Takdir Pedang Sang Iblis

Takdir Pedang Sang Iblis
Istana Langit



Keduanya lalu berjalan di tengah keramaian kota. Tampak para penduduk kota yang berpakaian mewah mengisi udara kota dengan tawa dan riuh. Para pedagang yang berderet rapi di pinggir jalan begitu semangat menawarkan dagangan kepada para pengunjung yang melewatinya.


“Kak, aku mencium keberadaan Ratu Kalandiva di bangunan itu,” ujar Qianmei menunjuk ke arah bangunan berbentuk kastil.


“Aku lebih tertarik dengan para cultivator yang berada di dalamnya. Sepertinya mereka sedang membahas sesuatu yang penting di kota ini,” balas Jingga.


Jingga dan Qianmei berjalan cepat ke arah gedung yang menjulang tinggi dengan arsitektur kuno yang megah. Sesampainya, Jingga dan Qianmei selonong memasuki bangunan yang ternyata merupakan sebuah resto terbesar di kota yang tengah disinggahinya. Namun, baru saja keduanya memasuki ruang resto. Beberapa prajurit langsung mengadangnya.


“Kalian tidak diizinkan masuk!” tegur seorang penjaga sambil menodongkan tombak ke arah Jingga.


“Apa masalahnya? Bukankah siapa pun boleh memasuki resto?” Jingga tidak bergeming dengan ancaman senjata yang mengarah kepadanya.


Lalu di belakang para prajurit, seorang pria paruh baya berjanggut emas datang menghampiri. Ia memindai Jingga dan Qianmei dengan begitu serius lalu tersenyum ringan.


“Biarkan sepasang kekasih ini memasuki resto,” katanya kepada para prajurit yang langsung membubarkan diri.


Jingga dan Qianmei duduk di meja paling ujung yang begitu jauh dari banyaknya tamu restoran. Meskipun demikian, Jingga tidak mengalami kesulitan dalam memperhatikan perbincangan para tamu.


“Kak, Kaisar Langit akan mengeksekusi Kak Niu’er. Apa tidak sebaiknya kita cepat-cepat menyelamatkan Kak Niu’er?” kata Qianmei mulai tidak tenang setelah menyimak pembicaraan para tamu.


“Santai saja, tidak akan ada sehelai rambut pun yang bisa mereka sentuh dari Naninu,” jawab Jingga yang terus mendengarkan perbincangan para tamu. 


“Kau terus perhatikan obrolan mereka, aku akan ke atas menemui Nyonya Kalandiva,” imbuh Jingga yang melangkah ke arah tangga. 


Beberapa langkah kaki Jingga menaiki anak tangga. Dua orang penjaga langsung mengadangnya.


“Hei, bocah. Kau tidak boleh naik ke atas!” Penjaga menahan Jingga dengan mengulurkan pedang.


“Katakan kepada seorang nyonya bergaun merah di atas, ada pemuda yang biasa merebahkan badan di atas lempengan batu di taman belakang istana datang mencarinya,” ujar Jingga memberinya pesan.


“Cih, memangnya siapa dirimu berani memerintah kami?” cemooh penjaga meremehkannya.


“Sampaikan saja, dan kalian pasti akan berterima kasih kepadaku,” kata Jingga lalu berbalik turun meninggalkan kedua penjaga yang saling menautkan alis.


Kedua penjaga merasa penasaran dengan identitas pemuda yang mengenali salah satu tamu penting. Seorang di antaranya lalu memasuki ruang dalam dan menghampiri wanita bergaun merah.


“Permisi, Nyonya. Ada pesan dari seorang pemuda yang katanya biasa merebahkan badan di atas lempengan batu taman belakang istana ingin menemui Nyonya,” bisik penjaga.


DEGH!


Seakan berhenti berdetak jantung sang wanita mengetahui siapa pemuda yang dimaksudkan oleh penjaga yang membisikinya. Badannya sedikit bergetar, jika saja ia tidak bersama dengan pejabat istana dan para cultivator dari berbagai sekte. Tentunya ia tidak harus menahan rasa takut yang bersemayam dalam dirinya.


“Di mana dia sekarang?” tanya balik sang ratu.


“Dia ada di lantai bawah. Apa aku harus memanggilnya?”


“Tidak perlu. Biar aku saja yang akan menemuinya.” 


Penjaga itu pun berbalik kembali ke tempatnya, sedangkan Ratu Kalandiva masih sibuk menenangkan diri. 


“Nyonya, ada apa? Kenapa wajahmu begitu pucat?” tanya seorang cultivator memperhatikannya.


“Ah, tidak ada apa-apa, aku hanya sedikit lelah. Tuan dan Nyonya semuanya, aku harus beristirahat. Sampai berjumpa di istana Langit,” imbuhnya lalu melipir pergi meninggalkan ruangan.


Para pejabat istana dan cultivator merasa heran dengan perubahan suasana hati ratu Kalandiva. Biarpun begitu, mereka tidak ingin mencari tahu alasan sesungguhnya sang ratu berpamitan. Mereka pun melanjutkan perbincangan sambil menikmati hidangan lezat yang tersedia di meja makan.


