya.


"Aku mau" ucap seorang gadis cantik yang masih berusia enam belas tahun berjalan menghampiri semuanya.


"Baiklah, di mana tempat terakhir penculikan terjadi?" Tanya Jingga.


"Lembah sabit, tidak jauh dari kota Yetu" jawab penasihat raja.


"Semalam aku tinggal di sana, ayo Nona ikut bersamaku" ajak Jingga kepada gadis cantik yang masih ditahan ibunya.


"Shu'er, ibu mohon kau jangan pergi" ujar Ratu Haixiu terus menahan tangannya.


"Lepaskan Bu, aku percaya Kakak itu tidak akan membiarkanku terluka" pinta Daishu berusaha melepaskan tangannya.


Tarik ulur anak dan ibu terus berlanjut sampai akhirnya Ratu Haixiu menyerah akan keteguhan hati putrinya.


"Setelah tiga hari kalian bisa mengunjungiku di lembah Sabit" pesan Jingga lalu menghilang bersama Putri Daishu.


Berada di bilik bambu, Jingga langsung membuat Putri Daishu tertidur lalu memasuki alam jiwanya.


"Aku belum pernah mencoba merubah beast monster bertransformasi menjadi manusia" gumam Jingga memikirkan idenya.


Jirex berlari menghampiri Jingga, melihat tubuh seorang gadis, ia langsung menggigitnya, namun Jingga dengan cepat menahan mulutnya.


"Jangan kau makan, gadis ini bukan makananmu!" Ucap Jingga lalu mengusap kepalanya.


"Kau berbaringlah, aku akan mencoba sesuatu padamu" imbuh Jingga memintanya.


Jirex langsung merebahkan tubuhnya mengikuti permintaan Jingga.


Jingga langsung membuat pola rumit dari jarinya lalu menjetikkannya ke arah Jirex yang berbaring.


"Berhasil!" Ucapnya begitu senang.


Jingga berhasil menyalin tubuh Putri Daishu ke tubuh monster Jirex.


"Kau jadi cantik Jirex he he he" imbuh Jingga terpesona akan kecantikan monsternya.


Jirex menyadari tubuhnya berubah, ia langsung berlarian sambil menderam keras.


Jingga terkekeh melihatnya lalu memanggilnya,


"Jirex kemarilah"


Sang monster lalu berlari menghampirinya dengan raut wajah begitu menggemaskan.


"Lucunya anak Daxiang ini, jadi ingin gendong ibunya he he" ucap Jingga sambil mencubit pipi tembam Jirex yang menyerupai Putri Daishu.


Jingga langsung membawanya keluar dari alam jiwa.


Di bilik bambu Jingga mengusapi kepala monsternya yang berbaring di pangkuannya sambil memindai area di sekitarnya, namun yang ia dapati hanyalah dua orang kultivator sedang bersembunyi memperhatikannya.


"Datanglah iblis jelek, aku memiliki gadis cantik yang buas ha ha ha" gumam Jingga begitu percaya diri dengan rencananya.


Tak berselang lama, beberapa iblis nampak sedang mengintainya.


Jingga menghentikan pemindaiannya lalu berpura-pura meninggalkan Jirex yang tertidur di teras luar bilik bambu.


Siu!


"Umpan berhasil dimakan ha ha ha" gumam Jingga yang begitu senang.


"Jirex kau jangan mengamuk, biarkan mereka membawamu ke markasnya" pinta Jingga berkomunikasi dalam pikirannya yang terhubung dengan Jirex.


Jirex berdeham menurutinya lalu kembali dalam tidurnya.


Tidak jauh dari tempatnya, dua kultivator yang menyelinap di balik pepohonan langsung kembali ke istana kerajaan Xin Yue untuk melaporkan apa yang dilihatnya.


"Yang Mulia, kami berdua melihat beberapa bayangan hitam membawa Putri Daishu yang tertidur di teras bilik bambu lembah Sabit" beber seorang kultivator melaporkan pemantauannya.


"Apa!" teriak Ratu Haixiu lalu terjatuh pingsan di samping Raja Daxiang yang langsung menyandarkan tubuhnya.


Raja Daxiang kemudian memerintahkan Jenderalnya untuk membawa prajurit ke lembah Sabit.


Jingga yang sudah memperkirakan akan kerepotan menghadapi pihak istana langsung berkelebat mengikuti Jirex yang dibawa kabur para iblis.


Memasuki sebuah hutan di kaki gunung. Jingga terkejut melihat sebuah portal dimensi terpasang di pohon yang paling besar.


Sebelum portal dimensi tertutup, Jingga dengan cepat memasukinya.


Di area yang gelap, kedua mata Jingga menyala dengan sendirinya, namun karena tidak ingin dirinya diketahui, Jingga menutup kedua matanya lalu bergerak mengikuti keberadaan jiwa Jirex yang selalu terhubung dengannya.


Sampai pada area yang memiliki cahaya, Jingga membuka kembali matanya. Ia terperangah menyadari dirinya berada di dalam gua yang tertutupi oleh air terjun.


Jingga melompat terbang menembus air terjun yang begitu deras. Terlihat olehnya hutan berkabut yang membentang luas seperti berada di dimensi lain.


"Tempat apa ini?" tanya pikirnya lalu melesat turun ke area hutan.


Baru saja Jingga mendarat mulus ke tanah, ratusan lesatan energi mengarah padanya.


Dhuar!


Dhuar!


Jingga langsung berpindah menghindarinya lalu merubah diri menjadi bayangan.


Dhuar!


Dhuar!


Lesatan energi masih mengarah padanya dengan sangat cepat.


"Sialan! Ilmu bayangan tidak berguna untuk bangsa iblis yang masih bisa melihatku" gerutunya sambil terus menghindari lesatan energi dari ratusan iblis yang menyerangnya.


"Jianhuimie Yuzhou"


Menggenggam pedangnya, Jingga langsung berkelebat menyerang balik ratusan iblis.


Siu!


Dhuar!


Dhuar!


Para iblis meledak satu persatu terkena tebasan pedangnya.


Dentuman suara ledakan yang memekakkan telinga terus bersahutan di dalam hutan yang membuat suasananya terdengar seperti terjadi peperangan sengit.


Jingga bahkan membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan pertarungannya karena iblis yang meledak akan kembali utuh dengan sendirinya.


"Kenapa iblis di sini berbeda dengan yang kemarin aku hadapi?" tanya pikirnya memperhatikan iblis yang selalu saja kembali ke bentuk semula.


Kesal dengan para iblis yang kembali utuh setelah ditebasnya. Jingga mengalirkan api semestanya ke bilah pedangnya.


Warna merah pada bilah Jianhuimie Yuzhou berubah menjadi warna putih.


"Tarian pedang Asura"


Jingga kembali berkelebat dengan sangat cepat menebas para iblis seperti siulan angin yang menghempaskan dedaunan kering.


Kali ini setiap iblis yang terkena tebasan pedang langsung hancur menjadi debu yang beterbangan tanpa adanya ledakan yang terdengar.


Hembusan angin kencang langsung berhenti tatkala seorang pemuda menancapkan pedangnya ke tanah.


Jingga berhasil membantai habis para iblis.