
Jingga langsung menghampiri Jirex yang masih lahap memakan Long Yiban.
Jirex kembali ke wujud manusianya, ia tidak lagi mencabik-cabik tubuh Long Yiban dengan taringnya ataupun kukunya, Sekarang Jirex memotongnya dengan alat dapur.
Tampak Ia sedang mengiris daging dari tubuh beast naga api hitam menggunakan belati.
Long Yiban sudah tidak mampu lagi bersuara, ia begitu memelas menatap Jingga yang menghampirinya.
Jingga lalu menjentikkan jarinya membunuh Long Yiban kemudian mengambil inti jiwa yang melayang meninggalkan tubuh beast naga.
"Jirex, sudahlah. Sisakan kepalanya" pinta Jingga yang langsung diangguki oleh Jirex.
Long Yiban tampak terlihat seperti ikan yang sudah habis dagingnya dan hanya menyisakan tulang belulang yang terlihat bersih tanpa daging, beruntung kepalanya masih utuh.
Setelahnya Jirex kembali memasuki alam jiwa, sedangkan Jingga melakukan pemindaian ke seluruh wilayah hutan Hantu.
"Tidak mungkin para iblis datang dengan tiba-tiba, pastinya ada portal dimensi di sekitar sini" gumam Jingga mengingat para iblis yang berdatangan ketika Jirex bertarung dengan Long Yiban.
Jingga masih belum menemukannya, ia kemudian berkamuflase menjadi sebuah pohon di tengah hutan Hantu.
Sehari dua hari Jingga masih belum melihat iblis muncul di dekatnya, ia masih sabar menantinya.
Hari ketiga, sepuluh iblis keluar dari salah satu pohon besar tidak jauh dari posisi Jingga berada.
"Akhirnya, keluar juga kau iblis durjana" gumam Jingga begitu senang. Ia langsung bergeser ke arah pohon untuk memeriksanya.
Berada tepat di depan pohon tempat keluarnya para iblis, Jingga menyipitkan mata melihat akar pohon yang membentuk sebuah lubang.
Beberapa iblis lainnya bermunculan membentuk asap yang keluar dari akar pohon.
"Portal yang unik" gumam Jingga melihat para iblis bermunculan keluar dari akar pohon.
Jingga merubah kamuflasenya menjadi seekor semut memasuki lubang.
Tampak ia memperhatikan sebuah area yang dipenuhi oleh energi iblis sama seperti apa yang ia rasakan ketika pertama kali memasuki alam dewa.
Dengan rasa penasaran yang begitu tinggi, Jingga terus saja berjalan memasukinya. Ia merasakan adanya daya hisap yang menarik dirinya.
Jingga langsung berbalik kembali keluar, namum ada sesuatu yang tidak ia ketahui.
Ratusan dewa di atas langit sedang memborbardir area hutan Hantu untuk menghancurkan perisai iblis yang menyembunyikannya.
Jingga yang sedang berkamuflase menjadi semut terlempar kembali memasuki portal iblis karena guncangan yang terjadi.
Hisapan kuat dari portal energi iblis membuat jingga langsung tertarik memasukinya.
Berada di lorong yang gelap dari hisapan energi iblis yang menarik tubuhnya, Jingga berubah kembali menjadi dirinya dan memancarkan cahaya api dari matanya. Aura iblisnya pun terpancar menekan daya hisap.
Dhuar!
Aura iblisnya berhasil menghacurkan energi penghisap yang menariknya, hal itu membuat Jingga kembali terlempar ke dalam pusaran lahar api di sebuah gunung.
Tubuhnya langsung terjatuh ke dasar kerak api.
Bugh!
Jingga berhasil mendarat dengan tepat di dasar kerak api yang begitu panas.
Ia terkejut tubuhnya bertransformasi menjadi tubuh iblis.
"Hah! Kenapa bisa begini?" Gumamnya memperhatikan dirinya yang berubah.
Tidak ingin menyerah, Jingga langsung membuka kembali ingatan Yuangu Mowang di alam pikirnya.
Lama ia mencarinya, masih belum juga mendapatkan jawabannya. Jingga terus menyusuri ingatan Yuangu Mowang sampai akhirnya berhasil mendapatkan jawaban yang masih membuatnya merasa kesal.
"Sialan! Monster jelek itu tidak mengatakan apa pun soal transformasi tubuh iblis di alam iblis" gerutunya menyalahkan Yuangu Mowang.