Ratu Kalandiva yang telah berada di lantai bawah langsung mengedarkan pandangan ke berbagai sudut ruangan. Akan tetapi, ia tidak melihat keberadaan Jingga. Ia pun memanggil penjaga yang berdiri di ujung tangga. seorang penjaga bergegas menghampirinya.


“Yang mana pemuda yang kaumaksud?” tanya Ratu Kalandiva.


“Sebentar, Nyonya. Aku akan mencarinya,” jawab si penjaga langsung berjalan mencari keberadaan Jingga.


Tak lama kemudian, penjaga kembali menghampiri Ratu Kalandiva. 


“Nyonya, pemuda itu duduk di meja paling ujung.” Penjaga menunjuk ke arah paling ujung ruangan.


Ratu Kalandiva langsung memfokuskan pandangannya ke arah yang ditunjuk oleh penjaga. Ia menyipitkan mata memperhatikan sepasang muda-mudi yang ditunjuk oleh penjaga. Namun, ia sama sekali tidak mengenalnya.


“Betulkah dia orangnya?” Ratu Kalandiva masih meragukannya.


“Baiklah, kau boleh kembali ke tempatmu.”


Penjaga langsung berbalik ke tempatnya. Sementara sang ratu melangkahkan kaki menghampiri sepasang pemuda yang sedang asyik berbincang.


“Duduklah, Nyonya!” kata Jingga mempersilakan.


Ratu Kalandiva dalam kebingungannya mengikuti apa yang dikatakan oleh si pemuda yang tidak dikenalnya.


“Apa kau, Jingga?” tanya sang ratu memastikan.


“Ya, ini aku ... aku tidak ingin berbasa-basi denganmu, antarkan aku ke istana,” ucap Jingga.


“Maaf, tapi aku masih tidak percaya padamu,” balas sang ratu masih meragukannya.


Jingga lalu menatap Ratu Kalandiva dengan mata iblisnya. 


“Hoek!” Ratu Kalandiva muntah darah. Badannya bergetar hebat lalu terjatuh dari kursi yang didudukinya.


“Ma–maafkan aku, Yang Mulia. Bukan maksudku meng–.”


Belum selesai sang ratu berbicara, Jingga menjentikkan jari menyegel tenggorokan sang ratu yang kini tidak lagi bisa berbicara.


“Ikuti saja perintahku. Bawa aku ke istana Langit.” Jingga menarik pundak sang ratu dan membantunya berdiri.


Jarak dari kota ke istana Langit tidak begitu jauh. Hanya beberapa ratus tombak ketiganya sampai di depan gerbang besar istana. Seorang penjaga gerbang bertubuh tinggi besar menghampiri ketiganya lalu mempersilakan untuk memasuki area istana Langit. Berada di area taman yang sangat luas, Jingga melepaskan segel yang mengikat tenggorokan sang ratu.


“Apakah Yang Mulia ingin menemui Kaisar?” tanya Ratu Kalandiva.


“Tidak, bawa aku ke tempatmu,” jawab Jingga.


“Baik, Yang Mulia.” Ratu Kalandiva berbelok ke arah kanan istana Langit.


“Kapan tepatnya eksekusi adikku berlangsung?”


Ratu Kalandiva menghentikan langkah lalu menoleh ke arah Jingga.


“Lusa di timur istana,” jawabnya.


“Masih ada waktu dua hari lagi,” gumam Jingga yang pandangannya tidak berhenti memperhatikan istana Langit yang sangat megah.


Beberapa langkah kemudian, ketiganya telah sampai di area kediaman para tamu istana. Jingga dan Qianmei terkesima melihat kediaman yang ditempati oleh Ratu Kalandiva merupakan sebuah kastil kecil yang berlokasi di area tinggi. Mirip seperti benteng yang ditempati oleh prajurit. Ketiganya lalu terbang untuk memasuki ruang kastil yang berada di atas.


“Mengapa Nyonya memilih tempat seperti ini?” Jingga duduk menghadap ke area taman istana.


Ratu Kalandiva tersipu malu lalu berkata, “Ini mengingatkanku pada menara puncak tempat kita menikmati malam.”


“Apa Nyonya menyukai kakakku?” sambung Qianmei secepat kilat.


Jingga menepuk kening seraya menggelengkan kepala. 


“Apa tidak ada pertanyaan yang lebih penting dari itu?” kata Jingga sedikit tidak nyaman.


"Diam, Kak. Wanita tua tidak tahu diri ini harus ditegaskan." Qianmei mencengkram gaun di bagian dada Ratu Kalandiva lalu mendekati wajahnya.


"Awas saja kalau Nyonya berani mendekati kakakku, akan kupastikan Nyonya memohon kematian daripada menangggung sakit yang tak bisa dibayangkan," ancam Qianmei.


Ratu Kalandiva tidak bergeming dengan ancaman dari Qianmei. Ia menyeringai dingin menanggapinya.


"Ah!" ringis Ratu Kalandiva mendapati perutnya ditusuk oleh jari manis Qianmei.


"Kau, apa yang—"


Qianmei memutar jarinya di perut sang ratu.


"Hentikan! Tolong!" pinta sang ratu memelas.


"Sakit yang begitu indah bukan? Ha-ha-ha," kekeh Qianmei lalu melepaskan sang ratu.


Jingga di sampingnya hanya mengerucutkan bibir melihat tingkah Qianmei yang begitu beringas menyakiti sang ratu.