
Seharian penuh warga kampung Sirintang berpesta makan di halaman rumah paman Apiak, Jingga bersama adiknya Naray lebih tertarik dengan warga yang sibuk memasak di area belakang.
Jingga bahkan menyebut masakan warga kampung Sirintang adalah masakan terlezat di alam semesta, itu karena setiap masakan yang diolah kaya akan bumbu dari rempah-rempah yang berlimpah ruah di perkebunan warga dan hutan Harimau.
Esok harinya, Jingga, adiknya Naray, si kembar Rindu dan Rindi juga paman Apiak berlatih memanah di tanah lapang kampung.
Paman Apiak yang menjadi mentor Jingga begitu takjub dengan kemampuan anak asuhnya.
"Paman tidak pernah menemukan pemuda yang hanya dalam waktu sehari bisa menjadi pemanah ulung, kita berdua akan berburu hewan sebagai uji kemampuan" ujar paman Apiak memujinya.
"Paman terlalu berlebihan, aku masih merasa amatir" balas Jingga merendah.
"Piak kemarilah!" Pekik paman Apiak memanggil kedua anaknya yang berada cukup jauh darinya.
"Ya, Apak!" Sahut keduanya lalu menghampiri.
"Piak kamek, kamu juga kemarilah!" Sambung paman Apiak memanggil Naray yang bingung dengan panggilannya.
Rindu dan Rindi tersenyum menatapnya, Naray mengerutkan kening tidak mengerti.
"Uni Naray, sini!" Panggil Rindu sambil melambaikan tangannya.
Naray lalu menghampirinya sambil menenteng busur, ia masih saja terlihat kebingungan.
"Kalian bertiga teruslah berlatih di sini, Apak sama Jingga akan berburu di hutan" ujar paman Apiak menjelaskan.
"Baik, Apak" sahut Rindu dan Rindi.
"Baik, Paman" sambung Naray.
Kedua pria langsung melangkah meninggalkan ketiga gadis belia di tanah lapang warga kampung.
"Joga, semangat!" Pekik si kembar.
Jingga hanya mengangkat tangan kanannya menanggapi dua gadis kembar tanpa menoleh ke belakang.
Memasuki tengah hutan, keduanya berkelebat ke wilayah kekuasaan para harimau.
"Kita panjat pohon" pinta paman Apiak lalu dengan cepat memanjat diikuti Jingga di bawahnya.
"Lihatlah harimau putih yang menyendiri itu, dari Paman masih muda sampai sekarang, harimau putih itu selalu lolos dari bidikan. Kecepatannya sangat mengagumkan tapi kekuatan utama harimau itu adalah instingnya. Kau cobalah untuk memanahnya" ujar paman Apiak menantangnya.
"Aku suka yang sulit ditaklukan. Baik, Paman. Aku tidak akan mengecewakan" balas Jingga lalu melompat turun.
"Jingga, atur jarakmu. Semakin jauh akan semakin baik" kata paman Apiak menyarankan.
Jingga mengangguk lalu berkelebat mencari posisi tembak yang baik.
Di balik pohon yang besar, dalam radius yang cukup pas untuk melepaskan anak panah. Jingga mulai membidik targetnya lalu
Wuzz!
Anak panah melesat cepat ke arah harimau putih yang langsung menghilang dari posisinya.
"Hah! Tidak mungkin!" Seru Jingga dibuat heran dengan kecepatan harimau putih.
Jingga menengadah mencari pohon yang rimbun, ia lalu memanjatnya. Kembali Jingga dibuat heran, tidak ada satu pun harimau yang berada di lokasi.
"Kemana larinya kucing-kucing besar itu?" Tanya pikirnya.
Ia lalu melompat turun dan berkelebat kembali ke lokasi paman Apiak yang masih berada di atas pohon sedang mengamatinya.
"Paman!" Teriak Jingga memanggilnya.
Paman Apiak langsung melompat turun menghampirinya lalu mengatakan kalau para harimau sudah pergi dan baru akan kembali di malam hari.
Jingga yang mendengarnya merasa ada sesuatu yang tersembunyi di balik maksud perkataan paman Apiak.
"Paman, aku mengerti sekarang. Paman memintaku membidik harimau putih untuk mengamankan zona perburuan" kata Jingga lalu menyeringai.
"Baik, Paman. Aku akan mengingatnya" timpal Jingga memahami ujaran paman Apiak.
Keduanya berjalan ke area lain yang agak lapang dan dipenuhi rerumputan liar yang menjulang.
"Kalau diperhatikan, alam semesta terbentuk dengan terstruktur penataannya. Seperti sebuah kerajaan yang memiliki wilayah istana, militer, perkotaan, perkebunan, pertanian dan wilayah lainnya yang diatur sedemikian rupa.