"Baiklah, akan aku coba. Walaupun tidak bisa kembali ke wajah tampanku yang membuat banyak gadis klepek-klepek mencintaiku, tapi setidaknya jangan terlalu jelek kelihatannya hehe" imbuhnya terkekeh.
Jingga langsung bermeditasi menormalkan energi iblisnya yang bergejolak karena adaptasi alami tubuh iblis yang baru memasuki alam iblis.
Cukup memakan waktu sedikit lama untuk membuatnya bisa menormalkan energi iblisnya.
Jingga membuka kembali matanya setelah merasakan energi dalam tubuhnya kembali normal seperti sebelumnya.
Namun ia masih begitu kecewa dengan warna kulitnya yang terlihat pucat seperti mayat. Jingga langsung membuat cermin untuk melihat wajahnya.
"Hah! Kenapa aku memiliki tanduk seperti kambing?" Kagetnya memperhatikan dua tanduk yang menonjol dari atas kepalanya.
Jingga begitu gemetar merasakan geli melihat dirinya dalam bentuk iblis.
"Aku harus menyembunyikannya, nanti istriku menertawaiku kalau melihatnya" gumam Jingga.
"Tidak usah, kau terlihat imut. Aku menyukainya" timpal Xian Hou melarangnya.
"Syukurlah kalau kau menyukainya" timpal Jingga pasrah dengan perubahan dirinya.
"Karena sudah begini dan terlanjur berada di alam ini, aku akan memulai misiku mengacaukan alam para iblis durjana ini haha" ucap Jingga lalu melesat terbang keluar dari gunung berapi.
Jingga melihat suasana di alam iblis jauh berbeda dengan alam fana ataupun alam dewa. Suhu di alam iblis begitu panas dan sangat gelap.
"Pantas saja mataku selalu menyala di tempat gelap, ternyata di tempat asalnya tidak ada matahari yang bersinar" gumam Jingga memperhatikan langit di atasnya.
Jingga langsung melanjutkan terbangnya menyusuri area luas alam iblis. Ia memperhatikan pepohonan yang tidak memiliki daun, hanya batangnya saja yang tumbuh.
Lumayan lama juga Jingga terbang, ia tidak menemukan adanya sumber air di alam iblis.
"Kalau iblis tidak minum, kenapa aku bisa menikmati arak dan susu?" Tanya pikir Jingga sambil terus memperhatikan alam iblis yang sangat baru untuknya.
Sampailah Jingga melihat sebuah kota yang bangunannya terbuat dari tanah dan bebatuan.
Jingga langsung mendarat di luar gerbang kota, lalu berjalan pelan memasukinya. Jingga melirik kiri kananya mencari tahu apakah ada penjaga di gerbang kota, namun ia tidak melihatnya.
"Sepertinya di alam iblis sangatlah bebas" gumamnya terus berjalan dengan santai memperhatikan para iblis yang sama bentuk dengan dirinya.
Dari ingatan Yuangu Mowang. Penduduk alam iblis memiliki empat warna kulit yaitu putih, hitam, biru dan merah. Yang memiliki warna kulit putih dan merah bentuk tubuhnya sama seperti manusia, yang membedakan hanyalah warna putih tidak memiliki ekor seperti yang berwarna merah.
Untuk yang berwarna hitam adalah perpaduan dari ketiga jenis iblis dan memiliki tubuh tinggi dan besar dan untuk yang berwarna biru tampak seperti beast monster.
Dari keempatnya bangsa iblis juga memiliki turunan klannya sendiri, namun bukan klan seperti di alam fana yang merupakan sebuah keluarga.
Beruntung Jingga sudah mengetahuinya dari ingatan Yuangu Mowang yang diwariskan kepadanya, namun ia masih begitu terpana bisa melihatnya secara langsung.
Di balik keunikannya, ada satu hal yang harus selalu diingat oleh Jingga adalah semua bangsa iblis memiliki satu kesamaan yaitu perilaku buruk, satu-satunya hal baik adalah bisa hidup berdampingan, walaupun saling bunuh adalah hal yang lumrah terjadi di alam iblis.
Mata uang yang digunakan di alam iblis adalah Jiwa kultivator, baik kultivator alam fana maupun alam dewa dan yang terendah yang bisa dijadikan transaksi adalah jiwa kultivator ranah Ahli Emas, sedangkan untuk yang tertinggi tidak dibatasi.
Jingga terus menyaksikan para iblis yang melakukan transaksi di sepanjang jalan yang dilaluinya. Berbeda dengan alam fana yang memasukkan koin ke dalam cincin spasial, para iblis memasukan jiwa kultivator ke sebuah guci penyimpanan atau langsung menelannya.