Begitupun dengan hutan ini, tidak hanya pepohonan saja yang bisa kita lihat. Di dalamnya terbentuk ekosistem yang saling berkaitan. Kita sebagai manusia harus bijak dalam berpikir, dalam berburu pun demikian, kami warga kampung Sirintang memiliki aturan sendiri dalam berburu hewan, salah duanya yaitu tidak memburu hewan yang masih kecil dan menekan populasi hewan buas" ujar paman Apiak berbagi pengetahuan.
Jingga yang mendengarkannya terus saja mengangguk, ia mengingat kembali waktu beternak (kultivator) di alam fana sebelumnya dan merasa bersyukur akan tindakannya.
Mungkin karena ia seorang iblis, Jingga menganggap beternak kultivator akan membuat pertarungan semakin seru dan menyenangkan. Setiap kultivator yang memiliki dendam akan berupaya meningkatkan kemampuannya dan itu akan membuat hidup lebih menantang.
"Jingga, semoga dirimu menjadi pendekar yang bijaksana dan menjaga kedamaian di alam semesta ini" sambung paman Apiak terlihat senang melihat Jingga yang tersenyum sendiri setelah mendengarkan ujarannya.
"Baik, Paman" balas Jingga yang sebenarnya memiliki pandangan terbalik.
Ia membenarkan apa yang ada dalam pikirannya, tidak lagi ingin membinasakan setiap musuhnya, sekarang ia bertekad akan menyisakan satu atau dua orang untuk membalaskan dendam padanya.
"Kita memasuki wilayah hewan jinak, pakailah kain ini, cobalah untuk menggunakan instingmu dalam menaklukan buruanmu" kata paman Apiak menyodorkan kain hitam yang sudah disiapkannya untuk melatih Jingga.
Jingga lalu memakainya dan mengikatnya di belakang kepala, ia kini tidak bisa melihat apa pun. Paman Apiak kembali memanjat pohon untuk mengamatinya.
Dengan memfokuskan pada pendengaran juga nalurinya dalam mendeteksi keberadaan hewan-hewan di sekitarnya, Jingga mulai melangkah mencari tempat strategis dalam memanah.
Bugh!
"Waduh!" Ringisnya setelah membentur batang pohon di depannya.
"Kalau yang bergerak aku bisa memperkirakannya, bagaimana menghadapi sesuatu yang diam. Aku harus bisa menyiasatinya" gumam Jingga berusaha untuk tidak terbentur pohon.
Ia lalu mencabut sebatang anak panah yang dijadikannya penunjuk jalan untuk menghindari benturan. Namun tindakannya itu membuat hewan-hewan berlarian menjauhinya.
"Sialan! Mereka mengetahui keberadaanku" rutuk Jingga menghentikan langkahnya bersandar di pohon.
Ia terus diam menunggu hewan-hewan kembali ke wilayahnya, dengan sabar Jingga terus mendengarkan setiap suara yang masuk ke telinganya. Ia juga semakin bisa merasakan keberadaan makhluk hidup di sekelilingnya.
"Sepuluh, sebelas, dua belas" kata batin Jingga menghitung burung-burung yang beterbangan di atasnya.
Ia bahkan bisa mendengar hewan-hewan kecil yang berada di bawahnya. Setelah lama ia berdiam diri, terdengar olehnya langkah kaki hewan-hewan yang kembali ke wilayah terbuka yang penuh rerumputan di depannya.
Mengikuti nalurinya, Jingga menghitung banyaknya hewan dan memperkirakan jarak antar hewan.
"Lima ekor rusa sedang makan rumput dengan jarak satu, tiga, dua, dua langkah kaki" kata pikirnya.
Jingga dengan cepat langsung mengambil anak panah dari wadah di punggungnya.
Wuzz!
Siu!
Jleb! Jleb! Jleb!
Tiga ekor rusa jatuh dengan panah yang tertancap di perutnya, dua ekor rusa lainny langsung kabur melarikan diri.
"Insting yang hebat" gumam paman Apiak memujinya.
Ia lalu melompat turun dan menghampiri Jingga kemudian melepaskan kain hitam yang terikat di kepala Jingga.
"Sungguh seorang pemuda berbakat, lima ekor rusa harusnya mati terkena anak panah, kalau saja tidak terhalangi oleh pohon" puji paman Apiak mengagumi kemampuan Jingga.
Jingga tersenyum lebar, benar kata paman Apiak, dua anak panah tertancap di dua pohon yang menghalangi kedua rusa yang menjadi target bidikannya.
"Paman, bagaimana caranya aku bisa mengetahui targetku terhalang sesuatu?" Tanya Jingga.
"Itu mudah, target tanpa halangan akan lebih jelas terdengar. Tapi percobaan pertamamu sangat baik, Paman sendiri tidak menduganya. Kau hebat!" Jawab paman Apiak kembali memujinya.